
Betapa terkejutnya Elma, karena melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya. Ia sangat tidak percaya, kalau yang memesan dirinya itu adalah Morgan. Klien yang katanya rela menghabiskan kocek dalam, hanya untuk merasakan tubuh Elma saja. Morgan sudah menunggu lama akan hal ini.
“Ngapain kamu di sini?” tanya sinis Elma, Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Harusnya aku yang nanya ke kamu! Kamu ngapain di sini, hah?” pekik Morgan sinis, Elma memandangnya dengan sinis.
“Aku ....” Elma tak bisa melanjutkannya, karena ia langsung tersadar dengan segala kemungkinan yang ada, jika ia mengatakan lebih dulu.
Elma kembali memandangnya dengan dalam. “Aku di sini ... mau sewa hotel!” jawabnya dengan ucapan yang terdengar asal saja.
Sebelah alis Morgan terangkat, membuat Elma merasa sangat kaku melihatnya. Morgan mengeluarkan handphone-nya dari saku jasnya, dan menghubungi nomor kupu-kupu malam yang akan menemaninya semalaman.
Betapa terkejutnya Elma, ketika mendengar dering handphone-nya berbunyi keras. Hal itu membuat satu senyuman Morgan mengembang pada wajahnya.
“Nah ... kamu si kupu-kupu malam itu, bukan?” bidiknya, Elma mendelik kaget mendengarnya.
“Kenapa memang kalau aku kupu-kupu malam yang kamu pesan? Hah?” tanya Elma menantang, Morgan merasa sangatlah pantas jika Elma sudah tidak memiliki keperawanannya.
Sempat tidak percaya dengan keadaan yang terjadi, ternyata mantan kekasihnya adalah seorang kupu-kupu malam. Morgan sudah lama memesan wanita terbaik dengan harga fantastis itu, yang ternyata adalah kekasihnya sendiri.
“Oh ... pantas saja kamu sudah tidak memiliki keperawanan. Ternyata kamu itu si kupu-kupu malam itu,” ujar Morgan, Elma merasa sangat kesal mendengarnya.
__ADS_1
“Sudahlah! Aku tidak ingin melakukannya denganmu!” bentak Elma, yang lalu segera bangkit dari ranjang tidur yang ia duduki itu.
Morgan menahan tangan Elma, dan tidak membiarkan Elma pergi dari sana. Hal itu membuat Elma risih, dan ia pun berusaha untuk melepaskan diri dari Morgan.
“Apa sih? Lepasin!” bentak Elma, yang sangat membuat Morgan merasa semakin bergairah.
“Jangan galak-galak dong. Kebetulan yang sangat menguntungkan untuk saya, karena bisa bertemu dengan kamu di sini. Sejak dulu memang saya ingin sekali merasakan hal ini dengan kamu, bahkan saya ingin menikah dengan kamu, karena menganggap kamu itu wanita baik-baik dan tidak ingin disentuh. Ternyata, kamu seperti ini,” ujar Morgan, membuat Elma semakin geli saja mendengarnya.
“Aku bilang lepas, ya lepas! Dasar lelaki buaya!” bentak Elma, tetapi Morgan sama sekali tidak mau melepaskan tangan mulus Elma.
“Saya tidak ingin melepaskan kamu, karena saya sudah bayar mahal sejak 3 bulan yang lalu. Saya tidak mau uang saya hilang begitu saja,” ujar Morgan, Elma melepaskan tangannya dari tangan Morgan, lalu segera memandangnya dengan sinis.
“Apa sih? Kamu ngapain pesan ***** 3 bulan yang lalu? Itu ‘kan saat kita masih berpacaran! Kamu memang sengaja ya, mau mencari kesenangan di luar hubungan kita? Apa namanya kalau bukan lelaki hidung belang?” bentak Elma, yang tidak terima mengetahui perlakuan Morgan di belakangnya dulu.
Memang masuk akal ucapan yang Morgan katakan. Elma memang tidak pernah ingin menikah dengan Morgan. Itu semua karena pekerjaan ini lebih menjanjikan daripada harus menjadi istri dari Morgan. Morgan bukanlah lelaki kaya, yang gajinya saja hanya 10 juta per bulan. Elma tidak ingin merasakan hidup susah, ketika ia bersama Morgan nantinya.
Elma memandang sinis ke arah Morgan, “Aku nolak kamu, karena aku gak siap menikah! Bonus dan tip dari pelanggan saja, mungkin sudah dua kali lipatnya gajimu per bulan. Aku gak bisa kalau harus terikat dengan satu laki-laki,” paparnya menjelaskan.
Mendengar jawaban Elma, sontak membuat Morgan kaget. Ia tidak bisa mencerna, karena ternyata yang Elma pikirkan hanyalah uang saja.
“Memang benar, wanita itu selalu memikirkan tentang uang. Semuanya harus diukur dengan uang. Sampai kebahagiaan mereka pun harus diukur dengan uang,” ujar Morgan, yang menyamaratakan semua wanita seperti itu di hadapan Elma.
__ADS_1
“Tidak juga, tidak semua wanita seperti itu. Memang aku tidak termasuk ke dalam golongan wanita seperti itu, tetapi percayalah tidak semua wanita seperti itu. Mereka hanya ingin berpikir realistis, dan tidak ingin hidup susah,” ujar Elma, berusaha untuk meluruskan semua yang ia ketahui.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Tidak usah pikirin urusan orang lain. Jangan mengulur waktu, saya ingin melakukannya dengan kamu sekarang juga!” ujarnya, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
“Aku gak mau! Aku gak mau melakukannya sama kamu!” sanggah Elma, Morgan memandangnya dengan sinis.
“Kalau kamu tidak mau melakukannya, saya akan meminta uang saya kembali!” ancam Morgan, Elma memandangnya dengan pandangan yang menantang.
“Gak masalah! Kamu bisa minta uangmu kembali, dan aku tidak memedulikan itu!” bentak Elma, Morgan merasa sangat kesal mendengarnya.
“Tidak hanya meminta uang kembali, saya juga akan mengajukan denda untuk kamu!” ancam Morgan lagi, membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.
“Ya sudah, silakan ajukan denda! Aku tidak takut!” bentak Elma, yang benar-benar tidak ingin melakukannya dengan Morgan.
Sudah cukup kejadian waktu itu dengan Morgan, Elma tidak ingin melakukannya lagi.
Morgan menyunggingkan senyumannya, “Saya akan mengajukannya 10x lipat, dari harga denda untuk kasus saya, yang pernah kamu ajukan pada saya waktu itu,” ujarnya, sontak membuat Elma mendelik kaget tak percaya dengan apa yang Morgan katakan.
“Gila kau! Kau ingin memerasku?” tanya Elma, dengan bola mata yang hampir mau keluar karena mendengarnya.
Morgan tertawa mendengarnya, “Kau juga memeras saya, kenapa saya tidak boleh melakukannya? Lagipula hal itu tertera di kontrak, kalau saya boleh mengajukan denda yang saya inginkan, ketika kamu menolak atau tidak bersedia melakukannya. Tidak hanya itu, jika servis yang kamu berikan tidak memuaskan, saya akan mendapatkan kembali uang saya full yang sudah saya bayarkan,” ujar Morgan menjelaskan, sontak membuat Elma semakin mendelik kaget.
__ADS_1
Karena sudah terpojok dengan apa yang Morgan katakan, Elma pun terpaksa melakukan hal yang membuatnya jijik. Sebenarnya, Elma sama sekali tidak mau melakukannya, tetapi ia tidak ingin harta benda yang selama ini ia kumpulkan, lenyap begitu saja hanya karena tidak ingin melayani Morgan.
“Dasar lelaki sialan! Kau ingat ini baik-baik, aku tidak akan mau melakukan hal ini, karena kemauanku sendiri! Aku terpaksa karena kamu memaksanya!” bentak Elma, Morgan hanya bisa tertawa mendengar ucapan Elma yang sangat menggemaskan baginya.