
Tiba-tiba saja suasana hati Yun berubah menjadi buruk, ada perasaan kesal dan penasaran di dalam hatinya. Pemandangan yang ia lihat terkahir kalo benar-benar membuat semua hal terlihat buruk di matanya saat ini.
"Emang Lo pikir Lo itu siapa?" kata Yun bicara pada dirinya sendiri, ia melewati jalanan sore yang cerah namun berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini yang kelam dan kelabu.
Rega mengerutkan keningnya, sudah lebih dari setengah jam tapi Yun gak juga nongol. Yun bukanlah tipikal orang yang ngaret, ni cowok tepat waktu. tapi kali ini malah gak datang-datang, khawatir kalau terjadi sesuatu. tapi rasa khawatir itu gak seharusnya ia rasakan buat cowok macam Yun yang bela diri nya tak di ragukan.
"Kenapa nak?" tanya ibu yang melihat Rega gelisah sejak tadi, keliatan dari posisi duduknya yang beberapa kali melihat keluar jendela. seolah menunggu seseorang.
"Gak apa-apa kok Bu." jawab Rega dengan tersenyum, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya tentang Yun yang gak nongol. kalo ini Sampek tau baka ikut khawatir dan itu bukanlah keinginan Rega.
"Kamu hari ini gak sibuk apa jadi mampir ke rumah ibu?"
Rega ngerasa gak enak denger ibu ngomong kayak gini, ngerasa bersalah juga karena selama ini hampir gak punya waktu buat datang ke rumah ini. Rega yakin kalau ibu sangat kesepian di rumah sendiri, tapi mau gimana lagi kalau kerjaannya di kantor menyita hampir seluruh waktunya. bukan cuma waktu Rega doang, tapi juga waktu Yun yang harus di habiskan dengan pekerjaan.
"Enggak Bu, Hari ini Rega libur." menggenggam tangan ibu dan mencium nya lembut. "Rega pengen ngabisin hari ini sama ibu dan Yun."
Ibu menatap putranya itu yang kini tumbuh dengan sangat baik, bahkan sangat tinggi. dulu mereka sangat kecil dan selalu berebut untuk minta gendong.
Umur Yun dan Rega yang gak terpaut jauh itu membuat mereka tumbuh layaknya anak kembar, walau ibu tidak melahirkan Rega tapi ia menganggap dan membesarkan Rega seperti putranya sendiri. tak ada perbedaan kasih sayang antara Yun dan Rega yang ia berikan, ibu mencintai mereka sepenuh hati.
"Kalian berdua sekarang sudah besar, ibu gak nyangka kalau kedua putra ibu tumbuh secepat ini." mengelus pundak Rega dengan tangan nya dan tersenyum, mengingat semua kejadian saat mereka masih kecil. waktu dan masa-masa yang tidak mungkin akan terulang kembali.
"Rega juga gak nyangka kalau bakal punya mama seperti ibu, Rega merasa sangat beruntung." katanya dengan membungkuk dan memeluk wanita yang telah membesarkannya penuh kasih sayang. Meski ia bukan anak kandungnya, tapi tidak pernah membedakan kasih sayang terhadap Yun.
"Beruntung di beri kesempatan ketemu sama ibu dan Yun, Rega sangat berterimakasih karena ibu menyayangi Rega seperti Yun." Rega mempererat pelukannya.
"Selamat ulang tahun ibu, terimakasih untuk semua waktu yang ibu berikan buat Rega, terimakasih sudah menjadi ibu pengganti buat Rega, Rega gak tau harus bagaimana membalas semua yang ibu berikan kepada Rega selama ini." kata Rega tulus, apa pun yang ia miliki dan berikan gak bakal bisa menebus waktu dan kasih sayang yang ibu berikan kepadanya.
"Ibu yang seharusnya berterimakasih, ibu punya dua putra yang hebat, tuan memberikan ibu rumah dan keluarga baru yang baik dan hangat dan ibu sangat bersyukur mempunyai putra yang baik hati seperti kamu." katanya dengan melepaskan pelukan dan mengusap lembut pipi Rega.
Tuhan begitu baik dengannya, takdir yang Tuhan berikan sangat lah luar biasa. tak pernah sedikitpun terbayangkan atau bahkan bermimpi mampu memiliki kehidupan seperti ini.
"Jadi kapan datang bawain calon menantu buat ibu?" tanya ibu yang memang ingin sekali melihat Rega membawa calon istri, umur Rega tidak lah muda lagi. jadi wajar kalau ibu menanyakan hal tersebut.
"Kapan-kapan, doakan saja semua berjalan lancar."
Rega yang udah semangat banget buat ketemu dan jemput Ella sepulang sekolah harus menahan diri buat gak uring-uringan. pasalnya tu bocah gak di temukan di sekolah pas Rega di sana, mana Hp nya gak bisa di telpon lagi. Bahkan Rega nunggu di gerbang sekolah Sampek semua orang pada pulang dan tak tersisa satu pun di sana, tetap aja batang hidung Ella gak keliatan. Batal rencana buat ngajak Ella ketemu sama ibu, padahal Rega pengen banget dua orang yang penting dalam hidupnya itu bertemu.
"Siapa wanita itu?" tanya ibu yang yakin banget kalo saat ini Rega sedang menargetkan seseorang dalam hidupnya.
"Nanti ibu juga tau, pokoknya kalau semua berjalan lancar bakal Rega bawa ke rumah ibu. Rega janji."
*******
Chintya yang udah kelar tugasnya buat nganterin Okta beli kado buat mommy nya itu memilih pulang dengan naik taksi. bukan habis manis di buang alias habis nemenin Okta si campakin gitu aja sama tu cowok, tapi pilihan Chintya sendiri buat pulang naik taksi. Okta nawarin diri buat ngantar pulang tapi Chintya menolak dengan alasan pengen ke suatu tempat sebelum pulang.
Menikmati suasana senja yang benar-benar cantik itu membuat suasana hati Chintya menjadi bahagia, gimana gak bahagia kalo tadi udah ketemu sama pujaan hati secara gak sengaja. itu udah lebih dari cukup buat Chintya merasa bahagia.
Entah lah, isi kepalanya cuma di isi dengan Yun dan Yun. Gak ada alasan yang kuat kenapa ia menyukai sosok acuh dan dingin itu, tapi bagi Chintya cinta tak perlu sebuah alasan.
"Yun?" gumamnya saat melihat sosok yang ia bayangkan itu tepat di sampingnya.
Pemberhentian lampu merah itu menjadi saksi bagaimana takdir bermain dengan ketidak sengajaan mempertemukan mereka untuk yang kedua kalinya hari ini.
Angin senja berhembus pelan hingga menyentuh rambut indah Chintya, cewek itu menatap Yun tanpa berkedip seolah terpesona kesekian kali. Setiap kali bertemu, Chintya selalu terpesona dengan sosok Yun. Berulang kali ia jatuh cinta dengan orang yang sama dengan situasi yang berbeda.
Bayangin bisa duduk di samping Yun di dalam satu mobil udah bikin Chintya bersemu merah, sebegitu besarnya rasa suka Chintya terhadap cowok tersebut. ia menunduk malu, malu karena pikirannya sendiri.
"Pak, ikuti mobil di depan." ujar Chintya tanpa ragu.
Yun membawa kantong-kantong berisi bahan-bahan yang akan ia sulap menjadi makanan, bukan cuma Yun tapi juga ibu. Cukup banyak kantong-kantong itu hingga membuat Yun sedikit kerepotan, cuma punya dua tangan dan udah maksimal di gunakan. tapi masih ada yang belum ia ambil dari dalam mobil, mana Rega gak nongol-nongol buat bantuin.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang mengambil beberapa kantong dari tangannya dengan paksa. Yun yang kaget menoleh dan mendapati sosok yang sangat ia kenal tepat di sampingnya.
"Lo ngapain di sini?" berdiri dengan tatapan tajam ke arah seorang wanita yang tengah sibuk mengambil beberapa barang dari dalam mobilnya tanpa bicara.
"Bantuin elo buat bawa, gue kasian tangan Lo yang cuma dua itu gak muat." katanya dengan tersenyum manis dan dengan cueknya mengabaikan tatapan heran dari Yun.
Yun kehilangan kata-kata, benar-benar ajaib nih orang yang tiba-tiba muncul gitu aja.
"Maksud gue, Lo ngapain di rumah gue?"
"Jadi ini rumah elo ya?" tanyanya balik, bukannya jawab.
Yun menatap tajam tanpa berkedip seolah meminta jawaban atas pertanyaan yang di abaikan tersebut.
"Kita punya selera rumah yang sama."
lagi-lagi, ni cewek bukannya jawab malah ngomong lainnya.
Ibu yang mendengar suara mobil itu yakin kalau putranya datang, dan benar saja saat ibu keluar untuk memastikan ia melihat sosok yang ia rindukan tengah berdiri. Tapi putranya itu tidak sendiri, seorang wanita cantik berdiri di samping Yun. mereka berdua tampak membicarakan sesuatu dan kedua tangan mereka penuh dengan kantong-kantong yang entah apa isinya.
"Yun?"
Merasa namanya di panggil, Yun menoleh ke arah suara yang sangat familiar tersebut. suara yang sangat ia rindukan dan tidak ada yang mampu menggantikan.
"Ibu?" Yun berjalan ke arah ibu dan mengabaikan Chintya yang masih berdiri di tempatnya semula dan menyodorkan secara paksa kantong-kantong belanjaan ke arah Chintya, badannya yang kecil itu secara otomatis oleng dan tertutup dengan kantong-kantong yang banyak itu.
Yun membungkukkan badannya dan memeluk ibu, merindukan bagaimana hangatnya pelukan ibu yang selama ini ia rindukan.
"Selamat ulang tahun ibu, semoga Tuhan memberikan umur yang panjang, kesehatan, dan semua kebaikan bersama ibu." ucapnya dengan mengecup kening wanita yang paling berharga di muka bumi ini dan menjadi satu-satunya.
Mata tua itu berkaca-kaca mendengar sebuah ucapan yang ia terima, kedua putra yang ia besarkan dengan tangannya sendiri tidak pernah lupa dengan hari ulang tahun meski mereka berdua sangat sibuk.
Yun melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan ibu untuk masuk ke dalam rumah.
"Itu..."
Mungkin hanya ibu satu-satunya orang yang menyadari keberadaan Chintya yang terlupakan begitu saja. Ibu berpaling dan melihat wanita cantik yang tadi bicara dengan Yun, tersenyum lembut dan berjalan mendekatinya.
"Maaf ya kalo sudah nyusahin." kata ibu dengan mengambil beberapa kantong dari tangan wanita itu, "Putra ibu memang bandel."
Chintya yang sejak tadi diam itu akhirnya mengerti dan langsung tersadar.
jadi ini benar-benar rumah Yun?
dan...
dan ini ibu Yun?
"Ibu, gak usah di gubris." kata Yun kesal tanpa melihat ke arah Chintya.
"Kamu ngomong apa? sejak kapan ibu mengajarkan kamu begini caranya menghormati wanita?"
Udah lah, kalo sama ibu gak bakal menang. keluarlah wejangan- wejangan yang udah lama banget gak di dengar, kali ini paket komplit keluar dari mulut ibu. Karena gak pengen nambah daftar panjang wejangan, Yun memiilih jalan aman dengan cara diam Sampek akhirnya ibu selesai.
Chintya yang ngerasa salah waktu dan tempat itu kayak gak bisa buat kemana-mana. mau kabur sekarang udah telat banget, langsung ketangkep basah sama ibu Yun. Niat awal cuma kepo dan pengen tau kemana Yun pulang , bukannya mau buntutin Sampek rumah begini dan ketemu ibunya pula.
"Minta maaf?!"
Yun yang emang dari Sononya paling patuh sama ibu itu menuruti apa yang ibu perintahkan.
"Sorry." cuma gitu doang yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Chintya yang merasa sedikit canggung itu hanya mengangguk kepala, tau kalo gak niat buat minta maaf alias terpaksa.
"Yun....." ibu menatap tajam mata Yun, menyiratkan kalo gak suka dengan tindakan Yun.
Yun menghela nafas panjang, "Maaf, gue salah dan gak seharusnya melakukan semua ini."
ibu tersenyum puas, memang harus seperti ini cara seorang laki-laki meminta maaf dan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Naluri seorang ibu mengatakan bahwa wanita cantik di depannya ini memiliki hubungan dengan putranya tersebut meski gak ada penjelasan dari yang bersangkutan.
"Hari ini adalah hari ulang tahun ibu, nak...." ibu sengaja menggantungkan kata-katanya karena gak tau nama.
"Chintya ibu, nama saya Chintya." kata Chintya memperkenalkan diri .
"Nak Chintya," ibu mengangguk dan tersenyum, "Karena hari ini hari ulang tahun ibu, mari ikut ibu masuk untuk sekedar ngobrol." katanya lagi.
Ya Tuhan...
mimpi apa gue semalam????
Chintya mengedipkan matanya gak percaya, emang takdir baik sekarang berpihak kepadanya. Gak bakal nyangka bisa kenal dan ketemu dengan ibu dari pujaan hatinya dengan kebetulan dan waktu yang singkat seperti yang ia alami saat ini. apa lagi ibu Yun sangat ramah dan baik, itu terlihat dengan jelas bagaimana memperlakukan Chintya dengan sangat baik. Tapi, kegembiraan itu gak sebanding dengan tatapan tajam dari Yun ke arahnya. udah biasa di liatin kayak gitu, di cuekin dan entah apa lagi sama Yun. itu semua menjadi hal yang lumrah buat Chintya dan gak ambil pusing dengan hal-hal kayak gini. selama Janur kuning belum melengkung, selama cincin belum tersemat di tangan Yun dan selama Yun masih single, selama itu Chintya bakal ngejar Yun.
"Terimakasih dengan tawaran ibu, tapi tadi Chintya cuma kebetulan aja lewat sini tadi."
Aish....
Mana ada kebetulan, rumah yang di datangi ini lumayan jauh dari jalan dan berada di kawasan yang gak terjangkau dengan angkutan umum kalo emang gak sengaja buat ke sini.
"Gak boleh nolak orang tua nak, lagi pula yang undang nak Chintya ke sini kan ibu. bukan Yun..." kata ibu dengan menggenggam tangan Chintya lembut dan menuntunnya untuk mengikuti ibu masuk ke dalam rumah meninggalkan Yun dengan kantong-kantong besar.
Rega mendekati Yun yang tengah asik membersihkan sayuran dan juga buah dengan melirik ke arah Chintya, entah ilmu apa yang tu cewek punya tapi langsung bisa dekat dan akrab bareng ibu. bahkan mereka berdua sesekali tertawa.
"Dia...."
"Jangan tanya gue." kata Yun tanpa melihat Rega, seolah tau dia yang Rega maksud itu siapa.
"kalo gue gak tanya elo, masak gue tanya langsung ke orangnya?"
"kalo itu perlu kenapa enggak?" jawab Yun judes.
Rega mengerutkan keningnya, tumben-tumbenan kan Yung ngomongnya ketus banget kayak gini.
Rega yang gak pengen terjadi perang dunia antara dia dan Yun akhirnya memilih diam, walau penasaran banget. kok bisa tu cewek nongol di rumah ini? itu pertanyaan besar dalam dirinya.
******
Hi semua....
Maaf banget ya....
jadwal up nya itu lama banget, bukan cuma hitungan Minggu atau bulan malah udah hitungan tahun gak nambah up dateš
Bukannya sengaja, tapi author punya banyak kegiatan dan aktivitas yang gak bisa di tinggalin.
cerita Yun juga gantung banget kan gak ada sambungannya gitu selama ini, dan jujur aja author Sampek lupa sama jalan ceritanya.
Author harus ngulang dari awal baca (dari bab 1 sampel bab akhir author nulis) buat bisa masuk dan mendalami cerita serta alurnya.
sekali lagi author minta maaf udah ngecewain Kalian semua.
Bahkan di novel author yang lain juga jadwal up nya berantakanš¢ bukan cuma di novel ini.
Makasih banyak buat kalian yang masih Sudi buat baca, terimakasih banyak pokoknya dan sekali lagi minta maaf atas kekacauan ini.
__ADS_1