
Di ruangan kerja Arga, mereka berkumpul untuk melakukan serangan kepada Morgan. Mereka sudah lama ingin sekali menggulingkan Morgan, apalagi ditambah dengan kejadian tentang Elma, membuat mereka semakin menggebu karenanya.
"Jangan sampai kita gagal!" ujar Arash, yang sudah menantikan hal tersebut.
"Tenang saja, kita tidak akan gagal!" sahut Arga, yang memang sudah sangat ingin Morgan angkat kaki dari perusahaannya.
Handphone Arash berdering, itu adalah telepon masuk dari Ilham.
"Ada apa?" tanya Arash.
"Saya sudah membawa Elma ke perusahaan Arga. Kami sedang di basement," jawab Ilham.
"Baiklah, saya dan Arga sudah di ruangan. Cepatlah ke sini, pertunjukan sudah ingin dimulai."
"Baiklah."
Ilham dengan cepat menunjukkan jalan untuk Elma, agar Elma bisa melihat Morgan tersiksa di hadapannya.
Tibalah mereka di ruangan Arga. Elma sangat kaget melihat mereka berada di dalam sebuah ruangan.
"Lho, ada apa? Kenapa kalian memintaku untuk ke sini?" tanya Elma.
Arash menyunggingkan senyumannya. "Saya sangat merindukan kamu, jadi saya meminta Ilham untuk membawamu ke sini," ujarnya dengan asal.
Elma memandang sinis ke arahnya. "Apa sih? Kamu gak lihat ada banyak orang di sini?" bentaknya kesal, membuat Arash tertawa kecil mendengarnya.
"Ah, kamu bukannya mencari saya saat tidak menemukan saya di samping ranjang tidurmu?" goda Arash, membuat mereka malu mendengarnya.
Elma mendelik, "Kau gila, Rash!" bentaknya malu di hadapan Ilham dan juga Arga.
Sementara itu Ilham dan Arga hanya bisa memandang mereka dengan datar.
"Haha, sudahlah. Cepat bawa bajingan itu ke sini!" suruh Arash.
"Baiklah." Ilham melangkah keluar dari ruangan.
Elma bertanya-tanya dengan apa yang akan mereka lakukan. Lalu setelahnya, Ilham berhasil membawa Morgan sampai ke hadapan mereka.
Betapa terkejutnya Elma, ketika ia melihat Morgan di hadapannya saat ini. Morgan pun terkejut, ketika ia melihat Arash dan Elma yang ada di hadapannya saat ini.
"Wah ... wah ... ternyata ada wanita ****** si kupu-kupu malam," tegur Morgan.
Arash tak terima mendengarnya, kemudian segera menghajar perut Morgan dengan tiba-tiba. Hal itu membuat Morgan terkapar di atas lantai tanpa persiapan.
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil ******, hah!" bentak Arash.
Morgan terbatuk, lalu memandang sinis ke arah Arash. "Wanita yang ada di sebelahmu adalah wanita ******!"
Arash kembali menghajar perut Morgan, sampai Morgan kembali merasakan sakitnya.
"Berhenti mengatakan hal itu pada calon istriku!" bentak Arash, Morgan mendelik tak percaya mendengarnya.
"Apa? Calon istrimu?" tanya Morgan, yang lalu tertawa dengan keras setelah mendengarnya.
Arash semakin tak terima melihat sikap Morgan itu. "Mati saja sana kau ke neraka!" bentaknya kesal.
Karena tak kuasa menahan amarahnya, Arash sampai melayangkan pukulan keras ke arah perut Morgan. Itu sebagai tanda, bahwa ia sangat tidak bisa menerima apa yang Morgan ucapkan untuk Elma.
"Ah! What the hell!" teriak Morgan, sembari menahan rasa sakitnya.
Arash sangat acuh di hadapannya. "Tanda tangani surat pemecatan sekarang juga!" suruhnya.
Arga yang memang sudah melakukannya, lalu melipat kertas yang baru saja ia tanda tangani itu.
"Sudah selesai!" ujar Arga, lalu segera melemparkan surat tersebut ke wajah Morgan.
Morgan mendelik tak percaya. "Apa-apaan ini, Presdir? Saya dipecat? Atas dasar apa pemecatan ini?" tanyanya tak menyangka.
"Apa katamu?" tanya Morgan tak percaya.
Arash memandang ke arah Elma, yang sejak tadi hanya bisa diam memandang ke arah Morgan. "Apa kau ingin saya menjebloskan dia ke penjara?" tanyanya.
Morgan mendelik. "Jangan, Tuan! Jangan lakukan itu!" teriaknya, tetapi Arash sama sekali tak menghiraukannya.
"Diam kau bajingan!" bentak Ilham, kesal dengan sikap Morgan yang aneh baginya.
Elma memandang dalam ke arah Arash. "Sudah cukup seperti ini saja. Jangan sampai berhubungan ke kantor polisi. Aku tidak mau nantinya aku kena juga karena berprofesi sebagai kupu-kupu malam," tolaknya.
Karena pertimbangan hal tersebut, Arash pun akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah, saya tidak akan membawa kasus ini ke jalur hukum."
Arash memandang sinis ke arah Morgan. "Lalu kamu, saya tidak akan melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Asalkan kamu membayar kerugian yang diderita Elma! Soal anak yang dikandung Elma, sepenuhnya akan menjadi milik saya. Saya akan merawat dia seperti anak saya sendiri. Jadi, jika suatu saat kau masih belum kapok dan ingin menghancurkan Elma, kau langkahi dulu mayat saya! Saya tidak akan segan membuat kamu terkurung di jeruji besi selama puluhan tahun, menghabiskan sisa usiamu!" bentaknya sinis.
Morgan menggertakkan gerahamnya. "Arash sialan! Dia mengancam sampai memerasku seperti ini! Berapa sih gaji manajer di perusahaan ini, sampai dia berani memerasku seperti itu?" batinnya kesal.
"Jika kau tidak mengganti rugi, saya pastikan kau akan kehilangan kebebasanmu menghirup udara bebas!" ancam Arash lagi, membuat Morgan merasa sangat kaget mendengarnya.
"Baiklah! Saya minta maaf, dan akan mengganti rugi!" ujar Morgan, masih dengan nadanya yang angkuh.
__ADS_1
"Pilihan yang bijak," celetuk Arga.
"Baiklah, bawa dia pergi! Saya mual lama-lama memandang wajahnya!" suruh Arash.
Morgan pun pergi dari sana tanpa kata, saking malunya ia di hadapan mereka saat ini.
Arash berhasil menghentikan kekacauan yang ada, membuat Elma merasa sangat tersanjung melihatnya menyelesaikan masalahnya dengan Morgan.
"Sayang, aku ...."
Belum habis Arash menyelesaikan ucapannya, Elma pun sudah memeluknya dengan erat. Matanya sampai mendelik, bingung harus mengatakan apa lagi.
"Terima kasih, sudah melakukan hal seperti ini untukku," ujar Elma, membuat Arash tersenyum mendengarnya.
"Ini sudah hal yang harusnya saya lakukan untuk kamu," ujar Arash.
Melihat mereka yang saling berpelukan, Ilham dan Arga pun memandang datar ke arah mereka.
"Umm ... sepertinya kita harus pergi dari ruangan ini," ujar Arga.
"Ya, kita harus menyingkir dari sini," sahut Ilham.
Mereka pun segera pergi dari ruangan ini, meninggalkan Elma dan juga Arash di sana.
Sementara itu, Arash dan Elma memandang satu sama lain. Banyak hal tertuang lewat tatapan mata mereka.
"Bagaimana soal tawaran saya?" tanya Arash.
Wajah Elma memerah. "Tawaran yang mana?" tanyanya balik.
"Soal menjadi istri saya?"
Hening sejenak, mereka hanya saling pandang dengan wajah Elma yang memerah karena malu.
Elma menghela napasnya panjang. "Ya, aku mau jadi istri kamu."
Sebuah pelukan erat dilakukan Arash pada Elma. Ia merasa sangat bahagia saat ini. Tidak peduli bagaimana keadaan Elma, ia sudah sangat bahagia hanya dengan Elma menerimanya di sisinya.
"Aku akan memanjakanmu dan juga anak yang kau kandung. Lihat saja nanti," ujar Arash, yang sangat dinantikan Elma saat ini.
"Aku harap begitu," ujar Elma, yang lalu mendaratkan ciuman hangatnya di bibir Arash, sehingga Arash bisa membalas ciuman tersebut.
TAMAT
__ADS_1