
Satu tamparan mendarat di wajah mulus Elma, membuat Elma mendelik kaget tak percaya, dengan apa yang Arash lakukan padanya.
Elma memandangnya sinis, tak terima jika Arash menamparnya seperti itu.
“Lo nampar gue?” tanya Elma, dengan mata yang mendelik seperti hampir ingin keluar.
Arash hanya diam, dan memandang Elma dengan tegas. Sementara itu, Elma hanya bisa menghela napasnya dengan panjang berusaha untuk menahan amarahnya.
“Kamu gak bisa bilang begitu, Elma. Ini semua harus kamu jalani, dan jangan pernah kamu bilang kata-kata seperti itu lagi. Ini sudah takdir kamu,” ujar Arash berusaha untuk membuat Elma menerima takdirnya.
Memang dasar Elma yang tidak bisa menerimanya, ia hanya bisa mendelik di hadapan Arash, karena ia masih mengingat tamparan yang Arash berikan padanya. Walaupun tidak terlalu keras, itu cukup membuat Elma terkejut karenanya.
“Kamu tahu apa soal aku, hah?” tanya sinis Elma, Arash masih saja memandang Elma dengan tatapan sinis.
“Saya memang gak tahu apa pun tentang kamu, tapi setidaknya kamu gak boleh melakukan hal bodoh seperti itu,” ujar Arash, membuat Elma tertekan lagi dan lagi.
“Kamu bilang itu hal bodoh? Ini semua karena Morgan sialan itu! Kalau dia gak memperkosa aku waktu itu, aku gak akan seperti ini!” teriak Elma, membuat Arash bingung mendengarnya.
“Bukannya pekerjaan kamu memang seperti itu?” tanya Arash.
“Setidaknya aku minta mereka pakai pengaman dulu. Aku sengaja gak mau makan pil KB, khawatir kalau lupa malah beneran jadi,” ujar Elma, membuat Arash memandangnya dengan sinis.
“Siapa Morgan? Apa pria yang waktu itu di gym?” tanya Arash, Elma mengangguk kecil mendengarnya.
Merasa kesal dengan apa yang Morgan lakukan pada Elma, ia tidak terima dan sontak bergejolak emosi.
“Berikan aku informasi tentang Morgan, biar aku yang urus dia!” ujar Arash, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
__ADS_1
“Jangan, Arash! Aku gak mau kalau kamu sampai diseret ke jalur hukum sama dia, hanya karena ngehajar dia. Jangan, please! Aku mohon!” ujar Elma, Arash tak menghiraukannya.
“Cepat beri tahu aku!” bentak Arash dengan mata yang melotot seram. Elma sampai bergidik takut mendengarnya.
“Aku gak bisa, Arash. Aku gak mau kamu kena masalah hanya karena hal ini,” ujar Elma, sembari menundukkan pandangannya dari Arash.
Arash memegang kedua sisi wajah Elma, “Elma, saya gak bisa melihat kamu hancur seperti ini. Saya akan membuat dia hancur, sama seperti hancurnya kamu,” ujarnya, membuat Elma memandangnya dengan mata yang mendelik tak percaya.
‘Arash terlalu perfect, untuk sekadar teman biasa. Apa benar aku menyukainya lebih dari teman? Apa benar aku menyimpan perasaan untuknya?’ batin Elma, merasa sangat heran dengan dirinya sendiri.
“Cepat, aku sudah tidak sabar ingin menguliti dia hidup-hidup!” ujar Arash, semakin membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Jangan!” pekik Elma, tak bisa membiarkan Arash melakukan hal itu pada Morgan.
Biar bagaimanapun juga, Morgan adalah orang yang pernah memesan dirinya melalui Mommy-nya. Elma tidak ingin jika Morgan sampai membuka mulutnya mengenai bisnis illegal prostitusi, yang kini di jalankan Mommy-nya. Bukan hal yang tidak mungkin, jika Elma nantinya juga akan terseret dengan apa yang akan menimpa Mommy-nya.
Arash mengerutkan dahinya, “Why? Kenapa saya gak boleh melakukan ini?” tanyanya heran.
“So, apa yang kamu mau sekarang?” tanya Arash lagi, Elma memandangnya dengan tegas.
“Aku ingin gugurkan kandungan ini,” jawab Elma, Arash mendelik kesal mendengarnya.
“Kamu gak boleh gugurkan kandungan kamu! Saya akan bertanggung jawab, jika kamu tidak bisa mengurusnya sendiri,” ujar Arash, mendominasi tiap keadaan yang Elma hadapi.
Karena Elma yang tidak ingin memiliki keturunan dari Morgan, ia pun hanya bisa tersenyum pahit di hadapan Arash.
“Aku tidak ingin keturunan dari Morgan. Aku bahkan tidak ingin mendapatkan keturunan,” ujar Elma, yang sudah benar-benar mati.
__ADS_1
Entah apa yang akan Arash lakukan, agar Elma tidak melakukan hal bodoh lagi. Arash juga tidak ingin Elma sampai menggugurkan kandungannya, karena biar bagaimanapun juga bayi itu tidak bersalah.
“Elma ... harus bagaimana lagi saya mengatakannya pada kamu? Saya bilang jangan, ya jangan! Saya akan bertanggung jawab dari mulai keperluan kamu sebulan, belanja makanan, baju, perhiasan, apa pun yang kamu inginkan saya akan berikan. Jangan seperti ini, dan stop melakukan hal keji itu lagi,” ujar Arash, membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
Belum pernah ada siapa pun yang mengatakan hal seperti itu padanya. Mereka tidak pernah meyakinkan Elma sampai seperti Arash yang berusaha meyakinkannya. Arash memang berbeda dari yang lain, membuat Elma merasa sangat kesal dengan perasaan yang tiba-tiba saja muncul di hatinya.
Namun, Elma masih harus berbenah dengan hatinya. Ia tidak bisa langsung menerima apa yang Arash katakan. Hal ini benar-benar menyiksa jiwa raganya. Jiwanya telah sakit, karena dikecewakan. Raganya telah sakit, karena menanggung beban dari bayi yang ia kandung.
“Aku masih harus mikir, Rash. Aku belum siap menikah,” ujar Elma, Arash menghela napasnya dengan panjang.
“Tidak apa-apa jika kamu belum siap menikah. Setidaknya jangan pernah gugurkan kandungan kamu. Saya tidak akan mengizinkannya,” ujar Arash, Elma memandangnya dengan sendu, merasa sangat tidak percaya ada lelaki seperti Arash, yang mau melakukan segalanya untuk dirinya.
“Kamu mabuk, ya? Kenapa bicara begitu?” tanya Elma, yang masih tidak yakin dengan ucapan Arash yang seperti itu padanya.
“Mabuk gimana? Saya baru aja pulang dari kantor dan langsung ke sini, hanya untuk nyuapin kamu makan. Gimana caranya bisa mabuk?” Arash merasa jengkel, mendengar ucapan Elma yang seperti itu di hadapannya.
Elma menghapus air matanya, “Kamu dari kantor? Sebenarnya apa sih pekerjaan kamu?” tanyanya, yang masih penasaran dengan pekerjaan Arash.
“CEO,” jawab Arash singkat, sontak membuat Elma mendelik tak percaya mendengarnya.
“CEO?” tanya Elma, tak percaya dengan apa yang Arash katakan.
Arash tak memedulikan ucapan Elma. “Sudah, ayo kita makan. Saya suapi kamu, dan jangan membantah! Setelahnya, minum vitamin untuk kandungan kamu. Awas, jangan pernah berpikir untuk membuang vitamin itu lagi!” ujarnya dengan datar.
Elma memandangnya dengan sendu, karena Arash yang seperti itu di hadapannya, membuatnya merasa sangat sendu karenanya.
‘Arash baik banget,’ batin Elma, merasa tidak menyangka dengan apa yang Arash lakukan untuknya.
__ADS_1
Arash mengulurkan tangannya ke arah Elma, berusaha untuk menuntun Elma.
“Ayo, kita makan,” ajak Arash, Elma pun mengangguk kecil mendengarnya.