Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 14


__ADS_3

Sejam setelah pendaratan, Reva dengan cemas menanti kedatangan suami. Berkali-kali melihat jam tangan, cukup lama juga dia menunggu tapi suaminya tak kunjung menjemput. Biasanya sebelum take off suami sudah menunggu.


Harusnya perjalanan dari rumah ke bandara hanya perlu waktu sepuluh menit. Bahkan sudah lima kali, Reva coba menghubungi suami tapi tak dijawab. Berbagai macam asumsi negatif mulai merasuki pikirannya. Apalagi setelah kemarin malam dia mimpi tentang perselingkuhan itu. Muncul dugaan jangan-jangan Zacky telat menjemputnya, karena harus bertemu Mila dulu.


Di tengah perasaan risaunya, akhirnya Zacky datang. Di depan pintu keluar bandara, Reva bersungut-sungut. Wajahnya nampak kesal. Menatap sinis suami ketika baru keluar dari mobil. Reva memalingkan wajah saat Zacky melambaikan tangan.


“Maaf telat sayang karena aku tadi ada urusan dengan ....”


Belum selesai suaminya berucap, Reva sudah memotong ucapannya. Tangannya mengelak saat Zacky hendak menggenggam tangannya.


“Urusan dengan Mila maksud kamu?” potong Reva sembari melebarkan mata. Mendadak dadanya terasa sesak.


Zacky terhenyak. Langsung saja kepalanya menggeleng, sebagai isyarat kalau dugaannya salah.


“Bukan sayang, aku tadi ada urusan sama klien yang mau ngajak kerjasama. Rupanya model baju yang baru diproduksi sebulan lalu sangat laku di Australi.”


Mendengar alasan itu, Reva masih tak percaya. Wajahnya tetap dipalingkan. Terlihat begitu suntuk. Meski ini kabar menggembirakan, tapi Mila enggan tersenyum.


“Jangan bohong,” ketus Reva.


“Nggak sayank. Nggak bohong,” jawab Zacky lantas membelai rambut istrinya dan mencium pelipisnya. “Udah yuk pulang. Tuh langitnya udah mulai gelap.”


Mata Reva sekilas memandang ke atas, memang sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Akhirnya, dia menurut dituntun ke dalam mobil.


“Kita langsung pulang atau mampir ke restoran dulu yank?”


Bersamaan dengan pertanyaan suaminya, perut Reva tiba-tiba keroncongan. Maklum, di pesawat dia hanya makan sedikit tadi. Dia mengira kalau mampir ke restoran itu lebih baik.


“Ke restoran aja, Mas.”


Di dalam mobil, beberapa menit suasana menjadi senyap. Di dalam hati Reva masih dihinggapi rasa yang campur aduk. Kesal karena suaminya menjemput lama juga rasa khawatir barangkali mimpi itu benar. Diliriknya Zacky yang tengah sibuk menyetir.


“Mas, semenjak aku di Malang, apakah kamu sering menengok Nina dan Nani?”


Zacky mengangguk. Tangannya dengan terampil memutar stir.

__ADS_1


“Iya dong, itu 'kan amanat kamu. Biar gimanapun aku sangat kasian pada mereka.”


Reva sejenak terdiam kembali menatap jalanan di depannya. Saat mobilnya baru saja melewati klinik dokter kandungan, dia jadi teringat pada niat mereka untuk memiliki anak. Alangkah baiknya kalau sekarang hal itu kembali dibahas dengan suami.


“Mas, apa kau masih ingin punya anak.”


Sembari membelokkan mobil, Zacky tersenyum.


“Tentu dong. Pasangan suami istri mana sih yang nggak pengen punya keturunan.”


Bibir Reva tersenyum tipis. Melirik Zacky lagi.


“Asal kamu tahu, kalau setiap kali aku datang menjenguk Nina dan Nani, aku selalu mbayangin betapa bahagianya mempunyai anak seperti mereka,” sambung Zacky. Pernyataan itu lantas membuat Reva terharu.


Sesaat senyap mewarnai keduanya lagi. Jemari Reva sibuk menyeka matanya yang mengilat karena akan segera tumpah. Menunggu rasa harunya reda. Setelah perasaannya sedikit lebih baik, baru dia kembali mengajak suami bicara. Bertanya sesuatu yang membuatnya cemas terkait mimpi itu.


“Mas, sewaktu kau menjenguk Nina dan Nani lalu bertemu Mila, aku mau tanya gimana perasaanmu sama Mila?”


Sontak Zacky tersentak atas pertanyaan itu. Diam beberapa saat. Tapi tak disangka, dia lalu tertawa menanggapinya. Tak ada kepanikan di wajahnya seperti pria yang kebanyakan sedang selingkuh. Hal itu karena dia sama sekali tak menyimpan perasaan pada Mila.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Reva menautkan alis.


“Nggak apa-apa. Nih yang penting, kamu jangan khawatir sama hubunganku dengan Mila. Aku hanya menganggapnya teman. Justru aku prihatin pada hidupnya sekarang?”


Sekarang Reva merasa lega mendengar penjelasan Zacky. Menghelas napas panjang. Seakan rasa cemas yang tadi mengganjal hatinya, lenyap seketika.


...*****...


Sudah sejam Reva dan Zacky menunggu hasil lab. Tak sabar mereka mendengar penjelasan dokter kandungan terkait hasil labnya. Reva tampak cemas. Dia berharap kalau hasilnya tak ada masalah. Kecemasan yang sedang dirasakan istri saat ini dapat dengan mudah terbaca Zacky. Karena itulah, ia segera merangkul pundak istri yang duduk di sampingnya.


“Mas, semoga kita dapat punya anak ya,” ucap Reva dengan menyandarkan kepalanya ke bahu suami. “Aku ingin punya anak sebagai pelengkap keluarga kecil kita.”


“Ya. Aku pun sama seperti kamu. Aku membayangkan kita bermain dengan anak kita, berlibur bersama, dan makan bersama di meja makan.”


Reva tersenyum. Baru kali ini dia merasa sangat nyaman saat kepalanya menyandar di dada suami. Dia jadi ingat kenangan tiga tahun lalu. Malamnya usai suaminya itu mengucap janji suci. Dan sekarang di usia pernikahan mereka yang terbilang lama, sebuah harapan dipanjatkan keduanya, mengharap kedatangan buah hati.

__ADS_1


Tak beberapa lama panggilan dokter yang mereka tunggu-tunggu terdengar. Jantung keduanya berdebar makin cepat saat memenuhi panggilan dokter itu.


“Silahkan duduk, Tuan Zacky dan Nyonya Reva,” ucap dokter itu begitu suami istri memasuki ruangannya.


Ada secercah harapan tersirat di wajah keduanya. Reva sangat berharap dokter menyebut hasil yang menggembirakan dari observasi laboratorium.


Pasangan itu kemudian menatap dokter lamat-lamat, bersiap mendengar penjelasan dokter. Akan tetapi melihat raut muka dokter yang nampak tidak gembira, firasat mereka mengatakan pasti sebentar lagi mereka akan mendapat kabar yang tidak mengenakan.


Dokter itu pun menghela napas berat. Setelah itu, beliau perlahan mengatakan hal yang sebenarnya.


“Jadi begini Bapak Zacky dan Ibu Reva.” Ucapannya berhenti sejenak lalu mengedarkan pandangan. Sebenarnya berat untuk berucap pada pasangan yang sedang mengharap kehadiran seorang anak. Tapi sebagai dokter, dia harus profesional, mengatakan yang sebenarnya berdasarkan hasil lab. “Saya dan tim sejak kemarin sudah meneliti sel telur dan ****** yang Anda berikan, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibu Reva mengalami kelainan hormon sehingga dapat dimungkinkan tidak bisa punya anak.”


Kepala dokter lantas menunduk setelah menjelaskan itu. Tubuh Reva seketika terasa lunglai. Buru-buru memeluk suami. Hatinya seakan remuk seketika mendengar penjelasan itu. Menangis sejadi-jadinya dengan menyandar bahu suami.


“Yang sabar ya, Bu.” Dokter berusaha menguatkan pasiennya. Beliau pun ikut bersedih juga. Sebagai seorang dokter spesialis kandungan tentu sering merasakan kesedihan wanita-wanita yang tidak punya anak.


“Mas, aku mandul, Mas," rintih Reva di sela tangisnya.


Diusapnya rambut Reva dengan lembut. Zacky menghembuskan napas untuk sedikit melegakan rongga dadanya yang juga merasa sesak menerima kenyataan ini. Tapi dia tak lantas patah semangat. Dalam hati laki-laki itu masih optimis kalau istrinya bisa hamil. Coba bertanya lagi pada dokter apa ada cara lain agar dia dan istrinya bisa punya anak.


“Apa ada cara lain supaya kami punya anak, Dok?” Mata Zacky menatap dalam-dalam mata sang dokter. Matanya menyiratkan sebuah permohonan. Tentu dia tak ingin Reva hancur disebabkan kemandulan ini.


“Sebenarnya masih ada. Tapi itu perlu biaya besar.”


Secercah harapan kemudian kembali terbit di wajah Zacky mendengar perkataan dokter kalau ada cara lain agar Reva bisa hamil. Sedang Reva masih sesenggukan di pundak suami.


“Apa itu, Dok? Jangan khawatir soal biaya. Berapapun pasti kami bayar kalau memang cara itu bisa membuat kami punya anak,” terang Zacky dengan keyakinan yang masih tersisa.


“Cara itu dalam dunia kedokteran disebut dengan induksi ovulasi. Ibu Reva nantinya akan memperoleh serangkaian suntik hormon untuk merangsang pertumbuhan sel telur sehingga proses ovulasi berjalan lancar. Bila cara ini sukses memicu ovulasi, maka pembuahan akan terjadi secara alami.”


“Lakukan saja, Dok!” pinta Zacky sinar matanya mampu menularkan keyakinan pada sang dokter, kalau dia dan istrinya bisa punya anak.


“Ya. Akan kami coba semaksimal mungkin. Saya harap Ibu Reva tidak putus asa dulu. Benar memang kita sebagai manusia harus terus berikhtiar,” jawab dokter mantap karena tertular keoptimisan Zacky.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2