
“Jadwal liburan?” pekik Mommy-nya, Elma pun menghela napasnya dengan panjang.
“Please, Mommy. Sudah 3 tahun ini aku gak pernah ambil jatah cuti. Kali ini, aku mau ambil jatah cuti yang lama, mungkin sebulan penuh,” ujar Elma, yang memohon pada Mommy-nya itu.
Mendengar permintaan Elma itu, Mommy-nya merasa sangat kaget tak tahu bisa melakukannya atau tidak. Pasalnya, mereka sudah dari jauh-jauh hari memesan, tetapi sayangnya Elma harus mengambil jatah cutinya, untuk merenggangkan tubuh dan pikirannya dari kejadian yang ada.
“Baiklah, nanti Mommy atur.”
Dengan sangat bingung, Mommy-nya pun mengakhiri sambungan teleponnya bersama dengan Elma. Ia khawatir, jika para pelanggannya meminta refund uang, jika semuanya terpaksa harus diundur selama 1 bulan lamanya.
Elma menghela napasnya dengan panjang, karena ia sudah tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang menyangkut pekerjaannya ini. Keadaannya memaksanya harus mengambil cuti, agar bisa menata ulang hal yang baru saja menimpanya.
“Aku beneran harus cuti, kalau engga ... mungkin akan selamanya berantakan,” gumamnya, yang sudah tepat mengambil keputusan itu.
Ia pun pergi dari sana, menuju kembali ke apartemennya.
Setelah menunggu selama 1 hari, Elma mendapatkan kabar dari Mommy-nya kembali, yang ternyata sudah selesai mengatur waktu cutinya.
Malam itu, Elma sedang menikmati cokelat panas sembari menonton televisinya. Ia mulai me-refresh dirinya, agar bisa terhindar dari stress yang melandanya. Perlahan, ia menata kembali pikirannya, karena perasaan stress bisa sangat berpengaruh pada mood dalam melakukan ****.
Handphone-nya berdering lagi, dan yang menghubunginya tak lain adalah Mommy-nya. Ia dengan segera menerima panggilan telepon dari Mommy-nya itu.
“Halo, Mom.” Elma menyapa dengan sangat lembut.
“Halo, Sayang. Gimana keadaan kamu sekarang?”
“Sudah lebih baik, Mom.”
__ADS_1
“Syukur, deh. Maaf Mommy kabarin kamu malam-malam, karena mau kasih tahu kamu jadwal cuti dan juga Mommy sudah atur tujuan kamu berlibur,” ujarnya, Elma tersenyum mendengar kabar baik itu.
“Jadi gimana, Mom? Apakah boleh aku ambil cuti selama sebulan?” tanya Elma.
“Ya, boleh. Dengan syarat, kamu harus bisa pulih dalam waktu sebulan itu. Jangan sampai bikin Mommy kecewa karena hal ini, okay?” ujarnya, membuat Elma tersenyum mendengarnya.
“Ya, Mom. Pasti semua itu akan membaik dalam waktu sebulan,” ujar Elma, yang merasa sangat senang dengan keputusan bijak dari Mommy-nya itu.
“Baiklah, I hope so. Kamu kemasin koper sekarang, besok pagi akan ada yang jemput kamu, dan langsung jalan ke tempat tujuan kamu berlibur,” ujarnya.
“Okay, Mom.”
Setelah menerima kabar baik itu, Elma baru bisa menghela napasnya dengan lega. Bayang-bayang Morgan terus menghantuinya, membuatnya tidak bisa relaks seperti biasanya.
Seharian ini Elma tidak bisa beristirahat dengan benar, karena ucapan Morgan masih saja terngiang-ngiang di telinganya. Semua hal yang Morgan katakan, ternyata membekas di hati dan pikiran Elma, dan secara tak sengaja membuat Elma hancur dengan sendirinya.
Setelahnya, Elma langsung mengemas barang-barangnya dan dipersiapkan untuk satu bulan lamanya. Ia akan menikmati liburannya, dan sementara tidak akan mendapatkan tambahan income dari jobnya itu.
“Mungkin gak akan ada tambahan selama sebulan ke depan. Gak apa-apa lah, aku juga harus me-refresh diriku karena sudah terlalu stress memikirkan perasaan ini,” gumamnya, yang sudah bisa menghela napasnya dengan panjang.
Elma selesai menyiapkan barang-barangnya, lalu segera beristirahat untuk mempersiapkan hari esok.
***
Setelah melewati malam yang panjang dengan banyak sekali drama, mimpi buruk, over thinking, dan lain sebagainya, Elma pun berhasil bangun dengan keadaan yang cukup baik. Ia mempersiapkan dirinya dengan baik, kemudian segera berangkat menuju ke destinasi tujuannya berlibur selama sebulan ke depan.
Sopir yang dipersiapkan Mommy-nya pun tiba di basement parkir apartemennya. Ia menuju ke arah mobil tersebut, dan mereka pun segera meluncur ke tempat tujuan mereka.
__ADS_1
Karena sudah terlalu lelah semalaman tidak tidur dengan benar, Elma pun akhirnya tertidur pulas selama perjalanan, sehingga ia tidak tahu ke mana sopir itu membawanya pergi. Ia sadar ketika ia sudah sampai di tempat tujuan.
Ternyata, Mommy mengatur liburannya ke sebuah pulau yang bernama ‘Pulau Cinta.’ Elma tidak menyangka akan datang ke pulau ini, karena ia sama sekali tidak percaya dengan perasaan cinta. Dari namanya saja, Elma sudah percaya bahwa pulau ini diperuntukkan untuk pasangan yang sedang berbulan madu.
“Ngapain aku di sini, ya? Pulau ini pasti untuk para pasangan yang mau berbulan madu. Kenapa Mommy kirim aku ke sini, ya?” gumam Elma, merasa heran dengan yang Mommy-nya pikirkan.
Setelah tiba di sana, sang sopir memandunya sambil membawakan barang-barang yang Elma bawa. Satu koper besar dan satu koper kecil, telah berhasil dibawa sang sopir menuju ke arah kamar yang telah dipesankan untuk Elma.
Kini, mereka sudah sampai di dalam ruangan kamar tersebut. Hari yang sudah semakin larut, membuat sang sopir segera berpamitan dengan Elma, dan segera pergi dari sana setelah mengantarkan Elma ke ruangan kamarnya.
Elma sendirian lagi, bersama dengan dua koper miliknya. Ia menyusun barang-barangnya ke dalam lemari, lalu segera membilas tubuhnya untuk merasakan sensasi segar setelah seharian menuju ke tempat ini.
Hotel ini cukup nyaman bagi Elma, sehingga mungkin saja ia betah berlama-lama berlibur di tempat ini.
Elma yang sedang berendam di bathtub, menghela napasnya dengan panjang. “Setidaknya aku bisa pelan-pelan menata perasaan dan mood-ku. Walaupun sudah terbiasa melakukan hal itu, tetapi kejadian bersama Morgan seperti sebuah pemaksaan. Aku sedikit trauma karena setelah hal itu terjadi, dia mengucapkan kata-kata tak pantas kepadaku,” gumamnya, berusaha untuk mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada di dalam kepalanya.
Lagi-lagi ia menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk membuat otak dan pikirannya menjadi relaks.
Setengah jam berlalu, Elma selesai dengan aktivitas membilas tubuhnya itu. Ia senang karena air di sini sedikitnya sudah memberikan efek menyegarkan terhadap tubuhnya.
Elma duduk di hadapan cermin besar, untuk ritual skincare sebelum tidur. Ia mengaplikasikan beberapa skincare pada wajahnya, agar bisa senantiasa terlihat segar dan terawat. Hal itu perlu ia lakukan, agar perasaan stress yang sedang melanda tidak sampai membuat keriput di wajahnya.
Elma menghela napasnya dengan panjang, karena hari ini sangatlah melelahkan baginya. Satu hari berlalu begitu saja, dengan Elma yang baru saja hendak memulai liburannya di tempat ini.
“Pastinya banyak sekali pasangan yang datang untuk liburan di sini. Mau membuat aku iri?” gumam Elma, sembari tetap mengaplikasikan skincare yang sedang ia kenakan pada wajahnya itu.
“Ahh ... fast baby! Cepat!”
__ADS_1