
“Itu membuat saya semakin gemas dengan kamu!” gumam Morgan, membuat Elma merasa sangat jijik mendengarnya.
“Aku jijik dengarnya!” bentak Elma, yang tak ingin disentuh oleh Morgan.
“Sudahlah, jangan munafik Elma. Kau menginginkannya, bukan? Aku akan memberikan sensasi yang sangat menyenangkan,” ujar Morgan, Elma merasa semakin jijik saja mendengarnya.
“Eh, kenapa jadi kau yang mau memberikan aku sensasi menyenangkan? Aku gak akan pernah merasakan sensasi menyenangkan dari kamu! Kamu gak akan bisa,” bentak Elma, Morgan terkekeh mendengarnya.
“Hahah, ya sudah. Lihat saja nanti.” Morgan sudah menyeringai lebih dulu karenanya.
Morgan mulai membuka jas dan juga kancing kemeja putihnya. Morgan dengan segera menerkam Elma, membuat Elma merasa sangat kaget karena pergerakannya yang terkesan sangat terburu-buru.
“Apa sih? Gak elegan banget main langsung terkam aja!” bentak Elma lagi, yang merasa sangat heran dengan apa yang Morgan lakukan itu.
Morgan mengerutkan dahinya, “Memangnya harus bagaimana dulu? Saya memang terbiasa seperti ini,” sanggahnya, Elma mendelik kesal mendengarnya.
“Pantas aja gak ada yang mau sama kamu, ternyata kamu begitu. Gak ada romantisnya, dan gak ada sisi yang bikin wanita bergetar ketika disentuh. Kamu gak melakukan foreplay, gak menyentuh dengan lembut, dan langsung bersikap begini. Ini sama sekali gak elegan!” bentak Elma lagi, Morgan pun menyadari hal itu akan sangat salah jika ia lakukan. Itu mungkin yang memengaruhi kualitas **** dirinya selama ini.
‘Ya, mungkin itu yang memengaruhi kualitas **** saya,’ batin Morgan, yang menyadari hal seperti ini, harusnya tidak dilakukan.
Dengan jarak Morgan yang saat ini sangat dekat dengan Elma, Elma merasakan aroma yang tidak sedap dihirup. Itu semua karena Morgan yang sebelumnya berlarian ke arah sini, membuat Morgan mengeluarkan keringat dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Elma menutup hidungnya rapat, “Bau keringat!” bentaknya, Morgan terkejut mendengarnya.
Karena menyadari hal itu, Morgan pun segera menghirup aroma ketiak kiri dan kanannya, membuatnya menyadari bahwa ia memang sangat berkeringat dan mengeluarkan bau tak sedap. Pantas saja Elma mengatakan hal itu.
“Mandi dulu sana!” bentak Elma, yang langsung mendorong Morgan pergi menjauh dari atas tubuhnya.
__ADS_1
Karena merasa sudah malu, Morgan hanya bisa menurut dengan apa yang Elma perintahkan.
“Ya, saya mandi dulu,” ucap Morgan mengalah, tetapi ia malah memandang ke arah Elma dengan tatapan tajam. “Kita mandi sama-sama aja, biar lebih berasa nikmatnya ....”
Elma bangkit dan mendelik, “Gak mau!” bantahnya dengan nada bicara yang sangat sinis, membuat Morgan pun hanya bisa memandangnya dengan pandangan yang terkekeh.
“Ya sudahlah, saya mandi dulu,” gumam Morgan, yang saat ini segera membilas tubuhnya.
“Yang bersih! Yang wangi!” teriak Elma, yang merasa jijik jika melayani seseorang yang tidak bersih dan tidak wangi.
Satu ide muncul di benak Elma, membuat Elma menyunggingkan senyumannya.
“Ah ... aku punya rencana untuk Morgan. Dia harus membayar semuanya, karena sudah mengambil harga diriku!” gumam Elma, yang merasa sangat senang hanya dengan membayangkan rencananya berhasil.
Karena Morgan sudah memberikannya obat perangsang waktu itu, timbul sebuah ide untuk membalas apa yang Morgan lakukan. Ia segera mencari obat pencahar di dalam tasnya, untuk melancarkan rencana ini. Ini semua Elma lakukan, agar ia tidak perlu repot-repot melayani Morgan, dan masih bisa tetap mendapatkan bayarannya.
Semacam makan gaji buta.
‘Rasakan itu, Morgan! Kamu akan membayar ganti rugi untuk itu!’ batin Elma, merasa sangat senang dengan hal itu.
Beberapa saat menunggu, Morgan pun sudah selesai membilas tubuhnya. Dari arah pintu kamar mandi, Morgan terlihat sudah sangat fresh dengan sebuah handuk kecil yang melilit pada pinggangnya.
Dadanya terlihat bidang, membuat Elma sedikit tertarik dengan penampilan Morgan yang seperti ini di hadapannya. Pandangan Elma terus menatap ke arah Morgan, karena merasa sangat senang mendapatkan klien yang super fresh seperti Morgan.
‘Ya ... secara fisik dia lumayan okay. Gak seperti klien yang lain, yang sudah tua, ubanan, gendut pula, bikin aku mau muntah sejak pertama melihat mereka,’ batin Elma, merasa jika Morgan sedikit lebih baik daripada kliennya sebelumnya.
“Saya sudah selesai mandi,” ujar Morgan, yang menghampiri Elma yang saat itu masih saja menatapnya dengan sisa lamunannya.
__ADS_1
Elma tersadar dari lamunannya, dan tersenyum dengan elegan di hadapan Morgan. Tangan dan kakinya dibuat untuk menarik perhatian Morgan, agar bisa mendapatkan kemistri antara dirinya dan Morgan. Hal itu sudah ia lakukan juga pada para kliennya yang lalu, sebagai bentuk profesionalitas.
Melihat Elma yang berpose menggoda seperti itu, Morgan pun merasa semakin terangsang saja dengan Elma. Morgan juga sudah mengonsumsi obat kuat, setengah jam sebelum bertemu dengan Elma. Hal itu membuatnya sudah sangat siap dengan pertempuran kali ini yang pastinya akan memabukkannya.
‘Jika saya tahu kalau Elma-lah yang menjadi si kupu-kupu malam itu, saya mungkin akan menambah dosis obat kuat yang saya konsumsi sebelumnya,’ batin Morgan, merasa sedikit menyesali hal ini.
Namun, sudah bertemu Elma saja, sudah merupakan keberuntungan yang baik baginya. Ia tidak mau banyak menawar takdir lagi.
Morgan melangkah ke hadapan Elma dengan sendirinya, kemudian segera melepaskan lilitan handuk yang melilit pinggangnya. Namun, belum sempat handuk itu terbuka, Elma pun menahannya dengan tangannya dan juga senyumannya yang menggoda nan elegan. Morgan bingung dengan apa yang Elma lakukan itu.
“Aku haus karena menunggu kamu tadi. Apa boleh aku minta tolong mengambilkan minuman?” pinta Elma, Morgan tersenyum penuh hasrat di hadapan Elma.
Obat kuat yang Morgan konsumsi sudah mulai terasa, membuatnya kini berada dalam kondisi yang powerfull.
“Jangan mengulur waktu lagi, saya sudah sangat siap,” ujar Morgan, Elma pun masih tetap tersenyum dengan elegan di hadapan Morgan.
“Aku haus, hanya haus. Apa tidak bisa minum dulu?” pinta Elma lagi, Morgan akhirnya menghela napasnya panjang karena mengalah.
“Baiklah, saya ambilkan minummu dulu,” ujar Morgan, yang mengalah di hadapan Elma.
Elma masih mempertahankan senyumannya itu, dan melihat Morgan yang mengambilkan minumannya di atas meja.
“Yang mana yang mau kau minum?” tanya Morgan.
Memang, ada dua gelas dengan minuman yang berbeda di dalam gelasnya, membuat Elma lebih mudah untuk memilih minumannya.
“Aku tadi pesan soda,” jawab Elma, Morgan pun mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
Morgan pun mengambilkan soda tersebut, lalu melangkah ke arah Elma. Belum sempat Morgan melangkah, Elma sudah menghentikannya.
“Kamu tidak minum juga? Apa kamu tidak haus sejak tadi berlari-lari untuk menuju ke sini?” tanya Elma, dengan senyumannya yang sedikit menyungging di hadapan Morgan.