
Saat makan malam kali ini, Elma makan bersama dengan Arash. Semua makanan sudah tersedia sejak tadi, membuat selera Arash tergugah karena melihatnya.
Berbeda dengan Arash, Elma melihatnya dengan tatapan yang sangat jijik. Ia merasa sangat mual, ketika melihat makanan sebanyak ini di hadapannya. Apalagi aroma makanan ini yang terasa sangat amis, membuatnya bertambah jijik mencium aromanya.
Arash mengulurkan sendok berisi makanan ke arahnya. “Ayo makan dulu,” ujarnya, membuat Elma menggelengkan kepalanya kecil.
“Aku gak bisa makan, karena bau amis!” tolak Elma, yang indera penciumannya semakin tajam karena perubahan hormon pada dirinya.
“Jangan bernapas,” ujar Arash, yang tetap berusaha untuk membuat Elma makan makanan yang ada.
"Jangan napas? Mati dong gue," seloroh Elma kesal pada Arash, tetapi Arash hanya bisa diam mendengarnya.
Elma berusaha menurut, dan mencoba untuk makan makanan yang Arash sodorkan sejak tadi.
Satu suapan berhasil mendarat di mulut Elma. Ia merasa tidak menyangka, kalau Arash akan melakukan hal ini untuknya. Padahal, ia sudah tidak memiliki apa pun lagi di dirinya. Kehormatannya sebagai wanita sudah tidak ada, karena pekerjaannya yang memang harus melakukan hal itu dengan tiap klien yang memesannya.
Elma memandang Arash dengan dalam, “Kenapa kamu baik banget sih sama aku?” tanyanya, Arash memandangnya dengan tatapan yang dalam.
“Karena kamu itu ... seorang Elma,” jawab Arash, yang lagi-lagi membuat Elma merasa kesal mendengar ucapan Arash.
Elma memandang sinis, “Kenapa sih, kamu selalu jawab ngawur kalau ditanya?” tanyanya sinis, Arash pun hanya bisa tersenyum mendengarnya.
“Yang tadi sakit gak? Saya namparnya terlalu keras, ya?” tanya Arash, Elma pun menjadi sangat kesal mendengarnya.
“Ih, kenapa sih? Aku males ngomong sama kamu!” rengek Elma, merasa kesal dengan Arash karena selalu mengalihkan ucapannya.
Arash hanya bisa tertawa kecil, melihat Elma yang saat ini merajuk di hadapannya.
“Ayo makan lagi, nanti kita bicara setelah makan. Kamu boleh tahu apa pun mengenai saya. Semuanya, akan saya jawab,” bujuk Arash, membuat mata Elma berbinar mendengarnya.
“Really?” tanya Elma memastikan semuanya.
“Sure, saya gak pernah ingkar janji,” jawab Arash, membuat Elma mengangguk setuju mendengar Arash mengatakan hal itu.
__ADS_1
Arash kembali menyuapi Elma, membuatnya merasa sangat senang bisa memberikan perhatian kepada Elma. Begitu juga Elma, yang merasa senang bisa diperhatikan Arash.
Setelah menyelesaikan makan mereka, Arash dan Elma berbincang sejenak di sofa. Mereka saling memandang, membuat Elma merasa agak cangungg dengan pandangan mata Arash.
“Gimana? Tadi katanya kamu mau jawab semua pertanyaan aku?” tanya Elma, Arash mengangguk kecil.
“Ya, apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Arash balik, Elma berpikir sejenak.
“Kamu benar CEO? CEO di perusahaan apa? Perusahaan bergerak di bidang apa?” tanya Elma yang menghujani Arash dengan berbagai macam pertanyaan.
“Wow, satu per satu dong,” ujar Arash, membuat Elma memanyunkan bibirnya karena kesal.
“Jawab aja, sih!” bentak Elma, Arash pun tertawa kecil mendengarnya.
“Saya CEO di perusahaan milik ayah saya. Perusahaan bergerak di bidang jasa keamanan dan kebersihan. Perusahaannya ... masih rahasia,” ujar Arash menjelaskan, membuat Elma merasa sangat kaget mendengarnya.
“Wow, ayah kamu punya perusahaan? Hebat, dong!” ujar Elma, Arash tersenyum.
“Terus, kamu bisa masak makanan Perancis dari mana?” tanya Elma lagi.
“Saya pernah mengunjungi teman saya di Perancis. Kebetulan dia itu adalah koki di salah satu resto Perancis, jadi saya minta ajari dia untuk memasak steak,” jawab Arash, Elma pun mengangguk paham dengan jawaban Arash.
“Terus, kenapa kamu baik sama aku?” tanya Elma lagi.
“Saya baik sama kamu, karena saya hanya memandang kamu sebagai orang yang saya cintai. Saya hanya baik ke kamu aja, tidak ke sembarang wanita,” jawab Arash, membuat Elma semakin penasaran dengan jawaban Arash kali ini.
“Memangnya kamu cinta sama aku? Di pertemuan singkat ini?” tanya Elma, Arash mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, pertemuan singkat ini memang krusial banget. Walaupun kamu memiliki profesi seperti itu sebelumnya, saya gak masalah. Tapi jangan sampai kamu mengulangi kesalahan lagi,” ujar Arash, Elma terdiam sejenak mendengarnya.
“Kenapa?” tanya Elma penasaran.
“Saya gak bisa terima, gak akan pernah bisa nerima,” jawab Arash, membuat Elma memandangnya dengan datar.
__ADS_1
‘Dia bilang gak memperlakukan wanita sembarangan, berarti sebelumnya ada yang dia perhatikan selain aku?’ batin Elma, berusaha berpikir logika mengenai hal ini.
“Sudah nanyanya?” tanya Arash, Elma tersadar dari lamunannya.
“Ah? Sudah,” jawab Elma.
“Ya sudah, sekarang gentian saya yang akan bicara,” ujar Arash, membuat Elma merasa sangat bingung mendengarnya.
“Mau bicara apa?” tanya Elma, penasaran dengan apa yang Arash bicarakan padanya.
“Saya ingin membawa kamu ke apartemen saya, dan merawat kamu di sana. Saya gak percaya dengan para pelayan kamu,” ujar Arash, sontak membuat Elma mendelihat kaget mendengarnya.
“Apa? Aku gak mau tinggal di apartemen kamu! Aku mau di sini aja!” tolak Elma dengan sinis, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang.
“Jangan begitu, saya harus menjaga dan merawat kamu. Saya gak bisa ninggalin kamu sendirian di sini,” ujar Arash, berusaha untuk merayu Elma agar bisa ikut dengannya ke apartemennya.
Elma menggelengkan kepalanya, “Aku gak mau tinggal di apartemen kamu! Aku maunya di sini aja, bareng maid. Mereka juga bisa kok rawat aku,” tolaknya, yang masih tetap kukuh menolak ajakan Arash padanya.
“Ya sudah, kalau kamu gak mau tinggal di apartemen saya, saya yang akan tinggal di sini untuk menjaga kamu!” ujar Arash membuat keputusan, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Gak mau! Pokoknya kamu gak boleh tinggal di sini!” tolak Elma, yang merasa sangat tidak nyaman mendengarnya.
Pasalnya, Elma sama sekali tidak pernah mengajak siapa pun tinggal di apartemennya. Hal itu akan terasa sangat aneh, jika ia menyetujui Arash untuk tinggal di apartemennya.
Arash mengerutkan dahinya, “Kenapa saya gak boleh tinggal di apartemen kamu? Saya mau menjaga kamu, tetapi kamu malah menolak,” tanyanya sedikit sinis, membuat Elma menghela napasnya dengan panjang.
“Gak gitu, Arash. Aku gak biasa tinggal bareng sama orang lain. Terlebih lagi kamu itu pria, dan aku gak bisa begitu,” ujar Elma menjelaskan, membuat Arash merasa sangat sinis memandang ke arahnya.
“Saya adalah calon suami kamu, jangan menolak hal yang saya inginkan,” ujar Arash dengan penuh rasa percaya diri. Hal itu membuat Elma mendelik tak keruan mendengarnya.
“Kamu calon suami aku? Aku gak bilang setuju, tuh!” sanggah Elma, yang merasa sangat heran dengan apa yang Arash katakan padanya.
“Saya yang bilang tadi,” ujar Arash, dengan nada yang dingin.
__ADS_1