Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku

Kupu-kupu Malam Yang Tak Laku
Are You Idiot?


__ADS_3

Arash dan yang lainnya menyadari bahwa Elma yang kini sedang berbincang dengan Morgan. Hal itu membuat Arash merasa geram, dan mengepalkan tangannya dengan emosi yang masih tertahan.


‘Sialan! Beraninya Morgan bicara begitu! Dia akan menanggung semua yang dia katakan!’ batin Arash, kesal ketika mendengar ucapan Morgan yang kasar pada Elma.


“Hey, are you idiot? Aku selalu utamakan safety saat bekerja. Ini semua karena kamu yang perkosa aku! Kamu yang udah masukin obat ke dalam minumanku, dan kamu yang bikin aku gak sadar! Kamu gila, Gan! Aku udah gak punya apa-apa sekarang! Posisiku diganti wanita yang lebih cantik, barang-barang, perhiasan, gaun, sepatu, tabunganku habis, sisa apartemen yang aku tinggalin sekarang aja! Ini semua karena bayi kamu yang ada di perut aku!” bentak Elma, Morgan lagi-lagi tertawa mendengarnya.


“Siapa suruh kamu tidak mau menikah dengan saya. Ini akibatnya! Tadinya saya ingin nikahin kamu, tapi ternyata kamu sudah gak perawan, terlepas dari 3 tahun masa hubungan kita, yang gak pernah berbuat apa pun! Sekarang, tanggung sendiri akibatnya!” bentak Morgan balik.


Mendengar bentakan Morgan kepada Elma, Arash dan yang lainnya merasa sangat geram mendengarnya. Mereka kini paham dengan posisi Elma, yang sebenarnya hanyalah korban belaka.


Karena sudah merasa sangat panas, Arash pun menyudahi memantau Elma. Ia menutup handphone-nya, kemudian segera menghela napasnya dalam-dalam.


“Itu sudah gak benar! Yang namanya Morgan itu harus di kasih pelajaran!” ujar Ilham, yang juga sudah terpancing amarah dengan hal ini.


“Ya, saya setuju! Ternyata Elma jadi korban pemerkosaan, terlepas dari pekerjaannya sebagai kupu-kupu malam. Morgan ... yang mana dia? Biar saya beri dia pelajaran!” ujar Arga, yang juga geram dengan apa yang Arash katakan.


“Morgan ... namanya kalau tidak salah Morgan Miller,” ujar Arash, sontak membuat Arga mendelik kaget mendengarnya.


“Morgan ... Miller?” gumam Arga, tak percaya dengan apa yang Arash katakan.


Arash memandang tajam ke arahnya, “Kau kenal dia?” tanyanya, Arga pun mengangguk mendengarnya.


“Itu manager di kantor, sudah senior sih ... tapi saya tidak menyangka kalau dia terjebak skandal dengan kalian,” jawab Arga, sontak membuat Arash merasa sangat bersemangat untuk menjatuhkan Morgan dengan skandal ini.

__ADS_1


“Kamu harus membantu saya kali ini,” ujar Arash, Ilham dan Arga mengerti maksud dari Arash.


“Ya, saya paham,” ujar Arga, mereka saling menatap dengan tajam.


“Apa kasus ini mau dibawa ke jalur hukum?” tanya Ilham.


“Tidak, saya hanya ingin dia jatuh sejatuh-jatuhnya seperti yang Elma rasakan. Jika saya melaporkan ini ke jalur hukum, khawatir Elma dan komplotannya terkena juga karena bisnis prostitusi ini,” jawab Arash, mereka pun mengangguk kecil menyetujuinya.


“Jadi, kamu mau dia hancur seperti apa?” tanya Arga, penasaran dengan detail keinginan yang Arash maksud.


Arash memandang tajam ke arah mereka, “Pecat dia,” jawabnya, membuat mereka semakin paham maksudnya. “Atur pertemuan untuk kita berempat, dan biarkan saya hajar dia habis-habisan,” tambah Arash, mereka pun mengangguk kecil mendengar permintaan Arash.


“Baiklah, saya akan atur untuk pertemuan kita besok,” ujar Arga, membuat Arash merasa sangat tenang mendengarnya.


Arash masuk ke dalam ruangan kamar Elma, dan segera meletakkan pakaian yang ia bawa di dalam lemari Elma. Memang belum disusun, tetapi setidaknya ia bisa menyimpannya sampai besok pagi.


Melihat Elma yang sudah tidur, Arash pun segera naik ke ranjang tidurnya, dan memeluk Elma dari belakang. Karena pelukan itu, Elma yang sudah tertidur pun sampai mendelik kaget karena merasakan sesuatu yang aneh, yang memeluknya dari belakang.


“Siapa kamu!” teriak Elma, yang tidak tahu siapa yang sudah memeluknya dari belakang.


Arash menghela napasnya tepat di telinga Elma, membuat Elma merasa cangungg dengan hal ini. “Tenang, Baby. Ini saya,” ujar Arash, membuat Elma merasa sangat risih karenanya.


“Jangan ngawur deh kamu, Rash! Kamu udah mau tinggal di ruangan orang seenaknya, masuk kamar seenaknya, terus meluk orang seenaknya!” bentak Elma, tak suka dengan apa yang Arash lakukan terhadapnya.

__ADS_1


“Memangnya salah, seperti itu dengan calon istri sendiri?” tanya Arash, membuat Elma merasa sangat kesal mendengarnya.


“Memangnya siapa yang mau jadi istri kamu, hah? Aku gak mau!” bentak Elma, Arash menghela napasnya dengan panjang.


“Apa ini semua ... karena Morgan?” tanya Arash, Elma mendelik kaget mendengarnya. “Kamu masih ada perasaan sama dia? Kamu mau minta pertanggung jawaban dari dia?” tanyanya lagi, semakin membuat Elma kaget saja.


Elma terdiam sejenak, saking bingungnya bagaimana caranya ia menjawabnya. Ia hanya bisa diam, dengan spekulasi Arash yang ternyata hampir sesuai dengan apa yang Elma pikirkan.


“Kenapa? Tebakan saya benar?” tanya Arash, Elma kesal mendengarnya.


“Aku memang minta pertanggung jawaban Morgan, tapi aku memang gak cinta sama dia dari awal! Aku cuma mau minta tanggung jawab, untuk ganti semua kerugian yang aku alami, hanya karena mengandung anak darinya!” tutur Elma, yang menyanggah semua ucapan Arash yang menuduhnya masih mencintai Morgan.


“Elma ... Elma ... kalau hanya masalah tanggung jawab seperti itu, saya juga bisa. Saya bisa ganti semua kerugian kamu, dan bisa menjamin kamu dengan bayi kamu. So, untuk apa lagi kamu meminta tanggung jawab kepada Morgan?” tanya Arash, membuat Elma masih bimbang mendengarnya.


“Aku gak mungkin minta tanggung jawab dari kamu, Rash! Kamu gak ngapa-ngapain, kok! Kamu gak bersalah!” sanggah Elma, yang merasa tidak benar jika ia meminta pertanggung jawaban dari Arash.


Arash menghela napasnya dengan panjang, “Saya memang gak ngapa-ngapain, Elma. Setidaknya kamu jangan menolak keinginan saya untuk membuat kamu bahagia. Elma, saya benar-benar tidak memedulikan apa yang ada pada diri kamu. Yang penting, saya dan kamu ... bisa bersama,” ujarnya, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.


“Maksud kamu apa sih, Rash? Aku sama sekali gak paham!” bentak Elma, yang tidak ingin mengatakan apa pun pada Arash mengenai hal ini.


Arash semakin mempererat pelukannya, “Elma, apa kamu tidak berdebar ketika saya memeluk kamu seperti ini?” tanyanya.


Mendengar pertanyaan Arash, Elma pun mendelik karena ia merasa sangat tidak percaya Arash mengatakan hal itu. Memang sejak tadi, ia masih menahan perasaannya pada Arash. Ia tidak ingin hanyut ke dalam sebuah hubungan, bersama dengan Arash ataupun Morgan. Ia hanya ingin hidup mandiri, dan menjalani pekerjaannya lagi sebagai seorang kupu-kupu malam.

__ADS_1


__ADS_2