Labirin Cinta

Labirin Cinta
Estonia


__ADS_3

"Makasih ya, ngomong sama kamu bikin perasaan ku jadi lebih enakan selain kepala aku yang kamu pijit." Kata Chintya yang ngerasa lebih plong saat menceritakannya, Alex adalah orang asing tapi entah kenapa ia merasa bisa menceritakan apa pun dengannya tanpa rasa canggung sedikit pum, mungkin karena pembawaan Alex yang ramah dan juga santai hingga membuat orang-orang nyaman bersamanya.


"Oke Baby, datang aja kapan pun kamu mau ke sini karena aku bakal dengerin semua cerita kamu." Ujarnya.


"Beneran???" Tanya Chintya yang serasa dapat harta karun, wajar aja lah karena Chintya gak punya teman di sini. Gak ada yang bisa di ajak bicara dan tukar pendapat hingga membuat hari-harinya menjadi membosankan, terkurung dalam asrama sekolah membuat Chintya membatasi pergaulannya. Apa lagi Eyang yang takut cucu kesayangannya itu salah pergaulan hingga sangat cerewet.


"Course Baby...," Kata Alex meyakinkan, ada sesuatu yang membuat Alex merasa penasaran dengan sosok wanita yang kini ada di dekatnya, entah apa itu tetapi ia merasakan sesuatu. "Kita rapikan dikit dan bikin layers di rambut kamu ya, sayang kalo rambut sebagus ini harus di potong." Sambil ngambil sisir dan gunting setelah Alex rasa rambut kliennya itu kering dengan sempurna, "Banyak banget klien aku yang datang buat ngelakuin perawatan mahal hanya untuk dapat rambut secantik punya kamu." Membagi dan menjepit rambut hingga menjadi beberapa bagian sebelum ia melakukannya. Dengan telaten Alex membentuk dan menciptakan layers-layers di setiap bagian rambut dan itu sudah menjadi pekerjaan yang juga menjadi hobby-nya, ia melakukanya dengan senang.


"Kamu aslinya kewarganegaraan mana?" Tanya Chintya di sela-sela pekerjaan yang Alex lakukan, karena Chintya yakin Alex bukan warga pribumi melihat kulit putih pucat serta warna matanya yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Penampilan Alex yang berbeda dan mencolok itu membuat orang lain dengan mudah menebak bahwa ia bukan pribumi.

__ADS_1


"Aku? Aku aslinya dari Estonia." Jawabnya, menyebutkan salah satu Negara kecil yang terletak do bagian Eropa Utara.


"Estonia?" Kata Chintya yang terasa belum pernah dengar dengan nama negara tersebut, masih menebak-nebak di bagian bumi sebelah mana negara itu berada dan entah kenapa sampai gak tau nama Negara yang Alex katakan tadi.


"Yup, Estonia Baby. Aku lahir di kota Tallinn yang merupakan ibu kota Estonia, sebuah kota tua yang sangat eksotis yang berada di benua Eropa Utara. Menjelajahi Tallinn itu udah kayak kembali ke masa lampau Eropa, pokoknya kalau kamu liat film jaman dulu tentang Eropa itu persis banget dengan kota kelahiran ku. Saat Kita jalan dan menyusuri jalan-jalan sempit berbatu besar dengan rumah-rumah berarsitektur abad pertengahan, gereja-gereja tua yang antik, hingga menara penjaga kerajaan yang masih ada utuh dan terjaga dengan baik hingga saat ini. Yang unik, hampir setiap dinding di kota kelahiran ku ini masih berupa susunan batu dari masa lampau. Jadi kamu bisa bayangkan gimana cantik dan uniknya di sana." Kata Alex menjelaskan sedikit tentang Negara dan kota asal tempatnya lahir, Kota kebanggaan setiap penduduk Estonia dengan ke unikan jaman dahulu yang sangat mengagumkan dan memukau. "Negaraku adalah negara kecil yang terletak di tepi Laut Baltik, Eropa Utara dan banyak orang yang tidak mengetahuinya dan tentu saja penduduknya juga sedikit karena Negaranya juga kecil." Masih tetap melakukan pekerjaannya dengan baik dengan memberikan tutor singkat mengenai Negara asalnya.


"Tentu Baby, sangat keren dan cantik. Dua perpaduan luar biasa yang Negaraku berikan, karena Tallinn merupakan kota tua yang sangat eksotis." Ujarnya yang gak bosan-bosan mempromosikan betapa menakjubkannya kota kelahirannya tersebut. "Dan Negaraku adalah salah satu negara yang menggunakan teknologi dalam berbagai bidang, kami di sana bebas dan gratis menggunakan transportasi umum juga mendapatkan layanan internet bahkan di dalam hutan sekali pun. Tidak ada gangguan sinyal di sana dan ada satu olahraga yang unik Baby di sana. Yaitu lomba balap bawa istri atau pasangan, mungkin bukan lomba tapi lebih tepatnya adalah olah raga. Karena kami sudah melakukannya secara turun temurun dari masa ke masa."


"Seperti apa itu?" Tanya Chintya yang tertarik mendengar kata-kata Alex, baru pertama kali dengar lomba yang unik banget.Lomba bawa istri? istrinya di gendong atau di bawa gimana ya??? Baru kali ini Chintya mendengar lomba yang unik banget.

__ADS_1


"Mereka membawa pasangan mereka masing-masing dengan cara menggendongnya yang terdiri dari balap lari, mengarungi kolam yang licin dan melalui halang rintang dan siapa pun yang paling cepat mencapai garis finish itu yang akan menjadi pemenangnya." Alex menjelaskan betapa uniknya olah raga tersebut, selain unik juga sangat menghibur.


"Bener-bener unik itu, lalu hadiah yang di dapat? Paket wisata bulan madu?" Mendengar nama lomba yang Alex katakan itu tentu saja membuat Chintya berpikir hadiah yang di dapatkan adalah paket bulan madu buat pasangan yang memenangkan lomba tersebut.


"No Baby...," Alex tersenyum mendengarnya, walau masuk akal juga apa yang Chintya pikirkan mengenai hadiah yang akan di dapatkan. "Hadiah yang mereka dapatkan adalah bir yang beratnya sama dengan pasangan yang mereka gedong." Hadiah yang gak masuk akal sih menurut Alex sendiri mengingat nama lomba dan hadiah yang di dapatkan gak berkaitan.


"Hah???" Kaget lah denger hadiah yang di terima, bir sebanyak itu yang bakal pasangan itu dapatkan. "Kalo istri beratnya 100 kilo berarti 100 kilo juga yang di dapat?" Langsung tu berapa galon yang ada dalam bayangan Chintya kalo beratnya segitu. Cukuo buat di masukin ke kolam renang.


"Kalo 100 kilo yang di dapat itu rumah sakit." Jawab Alex asal. "Jangan salah, asal olah raga ini itu bukan dari Negara aku. Tapi dari Finlandia, jadi kami hanya mempopulerkan saja."Jelasnya lagi yang kadang-kadang orang mengira olah raga tersebut berasal dari Estonia, padahal olah rag tersebut berasal dari Finlandia.

__ADS_1


__ADS_2