
Elma merasa sedikit kesal, karena Arash yang sangat memaksakan kehendaknya padanya.
‘Kenapa sih, dia selalu aja bersikap aneh di depan aku? Percaya diri sekali dia,’ batin Elma, merasa sangat gemas melihat sikap Arash padanya.
“Nanti saya akan bawa pakaian saya. Kamu istirahat aja, gak usah ikut bantuin,” ujar Arash, membuat Elma semakin tercengang mendengarnya.
“Siapa juga yang mau bantuin kamu? Kamu aja sendiri yang bawa dan beresin! Terlalu percaya diri banget,” gerutu Elma, Arash tersenyum sembari menyentuh hidung mancung Elma.
“Apa itu tandanya kamu mengizinkan saya tinggal di sini?” tanya Arash memberikan spekulasi tentang ucapan Elma itu. Elma sampai dibuat mendelik lagi karena spekulasi dari Arash.
“Eh, gak gi—”
“Okay, selamat beristirahat, Baby! Saya pulang ke sini agak malam, kamu bisa istirahat duluan ya!” pangkas Arash, yang langsung bangkit di hadapannya.
“Rash tapi—”
“Bye, Baby!” pamit Arash, yang lalu segera meninggalkan Elma di sana.
Elma menunduk sendu, karena ternyata Arash benar-benar sangat memedulikannya. Di saat ia sudah tidak memiliki apa pun dalam hidupnya, masih ada Arash yang bahkan ingin menjadikannya sebagai seorang istri. Namun, masih sangat berat bagi Elma untuk berdamai dengan takdirnya.
‘Akan sulit bagiku untuk berdamai dengan takdir,’ batin Elma, merasa sangat sulit untuk menerima semua hal yang terjadi padanya.
Karena tubuhnya masih belum fit akibat merasakan gejala kehamilan, Elma pun terpaksa harus menurut dengan Arash, dan segera beristirahat untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Sementara itu, Arash kembali ke apartemennya. Saat ia masuk ke dalam ruangan apartemennya, ia dikejutkan dengan kehadiran sepupunya, Arga. Tak hanya Arga, di sana pun terdapat Ilham yang memang tinggal bersamanya di apartemennya, untuk membantu semua keperluan Arash.
“Sudah kembali, pemeran utama,” seloroh Arga, Arash pun tersenyum kecut mendengar ucapan sepupunya, karena mungkin Arga sudah mengetahui lelucon yang sedang ia lakukan ini.
“Mau apa kau ke sini?” tanya Arash dengan ketus, Arga pun tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Kau tidak ramah,” ceplos Arga, Arash pun duduk di sofa berhadapan dengan mereka.
“Saya memang seperti ini adanya,” ujar Arash, Ilham pun jadi ikut tertawa kecil mendengarnya.
“Sudahlah, kalian tidak usah bertengkar begitu. Kenapa malah jadi seperti anak kecil?” tegur Ilham, Arash hanya bisa memandangnya dengan sinis.
“Habis ke mana saja kamu seharian ini?” tanya Arga, yang masih penasaran dan ingin membahasnya bersama dengan Arash.
“Bukan urusanmu,” ketus Arash, mereka tertawa kecil mendengarnya.
“Arash ... saya serius ingin tahu,” ujar Arga, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang.
“Bukankah kau sudah tahu?” tanya balik Arash, membuat mereka gemas mendengarnya.
Tak hanya Elma yang selalu gemas ketika berbicara dengan Arash, mereka pun merasakan hal yang sama, karena Arash yang memiliki sikap misterius.
“Saya ingin tahu dengan jelas dari kamu,” ujar Arga, Arash mengalah dengan hal ini. Ia juga merasa harus mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka.
“Apa?”
“Ya, karena tidak terima dengan kehamilannya, dia sampai mau lompat dari koridor apart,” ujar Arash lagi, semakin membuat mereka mendelik kaget mendengarnya.
“Gila! Kenapa wanita itu keras sekali, sih? Bukannya kau ingin bertanggung jawab atas kehamilannya itu?” tanya Ilham tak percaya, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang.
“Niat hati sih memang seperti itu, tapi Elma sepertinya belum mau menerima saya. Entah apa yang harus saya lakukan,” jawab Arash dengan nada yang terdengar sangat frustrasi.
“Kenapa dia sok jual mahal, sih? Wanita panggilan seperti dia, memang masih ada harga dirinya lagi? Sudah untung masih ada yang mau, dan yang mau juga ker—”
Ucapan Arga terpotong, karena ia yang menyadari ekspresi Arash yang sudah tidak enak dilihat. Hal itu membuatnya tak bisa melanjutkan perkataannya, dan malah memilih untuk menundukkan pandangannya, sembari memandang takut ke arah Arash.
__ADS_1
Ilham menghela napasnya panjang, “Dia sampai mau bunuh diri karena gak bisa terima kenyataan? Bisa jadi itu efek baby blues, Rash. Saya pernah baca di artikel, kalau ibu di saat hamil dan setelah hamil, mengalami baby blues. Itu hal yang biasa terjadi dengan seorang wanita hamil,” ujarnya berusaha untuk menjelaskan gejala kehamilan yang ia ketahui.
Arash menghela napasnya panjang, “Jadi itu berlangsung sampai kapan? Sampai kapan dia ingin bunuh diri seperti ini?” tanyanya, yang sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang wanita dan kehamilan.
“Entah, jangan sampai dia melakukan hal yang buruk, di masa yang krusial ini,” jawab Ilham, yang tidak mengetahui dengan jelas masalah ini.
Arash mengangguk kecil mendengarnya, “Ya, tidak akan saya biarkan dia melakukan hal yang aneh. Saya tidak rela kehilangan dia,” ujarnya, membuat Arga sedikit tidak mengerti dengan apa yang Arash rasakan pada wanita itu.
“Ini saya tanya serius ya, apa sih yang kau suka dari wanita itu?” tanya Arga, yang masih tidak percaya dengan perasaan Arash pada Elma.
Arash menatap sendu ke arah Arga, “Kamu tidak tahu rasanya ....”
Mereka hanya bisa memandang Arash dengan bingung, karena memang mereka yang tidak merasakan apa yang Arash rasakan terhadap Elma.
Karena rasanya Arash merasa khawatir dengan keadaan Elma saat ini, ia segera membuka handphone-nya untuk melihat keadaan Elma melalui monitor kamera pengintai, yang sudah ia pasang di kamar apartemen Elma.
Walaupun terkesan agak rancu, tetapi Arash melakukan ini hanya untuk menjaga keselamatan Elma. Ia tidak bermaksud ingin menguntit Elma, atau membuat onar.
Ilham dan Arga memandang ke arah Arash, yang saat ini sedang membuka handphone-nya. Mereka merasa bingung dengan apa yang sedang Arash perhatikan.
Pandangan mereka terpaku melihat ke arah Elma, yang ternyata sedang berbincang dengan seseorang melalu telepon genggamnya. Suara Elma dan suara orang yang sedang ia hubungi pun terdengar dengan jelas, sehingga mereka dengan serius melihat dan memperhatikan apa yang sedang Elma bicarakan.
“Itu benar wanita itu?” tanya Arga penasaran.
Arash memandangnya sinis, “Diam dulu. Kita dengarkan yang dia katakan,” tegurnya, membuat Arga seketika terdiam mendengarnya.
Dari handphone Arash, mereka mendengarkan apa yang Elma bicarakan dengan seorang lelaki.
“Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini, Morgan! Aku gak mau nanggung ini sendirian! Ini benih kamu, jangan sampai aku sebarkan kebusukan kamu, dan laporin kamu ke polisi!” bentak Elma.
__ADS_1
“Tanggung jawab? Apa saya tidak salah dengar? Elma ... Elma ... profesi kamu itu sebagai wanita panggilan, yang harus dipertanyakan. Bisa saja kamu mengandung benih dari pria lain? Who knows?”