Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 30


__ADS_3

Dua jam kemudian, pintu ruang operasi dibuka. Dokter keluar bersama perawat menemui Ibu Ranita untuk melaporkan hasil operasi. Saat dokter menghampiri, Ibu Ranita dan Reva bergegas menyambut. Mereka sudah tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan dokter setelah Mila dioperasi.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”


“Keadaan putri Ibu setelah operasi normal. Tadi sempat terjadi pendarahan tapi beruntung tidak terlalu parah dan kami punya cadangan darah yang cocok. Akan tetapi ....”


Tiba-tiba dokter tak meneruskan ucapannya. Terlihat beliau sedang berpikir. Sebagai orang pintar tentu akan berpikir dahulu sebelum berucap. Ibu Ranita sangat tahu itu. Dokter berhenti sejenak untuk memikirkan kalimat yang tepat agar keluarga pasien tidak terlalu syok mendengarnya. Namun, rasa penasaran wanita itu yang akhirnya mendesak dokter untuk melanjutkan ucapannya.


“Tapi kenapa, Dok?” tanya Ibu Ranita sambil menautkan alis.


“Begini, Bu. Saya mohon maaf sebelumnya kalau putri Ibu tidak bisa punya anak lagi. Selain itu, anak ibu sudah tak lago bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri.”


Akibat setelah operasi ini memang sudah diketahui Ibu Ranita sebelumnya. Karena itulah beliau tidak begitu terkejut mendengarnya. Kini beliau lebih ikhlas menerima saja. Inilah resiko yang memang harus diterima putrinya. Mungkin ini yang terbaik buat Mila supaya tak menjadi wanita nakal lagi.


...*****...


Seminggu kemudian, dokter memperbolehkan Mila pulang. Kebijakan ini membuat Ibu Ranita bersyukur. Akhirnya, setelah perawatan yang panjang di rumah sakit, putrinya bisa kembali pulih. Raut wajah kegembiraan tergambar pada tawa-tawa kecil keduanya saat berjalan meninggalkan ruang perawatan. Ketika melewati taman, Mila dan ibunya menghirup napas dalam-dalam untuk sekedar melonggarkan rongga dada yang sudah sebulan lebih terasa sesak.


“Alkhamdulillah akhirnya pulang juga ya, Bu,” gumam Mila mendongakan kepala pada ibunya yang sedang mendorong kursi roda.


“Ya syukurlah, Ibu senang kau bisa selamat dari kecelakaan itu, Nak. Itu berarti Tuhan masih memberikan kesempatan untuk kamu hidup lebih baik,” tutur Ibu Ranita sambil membelokkan arah kursi roda.


Mila tersenyum dan mendesah seakan semua beban dan rasa takut yang tadi membelenggu terlepas. Mengendurkan urat-urat di kepala dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda.


“Aku jadi nggak sabar ketemu Nina dan Nani, Bu,” kata Mila. Pandangannya beredar pada ruang-ruang kelas yang dilewatinya.

__ADS_1


“Ya tentunya mereka juga sangat merindukanmu, Mil.”


Sembari berbincang-bincang, tanpa terasa sampailah mereka di pintu keluar rumah sakit. Di sana sopir Ibu Ranita sudah menunggu. Ketika majikannya telah mendekat, pria muda itu membukakan pintu mobil. Dengan sigap, beliau membantu Mila berdiri dan berjalan beberapa langkah memasuki mobil.


...*****...


Hanya perlu waktu tiga puluh menit saja mereka sudah sampai di apartemen. Apartemen ini memang sudah lama diketahui Mila. Dulu waktu masih duduk dibangku SMA, dia pernah sekali menginap di apartemen ini.


“Wah ... Apartemen Ibu makin keren aja nih,” gumam Mila saat ibunya telah mengantarkan ke depan pintu apartemen. Interior luar apartemen ibunya sekarang membuat wanita itu kagum.


Ketika sampai di situ, Ibu Ranita melepas sebentar kursi roda untuk mengetuk pintu. Tak perlu waktu lama, pintu pun dibuka oleh baby sitter. Saat pintu terbuka lebar, tampaklah Nina dan Nani yang seperti biasa sedang asyik main rumah-rumahan.


“Nina, Nani ini Ibu pulang, Nak,” pekik Mila karena tak tahan menahan rindu.


...*****...


“Alkhamdulillah Ibu sudah sembuh,” gumam Nina. Kepalanya membenam di pelukan ibu seperti yang juga dilakukan saudara kembarnya.


Baru kali ini Mila merasakan nikmatnya dekapan kasih sayang sang anak. Dia merasa sangat berdosa kalau dulu tak pernah mengizinkan anak-anaknya untuk sekedar memeluknya. Masih ingat alangkah kejam dirinya pada kedua anaknya itu. Dulu pernah mendorong Nina yang berlari ingin mendekap saat dirinya baru pulang. Waktu itu dengan kasarnya mendorong Nina sampai jatuh.


Ketika Mila mengingat kekejamannya itu, makin membuatnya bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Karena dulu dia belum bisa mengartikan maksud dari yang dilakukan Nina. Sekarang barulah Mila tahu kalau kedua putrinya itu sangat mengkhawatirkannya. Kalau dipikir kembali, perbuatannya dulu memang begitu jahat.


“Maafkan Ibu, Nak. Selama ini Ibu sangat jahat sama kalian,” ucap Mila dengan menitikkan air mata.


Dalam dekapan, Mila merasakan gerakan kepala Nina yang mengangguk seraya mengiyakan atas permintaan maaf ibunya.

__ADS_1


“Bu, Nina sama Nani kangen banget sama Ibu,” ucap Nina yang diikuti dengan anggukan Nani saat wajah polosnya mendongak.


“Ibu juga kangen sama kalian, Nak,” jawab Mila sambil mengeratkan pelukannya. Tak bisa dipungkiri saat anak-anaknya masih bayi, dirinya tak pernah mau menggendong mereka. Untuk menghentikan Nina yang selalu menangis, dia hanya menyuruh baby sitter yang diperkerjakan Reva untuk menimang. Sampai mereka beranjak lima tahun pun Mila tak pernah sudi memeluk putrinya. Anggapannya kelahiran mereka hanya membawa beban dan derita saja. Tapi ternyata semua perlakuan kejam selama ini salah, justru kedua putrinya amat menyayangi dirinya. Dan pelukan ini adalah pelukan pertama Mila memeluk anak-anaknya.


Melihat yang dilakukan Mila dan anak-anaknya, membuat Ibu Ranita jadi ikut terharu. Dalam hatinya merasa bersyukur akhirnya Mila bisa sadar kalau semua perbuatannya selama ini salah.


“Ibu sangat senang kau telah sadar, Mil. Semoga setelah ini kau bisa makin menyayangi putrimu dan mau menerima kekurangan mereka,” pesan Ibu Ranita yang juga ikut memeluk putri dan kedua cucunya.


Setelah beberapa lama mereka berpelukan, larut dalam keharuan yang sekejap menyelimuti tempat itu, Ibu Ranita merasa harus segera menyudahi keharuan ini. Tak baik terlalu larut dalam kesedihan dan rasa sesal. Alangkah baiknya kalau semua sudah ikhlas saling memaafkan, kini diisi dengan lembaran baru. Di benak orang tua itu lalu muncul ide. Mumpung suasananya tepat, ini bisa digunakannya untuk mengadakan makan bersama secara sederhana di meja makan.


“Ya sudah mumpung semuanya sudah baikan, lebih baik kita makan bareng yuk. Udah bertahun-tahun rasanya Ibu nggak makan bareng satu meja dengan kamu, Mil. Apalagi sekarang ada Nina dan Nani, pasti tambah seru,” ucap Ibu Ranita sambil menegakan kepalanya kembali.


Mendengar ajakan itu, Mila dan kedua anaknya melepaskan pelukan. Mata mereka serempak menatap orang tuanya. Bersamaan mereka pun tersenyum seraya setuju dengan ajakan neneknya.


“Asyik,” pekik Nina sambil berjingkrak di dekat kursi roda.


Mila tersenyum saat memandangi tingkah Nina dan mengusap pucuk kepala anak itu.


“Baik. Nina dan Nani mau makan apa sekarang?”


Nina dan Nani berpikir sejenak. Mereka tampak benar-benar bingung untuk menjawab makanan yang diinginkan mereka. Selama ini mereka tak tahu makanan enak itu seperti apa. Karena dari kecil mereka hanya ikhlas memakan makanan yang dikasih ibu dan orang lain saja. Meskipun waktu itu mereka sering tak suka dengan yang dimakannya. Karena untuk mengganjal perut yang lapar jadi mereka makan saja makanan yang ada.


“Buatkan ayam goreng saja, Bu,” jawab Mila. Karena waktu itu Nina pernah ngomong kalau dia ingin ayam goreng. Namun, kala itu dirinya membentak Nina supaya tidak minta macam-macam karena uangnya tak ada. Padahal saat itu baru saja dapat uang dari lelaki hidung belang yang mengajaknya tidur.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2