Labirin Cinta

Labirin Cinta
Syarat Nenek


__ADS_3

Alhamdulillah.....


Terasa satu bulan sudah kita lewati, bulan suci Ramadhan yang sangat luar biasa di tengah pandemic yang gak tau kapan bakalan pulang kampung ini.


ngomong-ngomong author masih tanda tanya bisa pulang kampung apa enggak lebaran tahun ini, soalnya tahun kemaren udah gak bisa pulang dan ngadem di rumah.


sedih sih....


tapi mau gimana lagi????


malah sekarang setiap perbatasan kabupaten di kasih posko buat pemeriksaan, dari rumah author ke rumah emak ngelewati tiga kabupaten yang artinya ada tiga posko yang harus di lewati.


semoga ketemu sama pak polisi ganteng yang jaga posko biar ada pencerahan gitu😂


buat kalian semua yang udah setia sampai sekarang author ucapkan terimakasih banyak yang gak terhingga.


maaf banget author sempat vakum lama banget karena banyaknya kegiatan yang bikin author gak bisa bagi waktu antara kerjaan, rumah dan anak. apa lagi sekolah sekarang di rumah yang nambah lagi kan kerjaan para emak-emak yang jadi guru dadakan plus guru les buat anak.


di situ author merasa wonder woman banget sekelas dengan Hulk😂


yang kata anak author "mama kalo marah berubah kayak Hulk"


Selamat hari raya ied Fitri 1442H buat yang merayakan.


mohon maaf lahir batin kalo selama ini author punya salah sama kalian semua ya.....


*******


"Eyang luar biasa."


Dah gitu doang Yun ngomong, ya mau ngomong apa lagi coba?


"Yang namanya rejeki, jodoh dan maut iku emang rahasia Ko Gusti pangeran. Ndak ada yang bisa nebak sama sekali, awak e dewe tinggal menjalankan takdir sangko Gusti pangeran. Ndak pernah ngerti.... koyo Luna yang wes eyang daftar ne kuliah... eh... malah milih buat kawin dan Ndak bisa di tawar-tawar. wes lah pokok e wes bulat pengen kawin Karo Anwar. ngueyel banget anak kui....."


(Yang namanya rejeki, jodoh dan maut itu memang rahasia dari Tuhan. Gak ada yang bisa nebak sama sekali, kita tinggal menjalankan takdir yang Tuhan berikan, gak pernah tau, kayak Luna yang sudah eyang daftarkan kuliah, eh... malah milih buat kawin dan gak bisa di tawar-tawar. sudah lah pokoknya bulat banget pengen kawin sama Anwar, keras kepala banget anak itu).


kebiasaan emang sulit buat di rubah, buktinya eyang yang ngomongnya balik lagi kayak asal. asal beliau paham yang lain mah bebas....


bebas pakek bahasa kalbu menerjemahkannya apa yang beliau katakan.


"Ndak lama langsung punya anak laki-laki yang ganteng, Ndak lama hamil lagi anak kedua. kalo Ndak salah selisih umur Adam sama Chintya cuma 2 tahun, soalnya yang eyang ingat waktu Adam baru bisa jalan Ndak lama lahir Chintya." kenang eyang yang sempat protes sama jarak kehamilan Luna yang menurut eyang terlalu dekat jaraknya, gak Maslaah juga kalo mau punya anak tapi maksud eyang di kasih jarak yang agak lumayan biar anak pertama itu mandiri dulu.


kalo bener dari apa yang eyang katakan berarti umur Yun lebih tua di bandingkan Adam, soalnya selisih umur Chintya dan Yun sekitar 5 tahunan.


"Sudah eyang kasih tau kalo nanti dulu hamilnya ben Adam rodok besar tapi gak mau, malah Luna pengen punya anak lima. katanya sepi kalo cuma sendiri, biar rame."


Tapi tetep aja gak di dengerin, Luna tetep ngotot buat hamil lagi. mungkin yang di maksud Luna pengen cepet hamil lagi itu biar bisa punya banyak anak, jadi anak tunggal itu gak enak banget rasanya. gak ada saudara buat cerita,


"Pas Chintya di rawat di rumah sakit ternyata Gusti pengeram punya rencana lain. mobil yang di naikin Luna beserta suami dan juga Adam itu kecelakaan dalam perjalanan ke kota yang mereka tuju, eyang di kasih kabar kaget banget Sampek rasanya Ndak sanggup lagi buat hidup. semua orang di dalam mobil itu Ndak ada yang selamat, Luna, Anwar dan Adam semuanya Ndak ada yang selamat." eyang gak bisa mengendalikan emosinya, merasa sesak sekali mengingat masa sulit saat itu. masa di mana titik terendah yang eyang alami dan itu adalah pukulan paling berat setelah kepergian suaminya. di mana anak semata wayang dan juga menantu serta cucu laki-laki nya meninggal dalam kecelakaan maut yang tak menyisakan satu pun penumpang di dalam mobil itu.


"Tapi eyang Ndak boleh nyerah, masih ada satu cucu eyang yang harus eyang rawat dan besarkan."


Mata sendu itu tidak kuat menahan air mata yang berusaha keluar, air mata kesedihan yang tidak pernah ia perlihatkan saat bersama Chintya untuk menjaga perasaan gadis itu.


Yun merasakan dadanya sesak, apa yang eyang alami ia dapat rasakan dan itu sangat menyakitkan. Yun berdiri dari kursinya dan berpindah ke sebeleh eyang dengan memegang tangan dan mengelusnya lembut, sebagai tanda bahwa ia bersimpati dan tau apa yang eyang rasakan saat ini.


"Eyang, eyang adalah wanita yang kuat dan luar biasa." ucapnya dengan bergetar, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. walau sekeras apa pun hati Yun saat berhadapan dengan orang tua maka ia akan luluh dan berubah total. mungkin di luar sana orang melihat seorang Yun yang tegas dan kaku tapi orang yang mengenal siapa dirinya itu akan merasakan betapa lembut hati dan perilaku Yun, dua hal yang sangat berbeda.


Eyang berusaha tersenyum di sela kepahitan yang ia rasakan, terlalu banyak rasa sakit yang telah ia tanggung selama ini tanpa bisa eyang curahkan. kali ini eyang mengeluarkan semuanya, semua beban yang telah membuatnya merasa bahwa terkadang takdir tidak lah adil.


"Cah bagus, kadang eyang ngerasa Ndak adil. kakek Chintya pergi ninggalin eyang lebih dulu dan ninggalin satu anak perempuan yang harus eyang besarkan sendiri, Gusti pangeran ngambil anak semata wayang eyang yang jadi kebahagiaan terbesar eyang."


Siapa pun pasti akan merasa sangat terpuruk seandainya berada dalam posisi eyang saat itu, semua orang yang ia cintai satu persatu pergi meninggalkan eyang seorang diri.


"Tapi setelah eyang pikir, Gusti pangeran masih sayang dan Kasin ambek eyang. seandainya Chintya Ndak sakit dan ikut orang tuanya..." eyang menggeleng kan kepalanya dengan sangat pelan, seandainya itu terjadi maka tidak ada satu pun yang tersisa.


"eyang Ndak bisa bayangkan kalau eyang harus kehilangan semuanya... eyang Ndak sanggup buat hidup..."


Yun memeluk tubuh rapuh itu dengan penuh kasih sayang, ia merasakan bahwa apa yang eyang alami seperti yang ibu alami. dimana ibu harus berjuang sendiri membesarkannya, dengan semua yang telah terjadi membuat ibu menjadi sosok yang tangguh. tak jarang cibiran sebagai seorang janda beranak satu ibu dapatkan, bahan lelucon, gosip dan juga fitnah yang ibu dapatkan karena status janda yang ia miliki. padahal, tidak ada satu pun orang yang menginginkan hal seperti itu. tidak ada yang tau takdir Tuhan berjalan dan telah sampai kepada umat manusia, tidak ada satu pun orang yang menginginkan takdir buruk menimpa mereka dan manusia lain dengan mudahnya menghakimi sesama manusia tanpa bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. apa yang mereka pikirkan itu lah yang mereka anggap benar, hanya memberikan penilaian sebelah yang mereka lihat dari satu sudut pandang yang menurut mereka benar walau kenyataannya adalah salah besar.


"Jadi eyang milih sekolah yang ada asramanya buat Chintya, Ben eyang pikir lebih aman di bandingkan sama sekolah bisa seng tiap hari bolak-balik. eyang selama ini mendidik Chintya lumayan keras karena Ndak mau kehilangan satu-satunya harta eyang yang sangat berharga. eyang Ndak kuat lek Sampek pisah ambek cucu kesayangan eyang rasane eyang pengen mati ae cah bagus...."


"Karena eyang istimewa, eyang wanita istimewa yang Tuhan pilih untuk melakukan dan menjalankan apa yang orang lain belum tentu sanggup melakukannya. eyang wanita luar biasa yang ini semua bukanlah apa-apa di bandingkan dengan surga yang telah menanti eyang." ujar Yun meyakinkan, hatinya terasa sangat sakit.


"Eyang tau, banyak orang yang gak bisa sekuat eyang. kalo mereka jadi eyang mungkin gak bakal bisa berdiri Sampek sekarang, gak bisa tersenyum seperti eyang, gak bisa membesarkan cucu eyang dengan sangat baik. eyang luar biasa dan eyang akan tetap menjadi luar biasa buat Chintya, Chintya sangat perlu eyang dan itu kenapa Tuhan memilih eyang."


Eyang menyapu air matanya yang jatuh dengan deras itu dan menatap anak muda yang usia sangat muda itu tapi memiliki hati dan pemikiran seperti orang yang sangat dewasa. kata-kata yang ia katakan mampu membuat eyang merasa sedikit lega.


Yun tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyapu sisa air mata yang ada di sudut mata tua itu.


"Bahkan Yun merasa bersyukur bisa mengenal dan bertemu dengan eyang, wanita luar biasa pilihan Tuhan." ucapnya dengan mencium punggung tangan eyang lembut. rindu itu semakin besar ia rasakan dan setelah ini ia akan pulang mengunjungi ibu, ingin makan-makanan yang ibu masakkan, ingin ibu menyuapi nya makan dan tidur dengan nyenyak dalam pelukan ibu malam ini. iya malam ini dan tidak besok.

__ADS_1


"terimakasih cah bagus.... terimakasih sudah mau dengar cerita eyang seng menyedihkan."


"Enggak eyang, gak ada yang menyedihkan dan eyang harusnya bangga bisa seperti ini."


Eyang tertawa kecil memperlihatkan deretan giginya yang masih sempurna itu, "Ojo cerita sama Chintya Yo? eyang Ndak mau anak itu sedih lagi."


Yun mengangguk pelan untuk menuruti permintaan orang tua tersebut, di balik sosok ceria dan lincah seorang Chintya ternyata ada cerita yang sangat memilukan. cerita yang walau tak sama dengan apa yang Yun alami tapi hampir serupa, bahkan Yun lebih beruntung karena masih tumbuh di kelilingi dengan orang-orang yang mencintainya.


*****


"udah lah Bu, gak usah marah-marah gak jelas kayak gitu. lagian kan umur Rega sama Yun masih muda, masih panjang perjalanan mereka..." Ujar Mahendra yang pusing liat Nenek mondar-mandir kayak setrikaan dari tadi, bukan cuma mondar-mandir doang tapi sama ngomelnya juga. semua orang yang ada di rumah utama kena semprot, rata gak ada yang terlewatkan satu pun.


"Itu, kamu manjain mereka berdua."


"Huh...." Mahendra pusing sendiri, di salahin terus dari tadi. gak ada yang bener sama sekali di mata nenek, gak tau kenapa nenek marah-marah gak jelas kayak gitu. dari tulang kebun, sisten rumah tangga, sopir, koki, Sampek tukang sampah yang cuma mampir buat ngambil sampah aja Sampek kena semprot. pasti ini ulah Rega dan Yun, siapa lagi yang bisa bikin nenek nail darah level dewa kalo enggak mereka berdua. jelas banget cuma anak Badung kayak mereka yang bisa bikin nenek kayak gini.


"Maunya ibu gimana sekarang? lagian kalau ibu ngomel-ngomel kayak gini terus nanti asam uratnya kambuh lagi loh...." kata Mahendra sedikit bercanda biar gak tegang-tegang banget. di rumah ini gak ada yang lebih berkuasa di bandingkan nenek, gak ada yang berani bantah nenek kecuali dua pangeran keluarga Mahendra itu.


"Kamu ya ... doa in ibu cepet Mati gitu?"


Tuh kan salah lagi ngomongnya....


untung aja semua yang ada di rumah udah biasa sama keadaan kayak gini jadi gak ada yang heran atau kaget. walau di luar sana yang terlihat berkuasa adalah tuan besar Mahendra tapi kalo udah di rumah yang berkuasa nyonya besar Nenek.


Di bandingkan adu argumen yang gak jelas Mahendra memilih meletakkan koran yang sejak tadi ia baca, gak bisa konsen juga baca sambil dengerin nenek ceramah kayak gitu malah tambah pusing. mondar-mandir pula, lengkaplah semua indera di manjakan nenek. laki-laki setengah baya itu mendekati Nenek dan menuntunnya untuk duduk, cara terbaik dan paling aman adalah mengajak nenek duduk dan ngomongin hal yang bikin nenek senewen itu apaan. kalo gak gitu gak bakalan kelar selama belum ngomelin Yun atau pun Rega, nunggu mereka pulang gak bakalan ada yang tau kapan dan itu artinya cerita bakal berlanjut setiap detik, menit, hari, Minggu atau bahkan bulan. bisa-bisa hilang penghuni rumah kalo kayak gini ceritanya.


"Emang siapa yang doain ibu cepet Mati? Semua sayang kok sama ibu, gak ada satu pun yang gak sayang sama ibu." udah ngomong kayak anak kecil, bujukin anak kecil yang lagi ngambek ini ceritanya Ayah.


"Dua anak kesayangan kamu itu selalu bikin ibu marah."


"Rega? atau Yun?"


Cuma mereka berdua kan anak kesayangan Mahendra, gak ada yang lain.


"Sama aja!"


Nenek masih aja ketus jawabnya, padahal ayah udah lembut banget tuh ngomongnya. Coba aja sedikit nge_gas bakalan pecahan semua kaca yang ada di rumah gara-gara Nenek.


"Apa sih yang mereka lakuin Sampek ibu marah banget kayak gini?" sambil mengelus tangan Nenek biar emosinya reda, untung aja nenek gak ada riwayat darah tinggi.


"Mahendra kamu tau kan kalo ibu pengen banget punya cicit?"


Jadi pendengar yang baik ayah....


"Jadi ibu mengatur perjodohan Rega dengan cucu temen ibu."


Ayah cuma bisa merem melek dengernya, kalo kayak gini cerita lama yang selalu terulang kembali. bakalan lama nih cerita, bisa Sampek habis berlusin-lusin gelas kopi buat dengerinnya.


"Lalu?"


"ibu atur pertemuan buat Rega karena Rega yang lebih tua di bandingkan Yun. ibu cuma pengen mereka berdua dapat wanita baik-baik dan dari keluarga yang baik. gak lebih dari itu."


Sebenarnya Ayah udah bisa menebak kemana jalan cerita yang bakal nenek katakan, udah bisa nebak akhir cerita yang bikin nenek mendidih itu tapi buat bikin drama lebih hidup ikutin aja alurnya. kalo di potong bakal ngamuk lagi.


"Aku percaya siapa pun wanita pilihan ibu adalah wanita yang baik."


"Itu kamu yang mikir tapi anak-anak bandel itu pemikirannya gak sama."


Gemes banget deh ayah pengen bantah omongan nenek, tapi kalo di bantah malah tambah parah.


habisnya rumus alam buat nenek itu kayak gini


Salah atau pun benar tetap aja omongan orang tua itu benar.


itu susahnya....


"Siapa yang kali ini ibu jodohkan buat Rega?"


"Waktu ibu pergi belanja keperluan dapur gak sengaja ibu ketemu sama teman lama ibu. ibu ajak buat minum teh bareng, jadi temen ibu cerita tentang suaminya yang udah meninggal pas anaknya remaja dan anaknya juga sudah meninggal bersama suami dan anaknya."


Kali ini kening ayah berkerut, kalo semua udah ninggal terus sama siapa di jodohkan? masak iya sama temennya nenek???


"Jadi suami temen ibu meninggal, anak semata wayangnya juga meninggal dengan suami dan anaknya?" tanya ayah lagi buat memastikan kebenaran apa yang ia dengar.


"Iya."


"Masak ibu tega mau jodohkan Rega sama teman ibu yang udah tua itu?" spontan ayah nyeplos.


PLAK !!!


satu pukulan mendarat di tangan ayah, tu tangan merah kan kena pukulan nenek. biar udah berumur tapi jangan di ragukan tentang tenaga dan kekuatan nenek. buktinya aja langsung dapat cap lima jari di tangan Ayah.

__ADS_1


"Mahendra! Gend*ng kamu ya?!"


Tuh kan ayah salah ngomong lagi, udah dapat cap lima jari malah sekarang di katain gend*ng lagi. kalo orang lain gak bakalan berani ngelakuin hal-hal kayak gitu kecuali ayah. khususan buat nenek doang yang gitu.


"Bukannya ibu bilang kalo temen ibu punya satu anak dan anaknya udah ninggal sama suami dan anaknya, jadi yang tinggal sisa temannya ibu kan?" kata ayah menjelaskan apa yang ia pahami, bukan yang ia pahami tapi lebih tepatnya dengan apa yang ia dengar dari mulut nenek sendiri. nih nenek udah salah, pikun, amnesia tapi gak mau salah pula. itu lah susahnya....


"Maksud ibu mau di jodohkan sama cucu perempuannya, bukan sama eyangnya. kamu pikir ibu gak punya otak apa mau menjodohkan cucu kesayangannya ibu dengan wanita yang seumuran ibu? dimana kamu naruh otak kamu Mahendra...."


Seingat ayah gak ada nenek ngomong kayak gitu, tapi tetep aja walau Sampek ujung dunia gak bakalan menang kalo di terusin. tetep aja nenek pemenangnya dalam hal apa pun di rumah ini, yang masih muda ngalah aja lah kalo gak mau telinga gendangnya jebol semua.


"Namanya Chintya, cucu satu-satunya temen ibu. ibu sudah ketemu sama anaknya, cantik, manis dan lincah. cocok banget buat Rega yang muram, gak pernah senyum itu."


Walau amnesia tapi kalo menyangkut hal yang di sukai nenek gak bakalan lupa, tapi yang bikin heran ternyata penilaian nenek terhadap Rega adalah sosok yang muram dan gak pernah senyum.


"Ibu atur aja pertemuan mereka berdua buat kenalan tapi gak taunya dasar bocah nakal...." geram nenek pas ingat kalo rencananya gagal total akibat persekongkolan dua cucu kesayangannya itu.


"Gak taunya Rega minta Yun buat gantiin ketemu sama si Chintya itu dan Yun berlaku dingin jadi ceweknya langsung mengundurkan diri. gitu kan?" jawab ayah yang santai banget, udah bisa di tebak kemana arah episode terakhir yang nenek sutradara_ie tersebut.


"Mahendra, jangan-jangan kamu ikut sekongkol dengan mereka buat merusak rencana ibu?" kata nenek yang curiga, habisnya bisa tau apa yang terjadi padahal nenek belum cerita sama sekali.


Udah lah, ngomong sama nenek selain telaten dan ekstra tebel sabarnya juga harus pakek otak yang di kompres pakek es. kalo gak kayak gitu bakalan langsung mendidih tu kepala.


"Bu, buat apa ikut ngelakuin hal yang gak ada untungnya buat aku? ini bukan yang pertama kali ibu lakuin sama mereka dan hasilnya selalu sama, Yun yang bantuin Rega atau sebaliknya. coba ibu ingat-ingat lagi.... jangan asal main tuduh aja"


Nenek yang baru nyadar dari amnesia itu mencoba mengingat, apa yang putranya katakan itu ternyata ada benar nya. emang ini bukan yang pertama kali Nenek ngelakuin perjodohan dan bukan pertama kalinya gagal alias setiap kali nenek mengatur perjodohan selalu gagal. apa lagi kalo bukan kerjaan Regan dan Yun....


"Bu, mereka berdua sudah dewasa, sudah tau dan bisa membedakan mana hal yang baik dan buruk. jadi ibu gak usah pusing-pusing buat Carikan mereka pasangan, kalo sudah tiba waktunya Rega atau Yun bakal pulang dan mengenalkan calon mereka. doakan saja mereka berdua mendapatkan wanita yang baik, itu sudah cukup."


"Huh...." kali ini mau gak mau nenek harus mengakui apa yang putranya katakan itu adalah benar.


"Ibu capek-capek ngelakuin ini dan itu tapi mereka gak bakal mau dengerin dan ikutin apa yang ibu inginkan. masalah hati dan perasaan gak bisa ibu paksakan, mungkin menurut ibu wanita itu adalah wanita yang baik dari keluarga baik-baik atau lainnya. tapi belum tentu baik dan cocok buat mereka, yakin kalau mereka berdua bisa dapat wanita yang baik."


Nenek mengangguk pelan, walau sebenarnya gak ikhlas juga sih mengakui semua itu.


"Iya, kalau begitu ibu nurut gak akan mencarikan jodoh buat Yun dan juga Rega tapi dengan satu syarat."


"Syarat???" ayah mengernyitkan alisnya, emang susah menghadapi nenek yang tangguh ini. gak bakalan nyerah gitu aja tanpa perlawanan.


"Kamu harus menuruti syarat dari ibu dan ibu bakal melepaskan Rega dan Yun. bagaimana?"


"Yah.... kalo itu.... tergantung dari syarat yang ibu ajukan...." kayaknya ayah punya firasat buruk tentang syarat yang nenek ajukan, syarat yang bakal bikin pusing dan merugikan sebelah pihak bukannya malah menguntungkan.


"Emang apa syarat dari ibu?"


"Kamu janji buat ngelakuinnya?"


"Enggak,"


"Dasar anak dan ayah sama saja, gak ada yang bisa ngerti perasaan orang tua yang kesepian sendiri di rumah. kalian selalu meninggalkan orang tua ini di rumah sendiri dengan alasan kalian kerja cari uang."


Mulai lagi lah kaset lama yang udah ribuan kali itu di putar, cerita nenek tua yang kesepian di tinggal oleh anak dan cucunya. tapi yang ini drama nya kebangetan, banyak hiperbola di bandingkan fakta lapangan. kalo orang yang baru kenal bakalan termakan omongan nenek yang udah kayak paling menderita sedunia, padahal di rumah banyak banget orangnya. ayah, Yun dan juga Rega sering banget pulang dan nginep di rumah, nenek juga bebas pergi kemana pun beliau inginkan. gak ada yang ngelarang buat ngelakuin ini dan itu tapi tetep aja ceritanya di lebar-lebarin dan di besar-besarkan.


"Iya anakmu ini dengar dulu syarat apa yang ibu ajukan baru mikir mau di turuti apa enggak......"


Nenek tersenyum penuh kemenangan, jadi yang paling cantik di rumah emang ada enaknya juga.


"Bawa pulang satu wanita buat di jadikan menantu keluarga kita."


satu detik, dua detik, tiga detik...


ayah cuma diem, gak ada respon apa pun yang ada cuma liatin nenek doang sambil merem melek.


"Maksud ibu aku?"


"Iya."


**********


Hi Readers yang budiman...


Budiwati, mbak Budi, bapak Budi, mas Budi, adik Budi... 🤣


Makasih ya kalian udah pindah dari novel author satunya yang judulnya "Cinderella jaman now" ke Labirin Cinta.


Kalau yang di cinderella itu lebih banyak author ngambil sudut pandang dari kehidupan pemeran ceweknya alias Ella tapi kalo di sini author ngambil dari sudut pandang Yun dan Rega karena mereka emang kemana-mana bareng.


Ada beberapa nama tokoh yang masih sama atau emang sama sama yang di Cinderella tapi ada juga nama-nama baru alias tokoh baru dengan karakter yang beda juga (Soalnya kan beda cerita walau agak berkaitan sih dari novel yang satunya tapi fokusnya emang udah beda).


Makasih buat kalian semua yang udah setia nunggu Up dan tetap setia sama novel-novel dari author, dari satu novel ke novel lainnya.


Jangan lupa buat Like, Vote dan komentarnya Yach....

__ADS_1


makasih.....


__ADS_2