Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Noise


__ADS_3

Elma mendelik, kaget mendengar suara teriakan yang cukup keras dari kamar sebelah tempat ia menginap. Hal itu membuatnya merasa sangat jengkel, karena wanita yang berteriak itu sudah membuatnya terganggu.


“Berisik banget mainnya, ketahuan amatirnya,” gumam Elma, yang merasa dirinya sudah pro daripada wanita yang berteriak itu.


Beberapa kali jeritan wanita itu membuat Elma terganggu, sehingga Elma jadi kesal sendiri dibuatnya.


“Kenapa berisik sekali, sih? Ya ampun ....”


Elma melangkah menuju ke arah ranjang tidurnya, lalu segera menarik selimutnya untuk segera beristirahat. Namun nahas, jerit desah wanita itu benar-benar sangat membuatnya terganggu.


“Astaga ... kenapa semakin lama semakin berisik, sih?” gumam Elma, yang merasa sangat terganggu dengan teriakan tersebut.


Tak ingin mendengarkan desah nikmat wanita itu lebih lama lagi, Elma pun segera mengambil earbud miliknya, kemudian segera memutar musik yang cukup keras. Usahanya tersebut ternyata cukup berhasil, sehingga ******* wanita itu tidak lagi terdengar di telinganya.


“Nah ... bagus deh udah gak terlalu jelas banget,” gumam Elma lagi, yang lalu segera beristirahat.


***


Niat hati ingin berlibur, Elma malah dibuat tidak bisa tidur semalaman suntuk. Teriakan wanita itu benar-benar sangat mengganggunya, karena earbud yang ia kenakan tidak mempan menghalau teriakan wanita itu yang semakin keras.


Mata panda terlihat jelas pada kelopak mata Elma, saking tidak beristirahat dengan tenang. Ia juga tidak bisa protes, karena ia bukan pengguna VIP di tempat ini.


“Sial, siapa sih orangnya yang mengganggu itu?” gumam Elma, yang hendak protes langsung kepada wanita yang semalaman suntuk mendesah kenikmatan itu.


Elma mengetuk pintu ruangan kamar sebelah, dengan sangat berani. Ia memutuskan untuk melakukannya, karena ia tidak bisa mengubah kamar yang sudah dipesan oleh Mommy-nya.

__ADS_1


“Seenaknya aja berisik di tempat umum begini. Kalau mau berisik tuh di rumahnya!” gerutu Elma, yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.


Tak lama setelah Elma mengetuk pintu kamar tersebut, seseorang membuka pintu kamar itu. Matanya keduanya membulat, ketika mereka sama-sama saling bertatapan satu sama lain.


Terlihat seseorang yang sangat tidak asing bagi Elma. Begitu pun sebaliknya, ia sangat tidak asing dengan Elma.


“Morgan?”


“Elma?”


Mereka saling bergumam serentak, membuat mereka tak habis pikir dengan melihat satu sama lain di sana. Niat hati untuk berlibur dan melarikan diri dari masalahan dengan Morgan, Elma malah bertemu dengan Morgan kembali di tempat ini.


Sungguh mengenaskan.


“Kamu mau ngapain di sini?” tanya Morgan, Elma memandangnya dengan sinis.


“Ah ... jangan-jangan, kamu lagi liburan bareng sama cowok yang udah ngerasain tubuh kamu sebelum saya, ya?” bidik Morgan sinis, Elma mendelik kaget mendengar tuduhannya yang tak beralasan itu.


“Apa maksud kamu? Aku di sini sendiri, dan gak liburan bareng siapa pun!” bentak Elma, kesal dengan apa yang sudah dituduhkan Morgan padanya.


Morgan menyeringai tipis mendengarnya, “Halah, buat apa kamu ke pulau cinta, kalau tidak sama pasangan? Pulau ini khusus untuk orang yang berpasangan, dan kamu ke sini tidak membawa pasangan, itu pembohongan besar dan semua orang tidak akan percaya sama kamu!” ujar Morgan, sontak membuat Elma kesal mendengarnya.


“Apa, sih? Memangnya yang berpasangan aja yang boleh ke sini? Asalkan ada uang, why not? Everything will be happend if we have money!” ujar Elma, Morgan mendelik kaget mendengarnya.


“Ya ... gak pantas aja, walaupun kamu punya uang banyak. Kamu pantasya ke pulau harapan, agar semua harapan yang kamu mau terwujud!” ujar Morgan, Elma hanya memandangnya dengan tatapan yang tidak suka.

__ADS_1


“Oh ... pulau ini khusus untuk yang punya pasangan? Berarti kamu ke sini sama pasangan kamu, dong? Oh ... pasangan yang semalaman suntuk mendesah penuh kenikmatan itu? Ah, ketahuan banget gak pro!” ledek Elma, Morgan mendelik kaget mendengarnya.


“Eh ... jangan asal bicara kamu!” bentak Morgan sedikit kesal, dengan apa yang Elma katakan.


“Ya, sedikit-sedikit jerit, desah, ketahuan banget dibuat-buatnya. Masih amateur, gak ngerti cara desah. Aku bisa jamin kalau tubuhku dan cara mainku jauh lebih baik daripada wanita itu!” ujar Elma, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.


Harus diakui, Morgan memang merasakan perbedaan dari cara mereka bermain. Setiap apa pun yang Elma lakukan terasa sangat menantang baginya, dan bahkan sampai detik ini, Morgan tidak bisa melupakan sensasi melakukan hal itu dengan Elma. Namun, karena ia tidak bisa melakukannya lagi bersama dengan Elma, ia terpaksa mengajak wanita lain untuk melakukan hal panas tersebut.


Namun, hasil permainannya tidak sama dengan saat bersama dengan Elma. Wanita itu terlihat sangat mengada-ngada, dan melakukan ******* secara sengaja. Morgan sangat mengerti jelas, dengan apa yang wanita itu lakukan semalam.


‘Sial wanita ini! Memang benar, wanita ini sangat sulit dilupakan. Bahkan sekarang saya sangat menyesal sudah melakukannya,’ batin Morgan, yang merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan.


Meninggalkan wanita secantik dan se-elegant Elma, Morgan sebenarnya berada dalam masalah besar. Ia tidak seharusnya melakukan hal itu, tetapi ia sudah keburu mengatakannya di hadapan Elma, karena ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan.


Elma memandang sinis ke arah Morgan. “Tolong ajari pasangannya, Tuan. Jangan sampai berisik lagi saat mendesah, karena saya menyewa kamar tepat di sebelah kalian. Niat saya berlibur di sini, malah bertemu bala seperti Anda berdua!” ujar Elma dengan ketus, membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.


Elma pun pergi dengan perasaan yang sangat lega, karena sudah berhasil mengeluarkan uneg-uneg yang ia pendam semalaman suntuk. Mendengar jeritan wanita itu semalaman, Elma merasa sangat kesal dengan tidak bisa melakukan apa pun di malam itu.


Namun sekarang, permasalahan sudah selesai. Elma sudah berhasil membuat Morgan malu sendiri dengan keadaannya. Elma benar-benar sangat andal dalam hal menyudutkan.


Setelah melabrak Morgan di sana, Elma melangkah menuju ke arah ruangan makan dari penginapan yang ia pesan. Di sana sudah tersedia berbagai macam lauk, yang bisa diambil dengan cara prasmanan.


Elma mengambil makanan secukupnya, karena harus tetap memerhatikan penampilannya. Ia tidak boleh makan terlalu banyak kalori, karena bisa memengaruhi berat badannya, dan bisa memengaruhi performanya dalam berhubungan intim.


Semakin berat tubuhnya, semakin besar tenaga yang harus ia keluarkan untuk melakukannya.

__ADS_1


Setelah mengambil makanan yang ia butuhkan, Elma pun segera meletakkan makanannya pada meja makan yang tersedia. Di sana, ia bisa dengan bebasnya melihat pemandangan indah dari pesisir pantai bebas. Pikirannya terasa sedikit tenang, karena melihat ombak kecil di hadapannya itu.


“Excusme, ini tempat kita!”


__ADS_2