Labirin Cinta

Labirin Cinta
Ekspresi Disko


__ADS_3

"Bagaimana bisa kau melakukan semua ini?"


Yun tampak memperhatikan dua orang berbeda jenis kelamin yang sedang bertengkar tak jauh darinya berada, saat ini Yun tengah duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya. istirahat makan siang ia gunakan untuk mencari udara segar setelah hampir setengah hari ia habiskan menghadiri meeting dengan beberapa klien penting yang menguras tenaga dan pikirannya, klien keras kepala yang membuat Yun sedikit jengkel dan harus menahan emosi hingga menekannya semaksimal mungkin. Baru aja keluar dari masalah yang bikin kepala sumpek ini malah di hadapkan dengan keadaan yang gak kalah bikin sumpek, pertengkaran dua sepasang kekasih yang bikin Yun pura-pura buta dan tuli walau dalam hati ngomel juga saking jengkelnya. mau tenang aja gak bisa....


"Beb, ini tu gak seperti yang kamu pikirkan..."


Sambil meraih tangan ceweknya yang lagi ngambek, niatnya buat ngerayu gitu lah.


"Gak yang kayak aku pikirkan gimana? aku liat dengan mata dan kepalaku sendiri!" Gak mau kalah buat mempertahankan pendapatnya.


Yun memutar bola matanya jengah, berasa nonton telenovela secara langsung kalo kayak gini. Tapi lebih nyebelin lagi di bandingkan dengan telenovela, pengen hengkang dari peradaban baru aja duduk dan pesanannya belum datang masak udah mau di tinggalin.


"Beb...Mata dan kepala kamu salah."


"Hah?" melotot ke arah cowok yang duduk di depannya dan menepis tangan yang dari tadi memegangnya, "Kalo mata dan kepala aku yang salah terus yang benar itu apa? yang benar itu badan kamu yang meluk cewek gatel itu?!"


Yun menutup matanya buat mengatur emosinya, pengen banget gebrak ni meja atau menyumpal mulut mereka berdua sama serbet biar diem. Tapi gak mungkin di lakuin soalnya di tempat umum kayak gini, mana di depan kantor lagi yang otomatis rusak lah image seorang Yun yang selama ini di bangun itu.


"Beb, dia gak gatel." Masih aja belain cewek yang gak tau siapa ni cewek yang di maksud walau udah liat pacar sendiri semarah itu.


"Ih.... kamu itu nyebelin banget?!"


Berasap lah telinga Yun denger semua percakapan gak bermakna itu, sumpah bikin emosi tingkat tinggi yang es balokan langsung cair. udah gak tahan buat denger semua itu ia memutuskan untuk keluar dari tempat ini, Yun merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Menaruhnya di atas meja buat bayar makanan dan minuman yang belum datang alias belum sempat ia makan, di bandingkan harus mengorbankan gendang telinganya kalo berlama-lama di tempat ini mending langsung hengkang buat menjaga hal-hal yang tidak di inginkan saat emosinya udah gak bisa nahan.


Yun merapikan kemejanya sebelum berdiri, meneguk air mineralnya sebelum berjalan keluar. saat berdiri tepat di samping sepasang kekasih yang lagi berantem itu yang saat ini saling pandang dengan tatapan mata yang memercikkan kilatan api kemarahan Yun menghentikan langkahnya. Menatap mereka berdua secara bergantian dengan dingin dan menusuk tajam.


"Kalian pikir ini tempat cuma buat kalian berdua? Kalau mau syuting drama cari tempat lain dan jangan mengganggu pengunjung yang lain." Habis ngomong kayak gitu Yun langsung ngacir tanpa menoleh.


Dua orang tadi cuma bisa melongo, tiba-tiba di datangi sama cowok keren yang gak di kenal dan menatap mereka dengan tatapan mata tajam menusuk dan melontarkan kata-kata yang gak kalah menusuk dengan tatapan matanya.


Akhirnya, Yun terdampar duduk di bangku pinggir taman kota. Makan pagi dan makan siangnya gagal gara-gara sepasang kekasih yang menyebalkan itu, walau sebenarnya lapar tapi di tahan dan langsung hilang nafsu makannya gara-gara pemandangan tadi.


"Hei?"


Yun mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang menyapa dirinya. Tampak rambut panjang tergerai di sana dengan senyum manis yang tersungging. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya, memastikan lagi karena Yun tidak dapat melihat dengan jelas siapa pemilik wajah itu karena sinar matahari yang membuat pandangannya silau.


"Lo?"


Tanpa permisi atau apa pun itu Chintya langsung mengambil tempat duduk di samping cowok yang sudah merebut hatinya tersebut, tatapan mata yang dingin itu sama sekali gak berpengaruh buat Chintya. Cuma di liatin kayak gitu doang mah gak ada pengaruh nya asal jangan di usir aja, di usir pun gak bakalan pergi. The power of love, atau mungkin The power of bucin.

__ADS_1


"Ngapain bengong sendiri siang bolong di sini?"


Langsung aja ngomong sok akrab, udah lah lupain yang namanya harga diri kalo mau dapetin cowok macam kayak gini. Kalo gak Chintya yang beraksi duluan gak bakalan dapat apa yang ia mau, nungguin tu cowok action gak bakalan terjadi walau sampai perang dunia ke tiga terjadi mengingat gimana sifat dan karakternya yang pasif.


"Siapa?"


"Lo lah, masak mereka?" Sambil nunjuk angsa yang berenang di kolam.


Yun melirik sekilas, cewek paling cerewet yang ia temui dan hadapi selain Ella yang tak lain gebetan Rega. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa selalu saja terhubung dengan cewek-cewek yang jenisnya kayak gini, yang omongan nya banyak dan kelakuannya sedikit menyimpang di bandingkan cewek pada umumnya dan cewek-cewek itu sebenarnya terhubung dengan Rega tapi tetep aja dia juga yang kena dampaknya. Karena ingatannya sangat tajam Yun dapat mengingat dengan jelas apa yang terlihat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.


"Lo potong rambut?" Langsung ke titik ngomongnya, sebenarnya udah tau kalau potong rambut dan kayaknya juga warna rambutnya beda tapi lebih sopan nanya langsung sama yang bersangkutan.


Chintya yang pengen masukin HP-nya ke dalam tas itu langsung mematung mendengarnya, gak nyangka kalo seorang Yun yang agung bak gunung es itu bisa langsung menyadari perubahan yang ada pada dirinya yang ia sangka gak bakal sampai terjadi. senyum kecil menghiasi wajahnya, senang banget gitu rasanya. ternyata ni cowok gak se-cuek yang di pikirkan dan itu membuat Chintya sangat-sangat bersemangat melanjutkan niat dan rencananya buat mendapatkan perhatian dan semoga suatu hari nanti hati dan juga perasaan tu cowok.


"Gimana menurut Lo? cocok gak?" Tanya-nya balik tanpa menjawab pertanyaan yang di tujukan untuknya sambil mengikat rambutnya tinggi kayak ekor kuda.


"Sama aja." Jawab Yun tanpa menoleh dan memandang lurus ke depan di mana beberapa angsa berenang.


Semangat yang tadi udah membara langsung melempem pas dengarnya, Ni cowok emang gak ada manis-manisnya sama sekali. cuma ngomong manis dikit Napa? kalo bikin orang bahagia kan juga dapat amal.


Chintya menarik nafas panjang, ngarep pujian dari ni cowok gak bakalan dapat walau tu kutub mencair dan berubah jadi laut merah.


"Tadi gue jalan buat beli beberapa barang." Mengambil kantong plastik yang ia bawa, sebenarnya isinya itu makanan yang di beli di pinggir jalan. gak tau kenapa tiba-tiba aja pengen mampir taman buat baca buku di bawah pohon tapi gak taunya malah ketemu sama pujaan hati, kebetulan yang sangat menyenangkan dan gak bakal di sia-siakan dan di lewatkan oleh Chintya. Cewek manis itu mengeluarkan dua buah kotak bekal makan yang tadi udah di siapin dari rumah, niatnya sambil santai sambil makan gitu.


"Nih..." menyodorkan satu kotak ke arah Yun.


Yun melihat kotak berwarna ungu itu, warna cewek banget yang langsung membuat retinanya melebar.


"Ngambil gitu aja lama banget." meletakkan dengan paksa di tangan Yun.


"Ini?"


"Bekal yang gue bawa dari rumah. tadi niatnya mau baca sambil santai di taman makanya gue bawa ginian."


Kotak bekal yang di kasih cuma di liatin doang bikin Chintya gak sabar, "Tenang aja gak ada racunnya kok." katanya dengan tersenyum seolah tau apa yang ada di dalam otak tu cowok, "Lagian gue gak sengaja ketemu sama Lo di sini jadi gak mungkin gue ngelakuin itu." Chintya berdiri dan mengambil karpet lipat yang telah ia bawa dari rumah, kali ini intuisinya sangat tepat dan akurat. Gak tau kenapa tiba-tiba aja pengen piknik kecil-kecilan sambil santai baca buku dan kini malah jadi piknik romantis yang tak terduga. hadiah indah dari Tuhan untuknya hari ini.


"Bantuin gue buat beber ini." Mengambil kotak makanan yang ada di tangan Yun dan menggantinya dengan karpet lipat, pas banget di belakang bangku yang kini ia duduki ada pohon rindang yang cocok buat di gelar karpet di bawah sana. cuaca hari ini cukup mendukung, gak terlalu panas atau mendung.


Yun yang gak punya kesempatan menolak itu akhirnya berdiri dan melakukan apa yang cewek itu inginkan, lagian hari ini semua kerjaan yang jadi bagian dia udah selesai. laporan yang harus di berikan di kerjakan asistennya dan gak ada salahnya menikmati waktu sesekali seperti ini, kegiatan yang sangat jarang ia lakukan mengingat betapa sibuknya dirinya selama ini bersama Rega untuk menjalankan dan membesarkan perusahaan yang telah di rintis dan di bangun keluarganya itu. Yun melihat sekitar dan mencoba mencari tempat yang ia perkirakan nyaman dan aman, kali aja kan entar batang pohon ada yang rapuh dan jatuh pas mereka duduk di bawah sana yang berakibat fatal.

__ADS_1


Udah kebiasaan buat Yun menganalisa keadaan sekitar buat mencari dan menciptakan rasa aman, instingnya udah di latih dari dulu dalam keadaan apa pun kayak gini yang menuntut nya menjadi seseorang yang berpikir kritis dengan mengandalkan intuisinya memilah dan memilih mana yang baik dan aman untuknya dalam situasi dan keadaan apa pun dan di mana pun.


Chintya membuka kantong plastik yang berisi cemilan-cemilan yang ia bawa dan mengeluarkan semuanya, gak terlalu banyak sih cuma cukuplah untuk mereka berdua. soalnya kan gak tau kalo bakal ketemu sama Yun, tadinya cuma mau piknik dadakan buat satu orang alias sendiri gak taunya malah piknik berdua sama pujaan hati.


Akh....


Kalo nyadar kayak gini langsung merah mukanya karena malu, seumur-umur gak pernah jalan bareng dan kencan sama yang namanya makhluk Adam. Tapi apa iya ini bisa di sebut kencan?


Bukannya kencan itu harus di lakuin sama dua orang yang saling mencintai?


Lah ini cuma dirinya sendiri yang cinta alias cinta bertepuk sebelah tangan judulnya.


Apa pun itu namanya yang jelas udah bikin Chintya ge_er dan malu banget, saking malunya muka tu cewek langsung memerah. apa lagi dengan kulit wajahnya yang putih bersih itu keliatan banget merahnya.


Yun yang dari tadi sibuk membeber karpet itu mau gak mau memalingkan wajahnya melihat tingkah laku cewek yang gak jauh darinya itu, gimana gak di liatin kalo dari tadi tu muka ekspresinya berubah terus kayak lampu disko. Awalnya standar aja tu muka, berubah kayak orang yang mikir keras terus gak lama berubah lagi kayak orang yang sedih dan frustasi, dan sekarang berubah merah merona kayak kepiting rebus dengan menundukkan wajahnya. saking bingungnya sampai Yun mengernyitkan alisnya, gak tau apa yang ada di dalam pikiran tu cewek saat ini tapi yang jelas keliatan aneh dan lucu.


"Hiks_Hiks_Hiks_....."


Chintya menutup matanya dan menggeleng cepat, mengusir semua pikiran-pikiran yang ada di benaknya saat ini Sampek gak sadar kalo ada orang lain yang memperhatikannya dari jarak yang cukup dekat.


"Kenapa hidup gue kayak ini amat sih...."


"Hf...."


Alex menahan diri sekuat tenaga biar gak ketawa liat kelakuan aneh cewek di dekatnya itu, moodnya berubah cepet banget kayak angin yang gak bisa di prediksi ke arah mana dan kapan. seingatnya emang dari awal ketemu ni cewek kelakuannya konyol dan bikin geli, ini bukan yang pertama kali Yun melihat hal konyol yang di lakuin tapi masih banyak hal-hal konyol lainnya.


Chintya menegakkan kepalanya dengan cepat dan membulatkan tekatnya kalo gak boleh bucin atau lebay kayak gini, belum apa- apa udah halu dan belibet sama pikirannya sendiri yang jadinya over thinking gak jelas. kali ini tekadnya udah yakin, dengan wajah serius kayak orang mau masuk ruang ujian Chintya mengepalkan tangannya buat nyemangati diri sendiri dan membulatkan tekad.


"Oke, gue pasti bisa. Pasti bisa!" Katanya mantap dan lantang tak terbantahkan.


Yun menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang ia kepalkan biar gak ngakak ketawa, baru aja disini beberapa menit dan belum hitungan jam udah di suguhkan adegan drama yang gak tau apaan ini judulnya. lebih heboh di bandingkan drama sepasang kekasih yang tadi ia lihat di cafe, yang ini lebih kompleks tingkat emosinya dan juga berasa konyolnya. Dari yang sedih, marah, malu Sampek seneng udah di liat dalam satu waktu yang gak tau apa isi kepala ni cewek. Tapi mau kayak gimana pun buat menahan tawa akhirnya pecah juga, udah gak tahan lagi ngempet.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."


Ekspresi terkahir yang Yun liat yang gak bisa lagi buat gak ketawa. Siapa yang gak ngakak kalo liat yang tadinya sedih banget kayak udah kehilangan sebelah kakinya tapi tiba-tiba berubah dengan ekspresi kayak orang yang dapat hidayah.


Chintya yang sibuk dengan pikirannya sendiri itu emang bener-bener gak nyadar kalo dari tadi ada orang lain di sampingnya, baru nyadar pas ada suara ketawa yang cukup nyaring di dekatnya dan langsung berpaling buat liat. Sosok sekertaris dingin bak beruang kutub itu begitu nyata tertawa dengan lugas dan lepas, Chintya terpana melihatnya. Betapa sangat berkilau dan juga mempesona, bahkan lebih mempesona jika di bandingkan dengan para member idol dari negeri ginseng. hati Chintya yang awalnya udah kayak agar-agar itu kini malah jadi kayak es yang mencair, rasanya tuh langsung cair dan nyes liat pangerannya bisa setampan ini dan gak rela kalo harus berbagi dengan orang lain. Berharap kalo cuma dia cewek yang liat ekspresi kayak gini, ngarep.....


Yun yang sadar kalo lagi di liatin sama tu cewek langsung menghentikan tawanya, menoleh dan mendapati tu cewe liat sambil melongo. ekspresi macam apa lagi ini yang bikin geli dan juga kagok, kagok kepergok ngetawain orang lain.

__ADS_1


__ADS_2