
Empat tahun sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi.
Dua anak kembar Mila kini sudah berusia lima tahun. Pertumbuhan tubuh mereka sangat baik. Nina sudah pandai berbicara banyak kata. Selain itu, dia juga sudah bisa mengasuh adiknya, Nani, dengan telaten. Sebab dia tahu Nani berbeda. Menurutnya, siapa lagi yang akan menyayangi Nani, kalau bukan dirinya?
Selama lima tahun ini, ibu mereka tak pernah memberikan perhatian lebih. Boro-boro mengajak bicara selayaknya seperti orang tua anak-anak lain. Malahan setiap hari, sikap ibu mereka jauh dari sikap peduli. Seringkali saat memberi mereka makan, nasi bungkus dilemparnya dengan kasar. Seakan kedua anaknya itu adalah hewan yang tidak diinginkan lagi keberadaannya. Karena sampai saat ini, ibu masih belum bisa menerima kenyataan kondisi Nani.
Sekarang Mila dan dua anaknya sudah tak menumpang hidup di rumah Reva. Semenjak Reva menikah, sudah setahun lamanya Mila hidup mandiri bersama dua putrinya. Bekerja menjadi buruh di pabrik konveksi milik saudara suami Reva.
Untung saja Reva dan suaminya sering menyambangi kontrakan. Membawakan susu serta makanan untuk Nina dan Nani. Prihatin dengan kondisi hidup sahabatnya, mereka menganggap anak kembar itu seperti anak sendiri.
Sebenarnya ada hal lain juga yang membuat Reva dan suaminya begitu perhatian dengan Nina dan Nani. Hal lain ini karena pasangan suami istri itu belum dikaruniai anak dalam tiga tahun usia pernikahan mereka.
Seperti yang terjadi pada hari ini. Reva dan suaminya datang membawa sesuatu di dalam kresek putih.
Setiap kali tante Reva dan suaminya datang, Nani mengerang minta digendong. Saat tubuh dan tangan Nani bergerak-gerak naik turun itu mengisyaratkan kalau dia ingin segera digendong. Sebab, saat digendong Tante Reva, Nani merasakan kenyamanan yang tak terkira. Karena ibunya sendiri tak pernah melakukan itu.
“Nina, apa kamu dan adikmu sudah makan?”
Nina menggeleng sembari memanyunkan bibir. Dan seketika hati Reva pun merasa miris. Dia yakin kalau siang tadi Nina dan Nani belum makan.
“Nah, berhubung kalian belum makan, Tante bawain makanan nih.” Dibukanya kresek putih yang dibawa itu. Begitu dibuka, ternyata di dalamnya berisi makanan dan minuman kesukaan mereka.
Di gendongan, Nani bergerak-gerak kegirangan melihat makanan yang amat disukainya. Tak sabar rasanya menghilangkan rasa lapar yang sedari tadi melilit perut. Akhirnya, ia pun minta turun. Tak sabar dengan rasa lapar itu, cepat-cepat ia membuka kotak makan yang telah diambilkan Tante Reva. Namun, saat mereka hendak melahap makanan itu, Reva mencegahnya karena mereka lupa baca doa sebelum makan.
“Nina ... Nani ... ingat sebelum makan sebaiknya apa dulu ya?” Telunjuk Reva mengacung lalu menengadahkan tangannya mengajak anak kembar itu berdoa.
“Berdoa, Tante. Maafin Nani, Tante. Maklum kami dari tadi pagi belum makan,” kata Nina.
Tersentak seketika Reva dan suami mendengar ucapan anak kecil itu. Mereka pun saling pandang. Ternyata lebih parah dari dugaan. Nina dan Nani dari pagi belum makan. Batin Reva dan suaminya merintih. Melihat mereka begitu memprihatinkan. Bisa dibayangkan betapa sakitnya perut mereka, menahan lapar dari tadi pagi.
“Ya Nina, maafin Tante. Tante nggak tahu kalo ternyata dari pagi kalian belum makan. Sekarang berdoa dulu ya. Terus kalian boleh deh habiskan semua makanan ini.”
__ADS_1
Nina mengangguk lalu memimpin doa mau makan. Selesai doa, sentuhan lembut tangan Reva di rambutnya memperbolehkan mereka untuk makan. "Nah, sekarang kalian boleh makan. Ayo cepat dihabiskan makanannya."
Mereka pun makan dengan lahap. Melihat mereka makan, Reva dan suaminya menitikkan air mata. Hal ini bukan kali pertama mereka menangis karena ini telah sering terjadi setiap kali menengok dua anak itu.
...*****...
“Sebenarnya kami mau dibawa kemana bu?” tanya Nina merasa heran pada pakaian yang dikenakannya sekarang. Mila memaksa dua anaknya itu memakai kaos oblong yang berlubang di sana-sini. Bahkan sengaja didandani agar terlihat dekil. Anak itu curiga, ibu pasti akan menyuruhnya mengemis lagi. Sama seperti dua hari lalu.
“Sudah jangan banyak tanya. Ayo cepet jalannya!” bentak Mila dan mendorong dua anaknya agar berjalan lebih cepat.
Nina dan adiknya tak mampu mengelak. Andai Nina bisa, dia akan lari bersama adiknya meninggalkan ibu kandung mereka. Agar mereka tak disiksa lagi.
Di dalam hati Nina merintih kalau disuruh mengemis lagi. Dia yakin kalau adiknya bisa berucap, pun merasakan hal yang sama.
Tak lama kemudian, langkah kaki mereka sampai ke terminal. Jarak yang cukup dekat dari rumah, membuat perjalanan mereka perlu waktu seperempat jam saja.
Setibanya di tempat itu, mereka langsung disuruh mengemis. Mengharap belas kasihan orang. Sungguh nelangsa hidup mereka.
Sempat beberapa kali Nina merengek, memohon agar ibu membatalkan perbuatan nista ini, namun mata ibunya yang melotot selalu mengalahkan permohonan itu.
“Bu sedekahnya, Bu," pinta Nina pada wanita setengah baya yang didekatinya. Memasang wajah memelas agar wanita itu kasihan padanya. Tapi tanpa disangka, bukannya kasihan wanita itu malah memalingkan muka. Tak mau berlama-lama di depan orang yang tak mau memberi uang, Nina pun menyingkir.
Selanjutnya ia dan adiknya menghampiri seorang bapak yang sedang asyik menghisap asap rokok.
“Pak sedekahnya, Pak.”
Berbeda dengan wanita tadi, bapak itu jauh lebih ramah saat Nina dan adiknya menghampiri. Beliau tersenyum begitu hangat. Sesaat beliau menyelipkan batang rokok di bibir. Lalu tangannya merogoh saku. Dari gengamannya, pria itu terlihat memegang uang banyak untuk diberikan.
Namun, alangkah terkejutnya Nina ketika bapak itu memberinya uang receh seratus rupiah. Rasanya Nina ingin menjerit saat itu juga. Biar pun masih anak-anak, dia juga tahu harga diri. Ternyata, di balik sikap ramahnya, laki-laki tua itu secara tidak langsung menghina mereka.
“Pak, ambil aja, Pak. Kami nggak butuh sedekah, Bapak.”
__ADS_1
Tanpa ragu, Nina kembalikan uang receh itu. Sikapnya sontak membuat bapak itu berang. Wajahnya merah padam. Rokoknya yang tinggal separuh lalu dibanting dan diinjak-injak dengan gemas.
“Ekh, pengemis sombong kamu ya!” Lantas pria itu mengacungkan telunjuknya persis ke wajah Nina.
“Asal Bapak tahu saya bukan pengemis. Saya ini terpaksa mengemis karena disuruh Ibu saya,” jawab Nina lalu segera mengandeng adiknya meninggalkan pria tua itu.
Dari kejauhan, rupanya ibu mereka tahu. Mila langsung naik pitam. Dengan bersungut-sungut, dia mengejar kedua anaknya.
“Hei, mau kemana kalian!”
Dengar teriakan itu, Nina pun segera mengajak adiknya mempercepat langkah. Baginya, ini kesempatan baik untuk kabur dari ibu kandungnya yang seperti ibu tiri itu.
“Ayo, cepat lari Nani. Jangan sampai Ibu mengejar kita,” seru Nina menggandeng erat tangan adiknya. Sesering mungkin ia menengok ke belakang. Lari kaki kecilnya tak mampu berlari lebih cepat. Hingga dengan mudah ibu mereka semakin mendekat.
Di wajah mereka nampak begitu cemas. Sungguh Nina ingin lepas dari cengkeraman ibunya. Kalau ini tertangkap, ia dan adiknya pasti akan lebih menderita.
Karena itu, Nina terus berjuang mempercepat lari. Sedang, adiknya sedari tadi mengerang minta berhenti. Dia sudah tak sanggup untuk berlari.
Dan saat keduanya berada di titik lelah, keajaiban Tuhan pun datang. Dari arah samping sebuah mobil sedan melaju kencang. Mengarah pada ibu mereka.
Melihat mobil itu akan menabraknya, Mila buru-buru menyingkir. Namun sialnya, dia malah ambruk ke aspal. Beruntung pengemudi mobil mengerem tepat waktu ketika akan menabrak badan Mila yang sudah tak bisa digerakkan.
Sebenarnya tadi Mila sudah pasrah tubuhnya ditabrak Mobil. Matanya pun sempat terpejam.
Di kejauhan, Nina yang melihat ibunya hampir tertabrak mobil, cepat-cepat menghampiri. Ingin menolongnya. Takut terjadi apa-apa.
“Ibu, Ibu tidak apa-apa?” tanya Nina ketika sudah mendekat. Anak itu terlihat sangat khawatir. Meski sering tersiksa batin, ia justru sedih kalau melihat ibunya celaka.
Akan tetapi kecemasan anaknya itu, tak membuat hati Mila tersentuh. Malahan memarahi. Menyalahkan mereka yang melarikan diri tadi.
“Pake nanya lagi," bentak Mila. Matanya melotot sangar pada kedua anaknya itu. Nani pun ketakutan melihat wajah berang ibunya. Dan cepat bersembunyi ke belakang Nina.
__ADS_1
“Gara-gara elu berdua nih, gue kayak gini. Coba kalau kalian nggak kabur tadi, gue nggak bakalan kayak gini tahu. Kalian semua harus tanggung jawab!”
Bersambung ....