
Cahya melangkahkan kakinya menju dapur. berat rasanya dia harus menjalani hidup 1 atap dengan, peria bahakan bisa di sebut dengan penjahat. kenapa?
Setiap hari prilakunya denis bagaikan tak punya perasaan. siksaan selalu mengiringi hari" dari cahya . bukan hanya fisik yang capek batin jangan di tanya lagi, seaakan mati akan rasa.
Menangis haaaa hanya akan menambah deritanya , makanya sekarang cahya kuat agar jarang di siksa. walau kadang itu tak cukup untuk membuat denis berhenti menyiksanya.
"kak denis ayo sarapan dulu" cahya datang membawa kopi hangat biasa ia sajikan untuk denis.
"kak mau makan pakek apa , ayam atau ikan aja" unjar cahya lembut.
"kau bukan kah tau apa yang aku suka dan gak? jawab denisls tajam.
"kopi apa ini,? sudah aku bilang gulanya sedikit kenapa kamu selalu tidak becus" denis menyiramkan kopi ke badan cahya.
" maaf kak tapi itu sesuai takarannya kak!" jawab cahya dengan menunduk menahan rasa panas di badanya.
" berani"'"nya kau menjawab" kini denis bangkit dan menghampiri cahya.
"ahhhhhhhhh" keluh cahya menahan sakit di rambutnya.
__ADS_1
" kau harus tau aku aturan hidupmu ingat itu" denis berlalu meninggakan cahya yang tergeletak di lantai.
^^^"tuhan rasanya aku sudah tak sanggup harus begini, sudah sangat sabar aku tuhan hiksss..bukan hanya fisik yang di siksa bahkan batin ku sudah remuk redam."^^^
"tuhan kau maha tau tolong segeralah sadarkan kak denis, dan kuatkan aku tuhan."
Cahya selalu melalukan hal yang sangat baik di setiap kegiatanya sebagai seorang istri. entah kenapa pada hari ini dia begitu hancur dan sulit untuk menelan pil pahit dari derita yang di berikan suaminya.
Bagi suaminya ia hanya butiran debu yang tak berguna dan tak ada artinnya , di setiap kesempatan suaminya akan melakukan kekerasan padanya.
Ingin rasanya cahya menuntut cerai, tapi iya takut akan acaman denis akan memperjarakan kedua orang tunya. dia memikirkan adiknya yang masih harus mengenyam pendidikan sampai kuliah.
" ini semua demi ayah, ibu , dan juga ayan jagoan kecilku" kata cahya yang terduduk di lantai sehabis mengepel.
Kadang jika denis di apartemen cahya di surus ngepel seluruh ruangan , dengan cara manual ya kalian pasti tau, mengepel dengan cara manual itu kayak selembar lap pel menyertai serbet kecil, yang di masukan ke ember dan di peras lalu mengepel dengan berimpuh.
Tak jarang lutut cahya terluka. karna terlalu banyak geseran lantai yang membuatnya lecet kadang sampai berdarah. namun cahya tak perduli iya tetap semangat .
" setidaknya aku sekarang bisa mengepel dengan tongkat, hmsss badan kamu capek ya, kamu pasti bisa" semangat cahya pada sang tubuh.
__ADS_1
Malam hari pun tiba kini denis harusnya sudah datang , namun apa yang terjadi hari ini dia datang terlambat. mungkin dia banyak kerjaan , seakan ada angin yang cerah , cahya masuk kedalam kamarnya tampa menunggu denis , karna kelelahan cahya tertidur.
byurrrrrrr..........
"hapehhhhhpah" erang cahya yang gelagapan karna idungnya dan mulutnya basah tersiram air.
" kau........ siapa menyurmu tidur ahhhhh?"
" maaf kak cahya capek , jadi cahya tampa sadar tertidur di kamar kak" jawab cahya dengan ngemetar di tangan.
Denis tak menggubris ucapan cahya namun, .matanya tertuju pada baju cahya yang basah menerawang. seketika hasrat lelakinya meronta" ingin di kabulkan.
Denis menyeret cahya ke kamranya. dengan kasar menghempaskan tubuh cahya ke dalam tempat tidur.
" lanyani aku sekarang...." lantang dan tajam seakan perintah yang paling menakutkan.
"kak hiks....... hikssss........"
Dengan berutal denis melakukan aksinya , cahya hanya menatap pelapon dengan kosong tak ada namanya kenikmatan hanya sakit tersa. setelah melakukan aksinya dengan tega tenis menendang cahya ke bawah.
__ADS_1