
Elma memandang ke arah Morgan, yang saat ini sedang menyeringai sinis ke arahnya. Hal itu membuatnya tertekan, karena beberapa kemungkinan yang ada, yang membuatnya merasa sangat stress memikirkannya.
‘Dia gak pakai pengaman?’ batin Elma yang merasa resah, khawatir hal yang ia takutkan terjadi.
Elma sekali lagi menampar wajah Morgan, tetapi Morgan hanya diam dan menerima tamparan Elma yang tidak seberapa kuat itu.
“Sialan kamu, Gan! Kamu udah melakukan hal yang macam-macam sama aku!” bentak Elma, Morgan semakin menyeringai ke arahnya.
“Elma ... Elma. Kenapa memangnya saya gak boleh melakukan hal ini sama kekasih saya sendiri? Toh, orang lain sepertinya juga pernah melakukannya sama kamu. Sering mungkin ya,” ujar Morgan dengan nada yang terdengar sangat menjengkelkan.
Elma hanya memandangnya sinis, tak mengerti dengan jalan pikiran Morgan saat ini.
“Ups, I’m sorry. I got wrong. Bukan kekasih, lebih tepatnya hanya mantan sekarang,” ujar Morgan, Elma tak bisa terima dengan hal yang Morgan katakan itu.
“Sialan!” ujar Elma kesal, yang tidak bisa melakukan apa pun lagi di hadapan Morgan.
“Bukan kamu yang mau menyudahi hubungan ini? Ya, mulai sekarang, saya dan kamu cukup sampai di sini. Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan,” ujar Morgan, yang lalu segera bangkit di hadapan Elma dengan masih bertelanjang bulat tak mengenakan apa pun.
Morgan mengambil kemeja dan tuxedo yang semalam ia kenakan. Ia memandang ke arah Elma dengan tatapan datar.
“Kenapa? Sudah biasa bukan, kamu melihat yang seperti ini?” ujar Morgan, yang hanya ingin membiarkan Elma tahu akan hal ini.
Morgan mengenakan kemejanya saja, lalu segera berdiri di hadapan Elma yang saat ini sedang menatapnya dengan sinis dan hendak marah padanya.
“Terima kasih, Elma. Kamu terasa lezat sekali,” ujar Morgan, dengan senyuman yang menyungging.
Morgan pun pergi dari sana, meninggalkan Elma yang sudah tidak keruan. Elma merasa kesal, marah, sedih, tetapi tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini.
__ADS_1
Semua sudah terjadi.
“Sialan! Lezat, memangnya aku makanan?” pekik Elma, yang tak dihiraukan oleh Morgan.
Kini Elma tidak tahu lagi harus melakukan apa. Sepanjang hari ia hanya bisa memikirkan kejadian yang memalukan ini. Jika ia melakukannya dengan para kliennya, mungkin mereka akan membayarnya untuk itu. Namun jika dengan Morgan, ia tidak mendapatkan apa pun.
“Morgan sialan!” pekik Elma, sembari memukul-mukul ranjang tidurnya saking kesalnya.
Setelah kejadian itu berlalu, mood Elma menjadi berantakan. Efek dari obat itu membuatnya lemah sampai dua hari ke depan.
Malam ini adalah waktunya Elma bekerja. Karena sudah melayani klien dan melakukan hal itu bersama dengan Morgan selama dua hari berturut-turut, Elma merasa dirinya tidak bergairah sekarang. Apalagi efek obat perangsang itu membuat Elma semakin tidak bisa terangsang secara natural.
Permainannya dengan klien yang satu ini, mendadak menjadi buruk. Kualitas dirinya menjadi menurun, sehingga membuat klien ini kecewa karena hal tersebut.
Malam ini mereka sudah menyelesaikan kegiatan panas yang Elma lakukan 3 hari sekali. Klien tidak merasa puas, dan malah menjadi marah pada Elma.
Si klien tidak terima, karena Elma terlihat pasrah dan tidak ada perlawanan setelah melakukan permainan ini selama 3 jam. Padahal, si klien sudah memesan Elma selama 8 jam lamanya, 3 bulan sebelum hari ini.
Elma benar-benar membuatnya kecewa.
Lelaki berumur 40 tahun itu mengenakan kembali kemeja birunya, dan perlahan memasang kancingnya satu per satu. Wajahnya masih terlihat kesal, dengan Elma yang hanya bisa diam saja sembari memakai kembali cocktail dress berwarna gold miliknya.
“Mana yang katanya best woman? Gak ada bagus-bagusnya! Lemah!” gerutu si pria, Elma hanya diam sembari tetap mengenakan pakaiannya yang lain.
“Kalau seperti ini, saya akan minta ganti rugi untuk hal ini!” ujarnya, Elma yang sejak tadi diam menjadi sangat resah.
Kesal, tetapi tidak bisa mengatakan apa pun di hadapan klien. Elma tidak ingin ia melakukan hal buruk padanya, dan juga meminta ganti rugi lebih banyak dari jumlah yang semula ingin ia pinta.
__ADS_1
“Maaf, saya sudah mengecewakan Anda,” ujar Elma.
Si klien memandang sinis ke arah Elma. “Tiada kata maaf bagimu! Saya akan pastikan, kamu akan membayar ganti rugi atas semua ini!” ujarnya kasar, lalu segera meninggalkan Elma di sana.
Merasa kesal karena performanya menurun, Elma pun hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada. Ia mengusap keringatnya pada keningnya, lalu menghela napasnya dengan dalam.
“Ini semua karena memikirkan Morgan sialan itu! Kalau bukan karena dia, gak akan aku jadi berantakan begini!” geram Elma, yang kini hanya bisa menyesali semua yang terjadi padanya.
Handphone Elma berdering, ia pun segera menerima panggilan dari Mommy-nya itu.
“Halo, Mommy.” Elma menyapa dengan lirih.
“Elma Sayang ... what happened? Are you okay? Kenapa klien minta seluruh uangnya kembali, dan meminta ganti rugi?” tanyanya, tanpa basa-basi langsung menanyakan pada intinya.
Elma menghela napasnya dengan panjang. “Mom ... I’m not okay now. Mungkin karena kurang enak badan,” jawabnya, membuat Mommy-nya mendelik kaget mendengarnya.
“Hah? Gak enak badan? Why you not tell me? Kenapa gak bilang sama Mommy? Coba kalau kamu bilang ke Mommy sebelumnya, we can go to hospital!” ujarnya, Elma tersenyum tipis mendengarnya.
“That’s not necessary, Mom. I’m okay, just need some time to rest completely,” sanggah Elma, yang tidak ingin sampai merepotkan Mommy-nya.
“Gak, kamu harus ke rumah sakit, Elma. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan lagi, hanya karena masalah tidak fit. Mommy bisa tanggung seluruh pembiayaan kamu. Kamu harus sembuh dalam 3 hari ke depan, karena kamu tidak mungkin membatalkan job kamu pada klien kali ini,” ujar Mommy-nya, sangat memaksa dengan kehendaknnya.
Memang kalau dipikir, Elma tidak akan rugi karena bukan ia yang menanggung seluruh pembiayaannya. Namun, apa yang harus Elma katakan pada dokter? Ia sendiri tidak tahu apa penyebab rasa sakitnya itu.
“Mom ... percaya sama aku. Aku gak apa-apa. Aku cukup istirahat aja, mungkin aku terlalu lelah untuk melayani banyak sekali klien. Untuk sementara ini, tolong batasi dulu yang mau mendaftar ya, Mom. Jangan tambah lagi, tolong atur jadwal liburan untuk aku,” ujar Elma, yang tidak biasanya berkata seperti itu.
Selama 3 tahun terakhir ini, Elma sama sekali tidak mengambil jatah cutinya. Namun, kali ini ia terpaksa harus mengatakan hal itu pada Mommy-nya, karena ia tidak bisa terus dengan keadaan yang seperti ini.
__ADS_1
Ia harus bebas, fresh, dan harus bisa melakukan yang terbaik untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk kebutuhannya.