
" hay aku temanya andre , hemmm bisakah aku meminjam pcrmu ini" jawab denis langsung ke intinya.
" sayang kau tunggu aku di dalam kamar ya , atau gak kau pergi shoping dulu." permintaan andre dengan sang wanita.
"hem tapi........" andre seakan tau apa yang di maksud sang wanita iya segera mengambil uang yang ada di dalam dompetnya. tak main" yang iya keluarkan, semua berwarna merah.
" segini cukup kan" jawab andre dengan santai.
" iya cukup kok sayang makasih ya" siwanita menc*um bibir andre dengan rakus tampa malunya.
Kini sang perempuan sudah pergi entah kemana. yang ada hanya denis dan andre.
" ndre lo gak capek apa tiap hari ganti" bahkan tiap jam ?" tanya denis ke andre.
" kayak lo gak gitu aja , apa jangan" lo udah tobat? soalnya udah lihat body bini lo " tawa andre geli.
" gila nyentuh aja belum, belum di sentuh udah pingsan aja tu cupu" jawab denis marah.
"estttt dia udah gak cupu lagi udah kayak artis gitu juga" andre tersenyum
__ADS_1
" haaaaaa artis ku yang ku siksa" jawab denis dengan tawa.
" den kalok lo mau nyiksa jangan keterlaluuan ya , kasian dia " andre tulus karna tau bagai mana marah seorang denis.
" lo tenang aja dia gak bakal mati , cumak memar"dikit haaaaaaa"
" gila lo den" jawab andre dengan melempar pena kearah denis.
Seketika tau mereka pecah, andre khawatir akan penyiksaan yang di berikan denis. menurutnya lebih baik menyika batin dari pada fisik.
" ndre trus lo kenapa ngundang gue kemari, apa loh udah siap buat hidup ayu menderita.? tanya denis lagi penuh penekanan.
" gue gak bakal lakuin cara keji kayak lo, gue lebih suka main kalem, gue gak bakal main kekerasan , lebih tepatnya gue bakal siksa dia secara batin." senyum yang menyeringai
"ntran lo ikut alurnya aja" senyum yang kian mereka.
Di tempat lain cahya sudah memasak makan malam untunya dan suaminya , walau suami yang sering menyiksanya lahir maupun batin, fisik maupun hati.
Dia selalu ingat akan kewajiban sebagai istri, terlepas karana sebagai pelayan atau apalah itu. senadung dan gemericik air yang menandakan bahwa cahya sedang mandi.
__ADS_1
" ohhhhhhh.... tuhan.......kucinta dia " itulah senandung merdu cahya.
Ia keluar hanya memakai lilitan haduk yang sempurna menampilkan p*ha yang nampa menggoda, dan belahan di bagian dad*nya . ia tak sadar akan mata yang memandanginya sedari tadi.
" kau senang sekali rupanya" tanya si pemilik mata pengintimidasi.
" aku begitu baik ya ? hingga kau tak menangis lagi? " tanya denis yang mendekat dan terus mendekat
Cahya yang sudah berada tepat di pinggir kasur pun terjatuh, dan di tindih oleh suaminya.
" kau ingin mengodaku?"
"tidak kak bukan be.....gitu.." jawab cahya yang gemetar bukan main.
" kalau bukan begitu,,,,,,,, terus seperti ini?" denis membuka handuk cahya , dan memperlihatkan apa yang ada di balik handuk itu.
"aku tidak tau bahwa kaka ada disini" jawab cahya sambil menyilangkan tanganya.
" aku menginginkanmu sekarang" lantang dan tegas itu yang cahya dengar. ingin rasanya ia berkata iya tak bisa, iya ingin menok semua ini.
__ADS_1
" kak cahya belum siap kak" jawbnya dengan terpejam.
" aku tak butuh jawabanmu! ingatlah cahya aku aturanmu!" tegas dan dingin