
Mendapatkan perlakuan Morgan yang menggairahkan itu, Elma merasa sangat risih dan hendak menepis semua yang Morgan lakukan padanya.
“Sialan, lelaki brengsek! Lepaskan!” bentak Elma, yang sebisa mungkin meronta dari hadapan Morgan.
Tanpa ampun Morgan pun menggerayangi tubuh Elma, saking rindunya dengan sentuhan yang diberikan Elma padanya.
Karena Elma yang terus meronta, tangannya tak sengaja mengenai wajah Morgan. Morgan kesakitan, dan Elma pun berhasil melepaskan diri dari Morgan.
“Ah, sial!” teriak Morgan, sembari memegangi wajahnya yang terkena pukulan tangan Elma.
Elma pun berdiri di hadapannya, lalu segera mengambil alat yang bisa digunakan untuk menghajar Morgan. Ia melihat beberapa makeup-nya, dan langsung melemparkannya ke arah Morgan.
“Sialan lelaki tengik! Kamu bikin aku kesal!” bentak Elma, sembari melemparkan makeup tersebut pada Morgan.
Morgan menahan lemparan itu dengan tangannya, sebisa mungkin menghindar dari lemparan makeup yang Elma lemparkan padanya. Beberapa dari makeup tersebut ada yang memiliki kemasan kaca, sehingga membuat Morgan harus menghindarinya sebisa mungkin.
“Hentikan!” pekik Morgan, tetapi Elma sama sekali tidak menurut dengan yang Morgan perintahkan padanya.
“Biar mampus kau lelaki biawak!” bentak Elma, sembari tetap melemparkan sisa makeup yang ada di meja riasnya.
Karena sudah tidak memiliki makeup yang tersedia, Elma pun akhirnya menghentikannya. Ia memandang ke arah Morgan, yang saat ini juga sedang memandang ke arahnya.
Tatapan tajam Morgan membuat Elma sangat takut, karena saat ini ia sudah tidak memiliki senjata lagi di tangannya.
“Mau gimana lagi kamu?” tanya Morgan, perlahan melangkah menuju ke arah Elma.
Elma merasa sangat kaget, dan melangkah mundur mengikuti langkah Morgan yang maju ke arahnya. Tangannya menunjuk kasar ke arah Morgan, saking takutnya ia dengan Morgan saat ini.
“Berhenti di situ, Morgan! Jangan sampai aku melakukan hal yang macam-macam padamu!” bentak Elma, Morgan menyunggingkan senyumannya di hadapan Elma.
“Coba saja kalau berani!” tantang Morgan, yang lalu segera menerkam Elma yang berada di hadapannya.
__ADS_1
Elma kembali meronta, ketika Morgan berhasil menerkamnya dan memaksa untuk mencumbu bibirnya dan area sekitar wajahnya yang lain.
“Sialan Morgan! Lepasin!” pekik Elma kesal dengan sikap Morgan padanya.
TING ....
Suara bel kamar Elma berbunyi, membuat mereka menghentikan aktivitas mereka sejenak. Hal itu membuat mereka sama-sama mendelik, kaget dengan siapa yang datang ke ruangan kamar Elma itu.
“Apa itu Cylla?” tanya Elma kaget.
“Saya sudah memberinya obat tidur, tidak mungkin dia bangun secepat itu!” jawab Morgan, Elma mengangguk kecil paham dengan apa yang Morgan katakan.
Elma teringat dengan sesuatu, “Oh! Itu makanan yang aku pesan!” ujarnya, yang lalu segera membuka pintu kamarnya.
Di hadapannya saat ini, terlihat seorang pelayan yang datang membawakan makanan. Elma terlihat sudah berantakan, dan berusaha untuk membenarkan penampilannya di hadapan pelayan itu. Walaupun malu karena masih mengenakan lingerie-nya, Elma berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan pelayan itu.
“Iya?” ujar Elma, sang pelayan yang semula memandang ke arah Morgan, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Elma.
Elma berusaha tersenyum di hadapannya. “Ah, bawa masuk saja,” suruh Elma, sang pelayan menurut dengan apa yang ia perintahkan.
Sang pelayan pun meletakkan trolly makanan tersebut, di dalam kamar Elma. Ia pun kembali keluar dari ruangan kamar Elma, lalu memandang Elma dengan patuh.
“Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?” tanyanya.
Elma menggelengkan kecil kepalanya, “Tidak ada. Terima kasih,” ujarnya, sang pelayan pun segera pergi dari sana.
Sempat bingung melihat Elma yang keluar dengan penampilan berantakan, si pelayan yang bingung itu tidak mau bertanya tentang keadaan yang terjadi pada Elma. Walaupun ia melihat kejanggalan karena sudah melihat Morgan di kamar Elma, tetapi ia berhasil menjaga lisannya untuk tidak menanyakan kepada Elma.
Elma merasa malu, jadi ia tidak memberitahu si pelayan mengenai Morgan yang ingin memperkosanya.
Setelah memastikan sang pelayan pergi dari sana, Elma pun mengunci pintu ruangan kamarnya. Betapa terkejutnya ia, karena Morgan yang tiba-tiba saja langsung menerkamnya. Morgan memeluk tubuh Elma dari belakang, sehingga membuat Elma merasa sangat risih karenanya.
__ADS_1
“Sialan! Lepaskan tangan kotormu itu, lelaki sampah!” bentak Elma, tetapi tak membuat Morgan menghentikan apa yang ia lakukan padanya.
“Kenapa? Bukannya kamu sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini, dari lelaki yang sudah menidurimu?” tanya Morgan, Elma pun merasa sangat kesal mendengarnya.
“Tutup mulut kotormu, pria keong racun! Mau aku lempar sama piring, hah?” Elma mengancam Morgan, akan melemparnya menggunakan piring, tetapi Morgan sama sekali tidak peduli.
“Saya gak peduli!” ujar Morgan, yang malah melakukan hal yang lebih gila daripada sekadar memeluk Elma saja.
Morgan meremas dan memainkan kedua gundukan kenyal milik Elma, sontak membuat Elma mendelik tak percaya dengan apa yang Morgan lakukan. Walaupun sudah biasa melayani tamu seperti ini, tetapi Elma tidak terbiasa jika ada yang memaksanya melakukan hal kotor ini. Terlebih lagi tidak ada pembayaran yang dihasilkan.
Elma merasa benar-benar rugi.
“Stop, atau aku benar lempar kamu pakai piring!” ancam Elma lagi, Morgan merasa sangat kesal mendengarnya dan tidak melepaskan kedua tangannya yang menangkup gundukan kenyal Elma.
“Terserah!” ujar Morgan, yang sudah tidak bisa menahan hasratnya di hadapan Elma.
Elma sedikit hanyut dalam suasana ini. Namun, ia berhasil menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terbawa suasana yang aneh itu.
“Sial! Kalau aku bilang jangan begitu, ya jangan begitu!” bentak Elma. Tangannya meraih ke arah piring berisi makanan, yang ada di atas trolly itu. Dengan sangat bersemangat Elma benar-benar melempar Morgan menggunakan piring yang ada di hadapannya.
Ketika piring itu terbentur ke atas kepala Morgan, Morgan pun merasakan sakit yang luar biasa, sehingga membuatnya melepaskan pelukannya dari Elma.
“Aduh ....” Morgan terus memegangi kepalanya yang terasa sakit, membuat Elma memandangnya dengan pandangan yang sangat puas melihatnya.
“Ah ... akhirnya lepas juga,” gumam Elma, yang sangat puas dengan apa yang sudah ia lakukan pada Morgan.
Melihat Morgan yang kesakitan, Elma masih tetap merasa puas dengan hal itu. Elma merasa harus sering-sering memberikan Morgan pelajaran, karena perlakuan aneh Morgan padanya yang membuat ia merasa sangat jijik.
Morgan masih meringis kesakitan, tetapi ia sudah berusaha untuk memandang ke arah Elma dengan sinis.
“Awas kau!” ujar Morgan, yang lalu pergi dari ruangan kamar Elma.
__ADS_1
Karena tidak berhati-hati dalam melangkah, Morgan pun jadi menabrak si pelayan yang baru saja mengantarkan makanannya kepada Elma. Hal itu membuat mereka saling memandang satu sama lain, lalu Morgan pun segera pergi dari sana dan masuk ke dalam ruangan kamarnya, yang ada di sebelah ruangan kamar Elma.