Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Lihat Saja Nanti


__ADS_3

Melihat reaksi Elma yang seperti itu, Morgan merasa kesal dan merasa harus memberikan pelajaran pada Elma.


Morgan memandang sinis ke arah Elma, “Jaga bicara kamu, ya! Saya ini klien kamu. Masa kamu memperlakukan klien seperti ini?” bentaknya, Elma memandangnya dengan sinis.


“Bukan lagi! Sekarang sudah lewat dari waktu kesepakatan, dan lo gak akan pernah bisa nyuruh-nyuruh gue lagi! Gue juga berharap, ini adalah kesepakatan terakhir Mommy sama lo! Gue gak mau ketemu dan ngelayanin klien kayak lo lagi!” bentak Elma, yang lalu segera menuju ke arah kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.


Morgan mendengus kesal, saking kesalnya ia dengan Elma, ia terus memandang ke arah pintu masuk kamar mandi.


“Elma ... Elma. Kenapa kamu kasar sekali terhadap saya? Lihat saja, saya gak akan kasih kamu ampun, dan kamu akan menyesali semua perbuatanmu!” ujar Morgan yang merasa harus memberikan Elma sentilan atas apa yang Elma lakukan terhadapnya itu.


Setelah selesai Elma mengenakan pakaiannya, Elma pun keluar dari kamar mandi, dan memandang sinis ke arah Morgan.


“Semuanya cukup sampai di sini! Mudah-mudahan aku gak akan pernah ketemu kamu lagi!” bentak Elma, Morgan pun menyunggingkan senyumannya mendengar hal itu.


“Ya, mudah-mudahan kita tidak akan pernah ketemu lagi,” ujar Morgan, yang menyetujui apa yang Elma katakan itu.


Elma pun pergi dari hadapan Morgan, dengan langkahnya yang elegan. Hal itu membuat Morgan merasa kesal, karena sikap Elma yang sudah keterlaluan itu di hadapannya.


“Semoga saja terjadi sesuatu padamu, sehingga kamu akan mencari saya nantinya. Di saat itulah, saya akan membalas semua perkataan kasar kamu terhadap saya!” gumam Morgan, sembari menyunggingkan senyumannya.


***


Sudah lewat tiga minggu sejak kebersamaannya dengan Morgan. Elma merasa lemas dan tak bertenaga, karena melayani banyak sekali klien.


Demi menjaga kebugarannya, Elma pun pergi ke tempat fitness. Ia merasa harus menjaga bentuk tubuhnya, agar ia tidak cepat merasa lelah ketika sedang melakukan hal itu dengan para kliennya. Lemak di tubuhnya sangat mengganggu aktivitas dan pekerjaannya itu.


Elma memandang ke arah cermin di kamar mandi gym itu, dan memerhatikan lemak ada perutnya yang terlihat membesar. Hal itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman dengan penampilan seperti ini, dan ingin sekali membakar lemak pada perutnya.

__ADS_1


“Ya ampun, kenapa lemak di perut sampai besar begini? Apa aku gak jaga pola makan selama 3 minggu ini? Kenapa cepat banget bikin perutku membesar begini?” gumam Elma, yang merasa sangat heran dengan yang terjadi padanya.


“Jangan sampai semua klienku kabur, hanya karena melihat gumpalan lemak di perut dan di paha! Aku harus menjaga kebugaran dan juga jangan sampai lemak ini membuatku lemas. Hanya beberapa detik saja sekarang sudah mulai capek,” gumam Elma, yang harus bisa menyingkirkan lemak pada perut dan pahanya itu.


Elma pun keluar dari kamar mandi, dan segera menuju ke arah treadmill.


Sepanjang jalan menuju ke arah treadmill, Elma merasa sangat risih melihat semua orang memandanginya dengan tatapan seperti itu. Memang salahnya sudah menggunakan pakaian yang sedikit terbuka, tetapi ia tidak mau dilihat dengan pandangan seperti itu.


‘Apa yang salah? Aku cuma pakai celana mini saja, padahal dadaku tertutup,’ batin Elma, heran dengan pandangan mereka ke arahnya.


Elma tak memedulikan, dan hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ia melakukan pemanasan lebih dulu, agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan nantinya.


Saat melakukan pemanasan, Elma membungkukkan tubuhnya, dan mengangkat bokongnya. Hal itu membuat para lelaki yang ada di belakangnya, memandang ke arahnya dengan sangat serius.


Pandangan itu membuat Elma risih, tetapi ia tak ingin menghiraukan apa yang mereka lakukan.


“Permisi Nona,” sapa seseorang, membuat Elma menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arahnya dengan heran.


“Ada apa, ya?” tanya Elma, heran dengan maksud kedatangan seorang pria tua, yang memiliki tubuh yang kecil tetapi gemuk.


“Saya bisa meminta waktunya sebentar?” tanyanya balik, Elma pun mengalihkan fokus dan pandangannya secara utuh.


“Ya, ada apa Tuan?” tanya Elma.


“Saya ingin meminta nomor telepon Nona cantik. Apa bisa saya memintanya?” pintanya, Elma pun tersenyum dengan sangat elegan di hadapannya.


“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa memberikan nomor telepon saya ke sembarang orang,” tolak Elma, yang memang tidak pernah memberikan nomor teleponnya ke sembarang orang.

__ADS_1


“Saya punya sebuah perusahaan yang cukup maju di bidang keamanan. Saya ingin lebih dekat dengan kamu, dan tertarik denga kamu,” ujarnya tanpa basa-basi, membuat Elma semakin menyunggingkan senyumannya.


‘Pengusaha, ya? Boleh juga,’ batin Elma, yang lalu berniat untuk membuat pria itu tertarik dengan pekerjaannya.


“Baiklah, saya akan memberikan nomor saya,” ujar Elma. “Bisa pinjam handphone-nya?” pinta Elma, dengan segera pria tua itu mengambil handphone-nya yang berada di dalam sakunya.


Pria itu lantas menyodorkannya ke arah Elma, dan Elma pun menerimanya. Ia memasukkan nomor telepon, yang tak lain adalah nomor Mommy-nya. Ia tidak bisa memberikan nomor handphone-nya, kecuali dalam keadaan terdesak.


Setelah memasukkan nomor teleponnya, Elma pun memberikan kembali handphone-nya kepada pemiliknya.


“Ini, Tuan. Sudah saya masukkan nomor telepon saya ke dalam handphone ini,” ujar Elma, si pria tua ini pun menerima kembali handphone-nya dengan senyuman yang tak luntur sejak tadi.


“Terima kasih, Nona.” Lelaki itu tersenyum sumringah. “Kapan Nona ada waktu untuk dinner bersama saya?” tanya lelaki tua itu.


Elma berpikir sejenak, “Mungkin bisa dikomunikasikan melalui handphone,” ujarnya, membuat lelaki itu pun mengangguk kecil mendengarnya.


“Baiklah,” ujar lelaki itu.


Elma pun tersenyum, dan lelaki itu pun pergi dari hadapannya. Ia merasa lega, karena lelaki itu ternyata sudah pergi dari hadapannya.


“Dia kenapa begitu, sih?” gumam Elma, heran dengan lelaki tua zaman sekarang, yang lebih memiliki daun muda dibandingkan yang seumuran dengan mereka.


Bukan hal yang tidak mungkin, jika itu menyangkut tentang harta. Mereka bisa melakukan apa pun, ketika memiliki harta.


Elma kembali melakukan pemanasan, dengan mereka yang lagi-lagi mengintip aktivitas dirinya. Mereka mengintip dari jarak yang sangat dekat, sehingga membuat Elma merasa semakin risih karenanya.


‘Apaan sih mereka? Kenapa malah mandangin aku begitu? Dasar mata keranjang!’ batin Elma, yang tetap meneruskan pemanasannya.

__ADS_1


Mereka semakin senang saja melihat lekuk tubuh Elma yang indah, karena lekuk tubuh Elma sangat menggoda apalagi pada bagian dada dan pinggulnya. Daya tariknya berada pada sisi bagian itu, dan itu membuatnya sangat dikagumi lawan jenisnya.


__ADS_2