
Sejenak ia berpikir kembali, dengan matanya yang mendelik setelahnya. Ia berpikir tentang Arash, karena memang hanya dia saja lelaki selain Morgan, yang sangat tergila-gila dengan dirinya.
“Masa sih, ini semua Arash yang lakukan?” gumam Elma, merasa sangat heran dan tidak menyangka dengan apa Arash lakukan padanya.
Karena tidak mau repot memikirkan hal ini, Elma pun segera membuang bunga tersebut ke tempat sampah, dan melupakan kejadian yang ada.
Rasa lemasnya terasa kembali, di saat seperti ini. Namun, Elma tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Lemas lagi aja, apa karena belum sarapan, ya?” gumam Elma, yang lalu segera menuju ke arah meja makan.
Elma melihat sarapan yang sudah tersedia di meja makannya. Di sana memang tidak ada makanan berat, hanya ada roti sebagai makanan pengganti nasi di pagi hari. Ia sengaja tidak makan roti terlalu banyak, maka dari itu ia meminta para pelayannya untuk menyiapkan berbagai macam makanan, dengan porsi yang sedikit.
Selain roti, Elma juga mengonsumsi kentang, jagung, tahu, tempe, telur rebus, dan makanan lainnya sebagai pengganti nasi.
Elma pun menyantap hidangan yang tersedia, tetapi rasa mual pun muncul sehingga ia menjadi tidak nafsu makan.
“Duh ... kalau gak makan, pasti bakalan lemas. Kalau makan mual, jadi gimana?” gumam Elma, yang merasa serba salah.
Akhirnya, Elma hanya memakan sedikit makanannya. Ia hanya bisa memakan setengah dari sandwich, dan beberapa suap kentang. Sisanya ia tinggalkan begitu saja di atas meja makan.
Karena tubuhnya yang harus benar-benar dijaga, Elma pun akhirnya bersiap untuk menuju ke kolam renang umum di apartemennya. Dengan segala persiapan yang ada, Elma pun segera melangkah ke sana.
Sesampainya di sana, bukannya renang Elma malah duduk di kursi yang berada di pinggir kolam renang. Karena rasa lemasnya tak kunjung hilang, ia merasa tidak mood untuk melakukan apa pun.
“Mau gym gak mood, mau makan gak mood, mau renang gak mood, gimana ini? Aku males gerak banget, lemes pula,” gumam Elma, sembari memandang ke arah kolam renang.
Karena merasa malas, Elma pun hanya memandangi kolam renang saja sampai setengah jam lamanya. Ia bingung harus melakukan apa, karena rasa lemasnya yang membuatnya malas melakukan kegiatan apa pun.
“Sendirian saja,” sapa seseorang dari arah sebelah kiri, Elma pun menoleh ke arahnya dan mendelik melihat Arash yang sedang berjalan ke arahnya.
“Arash?” gumam Elma, yang merasa sangat tidak percaya dengan kehadiran Arash di sini.
Arash pun duduk di tempat duduk sebelah Elma, lalu menyodorkan sekaleng soda ke arah Elma. “Ini, buat nemanin bengong kamu,” ujarnya.
Elma memandangnya dengan tatapan bingung. Karena pengalaman buruknya mengenai minuman, Elma tidak ingin menerima minuman yang Arash sodorkan padanya.
__ADS_1
“Maaf, aku gak bisa terima minuman sembarangan,” tolak Elma, yang terlalu takut jika kejadian dengan Morgan terulang kembali.
Melihat penolakan dari Elma, Arash malah tertawa di hadapannya, membuat Elma bingung memandangnya.
“Kenapa kamu ketawa?” tanya Elma bingung.
“Elma ... tidak ada apa pun di minuman ini. Kamu lihat? Ini masih segel, dan aku tidak memasukkan apa pun ke dalamnya. Jadi, kamu tidak perlu takut jika aku memasukkan apa pun ke dalamnya,” ujar Arash, membuat Elma malu mendengarnya.
‘Benar juga. Dia gak akan mungkin masukin apa pun ke dalam kaleng yang masih tersegel,’ batin Elma, yang malah melonggarkan sedikit rasa khawatirnya.
Elma mengulurkan tangannya ke arah minuman, “Terima kasih,” ujarnya sembari menerimanya.
Arash tersenyum, “Jangan sungkan hanya untuk sekaleng soda,” ujarnya, Elma merasa Arash terlalu perhatian padanya dengan mengatakan hal seperti itu.
Saking independent-nya Elma, ia merasa agak malu menerima minuman dari orang asing. Ia bahkan tidak pernah menerima pemberian Mommy-nya, dan memilih untuk membeli sendiri keperluannya.
Arash terlihat sedang membuka kaleng minumannya, dan segera menenggak minuman tersebut.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Elma, masih penasaran dengan adanya Arash di sini.
“Masa sih? Kenapa kita gak pernah ketemu sebelumnya?” tanya Elma tak percaya.
“Buktinya sekarang ketemu,” ujar Arash, Elma gemas mendengarnya.
“Sebelumnya,” ujar Elma lagi.
Arash tertawa kecil mendengarnya, “Ya, kita gak pernah ketemu, karena kita tinggal di apartemen yang beda lantai,” ucapnya menjelaskan, membuat Elma mengangguk kecil mendengarnya.
“Pantas aja kita gak pernah ketemu.” Elma mulai bisa akrab dengan Arash, karena pembawaan Arash yang terkesan humoris baginya.
“Memangnya mau ketemu setiap hari?” tanya Arash, Elma mengerutkan keningnya sembari tersenyum malu.
“Apa sih,” gumam Elma, Arash hanya tertawa melihat ekspresi Elma yang malu-malu kucing.
“Kamu kok ada di sini? Memangnya kamu gak kerja?” tanya Elma, mulai ingin mengetahui kesibukan Arash.
__ADS_1
“Cie yang mau tau urusan orang,” ledek Arash, Elma malah tertawa kecil di hadapannya.
“Aku nanya, kalau gak dijawab ya gak apa-apa,” gumam Elma, sembari menahan senyumannya.
“Ini hari Sabtu, Baby.” Arash kembali menenggak minumannya. Elma yang tidak pernah mengetahui hari, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala saja.
“Aku gak pernah menghitung hari, jadi aku gak tahu sekarang hari Sabtu,” ucap Elma, Arash hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Tiba-tiba saja muncul perasaan resah di hati Elma. Ia merasa kehadiran Arash di sini, ada kaitannya dengan sebuket bunga yang ia terima pagi ini.
Elma memandang sinis ke arah Arash, “Kamu yang taruh bunga di depan apartemen aku, ya?” bidiknya, Arash terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak,” jawabnya singkat, membuat Elma bingung mendengarnya.
“Terus siapa dong yang naruh bunga?” tanya Elma, Arash lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.
“Entah.”
Elma menghela napasnya dengan panjang, lalu segera menatap ke arah Arash beserta senyuman elegan miliknya.
“Aku tidak mau berteman dengan seorang pembohong,” ujar Elma tiba-tiba saja, membuat Arash mendelik kaget mendengarnya.
Arash pun menghela napasnya dengan panjang, “Ya, itu saya yang meletakkannya. Maaf, karena saya ingin memberikan kejutan untuk kamu,” ujar Arash, mengaku dengan keadaan yang ada.
Elma masih tersenyum dengan elegan, “Baguslah kalau kamu ngaku. Aku gak suka kejutan, jadi ... jangan kasih aku kejutan apa pun. Aku gak akan terima,” ujarnya, Arash pun menghela napasnya dengan panjang.
“Tapi kalau saya, suka tidak?” tanya Arash sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Elma menahan tawanya, tetapi tidak bisa. Ia malah tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi Arash yang membuatnya geli.
“Ih, apaan sih? Jangan gitu dong matanya, mirip cacingan kalau begitu,” ledek Elma tetap dengan tawanya.
Arash hanya bisa tersenyum, melihat tawa Elma yang tidak jaim di hadapannya.
‘Dia bisa tertawa juga,’ batin Arash yang baru tahu mengenai hal ini.
__ADS_1