
Morgan memandang dengan heran ke arah Elma, karena tidak biasanya Elma memerhatikannya sampai seperti ini. Elma biasanya hanya cuek, dan tidak pernah memerhatikan Morgan.
“Kenapa kamu sangat perhatian dengan saya?” tanya Morgan heran, Elma masih pada sikapnya yang elegan di hadapan Morgan.
“Aku perhatian, karena memang aku milikmu malam ini. Aku harus membuat klienku senang, bukan?” Elma tersenyum dengan sangat manis.
Morgan masih penasaran dengan apa yang Elma lakukan padanya. Memang benar apa yang Elma katakan untuk tetap membuat klien senang, tetapi Morgan merasa hal itu tidak berlaku untuk dirinya.
Sudah mau melayaninya saja itu sudah bagus, ini ditambah ingin memerhatikannya. Itu tidak mungkin terjadi.
Karena merasa penasaran, Morgan pun segera mengambil sisa minuman yang ada di atas meja. Ia memandang minuman Tequila Silver dengan merk Silver Patron yang memiliki 100% kandungan De Agave Blue, dengan pandangan yang sangat tajam. Ia tidak ingin, ada sesuatu yang diletakkan di dalam gelasnya itu.
Sekilas tampilan Tequila Silver ini tidak memiliki keanehan. Warnyanya hanya tampak sebening Kristal, dan tidak ada yang harus dicurigakan pada minuman tersebut. Namun, karena Morgan yang masih kurang percaya dengan minuman tersebut, ia pun menghirup aroma dari Tequila itu.
Hasil dari aroma yang ia hirup, membuatnya yakin bahwa ada sebuah obat yang ada di dalamnya. Hal itu membuat Morgan mendelik dan memandang Elma dengan senyuman yang menyungging.
“Huh, kau pikir kau bisa mengelabuiku dengan trik yang sama, yang pernah aku lakukan padamu, Elma?” ujar Morgan, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
Elma tak percaya, jika Morgan benar-benar mengetahui apa yang ia rencanakan. Sudah seperti ini, Elma tidak bisa mengatakan apa pun lagi dan hanya bisa memandang sinis ke arahnya saja.
“Jangan harap kau bisa melakukannya, Elma! Itu tidak akan pernah terjadi!” bentak Morgan dengan nada yang sangat bersemangat, tetapi Elma hanya bisa diam saja sembari memandang sinis ke arahnya.
‘Sialan Morgan! Dia ternyata sudah tau, apa yang mau aku lakukan sama dia. Kalau sudah begini, gimana selanjutnya?’ batin Elma, yang hanya bisa mengutuk Morgan dalam hatinya saja.
Karena rencananya yang ketahuan Morgan secepat ini, Elma hanya bisa menahan rasa kesalnya sembari memandang Morgan dengan wajah yang tertekuk, seperti kanebo basah.
Morgan yang sudah tidak sabar melakukan hal tersebut, lalu segera membuka handuk yang melilit pada pinggulnya, dan terlihat sebuah benda yang sudah sangat kokoh.
__ADS_1
“Ayo, kita mulai lakukan hal ini!” ajak Morgan, yang benar-benar sudah tidak sabar merasakan kenikmatan dan gairah ini.
Elma menghela napasnya panjang, “Pakai ****** dulu!” suruhnya, Morgan tak pernah berpikir seperti itu.
“Kenapa saya harus pakai itu?” tanya Morgan, seperti sedang protes pada Elma.
Elma memandangnya sinis, “Aku tidak mau bersentuhan langsung dengan para klienku, terlebih lagi itu adalah dirimu!” bentaknya, sontak membuat Morgan terkejut dan merasa sangat tidak ingin melakukannya.
“Saya tidak akan pernah melakukannya!” bentak Morgan, Elma pun mendelik tak mau kalah di hadapannya.
“Baiklah, kalau seperti itu, aku juga gak akan mau ngelakuin itu sama kamu!” bentak balik Elma, Morgan pun mendelik mendengarnya.
“Apa enaknya menggunakan alat itu? Saya tidak pernah melakukannya!” Morgan masih berusaha kukuh untuk menolaknya.
Elma melipat kedua tangannya, dan membuang pandangannya dari Morgan. “Ya sudah, aku tinggal hubungi Mommy kalau kamu gak patuh peraturan! Hal itu jelas tertulis di kontrak!” ujarnya.
‘Daripada saya tidak melakukannya dengan Elma, lebih baik saya pakai saja!’ batin Morgan, yang mengalah pada Elma.
Namun, satu ide muncul pada benaknya, membuat Morgan merasa akan melakukan hal ini dengan baik.
‘Baiklah, saya akan tunjukkan cara mainnya. Kau berniat untuk membuatku celaka, aku akan mencelakakanmu dengan cara lain!’ batin Morgan, yang memiliki ide untuk Elma.
Morgan tersenyum di hadapan Elma, dan memandangnya dengan sinis. “Baiklah, saya akan memakainya,” ujarnya mengalah. “Berikan ****** itu!” suruhnya, Elma memandangnya dengan sinis.
“Harus kau yang menyiapkan! Untuk apa aku yang adalah wanita, menyiapkan barang seperti itu? Apalagi itu kamu yang memakainya!” ujar Elma sinis, sontak membuat Morgan terkejut kesal karenanya.
“Apa-apaan itu? Saya gak akan pernah menyiapkan ******! Kalau kamu siapkan, saya baru akan memakainya,” ujar Morgan, Elma kembali membuang pandangannya dari Morgan.
__ADS_1
“Terserah, aku sudah peringatkan. Waktumu juga sudah berkurang 1 jam, dan tidak ada perpanjangan waktu dari waktu yang sudah kau pesan,” ujar Elma memberikan peringatan pada Morgan.
Morgan mendelik tak percaya, “Apa? Jadi tidak ada perpanjangan waktu? Saya bahkan belum menyentuhmu sejak masuk ke kamar ini tadi!” ujarnya.
“Itu tertulis di kontrak!” ujar Elma, tanpa melihat ke arahnya.
Morgan kesal sekali mendengarnya, ‘Kalau saya tidak menyiapkan barang yang dia minta, saya pasti tidak akan pernah bisa memulainya. Masa sih, saya harus keluar mencari benda itu?’ batinnya resah.
“Ah ... kenapa ribet sekali, sih?” teriak Morgan, yang sudah sangat kesal dengan keadaan ini.
Elma tak menggubrisnya, dan hanya bisa duduk manis di atas ranjangnya. “Terserah, aku sudah bilang sama kamu. Aku gak akan mau menambah waktu, sekalipun kamu belum selesai melakukannya!” ujarnya, membuat Morgan merasa sangat keki mendengarnya.
“Saya gak mungkin keluar dengan keadaan seperti ini, Elma! Kamu lihat bukan, saya sudah seperti ini!” ujar Morgan, Elma tak mau tahu dengan hal itu.
“Gak mau tahu,” ujar Elma, yang malah tidak peduli dengan hal itu.
Morgan kesal, dan berpikir bagaimana caranya ia keluar dari sini untuk membeli benda yang Elma inginkan itu.
Setelah beberapa saat berpikir, Morgan pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa kurir untuk membelikannya. Ia segera mengambil handphone-nya, walaupun pikirannya sudah dalam keadaan kacau karena pengaruh obat kuat yang ia minum. Efeknya sudah terasa, sampai benda itu terus saja berdiri kokoh pada tempatnya.
Elma hanya memandanginya saja, karena Morgan yang sepertinya sedang melakukan sesuatu pada ponselnya. Ia hanya bisa menunggu, sembari tetap berharap semua ini tidak akan pernah terjadi pada mereka.
‘Semoga saja malam ini cancel!’ batin Elma, yang sudah tidak mood lagi melakukan pekerjaannya kali ini.
Beberapa saat berlalu, ada seseorang yang menekan bel ruangan mereka. Morgan pun keluar dari dalam kamarnya, dengan hanya menggunakan kaus dan celana pendeknya saja. Ia lalu kembali ke hadapan Elma, dengan menunjukkan sebuah benda yang Elma inginkan dirinya memakainya.
Morgan menyungginkan senyumannya di hadapan Elma, “Mari kita mulai adegan ini,” ajaknya, membuat Elma mendelik kaget tak percaya.
__ADS_1