
Tak ingin berlama-lama, Morgan pun segera melihat ke arah lubang kenikmatan yang Elma miliki. Ia melihat tanda-tanda Elma yang mungkin sudah sering melakukan hal ini, entah dengan siapa.
Karena mengetahui hal itu, Morgan pun mendelik kaget. Selama 3 tahun ini ia sama sekali tidak pernah melakukan hal ini dengan Elma. Ia merasa sangat kesal, karena ada lelaki lain yang ternyata sudah menjamahnya.
‘Sialan! Ada lelaki lain! Pantas saja dia gak pernah mau ketemu sama saya. Disentuh pun gak mau. Ternyata dia udah main gila sama lelaki lain!’ batin Morgan, yang sempat-sempatnya memikirkan hal itu di saat menegangkan seperti ini.
Karena Elma yang sudah kehilangan kendali, Morgan menyingkirkan semua pikirannya lebih dulu. Ia harus merasakan buah penantiannya selama 3 tahun, dan harus mendapatkan hal terindah itu bersama dengan Elma.
‘Anggap saja ini bayaran 3 tahun menunggu. Saya akan pergunakan sebaik mungkin,’ batin Morgan, yang berusaha memanfaatkan keadaan yang ada.
Mereka pun melakukan hal yang sangat intim, dengan kondisi Elma di bawah pengaruh obat perangsang tersebut. Tidak munafik, Morgan juga menikmati permainan ini, bahkan sangat menikmatinya. Bisa jadi ini adalah permainan terbaik selama 3 tahun terakhir, sebelum ia bertemu dengan Elma.
Morgan sudah terlalu kuat menahan hasratnya selama 3 tahun ini, dan tidak menyentuh Elma sama sekali. Namun kali ini, ia tidak bisa melepaskan Elma begitu saja. Ia harus mendapatkan bayaran atas penantian yang ia lakukan itu.
Karena bukan berasal dari keluarga kaya dan terpandang, Morgan selalu dianggap sebelah mata oleh Elma. Jauh sebelum 3 tahun lalu saat Elma menerimanya menjadi kekasihnya, Morgan sudah mengejarnya selama beberapa tahun. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk mendapatkan Elma, tetapi Elma masih belum mau menerima Morgan.
Beruntungnya Morgan, walaupun ia bukan berasal dari keluarga terpandang dan memiliki banyak harta, pekerjaannya menunjang segala yang ia inginkan. Namun, tetap saja, semua yang Elma lihat pada diri Morgan, membuat Elma enggan menerimanya.
Itu semua karena pendapatan Elma per tiga hari sekali jauh lebih tinggi, dibandingkan pendapatan Morgan per bulannya. Elma jadi berpikir dua kali untuk menerima Morgan di sisinya.
Namun, karena Elma yang ingin mencoba untuk bergantung pada Morgan, dan melepaskan diri dari pekerjaan kotornya itu, ia lantas menerima Morgan menjadi kekasihnya. Selama tiga tahun menjalani hubungan dengan Morgan, Elma sama sekali tidak terbiasa meminta sesuatu kepada Morgan, sehingga ia tidak jadi lepas dari pekerjaan kotornya itu.
__ADS_1
Akhirnya, Elma hendak mengakhiri hubungannya dengan Morgan. Namun, Morgan tidak semudah itu akan mengabulkannya. Ia berniat untuk menikahi Elma, dengan cara melakukan kesalahan lebih dulu. Akan tetapi kalau sudah mengetahui seperti ini, apakah Morgan tetap akan menikahi Elma?
Malam yang panjang sudah mereka lewati bersama. Tidak ada jeda kegiatan panas yang mereka lakukan itu. Hal itu membuat Morgan agak kewalahan, dan merasa tubuhnya sangat lemas karena harus terus mengeluarkan perasaan bahagia itu.
Tak bisa dipungkiri, Morgan sudah sangat menikmati permainan Elma malam tadi. Namun, perasaan kesalnya masih ada. Ia merasa tidak mengerti dengan perasaannya, karena ia malah menjadi bimbang ingin meneruskan perasaan ini, atau menyudahinya.
Siang ini Morgan masih saja tidur di ranjang tidur Elma. Elma bangun lebih dulu, dan melihat dirinya sudah dalam kondisi yang berantakan. Ia juga hanya memakai selimut, untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian itu.
Matanya mendelik, ketika ia melihat pemandangan yang asing baginya. Morgan yang tak mengenakan pakaian, kini berada di sebelah tempat ia tertidur, membuatnya merasa sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi.
“Ada apa, nih? Kenapa aku sama Morgan ....” Elma semakin mendelikkan matanya, tak percaya dengan apa yang terjadi dengan mereka semalaman suntuk.
Tubuh Elma seketika menjadi lemas, karena merasa sangat terkejut dengan pemandangan aneh ini. Ia sangat yakin, bahwa terjadi sesuatu dengan mereka semalam.
Berbagai spekulasi terpampang jelas di pikirannya, ia merasa akan hancur jika memang benar hal ini terjadi dengan mereka.
“Enggak!!” pekik Elma dengan sangat keras, yang sukses membangunkan Morgan dari tidur lelapnya.
Morgan bangkit, sembari membenarkan pandangannya. Ia merasa telinganya sangat sakit, karena terganggu dengan teriakan Elma yang sangat keras itu.
“Elma?” gumam Morgan, yang lalu memandang ke arah Elma dengan pandangan yang masih berusaha ia benarkan.
__ADS_1
Elma mendelik kesal ke arah Morgan. “Apa yang terjadi sama kita semalam?” tanyanya sinis, Morgan terlihat bersikap biasa saja di hadapan Elma.
“Santai saja, Elma. Ini sudah biasa terjadi dengan semua pasangan yang menjalin hubungan. Mereka menyatukan perasaannya dengan cara seperti ini,” ujar Morgan dengan nada yang sangat santai, membuat Elma semakin tak terima saja mendengarnya.
“Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Gan?” tanya Elma sinis, Morgan malah menyunggingkan senyumannya.
“Ini bukan kemauan saya. Ini kemauan kamu, dan kamu yang menerkam saya lebih dulu. Kamu bisa lihat wajah saya yang penuh dengan kecupan bibir kamu ini,” ujar Morgan menjelaskan.
Memang benar, Morgan sengaja tidak mengusap atau membersihkan bekas kecupan lipstick merah yang ada pada seluruh wajahnya, karena ini merupakan bukti jika Elma tidak terima dengan apa yang ia lakukan padanya.
Benar saja, Elma menggelengkan kepalanya dengan mata yang mendelik, tak terima dengan apa yang mereka lakukan semalaman.
“Gak mungkin, Morgan! Kamu ngapain ngelakuin itu sama aku? Kenapa kamu malah ngerusak aku, Gan?” tanyanya, sontak membuat Morgan tersenyum sinis di hadapan Elma.
“Elma ... Elma. Ini bukanlah yang pertama, bukan?” tanya Morgan, Elma mendelik dan tertegun sejenak mendengarnya.
Tak percaya dengan apa yang Morgan katakan, Elma berpikir ini hanya mimpi belaka. Ia berusaha untuk menampar dirinya sendiri, dan merasakan sakit pada setiap tamparannya. Ia juga menampar wajah Morgan, sehingga membuat Morgan mengerang kesakitan.
“Kenapa kamu nampar saya?” tanya Morgan tak terima dengan hal yang Elma lakukan.
Elma masih saja memandang ke arah hadapannya dengan mata mendelik. “Ini bukan mimpi ....”
__ADS_1
Morgan tersenyum penuh rasa puas, “Ya, memang ini bukan mimpi. Kamu sendiri yang menerkam saya semalam. Kamu yang mencium saya, dan melucuti semua pakaian kamu sendiri. Saya bisa apa? Kucing dikasih ikan, apa iya menolaknya?” ujarnya, sontak membuat Elma mendelik ke arahnya.
‘Kenapa dia bilang kalau ini bukan yang pertama bagiku? Apa yang dia pikirkan setelah mengetahuinya?’ batin Elma, merasa tertekan sekali dengan apa yang Morgan pikirkan saat ini padanya.