
"pergi dari kamarku permpuan m"ra"an" bak tertusuk pisau yang sangat tanjam cahya melangkahkan kakinya dengan sangat berat dan menyeret , jujur saja bagian bawahnya sangat sakit.
Perlahan" iya memasuki kamarnya dan masuk kekamar mandi , dan tertawa kecil karna menampati ada darah mengalir di atas pahanya.
Memang hal ini bukan yang pertama pada dasaranya denis selalu melakukanya 1 minggu tak terhitung beberapa kali. namun entah setiap melakukanya selalu keluar darah segar di bawah maupun diatas , jika tidak bagian area rawanya pasti di bibirnya keluar darah segar.
Cahya tertawa kecil di bawah guyuran air , meratapinya bukan hal yang iya lakukan lagi. iya akan tertwa karna dengan ini dia bisa menertawakan nasib buruknya.
Setelah selesai dengan segalan alat mandi dia berusaha untuk mengelapkan matanya ke dalam mimpi , perlahan ia terlelap dan tertidur.
Pagi hari tiba cahya sudah sibuk denagan sarapan untuk sang suami, tak beberapa lama dia sudah siap dengan sarapanya dan sang suami juga.
Denis turun dari tangga biasa dengan pakaian rapi dan setelan jasnya yang menambah kegantenganya.
"andai saja wajahmu seganteng perilakumu , betapa indahnya dirimu kak" batin cahya.
" siapkan sarapanku sekarang" denis duduk dan melahap semua sarapan cahya.
" ingat nantik ada tamu yang penting bagiku , jangan sampai mengecewakanku."
__ADS_1
"iya kak cahya bakal kalukan yang terbaik."
Setelah denis keluar dari apartemen , cahya mengerjakan segalan pekerjaan rumah dengan semangat karna sekarang ada tamu yang begitu penting bagi denis, dia tak mau kalau denis bakalan menyiksanya lagi.
Cahya memasak tempe balado, ayam gulai, dan beberapa menu penunjang makan malam sekarang. dengan sigap menyediakan masakanya dengan sangat rapi.
Tak terasa bel berbunyi dan cahya berlari menuju bunyi tersebut.
cklekkkkkk............
Mulut cahya menganga betapa terkejutnya cahya yang datang denis berserta ander dan para wanita di sampingnya.
"mbak.? sejak kapan saya jadi mbak mu ahhhhhh babu?" kata salah satu wanita itu.
" maafkan saya nona" jawab cahya menunduk.
" dimana makanannya begini kau menyambut tamu pentingku ahhhhhh?" denis maju dan mencengkram rahang cahya.
"ummmn itu....sudah cahya siapin kak.."
__ADS_1
"den lo gak usah sekasar itu pada cahya kasian den" jawab andre yang melerai kami.
Denis menghempaskan tanganya dari wajah cahya. melanjutkan langkahnya sambil memegang hal yang tak pantas dari si wanita.
Mereka duduk bersama di atas meja dan memakan semuanya dengan lahap,
" cahya masakan kamu enak ya " kata andre yang memuji makanan cahya memang benar cahya jago masak.
" ehmmm kak ini hanya masakan sederhan" jawab cahya dengan menunduk.
Andre memperhatikan seluruh tubuh cahya, banyak luka memar dan ada perban di lutut , sungguh miris hidupnya cahya , andre tau ini perbuatan denis
Kini di meja makan hanya tersisa tempe dan telur karna semua hidangan yang di buat sudah ludes , dan betapa kejamnya meraka hanya menyiksakan tempe dan telur, cahya membereskan piring" kotor menatanya dengan rapi.
Cahya melalukanya dengan cepat agar iya bisa makan , karna perutnya sudah keroncongan. kini cahya memasukan nasi dan tempe juga telurnya kedalam puring.
" hmsss setidaknya ini sudah cukup dari pada di luar sana orang belum tentu bisa makan"
Cahya memilih makan di belakang karna takut menggangu kesenangan denis dan wanitanya, kalok ditanya hati cahya sakit yang jelas sakit.
__ADS_1