Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Memasak Makanan Untuk Elma


__ADS_3

Elma melihat Arash yang sedang memasak di hadapannya, membuat matanya berbinar ketika melihat pemandangan yang aneh ini baginya. Ia sudah seperti seorang istri, yang saat bangun dari tidurnya melihat suaminya yang menyiapkan makanan untuknya.


Jantung Elma sedikit berdebar, karena ia melihat seorang lelaki dengan tubuh atletis, yang saat ini sedang memasak di hadapannya. Itu sungguh sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Apalagi saat ini, lelaki itu memasak di dapur apartemennya. Ia semakin tidak percaya saja dengan hal itu.


Arash tersenyum di hadapannya, ketika menyadari Elma yang sudah bangun dari tidurnya. “Selamat siang, Baby,” sapanya, yang membuat Elma merasa semakin nyata saja dengan khayalannya itu.


‘Kenapa dia manis banget?’ batin Elma merasa sangat heran, ketika melihat perlakuan manis Arash terhadapnya.


“Kamu belum pulang?” tanya Elma, Arash tertawa kecil mendengarnya.


“Kamu benar ingin mengusir saya, ya?” tanya balik Arash, Elma menunduk malu mendengarnya.


“Aku cuma gak suka aja ada orang lain di apartemenku,” jawab Elma, membuat Arash tersenyum sembari menghela napasnya dengan panjang.


“Elma, saya tidak akan melakukan hal apa pun sama kamu. Saya hanya ingin menjaga kamu, di saat kamu sedang tidak enak badan. Kamu yang bilang sendiri, kalau kamu hidup sebatang kara. Jadi, saya hanya peduli dengan kamu,” ujar Arash menjelaskan panjang lebar tentang urusannya pada Elma.


Elma memandang Arash dengan bingung, “Arash, kamu seharusnya gak seperti ini. Aku gak bisa, ngelihat kamu terus-terusan baik sama aku begini,” ujarnya, merasa sangat terusik dengan sikap Arash padanya.


Arash tak menjawab, perhatiannya malah teralihkan ke arah kentang goreng yang hampir matang.


“Oh, hampir matang. Makanan akan segera siap. Kamu tunggu di meja makan aja ya, Baby.” Arash berusaha untuk meniriskan minyak pada kentang goreng buatannya.


Mendengar ucapan Arash yang seperti itu, Elma hanya bisa memandangnya dengan sendu, karena Elma tidak ingin sampai merasakan jatuh cinta sungguhan pada Arash.


‘Sudah cukup Morgan saja sebagai bahan percobaan. Aku gak mau sampai benar-benar jatuh cinta, karena sudah terlalu lama sendiri,’ batin Elma, yang lalu melangkah ke arah meja makannya.


Arash dengan cekatan menyiapkan makanan yang sudah ia buat, sebagai menu makan siang mereka kali ini. Di meja makan saat ini, sudah tersaji beberapa makanan hasil buatan Arash sendiri.


Karena melihat makanan yang menggugah seleranya, Elma merasa sangat lapar dan ingin sekali mencicipi hasil karya Arash.

__ADS_1


“Silakan dimakan, Baby.” Arash tersenyum hangat di hadapan Elma, membuat Elma memandangnya dengan datar.


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu,” ujar Elma datar, Arash hanya tertawa mendengarnya.


Karena rasa laparnya yang sudah sangat tidak tertahankan, Elma pun menyantap kentang goreng dan danging steak yang ada di hadapannya. Begitu sulit dirinya untuk memotong daging steak ini, membuat Arash tersadar dengan apa yang menjadi kesulitan untuk Elma.


“Biar saya bantu,” ujar Arash, yang lalu segera membantu Elma untuk memotong daging steak yang berada di piring Elma, menggunakan pisau dan garpu yang baru.


Elma bingung, kenapa Arash harus sampai sebaik ini padanya. Padahal, mereka baru saja kenal, dan masih belum mengenal satu sama lain tentang kepribadian mereka masing-masing.


“Kenapa kamu baik banget sama aku?” tanya Elma yang menatap Arash dengan tatapan yang dalam.


Arash masih terus memotong daging tersebut. “Saya memang baik, tapi tidak kepada semua wanita. Hanya wanita terpilih saja,” jawabnya tanpa memandang ke arah Elma.


Elma merasa heran mendengarnya, “Wanita terpilih? Apa sebelum aku, ada wanita pilihan kamu yang lain?” tanyanya penasaran.


Arash sudah menyelesaikan aktivitasnya memotong bagian dari daging ini. “Sudah selesai. Silakan dimakan,” ujarnya, sontak membuat Elma kesal karena Arash yang terkesan mengalihkan pembicaraannya.


Karena sudah terlalu lapar, Elma pun akhirnya menyantap makanan yang ada di hadapannya. Rasa daging yang dimasak dengan tingkat kematangan Blue, membuat cita rasa daging ini menjadi tidak terkontaminasi dengan bumbunya.


“Kematangan Blue, kamu belajar memasak makanan Prancis dari mana? Jarang yang berhasil lho, menggunakan teknik ini?” tanya Elma, penasaran dengan kemampuan yang dimiliki Arash.


Arash hanya bisa tersenyum. “Kamu suka?” tanyanya balik, Elma merasa Arash kembali mengalihkan topik mereka.


‘Dia benar-benar misterius. Selalu mengalihkan topik pembicaraan,’ batin Elma, yang sudah mengetahui sifat asli Arash.


Mereka menikmati hidangan yang ada, dengan Elma yang tidak pernah menambah makanannya sampai sebanyak ini. Ini adalah kali pertama ia menikmati makanan lezat buatan Arash. Ia jadi tidak mau menyiakan kesempatan ini.


“Wah ... enak banget makanannya!” gumam Elma, yang baru selesai meminum minumannya.

__ADS_1


Arash menyeringai kecil melihat kelakuan Elma, yang berbeda dari sisi biasanya.


“Kalau lagi begini, kamu bukan seperti Elma yang elegan,” ujar Arash, Elma seketika terdiam karena ia baru menyadari ucapan Arash yang memang ada benarnya juga.


Elma mendadak sendu, dan menghela napasnya dengan panjang. “Ya, semua itu hanya karena di hadapan orang lain. Aku selalu tersenyum, dan menjaga sikapku. Aku memang sudah terbiasa seperti itu, tenggelam dalam kepalsuan,” ujarnya yang malah menceritakan dirinya sendiri di hadapan Arash.


Mendengar pengakuan Elma, Arash pun sedikit senang, karena Elma bisa sedikit terbuka dengannya.


“Bagus, pertahankan yang seperti ini. Saya lebih suka kamu yang apa adanya. Jangan tersenyum dengan elegan, jika kamu tidak benar-benar menyukainya,” ujar Arash.


DEG!


Ucapan Arash membuat Elma merasa sangat berdebar. Entah mengapa, Elma merasa senang ketika mendengar ucapan seperti ini dari seseorang. Terlebih lagi orang itu adalah seorang pria.


Arash menghela napasnya dengan panjang. “How, have you started fascinated with me?” tanyanya, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.


Elma mengalihkan pandangannya dari Arash, dengan wajah yang mulai bersemu merah saat ini. “Siapa yang terpesona sama kamu? Aku biasa aja, tuh!” bantah Elma, Arash berusaha menahan tawanya.


“Elma, mulut kamu boleh berbohong, but your attitude says otherwise.” Arash berusaha untuk memberitahu Elma tentang sikap Elma yang berbeda dari kenyataannya.


Elma berusaha untuk menahan dirinya di hadapan Arash. Ia kembali tersenyum dengan elegan di hadapan Arash, berusaha untuk menutupi segala rasa malunya di hadapan Arash.


“Senyuman itu lagi, ya?” tanya Arash, merasa sudah tahu apa yang Elma pikirkan.


Elma tak menghiraukan, “Terima kasih atas makanannya yang super lezat!” ujarnya, mencoba mengalihkan percakapan ini.


Arash tertawa kecil, karena secara tidak langsung Elma sudah meniru dirinya yang sering mengalihkan percakapan mereka.


‘Dia meniruku, ya? Manis sekali,’ batin Arash, yang malah sangat menyukai cara Elma saat meniru sikap dirinya.

__ADS_1


HUEK!


__ADS_2