
Si pelayan merasa bingung dengan yang terjadi antara Morgan dan Elma, karena si pelayan mengetahui kalau lelaki yang menabraknya tadi adalah kekasih dari wanita yang ia kenal.
Elma sangat malu melihat pelayan itu yang kini ada di hadapannya. Ia juga malu karena seluruh makanan yang baru saja ia pesan, sudah jatuh berantakan di atas lantai.
“Apa yang terjadi, Nona?” tanya sang pelayan yang tak kuasa ingin bertanya pada Elma.
“Ah, tidak apa-apa. Hanya ada permasalahan kecil dengan mantan kekasih,” jawab Elma, membuat sang pelayan paham dengan apa yang Elma katakan.
“Oh, baiklah.”
Elma memandang ke arah pelayan itu dengan malu. “Saya minta tolong untuk bersihkan ruangan kamar saya, ya. Saya juga pesan makanan lagi, karena saya belum sempat makan makanan itu,” pinta Elma, sang pelayan pun mengangguk patuh mendengarnya.
“Baiklah, Nona.” Pelayan itu memandang bingung ke arah Elma, “Kau mau makananmu diantarkan ke sini lagi?” tanyanya.
“Jangan, aku ingin makan di tepi pantai saja. Tolong siapkan meja untukku, ya,” pinta Elma lagi, membuat pelayan mengangguk kecil mendengarnya.
“Baiklah.”
Elma mengenakan pakaian luar dari lingerie-nya. Ia pun keluar dari kamarnya, sementara sang pelayan merapikan kekacauan yang terjadi di kamar Elma.
Suara ombak surut di malam hari, mengalun lembut di telinga Elma. Ia merasa sangat tenang, karena melihat ombak yang menggulung pasir putih yang menghampar di sepanjang pantai membentang.
“Rasanya tenang ....” Elma menghirup udara malam yang ada di pantai ini.
Entah sudah berapa lama Elma tidak merasakan liburan menyenangkan seperti ini lagi. Namun di sela liburannya, Elma merasa sangat terganggu dengan hadirnya Morgan di tempat yang sama dengannya.
Elma menghela napasnya dengan panjang. “Dari sekian banyak tempat wisata, kenapa harus ketemu dia di tempat wisata yang sama? Kenapa dia malah terang-terangan mau memperkosa aku?” gumamnya, yang merasa heran dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan Morgan.
__ADS_1
“Pasti lagi mikirin saya, bukan?” ujar Morgan, yang tiba-tiba saja datang di belakang Elma.
Elma mendelik kaget, karena lagi-lagi Morgan berhadapan dengannya saat ini. Wajahnya ia tekuk, saking tidak ingin melihat Morgan yang saat ini duduk pada kursi sebelahnya.
“Kamu lagi ... kamu terus ... kamu aja ....” Elma memandang datar ke arah Morgan, membuat Morgan memandangnya dengan heran.
“Kenapa memangnya, hah?” tanya Morgan sinis, Elma memandangnya juga dengan tatapan yang sinis.
“Gak ada yang nyuruh kamu buat duduk di tempat ini! Pergi sana!” bentak Elma yang tidak menyukai keberadaan Morgan di sini.
“Tempat ini kosong, saya bebas duduk di mana aja yang saya suka,” ujar Morgan, sontak membuat Elma kesal mendengarnya.
“Memangnya tempat ini punya bapak moyangmu?” tanya Elma dengan sinis, membuat Morgan merasa kesal mendengarnya.
“Memang bukan punya bapak moyang saya, tapi ini punya om Cylla!” bantah Morgan, membuat Elma sedikit terkejut mendengarnya.
“Terserah punya siapa, intinya saya mau duduk di tempat ini!” ujar Morgan, Elma memandangnya dengan datar saking kesalnya dengan perlakuan Morgan yang seenaknya saja padanya.
“Makan tuh tempat!” bentak Elma, yang lalu segera pindah dari tempat ia duduk.
Morgan menahan tangan Elma dengan segera, membuat Elma tidak bisa melangkah ke mana pun itu.
“Lepasin, atau aku akan teriak!” ancam Elma, Morgan merasa sangat kesal mendengarnya.
“Jangan macam-macam! Duduk, temani saya di sini!” bentak Morgan, Elma yang belum mendapatkan makanannya terpaksa menurut dengan apa yang Morgan katakan.
Elma pun menghela napasnya dengan panjang, lalu segera duduk kembali pada kursinya.
__ADS_1
‘Kalau bukan karena makanan aku belum sampai, aku gak akan mau duduk sama dia di sini!’ batin Elma, merasa sangat terpaksa melakukan hal ini.
Mereka hanya diam, dengan sama-sama tidak memandang satu sama lain. Hal itu membuat Morgan jenuh, dan harus berbicara sesuatu dengan Elma, agar tidak jenuh.
“Kau beneran datang sendirian ke sini?” tanya Morgan, memulai percakapan di antara mereka.
Elma memandangnya datar, “Menurut lo?” ujarnya dengan nada yang datar, membuat Morgan merasa sangat kesal mendengarnya.
“Apa sih? Orang ditanya harus jawab!” ujar Morgan, yang malah menjadi arrogant di hadapan Elma.
Elma merasa tidak betah dengan sikap Morgan padanya. “Banyak bicara kau! Aku gak mau ngomong dan gak mau jawab, memangnya ada masalah apa sama kamu, hah? Kalau kamu gak mau diperlakukan seperti ini sama aku, ya jangan di sini! Cari tempat lain, cari teman ngobrol lain! Aku gak mau ngobrol sama kamu!” ketus Elma, sontak membuat Morgan semakin kesal mendengarnya.
“Apa sih? Kenapa kamu jadi menyebalkan seperti ini?” Morgan malah jadi kesal dengan apa yang Elma katakan padanya.
Elma memandangnya dengan sinis, “Aku sudah dirugikan sama kamu dengan hal yang sudah kamu lakukan sama aku. Aku mau minta ganti rugi, karena kamu sudah buat aku begini!” bentak Elma, Morgan memandangnya dengan tatapan yang tidak percaya.
“Hah? Ganti rugi? Atas dasar apa kamu minta ganti rugi sama saya? Itu semua karena kamu yang mau, kok!” ujar Morgan dengan ucapan menyeleneh.
“Morgan, memangnya aku gak tahu, kalau sebenarnya kamu yang kasih aku obat perangsang, jadi aku bersikap begitu sama kamu. Jangan kamu pikir aku gak tau apa pun yang kamu lakukan! Aku bisa saja menjebloskan kamu ke penjara, karena kamu melakukan hal yang membuatku kehilangan harga diriku!” bentak Elma, Morgan mendelik kaget ke arahnya.
“Apa maksudmu? Mau menjebloskan saya ke penjara? Apa kamu punya bukti kalau saya yang melakukan hal itu sama kamu?” tanya Morgan, terdengar seperti menantang Elma untuk memberikan sebuah bukti padanya.
“Aku berbicara berdasarkan bukti! Aku sudah menyelidikinya semalaman suntuk! Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk melakukannya. Aku menemukan, kamu yang menaruh obat perangsang di minumanku, saat aku pergi ke toilet! Jangan macam-macam kamu, Morgan! Aku bisa menjebloskan kamu secepatnya ke dalam penjara!” papar Elma menjelaskan, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Apa?” gumam Morgan lirih, tak percaya dengan apa yang Elma katakan itu padanya.
Elma memandangnya dengan sinis, karena dirinya yang merasa sudah dirugikan Morgan. “Ya, kamu udah ngerugiin aku dengan cara licik dan kotor itu. Sekarang, aku megang barang bukti yang bisa masukin kamu ke penjara. Aku mau minta tebusan, jika kamu gak mau kalau aku sampai melakukan hal tersebut!” ujar Elma, yang berusaha untuk memberikan tawaran kepada Morgan.
__ADS_1
Morgan mendelik kaget, “Apa-apaan kamu, Elma? Tebusan apa yang kamu maksud?” tanyanya kaget.