Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Percobaan Bunuh Diri


__ADS_3

Arash berusaha untuk melompat dan memeluk Elma, tanpa ada persiapan apa pun. Sebisa mungkin ia harus bisa menggapai Elma yang hampir melompat itu, dan berusaha agar Elma tidak sampai jatuh ke bawah gedung ini.


Pikirannya sudah tidak menentu, Arash tidak bisa membayangkan berbagai macam keadaan yang mungkin akan terjadi, jika ia terlambat sedikit untuk melakukan sesuatu yang bisa menolong Elma dari mautnya.


Perasaan tidak rela menyelimuti hati Arash, karena ia tidak ingin sampai kehilangan Elma. Ia benar-benar sangat merasa bertanggung jawab dengan Elma, walaupun ia masih belum sepenuhnya mengenal Elma.


‘Jangan Elma! Saya mohon jangan!’ batin Arash, sebisa mungkin untuk berlarian ke arah Elma dengan sangat cepat, secepat yang ia bisa.


Dengan banyak sekali usaha yang dibutuhkan Arash, akhirnya ia berhasil menangkap Elma lalu memeluknya dengan erat ke dalam pelukannya. Arash tidak melepaskannya, dan tetap memeluk Elma dengan sangat erat.


“Lepasin!” teriak Elma, yang tidak dihiraukan oleh Arash.


“Elma, apa yang kamu lakukan?” tanya Arash, merasa kesal dengan yang Elma lakukan.


Elma sudah tidak memiliki gairah hidup, membuatnya merasa sangat tertekan dengan sebuah pelukan hangat yang Arash berikan untuknya.


“Lepasin Arash, lepasin!” bentak Elma, tetapi Arash masih tidak mendengarnya.


“Tidak akan saya lepaskan!” ujar Arash, membuat Elma merasa sangat sendu.


“Jangan seperti ini, Arash. Aku sudah kehilangan semuanya, jangan dipersulit lagi. Aku rasa, ini juga sudah seharusnya aku pergi dari dunia ini,” ujar Elma, Arash malah semakin mempererat pelukannya itu.


“Jangan bicara yang macam-macam! Kamu harus tetap hidup, dan jangan menyerah dengan keadaan!” bentak Arash, yang membuat Elma semakin menangis karena mendapatkan bentakannya itu.


Ini adalah kali pertama Arash membentak Elma, karena Elma yang berbicara melantur seperti itu. Arash sangat tidak bisa kehilangan sosok Elma, tetapi Elma malah sengaja ingin menghilang dari dunia ini.

__ADS_1


Tentu Arash tidak akan pernah mengizinkannya.


“Aku gak bisa gini terus, Rash. Karena kehamilan ini, aku jadi hancur. Mommy udah punya wanita lain yang bisa ngehasilin uang buat dia, sementara para klien yang batal janji sama aku sudah mulai ngirim surat denda pembatalan. Aku udah kehilangan tiga per empat harta aku, dan kini tinggal tersisa apartemen ini. Uang gak ada, perhiasan udah dijual semua, barang-barang, baju, sepatu, semuanya sudah aku jual juga buat membayar semua denda mereka. Lantas apa gunanya lagi aku hidup di dunia ini?” ujar Elma, yang merasa sangat resah dengan keadaannya yang seperti ini.


Karena sudah hancur seperti ini, Elma tidak bisa berpikir apa pun. Ia yang sudah terbiasa hidup dengan gelimang harta, saat ini harus menekan semua pengeluarannya dan hanya mengandalkan belas kasiahan Arash padanya. Elma sudah tidak bisa lagi menahan semua ini.


Arash tidak langsung membantu Elma, karena ia ingin membuat Elma jera karena hal yang ia lakukan. Pekerjaannya memang bukan pekerjaan yang benar, dan Arash ingin membuat Elma membuka matanya untuk tidak melakukan hal itu lagi. Bukan berarti Arash tidak peduli dan tidak mau membayarkan semuanya.


‘Maaf Elma, saya harus begini demi kamu juga. Agar kamu bisa terbuka pikirannya, untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Biarkan semua yang ada lenyap, dan saya akan membuatmu menggantungkan dirimu pada saya setelahnya,’ batin Arash, merasa harus menunggu saat-saat terendah Elma.


“Sudah, jangan dipikirkan. Lebih baik kamu beristirahat saja, jangan sampai kelelahan. Saya gak mau bayi yang ada di dalam kandungan kamu, sampai merasakan dampaknya karena hal yang kamu lakukan,” ujar Arash, Elma tiba-tiba saja mendelik ke arah Arash.


“Aku gak mau bayi ini! Aku gak mau hidup lagi di dunia ini! Aku mau mati saja!” teriak Elma kesal, Arash lagi-lagi hanya bisa memeluknya, dengan Elma yang terus meronta karena merasa kesal dengan keadaan ini.


Arash tak bisa membiarkan terjadi sesuatu dengan Elma, karena itu membuatnya merasa sangat sedih dan kehilangan.


“Aku gak mau bayi ini!” teriak Elma, sembari memukul-mukul perutnya yang sudah terlihat sedikit berisi.


Arash tentu saja tidak mengizinkan Elma melakukannya. Sebisa mungkin, ia menahan tangan Elma, agar tidak menyakiti bayi yang ada di dalam kandungannya.


“Stop, Elma!” bentak Arash, tetapi tenaga Elma malah semakin besar untuk menyakiti bayi itu.


Arash sampai kewalahan, karena Elma yang masih saja berusaha untuk menyakiti bayi yang ia kandung. Ia tidak bisa terus-terusan menahan Elma seperti ini, karena hal itu adalah hal yang sangat percuma.


“Elma, stop!” teriak Arash, yang lalu segera mencium bibir Elma dengan sangat dalam.

__ADS_1


Walaupun sempat meronta, Elma yang sudah kehabisan tenaga dan hampir kehabisan napas, berangsur menghentikan tangannya yang meronta itu. Arash masih mencium bibir Elma dengan dalam, berusaha untuk mengalihkan perhatian dan fokus Elma agar kesal terhadap dirinya saja dan bukan kesal kepada bayinya.


Ketika merasa Elma yang sudah selesai mengeluarkan keresahan dalam hatinya, Arash pun mulai mengendurkan pelukannya dari Elma.


“Sudah tenang sekarang?” tanya Arash, Elma masih tak menjawab pertanyaannya.


“Kenapa kamu cium aku?” tanya Elma, Arash menghela napasnya dengan panjang.


“Ayo kita makan, kamu harus makan karena kamu har—”


“Kenapa kamu cium aku!” teriak Elma, memangkas ucapan Arash yang berniat untuk mengalihkan pembicaraannya di hadapan Elma.


Mereka sejenak terdiam, dengan Arash yang masih tetap memeluk Elma di dalam pelukannya.


“Elma, ini sudah hampir malam. Kamu bahkan tidak makan siang tadi, masa sih kamu mau tidak makan malam juga?” tanya Arash, Elma merasa kesal karena lagi dan lagi Arash berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya di hadapannya.


Dengan sisa tenaganya, Elma pun mendorong tubuh Arash dengan sangat kasar, sampai Arash terpental ke belakang saking kuatnya tenaga Elma itu. Mata Elma mendelik kesal, tak bisa menerima perlakuan Arash padanya itu.


“Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku gak suka kamu yang selalu mengalihkan pembicaraan!” bentak Elma, merasa sangat kesal dengan yang selalu Arash lakukan padanya.


Arash tak bisa melakukan apa pun, hanya bisa menghela napas panjang dan menatap Elma dengan sendu.


“Elma, menikahlah dengan saya. Saya berjanji, akan menjaga kamu dan bayi itu,” ujar Arash, Elma mendelik kesal mendengarnya.


“Aku gak mau menikah sama kamu! Aku akan menggugurkan bayi ini, dan gak akan pernah menerimanya!” bentak Elma, membuat Arash kembali mendelik mendengarnya.

__ADS_1


PLAK!


__ADS_2