Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Hal Kecil Berdampak Besar


__ADS_3

Terlihat Morgan dan juga seorang wanita yang tidak terlalu cantik, berdiri di hadapan Elma. Hal itu membuat Elma merasa jijik, karena saking luasnya tempat ini, mereka bahkan tidak bisa memilih tempat lain selain tempatnya.


Elma memandang mereka dengan elegan. “Tempat kalian?” tanyanya, yang lalu segera menoleh ke kiri dan ke kanan lalu memandang kembali ke arah mereka. “Apa resort ini kehabisan meja dan kursi untuk makan?” tanyanya lagi, Morgan memandangnya dengan sinis tak mau mengalah dengan hal itu.


“Sudahlah, mengalah saja!” ujar Morgan, bukan Elma namanya kalau ia tidak bisa menakhlukkan Morgan yang ada di hadapannya.


Elma menyunggingkan senyumannya dengan elegan, lalu segera bangkit di hadapan mereka. Tangannya menyentuh dada Morgan dengan lembut dan secara dibuat-buat, agar Morgan kembali dengan hawa nafsunya. Ia menggoda Morgan tepat di hadapan wanita itu, sehingga membuat wanita itu seperti kebakaran jenggot.


“Soal apa pun, saya tidak pernah kalah, Tuan.” Elma memandangnya dengan dalam, dengan Morgan yang hanya bisa menelan salivanya saja.


Wanita itu mendelik kesal ke arah Elma. “Wanita gatal! Kenapa nyentuh-nyentuh pacar saya?” tanya sinisnya, membuat Elma memandangnya dengan senyuman yang mengandung banyak arti.


“Maaf, Nyonya. Kalau Nyonya tidak ingin pacarnya disentuh, minimal kasih dia pendidikan supaya tidak menyerobot tempat orang lain,” ujar Elma, wanita itu semakin mendelik kesal mendengarnya.


“Memangnya aku ini kelihatan sudah tua, hah? Kenapa harus Nyonya?” pekiknya yang tak bisa menerima, Elma hanya bisa tersenyum elegan, sembari membawa pergi makanan yang baru saja ia ambil tadi.


Wanita itu terus-menerus mengoceh, tetapi Elma sama sekali tidak memedulikannya. Morgan menahan wanita itu, agar tidak melakukan hal yang macam-macam dengan Elma. Biar bagaimanapun juga, Elma adalah wanita yang pernah Morgan cintai, dan sampai membuatnya tergila-gila seperti itu.


“Sudah, jangan diteruskan!” ujar Morgan, berusaha untuk menahan wanitanya itu.


Wanita bernama Cylla itu memandang sinis ke arah Morgan. “Gak bisa gitu, Gan! Aku gak terima ya, kalau kamu disentuh seperti itu!” bentaknya kesal, Morgan menghela napasnya dengan panjang.


“Kamu kenapa gak ngerti, sih? Kalau saya bilang gak usah diperpanjang itu tandanya gak usah!” bentak Morgan, dengan mata yang mendelik ke arah Cylla.

__ADS_1


Memang hubungan mereka itu tak berlandaskan cinta. Morgan sama sekali tidak mencintai Cylla. Ia terpaksa menerima cinta Cylla, karena ia hanya ingin merasakan hangat sentuhan Cylla. Namun, semalaman bercinta dengan Cylla, Morgan sama sekali tidak mendapatkan perasaan seperti saat ia bercinta bersama dengan Elma.


Elma memandang mereka dari kejauhan. Ia hanya bisa tersenyum memandang ke arah mereka, yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mereka meributkan hal yang ia perbuat, dan itu sangat membuatnya merasa puas melihat pertengkaran itu.


“Ya, terus. Bertengkarlah kalian!” gumam Elma, yang lalu segera memulai santapannya.


Elma memulai untuk menyantap makanannya, dengan pemandangan yang sangat mengesankan baginya. Ia melihat mantan kekasihnya ribut besar dengan kekasih barunya, hanya karena kelakuan kecil dirinya di hadapan kekasih barunya itu. Hal itu sangat membuat Elma puas melihatnya.


Namun di sisi lain, Elma yang berniat untuk mencari ketenangan di pulau ini, mendadak merasa bertambah jenuh. Ia merasa kalau Mommy-nya telah salah karena sudah mengirimnya ke sini, dan bukan ke tempat yang benar-benar tenang.


“Masa sih, sampai sebulan harus begini?” gumam Elma, yang merasa tidak kuat karenanya.


Elma menghela napasnya panjang, lalu segera melanjutkan santapannya.


Morgan sudah selesai bertengkar dengan kekasihnya. Alhasil kini mereka saling perang dingin, karena sedikit hal yang Elma lakukan itu.


‘Dia udah buat saya kesal!’ batin Morgan, yang terus memerhatikan ke arah Elma.


***


Malam ini Elma baru selesai membilas tubuhnya. Ia merasa segar, karena air di resort ini benar-benar sangat menyegarkannya. Mungkin karena suasananya yang indah, Elma jadi merasa sangat puas ketika berendam pada bathtub resort ini.


“Ya ... gak buruk kalau soal fasilitas dan pelayanan. Cuma gara-gara ada si Morgan aja jadi gak enak,” gumam Elma, sembari mengusap-usap rambutnya yang masih basah, dengan menggunakan handuk kecil.

__ADS_1


Terdengar suara bel ruangan kamarnya. Elma memang memesan makan malam untuk diantarkan ke kamarnya, karena ia sudah tidak mood berada di luar kamar. Setelah mengetahui makanannya datang, Elma pun akhirnya membuka pintu ruangan kamarnya, walaupun ia masih menggunakan lingerie untuk ia tidur.


Setelah membukakan pintu untuk petugas resort, Elma menyadari seseorang sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya, lalu membekap mulutnya dengan tangannya. Hal itu membuat Elma mendelik kaget, tak percaya dengan apa yang orang itu lakukan.


“Diam!” teriak lelaki itu, yang ternyata adalah Morgan.


Morgan menutup pintu kamar Elma, lalu segera mengunci pintu tersebut. Morgan yang sudah berhasil mengunci pintu kamar Elma, segera membawa Elma ke arah ranjang tidurnya.


Dilemparkan Elma ke atas ranjang tidur, dengan sangat kasar. Matanya menangkap bahwa orang yang melakukannya adalah Morgan, sehingga membuatnya resah gelisah karenanya.


“Morgan, apa yang kamu lakukan?” pekik Elma kaget, karena saat ini Morgan berada di atas dirinya sembari membuka bajunya dan juga celana yang ia kenakan.


Elma mengira orang yang menekan bel ruangannya, adalah petugas resort yang mengantarkan makanan untuknya. Namun ternyata, orang tersebut adalah Morgan.


“Lelaki sialan! Kenapa kau melakukan hal kotor ini padaku?” pekik Elma kesal, Morgan tak peduli dan hanya berfokus pada Elma saja.


Melihat Elma yang sedang memakai lingerie di hadapannya, nafsu Morgan seketika naik drastis. Ia merasa sangat bersemangat, ketika melihat tubuh Elma secara langsung seperti ini.


“Jangan banyak bicara kamu! Ini semua karena kamu yang memulai! Kamu menyentuh dada saya, sampai hawa nafsu saya bangkit. Kamu harus tanggung jawab!” bentak Morgan, Elma mendelik di hadapannya.


“Aku bukan budak pelampiasan nafsu! Suruh saja budakmu yang kamu ajak ke sini itu!” bentak Elma dengan sinis, Morgan tetap memegangi kedua tangan Elma dengan erat.


“Dia sudah saya beri obat tidur. Dia tidak akan bangun sampai pagi, dan tidak akan mengganggu malam indah kita,” ujar Morgan, membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.

__ADS_1


“Eh, apa kamu bilang? Malam indah? Sialan, lelaki mata keranjang ini! Biar aku congkel biji pelirmu!” bentak Elma, yang tak percaya Morgan mengatakan seperti itu padanya.


“Saya gak peduli! Yang penting, malam ini adalah milik kita!” bantah Morgan dengan kasar, yang lalu segera menyambar bibir Elma dan menyesapnya dengan penuh nafsu dan gairah.


__ADS_2