
“Ya, cukup berikan aku uang tebusan sebanyak 5 milyar, aku akan menutup mulutku dan tidak akan menyebarkan rekaman CCTV saat kau memasukkan obat perangsang itu ke dalam gelasku!” jawab Elma, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Gila kau! Yang benar aja kamu Elma? Itu semuanya duit, tahu!” bentak Morgan, tak percaya dengan apa yang Elma katakan.
Elma memandangnya dengan tatapan tajam, “Itu semua memang duit, gak ada yang bilang daun!” bentak baliknya.
Morgan memandangnya dengan tatapan yang tidak percaya. “Apa? Jangan sampai kamu menguras semua harta saya, ya! Ini namanya pemerasan, dan saya bisa saja laporkan kamu atas tuduhan pemerasan!” ujarnya, Elma memandangnya dengan sangat elegan.
“Kamu takut videonya aku sebar?” tanya Elma, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
Sejenak mereka hanya bisa saling diam, membuat Morgan tak sengaja menelan salivanya sehingga Elma pun tahu, apa yang Morgan rasakan.
“Morgan ... semua ada bayarannya. Sebenarnya harga diri aku gak bisa kamu beli pakai uang. Aku sengaja kasih harga segitu, karena kamu sudah melakukan hal buruk,” ujar Elma, membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Tidak bisa seperti itu, Elma! Kamu memeras saya!” ujar Morgan yang terdengar seperti ketakutan, membuat Elma semakin tersenyum dengan elegan di hadapannya.
“Ingat, aku punya rekaman CCTV di restoran itu, dan juga rekaman di apartemenku. Semua perkataanmu terdengar jelas, karena aku sengaja pasang alat untuk merekam suara juga. Kata-kata kasar kamu akan menjadi pertimbangan mereka, dan kamu akan dikenakan pasal berlapis akan perencanaan pemerkosaan ini!” ujar Elma, membuat Morgan lagi-lagi merasa takut mendengarnya.
“Bukannya kamu sudah biasa seperti ini dengan lelaki lain? Di mana letak harga diri kamu? Kamu sudah tidak memiliki harga diri lagi! Kamu jangan memeras saya, hanya karena saya melakukan hal yang sudah biasa kamu lakukan itu dengan orang lain!”
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat pada pipi kiri Morgan. Hal itu sontak membuat Morgan mendelik, saking tidak percayanya ia dengan apa yang Elma lakukan padanya.
__ADS_1
“Kurang ajar, jaga bicaramu!” bentak Elma, Morgan memandang Elma tak percaya.
“Apa yang harus dijaga? Apa saya salah mengatakannya? Kamu sudah tidak memiliki mahkota, sebelum saya melakukan hal itu dengan kamu. Itu berarti kamu sudah sering melakukannya dengan lelaki lain. Mungkin hal itu juga yang membuat kamu menjauhi saya selama 3 tahun ini!” ujar Morgan tak kalah kesalnya dengan Morgan.
“Jangan melebar ke topik mana pun! Aku gak akan pernah lepasin kamu, sebelum kamu membayar uang tebusan yang aku minta tadi!” bentak Elma, Morgan lagi-lagi menolaknya dengan keras.
“Saya tidak mau!” bantah Morgan, Elma pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Oh ... baik. Kalau gitu, aku akan menyebarkan rekaman CCTV di kamar apartemenku, dan juga menyuruh pelayan tadi untuk menjadi saksi, kalau kamu sudah berbuat hal yang tidak baik sama aku!” ancam Elma, sampai Morgan tak percaya mendengarnya dan tetap bersikeras tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
“Saya gak akan melakukan hal untuk wanita yang tidak ada harganya sepertimu!” bentak Morgan, membuat kesabaran Elma habis detik ini juga.
Elma bangkit di hadapan Morgan, lalu memandangnya dengan sinis dan dengan amarah yang menggebu.
Morgan memandang kepergian Elma dengan mata yang mendelik. “Silakan saja! Saya tidak takut isapan jempol yang seperti itu!” teriaknya, Elma tak menghiraukan hal tersebut.
Karena sudah merasakan kesal pada Morgan, Elma kembali ke kamarnya dengan keadaan yang sangat marah. Ia sangat tidak mood saat ini, sampai ia tidak jadi makan malam karena hal ini.
Elma mengunci pintu dengan sangat rapat, tak membiarkan siapa pun bisa menembus pintu ruangan tersebut. Ia tidak ingin jika Morgan sampai menembus kembali pintu kamarnya, membuatnya kesal seperti sebelumnya.
Pikiran Elma yang harusnya fresh, kini menjadi sangat aneh. Ia tidak ingin melakukan apa pun lagi, dan hanya ingin kembali ke apartemennya saja. Ia sudah jengah, dan merasa sangat membenci lelaki yang bernama Morgan itu.
“Kenapa harus ada dia, sih?” pekik Elma, sembari melangkah duduk pada pinggir ranjang tidurnya.
__ADS_1
Perasaannya yang kesal, membuatnya tidak ingin lagi berlibur di tempat ini. Sebuah kesalahan besar dari Mommy-nya, membuatnya malah semakin stress karena salah memilih tempat untuk berlibur.
“Bukannya tenang, malah stress gara-gara ada di di sini!” geram Elma, tak menyangka dengan apa yang terjadi dengan dirinya itu.
“Gak bisa, ini harus segera diakhiri! Aku gak mau sampai terus-terusan ketemu Morgan di sini, dan bikin kepalaku tambah pecah karenanya!” gerutunya, ia pun segera meraih handphone-nya untuk menghubungi Mommy-nya.
Sementara itu di sana, Mommy-nya sedang sibuk untuk mengelola bar, yang saat ini sedang ramai sekali pengunjung. Ia duduk di meja bar, sembari memandangi para lelaki yang baru saja masuk ke dalam bar tersebut.
“Yah ... hari ini lumayan pengunjung. Gak seperti hari-hari kemarin,” gumamnya, yang merasa sudah sangat senang dengan peningkatan pengunjung pada bar miliknya itu.
Tiba-tiba saja, ia dikejutkan dengan suara dering handphone-nya. Karena tidak ingin membuat penelepon menunggu lama, ia pun segera mengangkat telepon tersebut yang ternyata adalah dari Elma.
“Halo, Sayang. Ada apa?” tanyanya, heran dengan Elma yang menghubunginya malam-malam seperti ini.
“Mom ... aku mau pulang aja, ya. Aku gak mau liburan lagi. Aku gak mau, Mom!” rengek Elma tiba-tiba, membuat Mommy-nya bingung dengan apa yang Elma katakan itu.
“Kamu kenapa, Sayang? Gak betah di sana? Kenapa, apa kurang menarik?” tanyanya bingung.
Elma menggelengkan kepalanya, “Gak, Mom. Aku risih karena di sini ada orang gila yang gangguin aku, dan mauperkosa aku! Aku gak bisa di sini terus, Mom!” rengeknya lagi, sontak membuat Mommy-nya kaget mendengarnya.
“Apa? Dia mau perkosa kamu? Siapa yang berani?” tanyanya, Elma tidak punya waktu untuk menjelaskan hal yang tidak penting seperti itu.
“Gak penting, Mom! Aku gak mau di sini lagi ... tolong urus kepulangan aku, dan aku mau besok pagi udah di jalan pulang!” ujar Elma, membuat Mommy-nya sangat khawatir kepada asset emas yang ia miliki itu.
__ADS_1
“OMG, tenang Sayang! Mommy bakalan urus semuanya langsung! Mommy gak mau terjadi apa pun sama kamu, nanti kamu malah makin stress deh karena mikirinnya!” ujarnya, Elma merasa sangat senang ketika Mommy-nya berada pada pihaknya.