
"Jadi kita mau kemana?" tanya Chintya yang dari tadi ngekorin Okta, tu cowok jalan Mulu gak ada berhenti sama sekali. katanya mau Carikan hadiah buat mommy, tapi udah berapa toko yang di lewati gak ada satu pun yang di masuki.
"Gak tau."
"Kok bisa gak tau sih?" heran aja Chintya, yang ngajakin siapa tapi malah gak tau mau ngapain.
"Habisnya gue bingung mau ngasih hadiah apa buat mommy."
"Gimana kalo gaun? baju?"
"selera mommy susah kalo masalah gaun." jawab Okta sambil jalan, jalan terus gak berhenti.
"Tas?"
"Tas mommy udah banyak banget, malah koleksinya dari brand ternama."
"Sepatu?"
"Gue gak tau ukuran sepatu mommy, he he he he....."
Chintya mencibir ke arah Okta, ukuran sepatu emak sendiri aja gak tau.
"Perhiasan?"
"Mommy gak suka perhiasan, malah gak pernah makek."
"Trus apaan coba kalau semuanya gak ada yang pas???"
"Itu lah, gue juga bingung." jawab Okta yang emang bingung.
Chintya menghentikan langkah kakinya saat mencium aroma harum dan manis, aroma yang sangat familiar di indera penciuman nya itu. apa lagi kalo bukan aroma saat memanggang kue.
"Gimana kalo Lo beli kue ulang tahun aja? sekalian sama buket bunga dan kartu ucapan ulang tahun, gue yakin mommy Lo bakalan seneng banget nerima nya"
"Bener juga, kenapa juga gue gak kepikiran ya?" kata Okta yang langsung liat di depan ada bakery, ia menunjuk dengan telunjuk jarinya kanannya ke arah bakery tersebut.
Kalo masalah roti gak ada tandingannya buat Chintya yang emang suka banget sama apa pun yang berjenis roti. mau roti tawar, manis atau lainnya gak bakal nolak.
Mata Chintya langsung termanjakan dengan berbagai macam jenis cake, puding dan roti yang tertata rapi di dalam lemari kaca. mereka di dalam sana melambai-lambai minta di adopsi untuk di bawa pulang, pengen banget ngadopsi semuanya dan bawa pulang. tapi gak mungkin lah sebanyak itu harus di beli.
Okta yang memperhatikan wajah Chintya yang berseri-seri saat memandangi deretan cake cantik nan menggoda itu tersenyum kecil, saat kayak gini Chintya jauh lebih cantik. bukannya yang biasa gak cantik, tapi kali ini lebih cantik berkali-kali lipat.
"Pilih dua cake yang paling menarik dan enak buat kamu." katanya lagi.
"Dua? dengan rasa dan varian yang beda?"
Okta mengangguk.
Kalo masalah ginian Chintya semangat banget buat ngelakuinnya, hobby yang gak bisa terbantahkan. Pengan banget suatu hari punya bakery sendiri, tiap hari bisa cium aroma manis saat memanggang dan makan sepuasnya. semoga aja kan tercapai cita-cita Chintya yang satu ini.
"Em....." keliatan semua enak dan menarik, jadi bingung mau milih yang mana.
"Kenapa?" tanya Okta yang liat kalo Chintya lagu bingung.
"Gue bingung, semuanya keliatan enak dan cantik." ujarnya gemas
"Ya udah kalo gitu kita ambil semuanya."
"apaan sih loe?!" kata Chintya sewot, gimana gak sewot kalo semua mau di borong. gimana habisin nya sebanyak itu????
__ADS_1
"Habisnya kata Lo enak semua, ya udah kita ambil aja semuanya."
"Gak ah, kebanyakan. lagian cuma buat mommy elo kan? bukannya tadi Lo cuma bilang dua? kalo ini bukan cuma dua tapi udah puluhan." sambil nunjuk cake yang ada di dalam lemari kaca tersebut.
"Ya udah pilih mana yang Lo mau."
Chintya memperhatikan satu persatu deretan cake yang bikin perutnya bergemuruh itu, gak tahan godaan semacam ini.
" ini..." nunjuk cake yang atasnya itu penuh dengan cream dan stroberi segar menggoda.
"Dan satunya ini." pilihan kedua jatuh pada cake coklat, full coklat sebagai topping nya.
Okta mengangkat tangannya untuk memanggil penjaga bakery yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Tolong bungkusan cake stroberi dan coklat ini." menunjuk cake yang tadi Chintya pilih.
"Apa ada lagi tuan?"
"ini... dan ini buat makan di sini."
"Baik, silahkan tunggu sebentar."
Okta Manarik tangan Chintya buat duduk di meja dan bangku yang telah di siapkan untuk para pengunjung menikmati berbagai menu cake, pusing dan roti yang mereka jual.
"Kita makan cheese cake sama es krim."
Chintya mengangguk dengan semangat, apa lagi cheese cake adalah kegemaran nya yang gak bakalan bisa ia tolak walau perut udah gak muat lagi.
Sebagai tanda penghargaan dan penghormatan buat wanita, Okta menarik kursi dan mempersilahkan Chintya buat duduk terlebih dahulu. pas ni cewek udah duduk manis, baru lah giliran dia buat duduk di depannya.
Dari tadi tu pengen banget Okta nanyain sesuatu, tapi rasanya maju mundur gitu. takut salah ngomong dan bikin Chintya menjauh darinya. tapi kalo enggak nanya malah penasaran dan gak lucu aja Sampek mati penasaran.
"Hebat ya Lo bisa mengenali orang yang pakek masker dan topi kayak gitu, kalo gue biar tabrakan gak bakalan bisa kenal." pancing Okta yang sengaja milih topik tersebut biar gak terlalu keliatan kepo dan penasarannya.
"Cowok yang tadi kita temui."
"Oh yang tadi ..." baru ngeh kan kemana arah pembicaraan Okta
"Gue juga gak tau sih kenapa bisa langsung tau kalo dia itu Yun."
Ok...
jadi tu cowok namanya Yun....
"Lo yang nyapa duluan tapi Lo juga yang gak tau, gimana sih Lo?"
"Feeling aja, gue tadi tu liat sekilas. dari bentuk badan dan tingginya persis banget kayak Yun. tapi gak mungkinkan gue asal panggil gitu aja,"
Dua potong cake yang Okta pesan sudah tiba dengan selamat ke meja dengan es krim full topping buah yang bikin iler langsung nge cesπ (Bayanagin aja author langsung pengen makan es krim, tapi udah malam kayak gini males banget keluar rumah cuma mau beli es krim. tunggu besok aja kalo gak males π).
"ini pesanan anda, dan selamat menikmati."
tanpa malu-malu dan emang gak punya rasa malu Chintya langsung memotong cake yang menggoda banget itu, lebih menggoda di bandingkan Abang Yun yang ganteng.
"Em.... enaknya...." ujarnya dengan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan dan rasa yang ada di dalam mulutnya tersebut.
Liat muka Chintya yang bahagia banget kayak gini bikin okta gak bisa ngomong apa-apa, yang dilakuin tu cowok liatin Chintya yang gak sadar tersenyum kecil. udah lupa sama masalah cowok yang tadi Chintya temui dan tergantikan dengan raut wajah bahagia Chintya yang di tukar dengan sepotong kue. (Contoh kebahagiaan yang sederhana).
saking nikmatnya, sampai lupa kalo di depannya ada cowok yang lagi makan bareng dan liatin dia makan. udah hampir setengah habis tu cake Chintya baru nyadar.
__ADS_1
"Sorry ya.... gue emang kalap kalo udah berhadapan sama yang manis-manis kayak gini." ujar Chintya dengan tersenyum kecil.
"Santai aja," Okta menyodorkan potongan cake yang ia miliki ke arah Chintya, "Kalo perlu Lo makan punya gue."
"Hah?" ngerasa gak enak aja, udah di bayarin malah di kasih double pula. jatah orang lagi.....
"Iya, lagian gue kurang suka yang manis-manis kok." Okta memang tipe orang yang kurang menyukai makanan manis, gak makan yang manis aja tu cowok udah manis. apa lagi kalo makan yang manis bisa-bisa yang liat jadi diabetes akut saking manis nya.
"Gue gak enak nih..." mulutnya ngomong gak enak, tapi tangannya narik tu piring buat lebih dekat. ini yang dinamakan semua anggota badan dan indera gak kerja sama.
"Sama gue itu gak perlu Lo gak ngerasa enak. Lagian tadi udah gue bilang kalo lo bisa anggap gue sebagai kakak Lo."
"iya deh, punya kakak sebaik dan seganteng kamu itu jadi anugerah yang sangat luar biasa. gue rasa di luar sana banyak yang iri sama gue."
Okta hanya menanggapi kata-kata Chintya dengan tersenyum, mendingan lah di anggap kakak di bandingkan di anggap cuma teman biasa. masalah perasaan dan bagaimana membuat Chintya melihatnya sebagai laki-laki itu bisa di atur sesuai waktu yang berjalan. kata orang cinta tumbuh dari rasa nyaman dan terbiasa, Okta akan memanfaatkan waktu untuk menciptakan semua itu. merubah sudut pandang Chintya dengan bertaruh dan berlomba dengan waktu. untuk saat ini cukup dengan melihat wajah bahagia dan senyum Chintya yang membuat Okta merasa bahagia,itu yang akan ia lakukan.
*******
Yun memindahkan barang belanjaannya dari troli belanja ke bagasi mobil, tadi sih gak ngerasa pas ngambil ini dan itu...
tapi setelah di pindahkan bagasi mobilnya lumayan terisi penuh. untung aja tadi belanjaan peralatan dapur langsung di antar ke rumah, kalo enggak mau di taruh di mana???
selesai memindahkan semua barang yang Ia beli, Yun langsung masuk ke dalam mobil. ini sudah sore dan hampir gelap yang artinya Rega bakalan datang sebentar lagi. baru aja mau nyalain mesin mobil, mata yun menangkap sepasang anak muda yang lalu tepat di depan mobilnya dengan bercanda dan tertawa bersama lepas. gak tau ada hubungan di mana, tapi bayangan Chintya yang tadi lagi jalan dan ngomong sama cowok yang gak atau siapa itu mengganggu Yun. langsung terputar secara otomatis di kepalanya apa yang ia lihat tadi, bukannya sengaja mau ingat tapi gak tau kenapa langsung ingat. bukan cuma ingat tapi Yun juga kesal, bisa-bisa nya tu cewek ketawa lepas dan ngomong santai sama cowok lain. apa tu cewek gak tau kalo dunia ini kejam dan banyak hal yang buruk selalu mengintai di mana pun berada.
"Akh! Shiittttttt....." katanya kesal dengan memukul stir mobil sekuat tenaga. rasa kesal itu langsung menjalar ke dalam hatinya dan membuat moodnya yang tadi udah buruk jadi lebih buruk lagi karenanya.
pas lagi genting-gentingnya, tiba-tiba HP yang ada di saku hodie Yun bergetar. sebenarnya males banget buat terhubung sama siapa aja saat ini, tapi tu HP gak bersahabat banget alias getarnya gak mau berhenti walau udah di cuekin. dengan berat hati akhirnya Yun merogoh kantong tempat dimana tu HP ia simpan.
Siapa lagi kalo bukan Rega.
"kenapa?" tanya Yun ketus yang males buat basa-basi dan bermulut manis saat suasana hatinya buruk.
"Lo dimana jadi gak datang-datang?"
"Parkiran, bentar lagi berangkat."
Rega melihat layar HP nya buat mastiin kalo itu bener no Yun yang ia hubungi, ia emang bener itu no Yun tapi kok beda banget?
Yun yang biasanya gak kayak gini, ketus dan pelit ngomong.
"Gue udah di rumah. gue tunggu," katanya yang tau kalau saat ini suasana hati Yun lagi gak stabil. percuma ngomong panjang kali lebar kali tinggi sama tu anak dalam situasi yang gak mengenakkan, yang ada malah berantem dan Rega memilih berdamai di bandingkan cari ribut. kalo ribut sama Yun gak bakal ada untungnya, yang ada malah buntung. habis semua hak yang ngurus Yun, kalo sampek marah dan ngambek udah deh... kacau balau dunia persilatan.
Yun yang kesel banget itu meletakkan HP nya asal ke kursi samping, yang ada di pikirannya saat ini adalah cepat pulang. karena Rega udah di rumah dan bahkan sampek nelpon lagi buat mastiin keberadaan nya. Yun yakin banget kalo Rega tadi nelpon atas permintaan ibu. tanpa pikir panjang Yun menyalahkan mesin mobilnya dan meninggalkan parkiran mall tersebut.
******
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Cinderella jaman now
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sama Votenya.
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
__ADS_1
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....