
Arash mendelik, ketika melihat Elma yang memuntahkan seluruh isi perutnya di hadapannya. Elma karena merasa malu dengan Arash, Elma pun segera berlarian ke arah toilet, dan kembali mengeluarkan semua sisa makanan yang ada di dalam perutnya.
HUEK!
Kejadian itu terus berulang, membuat Elma merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan saat ini. Perutnya sangat bergejolak, membuatnya merasa akan meledak.
Belum lagi kepalanya yang terasa sakit dan tubuhnya yang lemas tak bertenaga, membuatnya menjadi seperti mayat hidup saat ini.
Arash datang ke hadapan Elma, yang saat ini sedang muntah-muntah di watafel dalam kamar mandi. Melihat Elma yang seperti ini, bukan rasa jijik yang Arash pikirkan, melainkan rasa khawatir dengan apa yang ia duga.
“Elma! Kamu gak apa-apa?” tanya Arash, yang langsung membantu Elma menyanggah tubuhnya.
Elma terpaksa menjadikan Arash sebagai bahan sadarannya, karena ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tubuhnya yang lemas, membuatnya tidak bisa melakukan apa pun saat ini.
“Aku lemas banget, Arash,” ujar Elma, Arash tak berpikir panjang dan langsung menggendong Elma untuk menuju ke arah ranjang tidurnya.
Setelah sampai di ranjangnya, Arash membaringkan tubuh Elma dengan sangat hati-hati, berusaha memberikan rasa nyaman padanya.
“Tenang, kamu gak apa-apa sekarang?” tanya Arash, Elma masih belum sadar ucapan Arash karena ia masih berfokus dengan apa yang ia rasakan.
Karena menduga hal yang aneh, Arash pun mengirimkan pesan singkat kepada Ilham, sekertarisnya di kantor. Ia meminta Ilham untuk membawakannya sekotak testpack. Hal ini ia duga, karena Elma yang saat ini berprofesi sebagai wanita panggilan.
Arash hanya khawatir.
Arash kembali menyimpan handphone-nya, lalu kembali menatap ke arah Elma yang saat ini sedang terbaring di ranjang tidurnya.
“Apa yang kamu rasakan?” tanya Arash, Elma menghela napasnya dengan panjang.
“Aku lemas, gak ada tenaga. Kepalaku pusing, perutku mual seperti mau meledak,” jawab Elma, Arash hanya bisa menduga hal seperti itu sebagai gejala awal.
__ADS_1
Handphone Arash bergetar, dan terdapat satu pesan masuk ke dalam inbox handphone-nya.
“Saya sudah di luar.”
Karena mendapatkan informasi ini, Arash pun segera menyimpan handphone-nya kembali, lalu memandang ke arah Elma.
“Saya permisi sebentar,” pamit Arash, yang meninggalkan Elma di sana.
Elma memandang kepergian Arash dengan sendu, karena tidak bisa menjawab ucapan Arash tadi saking lemasnya ia.
‘Mau ke mana dia?’ batin Elma, bingung ke mana Arash akan pergi.
Beberapa saat kemudian, Arash pun kembali dengan membawa sekotak penuh testpack. Elma mendelik kaget melihatnya, karena ia baru pertama kali melihat alat itu secara langsung seperti ini.
“Coba periksa sekarang,” pinta Arash, membuat Elma mendelik tak percaya mendengarnya.
“Apa? Apa gak salah? Kenapa kamu nyuruh aku buat periksa kehamilan?” tanya Elma dengan bingung.
Karena gejala awalnya mirip, membuat Elma jadi tidak terlalu memikirkan akan hal ini. Namun, harusnya Elma mendapatkan datang bulannya sehari setelah kejadian pemerkosaan Morgan padanya.
Nyatanya, sampai sebulan ini Elma sama sekali tidak mendapatkan haidnya. Total menjadi 2 bulan Elma terlambat haid. Hal itu membuat Elma merasa berdebar, ketika Arash memintanya untuk melakukan pemeriksaan.
Karena terlalu berdebar, Elma merasa harus dibantu berjalan dengan Arash. Debaran ini membuat tubuhnya semakin lemas tak bertenaga.
“Bisa bantu ke toilet lagi?” pinta Elma, Arash pun mengangguk kecil mendengarnya.
Setelah berhasil dipapah Arash ke arah kamar mandi, Elma pun berhasil melakukan test dengan alat tersebut. Hasilnya membuat tubuh Elma semakin lemas saja, karena ternyata itu adalah dua garis merah.
Kehancuran Elma berawal dari saat ini. Ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri lagi, dan hanya bisa meratapi kesedihannya dengan kehamilan dirinya yang membuatnya kehilangan pelanggannya satu per satu. Bahkan, Mommy-nya kini sudah memiliki anak asuh lainnya yang menjadi superstar di barnya, dan menghempaskan kedudukan Elma sebagai wanita populer nomor satu di barnya.
__ADS_1
Kehancuran Elma satu per satu bermunculan, dari morning sickness yang tiada henti, rasa stress yang selalu muncul menghantui pikirannya, dan juga rasa khawatir dan takut akan kandungannya, menguasai akal sehatnya.
Selama beberapa hari ini banyak kejadian yang sangat tidak terduga, yang terjadi dengan Elma. Elma terpaksa harus dihentikan sementara dari aktivitasnya, dan membuat Mommy-nya banting stir untuk memilih wanita lain untuk ia promosikan.
Beruntung Arash selalu berada di sisinya, berusaha merawat Elma, sampai menyuapi Elma agar Elma tidak terlalu lemas akibat tidak ada asupan makanan.
Bagaimanapun juga, Elma harus memakan sesuatu, agar dirinya tidak lemas dan memiliki cukup asupan makanan untuk anak yang ia kandung.
Sudah hari ke-5 sejak pemeriksaan kehamilan tersebut, Arash masih saja datang dan pergi untuk menjaga Elma, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya sebagai seorang CEO di perusahaan milik ayahnya. Ia tidak percaya dengan para pelayan Elma, dan lebih memilih untuk merawat Elma seorang diri.
Arash masuk ke dalam ruangan apartemen Elma, setelah dibukakan pintu oleh salah satu pelayan Elma. Ia memandang ke arah pelayan dengan tatapan yang khawatir, karena seharian ini ia terus memikirkan keadaan Elma.
“Apa Elma sudah makan siang ini?” tanya Arash, yang terdengar sangat khawatir.
“Belum, Tuan. Nona sama sekali tidak makan, bahkan ia membuang seluruh vitamin yang disiapkan untuk kehamilannya,” jawab sang pelayan, membuat Arash merasa harus memaksa Elma untuk memakan makanannya dan juga vitamin, untuk kesehatan bayi yang ada di dalam kandungannya.
“Baiklah, tolong belikan vitamin lagi untuknya, dan jangan sampai ia mengetahui di mana kau menyimpannya,” suruh Arash, membuat sang pelayan mengangguk patuh mendengarnya.
“Baiklah, Tuan.”
“Sekarang, di mana Elma?” tanya Arash.
“Ada di balkon, Tuan,” jawabnya.
“Baiklah, siapkan makanan. Aku akan menyuapinya di sana.”
Arash segera pergi ke arah balkon, untuk memeriksa keadaan Elma di sana. Karena merasa sangat khawatir, Arash sampai tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, dan banyak sekali penjelasan yang salah, yang membuat mereka menjadi bingung dengan data yang ada.
Arash juga meminta Ilham untuk mengurus semua pekerjaan yang tertunda, hanya karena ingin pulang lebih awal untuk melihat keadaan Elma. Arash sangat khawatir, karena ia merasa sangat peduli dengan kesehatan Elma.
__ADS_1
Kakinya melangkah ke arah balkon ruangan apartemen Elma. Ketika sampai di sana, pandangan mata Arash mendelik, kaget karena melihat Elma yang saat ini sedang naik ke pagar pembatas balkonnya untuk melompat dari ketinggian 9 lantai gedung ini.
“Elma jangan!!”