
“Jangan seperti itu, Elma. Saya benar-benar tertarik dengan kamu. Izinkan saya mengantarkan kamu ke apartemen kamu,” ujar Arash, yang tetap kukuh dengan pendiriannya.
Elma malah tersenyum, “Maaf aku gak bisa. Kalau kamu tertarik sama aku, coba kamu hubungi Mommy aku untuk mengatur jadwal antara kita. Semua itu ada harganya, aku tidak mau melakukannya secara gratis. Aku adalah wanita panggilan, seperti yang kamu ketahui. Aku tidak memiliki cinta, karena bagiku cinta sudah mati,” tolaknya lagi, membuat Arash merasa sangat heran mendengarnya.
Penolakan yang dilakukan Elma, membuat Arash semakin penasaran dengan sosok Elma sebenarnya. Ia tidak ingin melakukan **** dengan Elma sebagai seorang klien, tetapi ia bahkan ingin memiliki Elma seutuhnya, karena sikap Elma yang sangat elegan baginya.
“Saya tertarik padamu, bukan sebagai seorang klien. Jika kamu lebih tertarik dengan uang, saya bisa memberikan apa pun padamu. Saya ingin kamu berhenti melakukan hal ini, dan saya akan menjamin semua keperluan kamu,” ujar Arash, Elma merasa sangat tidak bisa menerimanya.
“Maaf, aku gak bisa melakukan itu. Morgan juga sebelumnya pernah mengatakan hal itu sama aku. Tapi nyatanya, aku malah tetap kurang, dan pekerjaan ini lebih menjamin hidup aku ke depannya,” tolak Elma lagi.
Elma merapikan tas dan barang bawaan yang lainnya. Ia memandang Arash dengan senyuman elengannya, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang karena tak rela melihat Elma pergi darinya.
“See you again,” pamit Elma, yang keluar dari ruko tersebut, dan segera masuk ke dalam mobil alphard yang sudah terparkir di hadapannya.
Arash mengintai dari belakang, dan melihat nomor plat mobil tersebut.
Arash segera berlarian, sampai meninggalkan barang-barangnya di sana, hanya untuk mengejar ke mana mobil itu pergi.
Sungguh gila, Elma bisa membuat siapa pun sampai tergila-gila padanya.
Arash mengikuti ke mana mobil tersebut membawa Elma, sampai melupakan barang bawaannya di gym tersebut. Beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya Elma tiba di sebuah apartemen yang tak asing baginya.
“Ini mah apartemen saya!” pekik Arash, heran dengan apa yang ia lihat ini.
Arash tidak pernah melihat Elma di sini, meskipun ia sudah lama tinggal di apartemen ini. Karena sudah seperti ini, Arash juga ingin sekali kembali ke ruangan apartemennya.
Mereka sampai di basement, dengan Elma yang sudah melangkah keluar dari mobil alphardnya. Sementara itu, Arash masih memantaunya dari dalam mobil, membiarkan Elma masuk ke dalam gedung lebih dulu.
Setelah melihat Elma yang sudah masuk ke dalam gedung, barulah Arash keluar dari dalam mobilnya untuk mengikuti ke mana Elma pergi. Arash tak membuat suara aneh, ia hanya mengikuti Elma dengan sangat hati-hati, dan tidak akan membiarkan Elma mengetahuinya.
__ADS_1
Tibalah mereka di sebuah lantai di apartemen tersebut. Elma pun masuk ke dalam ruangan apartemennya, membuat Arash mengetahui dengan jelas di mana Elma tinggal.
Karena merasa ada yang mengikutinya, Elma pun menoleh dengan cepat, membuat Arash bersembunyi dengan cepat karena tidak mau terlihat oleh Elma.
“Kayaknya tadi ada yang ngikutin,” gumam Elma, yang merasa agak khawatir dengan keadaan yang ada.
Namun, karena tidak ada yang mencurigakan lagi, Elma pun segera masuk ke dalam ruangan kamar apartemennya.
Beberapa saat kemudian, Arash pun mengintip kembali ke arah ruangan apartemen tempat Elma tinggal. Matanya membulat, karena mereka tinggal di apartemen yang sama, hanya berbeda lantai saja. Hal itu membuat Arash mengerti, kenapa mereka tidak pernah bertemu satu sama lain.
“Pantesan aja gak pernah ketemu, dia tinggal di lantai yang berbeda dengan saya,” gumam Arash, yang kini sudah mengerti dengan keadaan yang ada.
“Ya, setidaknya saya sudah mengetahui alamat tempat dia tinggal. Saya akan mendekatinya perlahan,” gumam Arash, yang lalu segera pergi dari sana untuk kembali ke ruangan apartemennya.
***
Elma melihat angka pada timbangan yang ada di hadapannya. Ia mendelik bingung, karena ternyata berat badannya sudah naik sebanyak 5 kg. Hal itu membuatnya bingung bukan kepalang, dan entah harus bagaimana lagi ia mengatasi ini.
“Aduh, kenapa malah naik 5 kg? Ya ampun, aku udah gemuk!” teriak Elma, merasa stress yang melandanya kali ini.
Elma mengatur napasnya, karena ia tidak ingin membiarkan dirinya menjadi stress.
“Sabar, atur napas ... jangan sampai stress hanya karena masalah ini. Aku gak mau sampai berpengarus sama kualitas ****! Aku gak mau!” gumamnya, yang merasa tidak akan bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya.
“Aku harus olahraga lagi! Aku gak mau perut aku jadi keliatan gede, dan paha aku jadi gede banget!” gumam Elma, tetapi belum sempat ia melangkah, ia sudah merasakan hawa malas dan juga lemas pada tubuhnya.
“Kenapa lemas banget, ya? Males gerak jadinya,” gumam Elma, yang malah malas gerak karena hal ini.
Padahal berat badannya sudah membuatnya jengkel, dan harus segera membuang lemak yang bersarang pada perut dan juga pahanya. Ia tidak bisa melakukan hal itu dengan para kliennya, jika ia tidak berhasil menurunkan berat badannya itu.
__ADS_1
“Kalau begini terus, aku gak akan bisa ngelakuin hal itu! Aku keburu capek duluan, karena berat badanku yang nambah 5 kg!” gerutu Elma, yang merasa kesal karena hal ini.
“Permisi Nona,” sapa salah satu maid, membuat Elma memandangnya dengan bingung.
“Ada apa?” tanya Elma, bingung dengan keadaan.
“Ada kiriman bunga untuk Anda,” jawabnya, Elma merasa bingung dengan apa yang ia dengar.
“Siapa yang mengirimkan?” tanya Elma merasa penasaran dengan keadaan yang ada.
“Tidak tahu, Nona.”
Elma menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah, bawa saja ke sini,” suruhnya, pelayannya segera mengambilkannya.
Elma bertanya-tanya dengan bunga yang dikirimkan seseorang padanya. Hal itu membuatnya berpikir yang macam-macam, tentang Morgan.
“Jangan-jangan, Morgan yang udah kirimin bunga ini?” gumam Elma, berpikir macam-macam terhadapnya.
Namun, ia segera menepiskan pikirannya sendiri, karena hal itu tidak mungkin terjadi.
“Ah, gak mungkin juga, kenapa juga Morgan ngirim bunga ke aku? Dia ‘kan benci banget sama aku, sampai-sampai dia ngatain aku cewek panggilan kemarin,” tepis Elma.
Elma berpikir kembali, sampai akhirnya bunga tersebut pun tiba di hadapannya.
“Ini bunga Anda, Nona,” ujar sang pelayan, Elma pun mengangguk kecil mendengarnya lalu menerima bunga tersebut.
“Terima kasih,” ujar Elma, sang pelayan pun segera pergi dari hadapan Elma, membuat Elma kembali memikirkan tentang bunga ini.
“Ini dari siapa sih sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ada yang kirim bunga untuk aku?” gumam Elma yang masih saja bertanya-tanya dengan hal ini.
__ADS_1