Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Perasaan Nyaman Yang Aneh


__ADS_3

“Aku ....” Elma tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Elma merasa bingung, harus menjawab apa kepada Arash, karena selama ini ia hidup tanpa cinta dari seorang kekasih, ataupun keluarga. Ia jadi bingung dengan yang dimaksud cinta.


“Sudahlah, besok saya harus mengadakan pertemuan dengan seorang yang ingin saya hancurkan. Good night,” ujar Arash, yang lalu segera memejamkan matanya.


Karena merasakan hangat peluknya Arash, Elma pun merasakan rasa nyaman yang sangat aneh. Ia tidak menolak, dan karena sudah terlalu lelah, ia pun ikut memejamkan matanya dan akhirnya tidak sadar dengan keadaan sekitarnya.


Perasaan nyaman yang aneh, yang baru pertama kali Elma rasakan.


***


Elma sedang berada di jalan depan apartemennya. Ia hanya memandangi jalan saja, tanpa melakukan apa pun. Matanya sayu, kantung matanya mulai menghitam. Ia seperti mayat hidup yang sudah kehilangan rasa semangatnya.


Dari arah hadapannya, terlihat seseorang yang sangat ia kenal. Orang itu adalah Arash, yang saat ini sedang bersama dengan wanita, yang tak lain adalah Cylla.


Matanya mendelik kaget, karena melihat Arash yang menggandeng mesra tangan Cylla. Elma sampai tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Kenapa Arash kenal Cylla? Bukannya Cylla itu pacarnya Morgan? Kenapa mereka bisa jalan bareng?” gumam Elma, merasa sangat heran dan takut dengan perasaan ini.


Ketika ia menyadarinya lagi, tepat dari arah sebelah kanan terlihat mobil yang sedang melintas dengan kecepatan yang cukup kencang. Hal itu membuat Elma mendelik kaget, karena mereka berjalan dengan mesranya, sampai tidak melihat ke arah sebelahnya.


“Arash awas itu mobil!” teriak Elma, tetapi ia tertahan karena perutnya yang sangat sakit akibat kontraksi.

__ADS_1


Fokusnya tetap ke arah Arash, dan Arash sama sekali tidak menyadari mobil tersebut. Padahal sejak tadi mobil itu sudah memberikan sebuah tanda, dengan membunyikan klakson berulang kali.


Mobil itu semakin mendekat, dan ketika Arash menyadarinya lalu menoleh ke arahnya, matanya seketika mendelik.


“ARASH AWAS!!” teriak Elma, yang sudah melihat Arash tertabrak di hadapannya.


Matanya mendelik, ia menyadari bahwa saat ini ia baru saja terbangun dari tidurnya. Hal itu membuat maid yang ada di hadapan Elma, merasa terkejut mendengar teriakan Elma.


Elma mendelik, napasnya tercekat beberapa saat, sampai akhirnya ia bisa menghirup napasnya dengan lega. Pelayan itu takut, karena melihat reaksi Elma yang sudah sangat ketakutan itu.


“Ada apa, Nona?” tanya pelayan itu.


“Gak apa-apa, tolong ambilkan saya minum,” ujar Elma.


Sang pelayan pun menurut, dan mengambilkan minuman untuknya.


Elma tak habis pikir, karena ia memikirkan Arash yang akan tertabrak di hadapannya itu. Karena ucapan terakhir malam saat Arash memeluknya, Elma jadi terbawa ke alam bawah sadarnya.


Pandangannya ia edarkan ke seluruh ruangan, dan tidak melihat keberadaan Arash di mana pun. Ia bingung, Arash yang pergi tanpa permisi itu.


“Sial Arash, kenapa pergi gak pamit?” gerutu Elma, yang lalu segera mengambil handphone-nya untuk menghubungi Arash.

__ADS_1


Sementara itu di sana, Arash sedang melangkah menuju ke arah ruangan kerja Arga. Pagi-pagi sekali ia sudah sampai di kantor Arga, hanya untuk menjalankan rencananya membuat Morgan jatuh. Ia dikejutkan dengan dering handphone-nya, yang membuatnya menghentikan langkahnya dan menerima telepon yang ternyata dari Elma.


“Morning, Baby. Gimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Arash, berbasa-basi dengan Elma yang baru kali ini menghubunginya lebih dulu.


“Kenapa kamu pergi gak pamit dulu?” tanya Elma ketus, Arash menahan tawanya karena merasa ada keanehan dari sikap Elma padanya.


“Kamu ... saya harus pamitan sama kamu? Memangnya kamu siapa? Pacar saya, kah?” tanya Arash, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.


“Ga gitu juga, Rash! Paling enggak, kamu kasih tau dong! Kamu ‘kan udah seenaknya numpang di apartemen aku!” bantah Elma dengan rasa gagap, membuat Arash tertawa kecil mendengarnya.


“Saya gak tega bangunin kamu. Kalau saya gak ada rencana untuk menjatuhkan seseorang pagi ini, saya mungkin akan terus tidur menempel, dengan bergandengan tangan sama kamu seperti semalam,” goda Arash, sontak membuat Elma mendelik bingung.


“Gandengan tangan?”


“Ya, kamu genggam tangan saya semalaman, sampai saya gak tega buat lepasinnya tadi,” jawab Arash membuat Elma malu mendengarnya.


“Udah ah, ngawur!” ketus Elma, yang lalu segera memutuskan hubungan telepon mereka, dengan Arash yang hanya menggelengkan kepalanya saja seraya tersenyum.


Tatapan matanya tajam, menyorot ke arah hadapannya. Ia berpikir tentang rencananya, dan benar-benar akan menghabisi Morgan.


“Awas saja kamu, Morgan. Tidak akan pernah saya lepaskan kamu, sampai kamu benar-benar kehilangan segalanya!” gumam Arash, yang lalu segera melangkah menuju ke arah ruangan kerja Arga.

__ADS_1


__ADS_2