
Tawa Elma berangsur pelan, sampai akhirnya pun berhenti. Kini, Elma hanya bisa memegangi kepalanya, membuat Arash mendelik kaget melihatnya.
“Kamu kenapa, Elma?” tanya Arash, bingung dengan apa yang terjadi pada Elma.
Arash segera menyongsong tubuh Elma, tetapi Elma tidak ingin disentuh oleh Arash. Elma segera menepiskan tangan Arash, membuat Arash terkejut ketika Elma menepiskan tangannya.
“Aku gak apa-apa,” ujar Elma, yang terlihat tidak seperti yang ia katakan.
“Ayo kita ke rumah sakit—”
“Gak perlu, Rash. Aku gak apa-apa, kok!” pangkas Elma, yang berusaha kuat di hadapan Arash.
Arash tak bisa melakukan apa pun, karena ia harus menjaga sikapnya di hadapan Elma. Ia tidak ingin sampai Elma merasakan risih dengan dirinya.
“Ya sudah, kalau tidak mau ke rumah sakit, paling tidak saya antarkan ke ruangan apartemen kamu ya,” ujar Arash.
Karena Elma tidak ingin terjatuh karena lemas dan pusing, Elma pun mengangguk kecil menyetujui ucapan Arash.
Arash tersenyum, lalu segera memapah tubuh Elma untuk menuju ke arah ruangan apartemennya.
Sepanjang jalan menuju ke ruangan apartemen Elma, ia merasa sangat tidak nyaman. Karena Arash yang bertelanjang dada, dan hanya memakai celana pendek selutut, hal itu membuat pikiran Elma melantur. Tubuh Arash memanglah sangat bagus dan atletis, membuat Elma sampai tidak fokus dengan langkah kakinya.
‘Arash tubuhnya okay banget. Apa karena sering gym jadi begitu?’ batin Elma yang malah berfokus kepada dada bidang Arash.
Langkah kaki Elma menjadi tidak teratur. Hal itu membuat langkah mereka melambat, dan Arash pun menyadari Elma yang sedang memandangi dadanya.
“Hati-hati,” ujar Arash, yang membuyarkan lamunan Elma.
Elma mendelik kaget, lalu segera membenarkan langkah kakinya dan berjalan menuju ke arah ruangan apartemennya.
Setelah melewati lobi dan masuk ke dalam lift, mereka pun sampai di depan pintu ruangan Elma. Elma merasa sangat aneh, dengan Arash yang seperti sudah mengetahui dengan jelas di mana ia tinggal.
“Kamu seperti yang punya rumah saja, tahu di mana aku tinggal,” seloroh Elma, Arash tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Saya pagi tadi juga meletakkan bunga di sini. Wajar kalau saya tahu ruangan kamu,” seloroh balik Arash, membuat Elma tersenyum tipis mendengarnya.
“Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?” tanya Elma, masih penasaran dengan apa yang Arash ketahui tentangnya.
“Kemarin saya ngikutin kamu dari gym ke sini. Ternyata malah tinggal di apartemen yang sama. Saya ngikutin kamu, sampai tertinggal barang-barang saya di gym,” jawab Arash, membuat Elma tertawa kecil mendengarnya.
“Siapa suruh ngikutin,” ujar Elma yang masih dengan tawanya, membuat Arash tersenyum melihat tawa Elma yang sangat elegan.
“Teruslah tertawa, jangan pernah hilang tawa ini dari diri kamu,” ujar Arash, Elma sejenak mendelik karena mendengar ucapan Arash yang seperti itu.
Elma tak menjawab, dan hanya menunduk saja meresapi ucapan Arash padanya.
‘Arash itu lelaki yang baik, sampai mau lihat aku tertawa terus. Aku sampai lupa, kapan terakhir kali aku tertawa? Dengan Morgan pun aku sama sekali gak pernah tertawa. Tersenyum pun hanya karena formalitas di hadapan dia,’ batin Elma, yang mulai merasakan nyaman berada di dekat Arash.
Elma memandang Arash sinis, “Jangan sampai kamu macam-macam di sini. Aku punya banyak pengawal dan pelayan!” ancamnya, membuat Arash tertawa kecil mendengarnya.
“I swear, saya gak macam-macam sama kamu,” ujar Arash, yang berusaha untuk membuat Elma percaya dengannya.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan apartemen itu, dan ketika sudah di dalam, mereka bertemu dengan salah satu maid setia Elma.
“Ya ampun, Nona. Apa yang terjadi denganmu?” tanya maid itu, merasa sangat khawatir dengan keadaan Elma yang datang dengan dipapah oleh lelaki asing.
Dengan dibantu Arash, Elma pun duduk di sofa yang berada di hadapannya. “Saya gak apa-apa,” jawab Elma kepada sang pelayan.
“Mau saya buatkan teh hangat?” tawar maid, Elma pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Tolong buatkan satu minuman untuk tamu saya,” pinta Elma, sang pelayan pun mengangguk patuh lalu segera membuat minuman yang diminta Elma.
Arash duduk di sebelahnya, berusaha untuk memberikan kehangatan pada Elma. Ia duduk dengan pandangan yang hangat, dan memandang ke arah Elma yang saat ini pun sedang memandang ke arahnya.
‘Tatapannya ... gak pernah aku lihat dari Morgan,’ batin Elma, yang mulai melihat sosok Arash yang ada di hadapannya.
“Setelah ini, kamu istirahat saja,” ujar Arash, Elma pun mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan istirahat nanti. Kamu ... mau sampai kapan di sini?” tanya Elma, yang sebenarnya tidak enak mengatakannya pada Arash.
“Saya akan pergi setelah kamu beristirahat nanti,” jawabnya, membuat Elma menyetujuinya.
“Permisi, Nona. Ini minuman Anda.” Sang pelayan menyuguhkan minuman yang ia buat untuk Elma dan juga Arash.
“Silakan diminum,” ujar Elma, Arash pun mengangguk kecil mendengarnya.
Mereka pun sama-sama meminum the buatan sang pelayan. Arash merasa sangat senang, karena Elma yang tidak terlalu buruk untuk menjamunya saat ia berkunjung ke tempat Elma.
‘Dia tidak terlalu buruk, meskipun saya tahu kalau dia mengatakan semua itu hanya karena ia khawatir, kalau saja saya berniat jahat padanya,’ batin Arash, yang mulai menelaah sikap dan sifat Elma di hadapannya.
Karena sudah tidak kuat dengan rasa sakitnya, Elma pun bangkit di hadapan Arash. “Aku izin istirahat dulu,” pamit Elma, Arash pun bangkit lalu mengangguk mendengarnya.
“Baiklah, selamat beristirahat,” ujar Arash, membuat Elma mengangguk kecil mendengarnya.
Elma pun pergi menuju ke arah kamarnya, untuk beristirahat. Saking lelahnya ia dan juga sakit yang ia rasakan, ia jadi tidak bisa berlama-lama berbicara dengan Arash.
Sementara itu, Arash masih saja berdiri di sana. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Elma, maka dari itu ia berpikir akan terus menjaga Elma sampai Elma selesai beristirahat.
Arash mengeluarkan handphone-nya, untuk menghubungi seseorang.
“Ham, tolong bawakan saya baju ya. Saya ada di lantai 9 ruangan 905,” pinta Arash, yang meminta tolong kepada asistennya yang bernama Ilham.
***
Elma mencium aroma yang sangat sedap dari dapurnya. Karena mencium aroma ini, ia jadi terbangun dari tidurnya dan merasakan perutnya yang lapar.
“Wangi banget masakan maid,” gumam Elma, yang lalu segera bangkit untuk menuju ke arah ruangan dapur apartemennya.
Elma berjalan gontai ke arah dapur, karena ia tertarik dengan aroma kentang goreng yang tercium sampai ke kamarnya. Matanya membulat, ketika ia melihat seseorang yang saat ini sedang memasak di hadapannya.
“Kamu ....”
__ADS_1