
Baru aja selangkah masuk ke dalam butik tersebut, aroma-aroma khas feminim udah terasa. Saat memasuki butik di sambut dengan sebuah meja kaca besar dengan berbagai macam aksesoris khusus wanita untuk menghiasi kepala dengan tatanan rapi dan juga unik. Pada kanan dan kiri ruangan telah berjejer berbagai macam jenis pakaian yang tersusun rapi dengan warna senada pada setiap sekatnya hingga setiap para pelanggan mampu memilih dengan mudah pakaian yang mereka inginkan tanpa harus mencari.
Pakaian yang tersusun sesuai dengan jenisnya itu mengisi rak demi rak lemari tanpa pintu yang terbuat dari kayu memenuhi hampir separuh tempat tersebut. Pada bagian-bagian tertentu tergeletak berbagai macam jenis sepatu di lantai dengan bentuk-bentuk cantik yang membuat wanita mana pun akan menyukainya.
Chintya mengerjap kan matanya, memasuki butik ini ia merasa seperti masuk ke dalam dunia lain.
"Selamat datang." Sapa seorang pelayan dengan sangat ramah saat melihat pintu terbuka.
Chintya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi berkelana menyapu seisi ruangan, wajahnya sedikit memerah karena malu tertangkap basah mengamati.
He he he...
ketauan banget kalo gue gak pernah masuk tempat kayak ginian Sampek melongo.
Okta menutup pintu saat Cewek yang entah siapa namanya itu telah ia pastikan masuk. Ia tersenyum ke arah pelayan wanita yang menyambut mereka.
"Ada yang bisa bantu?"
"Kami ingin melihat dan membeli beberapa pakaian." Jawab Okta.
Ni cowok ngomongnya santai banget, batin Chintya yang liat apa yang cowok itu lakukan. Ngomong seolah-olah mereka udah saling kenal.
"Silahkan tuan, pakaian untuk laki-laki ada di lantai atas." Menunjuk ke arah tangga dengan sopan, "Saya akan mengambil minuman dingin dan juga Snack untuk kalian berdua. Tuan dan Nyonya mau minum sesuatu?" Tawarnya lagi. Butik ini memang memberikan servis gratis berupa Snack dan juga minuman kepada pelanggannya saat berkunjung, salah satu strategi menarik minat para pelanggan untuk memberikan rasa nyaman.
Ada rasa kikuk pas di panggil nyonya, gimana gak kikuk di panggil gituan sedangkan pacar aja gak punya malah di panggil nyonya yang artinya udah punya suami.
"Mau minum apa?" Tanya Okta.
"Air mineral dingin aja."
"Air dingin aja ya mbak?"
"Baik."
Setelah pelayan itu menghilang dari balik tirai besar yang menggantung menjadi sekat itu Okta berjalan mendekati lemari kaca yang terisi dengan berbagai macam bentuk dan merk jam tangan wanita. "Disini tu kita bisa bebas buat milih benda yang kita mau tanpa harus di ikutin sama pelayan," Jelas Okta tau apa yang cewek manis itu pikirkan.
"Hah?"
Gimana bisa mereka percaya gitu aja ninggalin pembeli sendirian?
Gak takut apa kalo bakalan di ambil barang-barang disini kalo di diemin gitu aja?
Okta menunjuk pintu yang tadi mereka masuki, "Di pintu itu ada sejenis sensor atau apa lah namanya yang bakal mendeteksi barang butik ini keluar tanpa label khusus dan secara otomatis pintu akan terkunci dan membunyikan alarm peringatan." Jelasnya lagi, walau gak nanya langsung tapi Okta tau apa yang sedang di pikirkan.
Mendengar penjelasan tersebut, Chintya menganggukkan kepalanya perlahan tanda bahwa ia mengerti dengan hal tersebut. Memahami kenapa mereka bisa membiarkan pelanggan dengan bebas berkeliaran memilih apa yang mereka inginkan, tentu saja itu adalah kenyamanan tersendiri bagi pelanggan.
Bayangin aja kalo kita belanja, kesana kemari tu di ikutin terus yang bakalan bikin gerah dan gak enak banget. Berasa di mata-matai kayak maling aja kan?
Gak bebas sama sekali buat milih dan akhirnya lebih milih angkat kaki ke tempat lain.
Chintya berjalan ke arah salah satu pakaian yang tergantung dengan susunan warna putih. Ia mengulurkan tangannya untuk melihat satu persatu t-shirt dengan desain sederhana namun terkesan sangat lucu yang menonjolkan sisi feminim seorang wanita. Pantas aja ni butik jadi rekomendasi nomor satu di salah satu artikel fashion yang ia baca melalui internet, selain pelayanan yang sangat memuaskan juga memberikan suasana dan memilki koleksi lengkap yang tidak akan sama dengan butik lainnya. Seulas senyum terkembang di sudut bibirnya, ternyata harga yang tertera di label gak bakalan bikin dompetnya menangis. Harga yang setara dengan butik lainnya tapi dengan kenyamanan seperti ini bakal jadi langganan Chintya, apa lagi koleksi mereka tu lengkap banget. Dari ujung kaki Sampek ujung kepala ada semua di sini dengan pilihan warna lengkap dan yang terpenting desain yang mereka tawarkan sangat cocok dengan selera Chintya yang gak suka jenis pakaian rame atau glamor. Suasana tambah menyenangkan karena di temani lagu-lagu slow yang bikin betah berlama-lama, kelamaan Sampek ni butik tutup kali ya.....
"Okta....!!!"
Pandangan mata Chintya teralihkan saat suara yang cukup nyaring dan derap kaki yang cukup nyaring juga tiba-tiba memenuhi ruangan, seorang wanita berambut pendek sebahu berlari dengan cepat dan menubruk cowok yang tadi ia temui di depan butik. Tampak raut wajahnya sangat bahagia dan melompat ke dalam pelukan cowok tersebut dengan senyum yang sangat manis, cewek aja bakal ngaku kalo dia sangat manis apa lagi cowok. Ada dua lekukan pada kedua pipinya yang menambahkan betapa manis dan imutnya pas senyum.
"Lo kok gak bilang sih pulang ke sini? Kan gue bakal jemput Lo di bandara atau nemuin Lo di rumah." Katanya yang masih dalam pelukan cowok yang ia rindukan selama ini.
"Ya ampun Reika.. Lo udah gede masih lari kayak anak kecil, kalo Lo jatuh gimana?"
"Gak bakal, karena gue yakin Lo bakal nangkap gue." Jawabnya dengan senyum yang gak pernah lepas dari bibirnya.
"Yakin banget sih Lo sama gue?"
"yakin lah..., Lo belum jawab kan pertanyaan gue tadi."
Okta menurunkan Cewek yang bernama Reika tersebut, butik ini adalah milik Reika. "Sorry, gue lupa."
Mata cantik Reika melebar saat mendengarnya, rasanya kesel pas Okta ngomong kayak gitu.
__ADS_1
"Loh kok?" Melihat perubahan wajah Reika yang tadi senyum sekarang udah mendung. "Jangan ngambek gitu dong.... Gue sengaja gak ngasih tau Lo karena mau bikin kejutan sama Lo di sini. Kalo gak gini bukan kejutan lagi kan namanya." Ujar Okta dengan mengacak rambut Reika gemas, gak ada berubahnya Reika yang selalu bersikap manja kepadanya itu. Bahkan sejak dulu Reika selalu bersikap seperti anak kecil walau pun telah berubah menjadi gadis hebat yang mampu mengelola butik sekeren ini.
"Yakin?"
"Iya...Kalo gak mana mungkin gue kesini." Katanya meyakinkan.
Senyum manis yang tadi ilang di telan awan mendung akhirnya kini kembali lagi layaknya sang mentari setelah hujan
Melihat adegan sweet di depannya bikin Chintya tertegun, mereka itu ternyata pasangan dan terlihat sangat serasi. Tingkah laku mereka bikin iri semua orang yang liat, tapi di sini cuma ada dia sendiri yang artinya dia orang tersebut yang iri.
Jiwa jomblonya menangis histeris.
Andai aja sekertaris muka kulkas itu bisa bersikap manis dan lembut kayak gitu bakalan seneng banget kan, yang kayak kulkas aja udah bikin seneng apa lagi kalo Sampek dapat perlakuan kayak yang di liat barusan bakalan mimisan Sampek darah di seluruh tubuhnya abis kali ya. 😂
Chintya yang menggigit bibir bawahnya dan menyadari kalo otaknya udah terisi sama cowok itu rasanya frustasi, gak tau kenapa alam bawah sadarnya selalu kayak gitu. Gak ada angin dan hujan bayangan tu cowok langsung muncul gitu aja dalam ingatannya, padahal gak ada manis-manisnya pas mereka ketemu. Cinta bertepuk sebelah tangan emang bikin ngenes, kerjaannya cuma nge halu sendiri tanpa bisa bawain yang di haluin.
"Lo kesini sama siapa?" Sekedar basa-basi buat nanya, padahal Reika udah tau kalau Okta datang bareng cewek atas laporan anak buahnya. Ini untuk pertama kalinya sahabat kecilnya itu membawa cewek ke tempatnya dan perasaan Reika mengatakan bahwa mereka berdua memiliki hubungan yang gak sekedar teman.
"Dia....," Bingung sendiri mau ngenalin, soalnya Okta sampai detik ini gak tau ni cewek namanya siapa. Pertemuan pertama gak ada kenalan secara khusus dan parahnya pakek acara kabur. Pertemuan kedua di depan toko gak sempet kenalan langsung masuk dan sampai sekarang gak tau namanya siapa.
"Gue Reika, temen masa kecil Okta." Kata Reika mengambil inisiatif buat bergerak lebih dahulu, sebagai teman yang baik dia harus memperlakukan pacar temannya dengan baik pula.
"Hai Reika, Gue Chintya." Jawab Chintya menerima uluran tangan cewek cantik bernama Reika tersebut, udah cantik baik banget lagi ni cewek. Emang cewek idaman para lelaki.
Ternyata namanya Chintya.....
Okta memilih duduk di sofa dan meminum air yang di taruh di atas meja kecil, biar aja dua cewek itu saling berkenalan dan ngomong. Dari pengamatan dan penglihatannya selama ini kalo yang namanya cewek udah ngobrol bakal lama dan gak bakal kelar Sampek satu musim, secara kan makhluk cewek itu nalurinya emang kayak gitu. Suka berbagi cerita kepada sesamanya, kalo nungguin mereka sambil berdiri bakalan lama jadi mendingan duduk aja lah biar aman tu kaki gak pegel-pegel.
"Lo mau cari baju jenis apa? Biar gue bantu dan bakal gue kasih diskon buat Lo. Khusus buat Lo." Katanya memberikan penekanan pada kata Khusus.
Chintya merasa terbantu banget dapat tawaran yang gak bakal dia tolak Sampek dua kali tersebut, soalnya gak tau mana yang cocok buat dia pakek.
"Makasih Reika."
"Tentu aja, mulai sekarang kita adalah teman. Karena teman Okta juga teman gue, apa lagi Lo kan ceweknya dia."
"Uhuk-Uhuk!"
"Lo kenapa?" tanya Reika yang gak merasa bersalah sama sekali kalau penyebab utama Okta kayak gitu dia, malah sambil nanya pasang muka polos banget lagi yang gak ada dosa-dosanya.
Okta membersihkan sisa air yang ada di sekitar mulutnya dan memperhatikan dua cewek yang lagi liatin dia.
"Lo ngomong apa tadi?" Tanya-nya yang sebenarnya kurang yakin, soalnya kali aja kan tadi salah denger dan gak sama yang di katakan Reika.
"Yang mana?"
"Yang barusan bikin gue ke selek."
Reika memiringkan kepalanya dan meletakkan telunjuk tangannya di pipi sambil mikir, Gue ngomong apa ya tadi?
Jadi lupa sendiri kan.
"Gue lupa. He he he he he..."
Okta cuma bisa bengong nanggepinnya, apaan coba Sampek lupa kayak gitu dan dia udah Ge_er plus keselek dan dapat jawaban kayak gitu.
"Gue inget, tadi tu gue bilang kalo karena temen Lo itu juga temen gue dan berhubung Chintya cewek Lo gue bakal lebih baik lagi sama dia."
"Apa???"
Reaksi Chintya yang berlebihan pas denger itu langsung bikin Reika melihatnya dengan tatapan mata bingung.
Kalo Okta, tu cowok cuma bengong dan nepok jidad nya sendiri.
"Emang salah gue di mana? Gue salah ngomong ya?" Tanya Reika yang entah polos atau gak peka.
"Seratus persen salah!"
Jawab Chintya dan Okta bersamaan yang bikin mereka bertatapan karena kaget, padahal gak di kode-kode gitu tapi bisa kompakan ngomong nya yang udah kayak di atur.
__ADS_1
"Bukannya tadi kalian datang bareng ke sini?" Tambah bingung Reika kalo kek gini keadaannya. Soalnya Reika tau banget gimana Okta yang gak pernah jalan sama cewek mana pun selama ini, walau Okta orang yang banyak memiliki teman tapi dia bukan tipe cowok yang bakal jalan berdua sama cewek. Hari ini datang bersama cewek manis, pasti lah Reika menyimpulkan kalau mereka memiliki hubungan khusus.
"Bukan gitu ceritanya..." Ujar Chintya kikuk, gimana gak kikuk coba kalo di sangka mereka pacaran. Jadi salah tingkah dan salah kaprah gini sih.
Padahal dalam angan-angan dan hati Chintya yang terdalam cuma pengen pacaran sama cowok yang namanya Yun. Walau orangnya kayak gitu sih...Tapi ngangenin kan.
"Kita tu gak pacaran." katanya lagi.
Sebenernya Okta kalo punya kekuatan ajaib dan bisa melakukan sesuatu ia bakal merubah kata-kata yang keluar dari mulut cewek yang namanya Chintya. Di rubah jadi "Kita emang pacaran sekarang"
Itu sih maunya Okta ya, tapi kenyataan dan hayalan itu emang gak selalu bersamaan, ini lah kenyataan nya kalau apa yang Chintya bilang itu benar.
"Gimana bisa? Setahu gue Okta itu gak pernah jalan sama cewek lain selain gue, karena bagi dia gue bukan di anggep cewek".
Maksud si Reika gak di anggap cewek tu bukan karena dia cowok tapi karena Okta menganggapnya sudah seperti adiknya sendiri hingga hubungan mereka sangat erat.
"Gue kebetulan ketemu di taman kemaren gak sengaja dan tadi juga ketemu di depan gak sengaja makanya masuk aja sekalian." Ujar Okta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kronologi kejadian yang sempat membuatnya tersedak.
"Masak sih?" Masih gak percaya, soalnya Okta itu kalo ngomong asal aja.
"Bener, tadi ketemu di depan terus masuknya barengan dan kami gak ada hubungan apa pun di sini." Tambah Chintya memperkuat alibi Okta.
********
Hai_hai semuanya.....
Para Readers yang ada dari Sabang Sampek Merauke.....
Apa kabar nih?
Sorry banget ya Author baru balik lagi setelah sekian lama vakum dari dunia tulis menulis di karenakan beberapa macam hal yang to be continue alias gak ada habis-habisnya, Author harus fokus ke beberapa hal yang gak bisa buat bagi waktu karena ini dan itu. Tapi insyaAllah mulai sekarang Author coba buat balik lagi dan berusaha buat up date kayak biasanya.
Untuk Up nya, Author gak bisa Up tiap hari karena itu kita bikin durasi yang jauh lebih panjang lagi sebagai ganti karena gak bisa Up tiap hari.
Buat "Cinderella Jaman Now" itu emang Author sengaja bikin ending agak nge-gantung gitu kan kemarin di karenakan Rega dan paket komplitnya (Ella, Mika, Miki) bakal nongol di sini, walau mereka buka tokoh utama lagi tapi mereka bakalan nongol kok....
Jadi buat kalian penggemar pasangan suami istri tersebut gak usah berkecil hati karenanya.
Pasti ada yang nanya kenapa sih di bikin kayak gitu?
Kenapa ceritanya gantung?
Gimana sama Anak-anak Ella?
Gimana sama cerita rumah tangga Ella dan Rega atau gimana kelanjutan cerita cinta Rania dan Rhanty?
Pertanyaan kalian semua itu bakal Author jawab dan suguhkan di sini.
Alasan Author sih simple aja, soalnya Bab_nya udah banyak banget yang ngalahin deretan semut pada mudik. Kalo kepanjangan kan jadi agak kacau alur cerita mereka yang ada beberapa pihak ngomen kalo alurnya berbelit-belit dan gak kelar-kelar. Buat menanggulangi hal tersebut Author milih buat bikin ending ceritanya dan nyisipin cerita Ella sama Rega di sini.
Biar kalian gak bosen bacanya dan juga kalian dapat alur cerita baru yang lebih seger lagi.
Tapi....
Tetep aja tokoh utama disini adalah Yun, tentang perjalanan cinta Yun yang udah jadi cinta segi lima.
Yang penasaran sama siapa entar Yun jadian, kalian harus ngikutin.
Makasih buat kalian semua yang udah dukung Author selama ini, dukung Author yang masih amatir dalam dunia tulis menulis.
Yang nulis ada typo-typo gitu atau salah-salah makek bahasa dan menyuguhkan alur cerita yang menurut kalian sangat membosankan atau gak sesuai sama bayangan kalian, harap maklum karena Author juga manusia biasa yang kadang moodnya itu Up and down kayak musim pancaroba. Dalam hal ini mood itu sangat mempengaruhi seseorang menghasilkan karya, kalo moodnya jelek itu udah kelar deh gak dapat ide atau bahkan buat nulis aja rasanya berat banget alias kosong. Udah megang Hp atau Laptop nih, tapi gak tau apa yang mau di tulis. Gak bisa konsen dan lupa sama sekali alur cerita yang kemarin apaan dan akhirnya milih buat gak ngelakuin apa-apa.
Jangan lupa buat ninggalin jejak berupa Like, Vote, dan komennya.
Author harap komentarnya jangan yang jatuhin atau negatif ya?
Soalnya buat bikin yang kayak gini doang itu susah Lo kalo kita dalam keadaan badmood. Jangankan menghasilkan 1000-2000 kata, buat 100 kata aja udah berasa berasap kepala kalo dalam keadaan yang gak memungkinkan.
Jadi Author mohon buat kalian itu meninggalkan komen yang positif aja biar Author tambah semangat lagi menghasilkan karya yang bisa sesuai dengan keinginan kalian, biar emosinya tu dapat dan bisa di nikmati dan resapi.
__ADS_1
Makasih.......