Labirin Cinta

Labirin Cinta
Maling


__ADS_3

Perlahan Yun mendekati mobil yang di sekitarnya berantakan, isi dari dalam mobil di lemparkan sembarangan yang beterbangan gitu aja gak karuan. Dengan kemampuannya Yun dapat berjalan tanpa menimbulkan suara sehingga dengan mudah ia dapat menyergap maling yang saat ini sedang beraksi, malam-malam kayak gini mana mungkin ada orang bongkar isi mobil dan berantakin kayak gitu kalau bukan maling. Udah lupa sama niat awal mau balikin tas yang ada dalam pikirannya saat ini buat nangkap maling yang lagi bongkar mobil tersebut, Yun berjalan pelan dan setenang mungkin tanpa menimbulkan bunyi yang mencurigakan. Kemampuan yang ia miliki tersebut ia dapatkan dari berbagai macam bela diri yang ia ikuti, hampir semua jenis bela diri ia pelajari dan kuasai sehingga Yun menjadi orang yang di segani dan di takuni dalam dunia bawah tanah yang tak jarang harus ia hadapi. Bukan hanya ilmu bela diri, Yun juga menguasai berbagai macam senjata yang semakin mengokohkannya sebagai seorang pria yang yang tak dapat di anggap sebelah mata oleh lawannya. Hanya dengan satu gerakan Yun mengunci lawannya dengan satu tangan dan satu tangannya lagi mendekap mulut pencuri itu supaya tidak menimbulkan kegaduhan, apa lagi ini sudah cukup malam yang akan menimbulkan keributan dan menyita perhatian warga sekitar. Yun selalu bermain halus agar orang-orang tak mengetahui hingga saat ini namanya selalu bersih dari skandal mana pun walau pun tak jarang Yun harus turun tangan langsung dengan menggunakan fisik, dunia bisnis tak sesederhana apa yang orang awam pikirkan.


Chintya yang tengah berkonsentrasi tingkat tinggi buat cari tasnya itu kaget setengah mati saat seseorang menarik dan membekap mulutnya, walau berusaha teriak sekeras mungkin gak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya pun tak bisa bergerak dengan leluasa untuk melakukan perlawanan yang akhirnya kehabisan tenaga karena tangannya terkunci di belakang. Menyadari apa yang di lakukan nya sia-sia akhirnya Chintya mengalah dengan cara pasrah dan diam sambil berdoa di dalam. Ya Tuhan.... Seandainya masih ada kesempatan buat hidup hamba mohon beri waktu buat mendapatkan cinta pangeran impian hamba, tapi kalau pun gak ada waktu semoga kami bertemu lagi dalam keadaan yang lain.


Yun dengan paksa menarik pencuri itu keluar dari dalam mobil, mengunci tangannya kuat-kuat agar tak bisa melakukan perlawanan dan membuatnya repot. Dengan tenaga yang ia kerahkan dengan mudah dapat menaklukkan dan membuat pencuri tersebut tak berkutik, Apa ini? Batinnya dengan mengerjapkan mata beberapa kali saat siku tangannya yang untuk mendekap pencuri tersebut menyentuh sesuatu yang terasa kenyal dan empuk. Beberapa saat ia termenung dan segera tersadar saat mendapatkan gerakan tiba-tiba yang langsung menyadarkannya dan mengembalikan pikirannya yang sempat melayang. Yun melepaskan dekapan tangannya secara refleks namun satu tangannya tetap mengunci kedua tangan pencuri tersebut.


Mendapati bekapan di mulutnya terlepas membuat Chintya segera bernapas sebanyak mungkin dan memasukkan udara ke dalam mulutnya dengan rakus, udara di dalam paru-paru rasanya udah habis. Kayak ikan yang di angkat dari atas air, megap-megap gak karuan. Saat di rasa udah terisi ia mendongakkan kepalanya buat liat siapa orang yang berani mengunci dan mendekapnya di rumah sendiri dengan sangat kuat, gimana gak kuat lengannya kokoh banget dan telapak tangannya lebar cukup buat nutup mulut dan hidungnya yang bikin hampir kehilangan nyawa gara-gara kehabisan oksigen. Walau takut-takut berani Chintya memberanikan diri buat mendongakkan kepalanya, biar gak penasaran dan tau siapa yang ngelakuinnya. Matanya melebar saat tatapan matanya bertemu dengan manik mata berwarna coklat yang membuatnya kaku dan diam seketika, bukan cuma matanya yang melebar tapi juga mulutnya ikutan melebar saking kagetnya. Gimana gak kaget kalo yang di liat itu manik mata pangeran yang dari tadi mengusiknya. Saat menyadari bahwa saat ini ia berada dalam pelukan pangerannya itu membuat wajah Chintya menjadi panas dan memerah, dalam sejarah hidupnya ini untuk yang pertama kali ia di peluk seorang laki-laki selain keluarganya dan tentu saja membuatnya menjadi salah tingkah dengan menundukkan wajahnya dan menyembunyikan rona merah di sana.

__ADS_1


Yun tersentak saat menyadari kesalahan yang telah ia lakukan, yang ia ringkus bukan maling yang ternyata wanita yang ingin ia temui dan kembalikan tasnya, bahkan Yun mengunci tangannya dengan sangat kuat dan membungkam mulutnya dan saat sikunya menyentuh benda kenyal??? Menyadari apa yang telah ia lakukan dengan cepat Yun melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak, suasana seketika berubah menjadi canggung yang menyisakan keheningan di antara Yun dan Chintya dengan pikiran mereka masing-masing.


"Maaf nona Chintya, saya tidak sengaja menyentuh... " Suara Yun tercekat di tenggorokan, terlalu sulit untuk mengatakan kelanjutan dari apa yang ingin ia katakan. Apa sih yang gue lakuin tadi... Mau di taruh di mana muka gue!


"Akh, itu...," Rasanya Chintya malu banget kalo ingat tadi gimana ia sampai ada dalam pelukan pangeran tampan pujaan hatinya itu, dengan jarak sedekat itu bahkan ia bisa merasakan dan mendengar nafasnya dengan jelas. Selama ini Chintya hanya berani memimpikannya saja tapi kali ini ia merasakannya langsung, detak jantung berdetak dengan sangat cepat membuatnya berusaha menyembunyikan dengan cepat sebelum ketahuan.


"Itu...," Yun berusaha mengatur emosinya, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang saat merasa sangat gugup dan bersalah. Kesalahan yang gak sengaja di lakukan tapi tetap aja yang namanya salah itu bagaimanapun proses dan kejadiannya tetap salah. "Saya mengira seseorang sedang membobol mobil." Ujarnya dengan menunjuk benda-benda yang berserakan di atas rumput. "Jadi saya berusaha menangkapnya sebelum melarikan diri." Untuk saat ini kata-kata yang keluar dari mulut Yun masih bisa mengontrolnya dengan baik, kesadarannya telah kembali setelah beberapa saat hilang karena kaget.

__ADS_1


Tas!


Baru ingat kalau Yun kesini buat ngembaliin tas yang tadi ia temukan di restoran, gak sengaja tadi nginjak pas mau pulang. Segera ia merogoh dalam jaketnya dan mengeluarkan tas yang lebih mirip dompet tersebut, "Apa ini yang anda cari?"


"Iya." Kata Chintya cepat, "Dimana anda menemukanya?"


"Di restoran tempat kita bertemu."

__ADS_1


Rupanya tadi jatuh di sana??? Pantes aja gue ubek-ubek kamar sama mobil gak dapat. Ya ampun... Kebetulan yang mungkin aja takdir, malah di temuin sama pangeran gue.... Chintya memeluk tas tersebut dengan kedua tangannya dam saat itu mata Yun melihat lingkaran merah di sana yang tak lain dan tak bukan akibat dari perbuatannya.


*******


__ADS_2