
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Cinderella jaman now
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sama Votenya.
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....
******
Okta membawa papan skateboard nya di taman kota, hari ini cowok itu gak punya kegiatan dan rasanya bosan kalo harus di lewatkan di rumah sepanjang hari dan akhirnya memutuskan buat main skateboard di taman kota yang gak jauh dari rumah neneknya. masih ada beberapa Minggu sebelum ia pulang dan kembali ke aktivitasnya seperti biasa dengan berakhirnya liburan. pembawaan okta yang hangat dan bersahabat itu bikin cowok keren itu gal perlu waktu lama buat dapetin temen, buktinya aja sekarang Okta udah punya beberapa teman yang bisa di ajak nongkrong atau ngelakuin aktivitas menyenangkan lainnya.
"Hi bro" sapa Okta pada segerombolan anak muda yang kalo di liat usia mereka sebaya.
"Dari mana aja Lo baru nongol?" kata seorang yang pakek baju hitam dengan lengan pendek.
"Dari rumah Oma, kebetulan tadi beliin Oma obat dulu baru kesini." jawab Okta dengan duduk di samping salah satu teman nongkrong nya yang bernama Andi.
"Cucu yang berbakti," kata Andi dengan tertawa kecil.
"ini bukan masalah berbakti apa engga tapi ini kewajiban dan tanggung jawab." katanya lagi.
"omongan Lo udah kayak orang tutup usia." timbal Ray yang juga baru nongol, cum selisih sedikit waktu sama Okta tadi Sampek nya.
"Parah Lo ngatain temen tutup usia, apa kabar gue yang udah jenggotan kayak gini?" ujar Ahmad sambil ketawa sendiri dan mengelus janggutnya.
"Lo jenggotan emang sengaja, sengaja mau keliatan tua." jawab Andi.
itu lah beberapa teman yang Okta dapatkan di kota kecil ini, walau baru kenal beberapa hari tapi bagi Okta mereka bertiga adalah teman yang baik dan menyenangkan. pertemuannya dengan tiga sekawan itu secara kebetulan, kebetulan yang menjadikan sebuah persahabatan di antara mereka.
"Walau keliatan tua tapi gue masih laku, di bandingkan Lo yang ngaku ganteng tapi jomblo abadi." balas Ahmad gak mau kalah di katain.
"Gue bukan jomblo abadi bro, tapi gue lebih milih gak pacaran dulu soalnya emak gue bilang pacaran itu cuma buat sakit hati." sontak semua orang mengarah kan tinju mereka ke arah Ahmad yang sok itu.
Tiga sekawan itu adalah contoh nyata dari indahnya perbedaan dalam keragaman budaya dan agama.
Ahmad yang berasal dari keluarga Melayu dengan menganut agama Islam yang kental dan taat sejak lahir, orang tuanya adalah seorang penganut agama yang taat dan menjunjung tinggi nilai kebaikan. percaya dengan adanya surga dan neraka tapi mereka gak melarang anak-anak berteman dengan siapa pun. bahkan saat merayakan hari besar agama mereka teman-teman Ahmad selalu datang untuk berkunjung dan kedua orang tua Ahmad menyambut kedatangan mereka dengan suka cita, menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga dan anak mereka sendiri.
Andi yang terlahir dari keluarga beda keyakinan itu dan juga keluarga broken home. Andi besar dan tinggal bersama ayahnya setelah kedua orang tuanya berpisah, ayah Andi yang seorang penganut Katolik itu juga memiliki darah Bugis dan Batak. sejak sang ayah menikah lagi Andi memilih untuk hidup mandiri dan mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup dan biaya pendidikan, beruntung Andi memiliki bakat yang luar biasa dalam berbisnis hingga membuatnya memiliki beberapa cabang cafe yang dari penghasilannya itu ia mampu menyokong hidupnya sendiri dan bahkanampu berbagi bagi anak yatim piatu. Andi mempekerjakan para pemuda yang memiliki nasib seperti nya, para anak muda yang memiliki krisis keluarga dan akhirnya lebih memilih hidup sendiri. walau beragama katolik tapi Andi selalu menghormati Ahmad sebagai seorang muslim dengan selalu mengingatkan apa bila tiba waktu sholat dan juga saat berpuasa ia tidak akan makan dan minum di depan Ahmad. walau pun ia non muslim tapi keluarga Ahmad selalu menerima nya dengan tangan terbuka saat ia datang berkunjung tanpa melihat perbedaan di antara mereka. itu lah yang membuat Andi merasa bersyukur bertemu dan mengenal Ahmad beserta keluarganya, walau terkadang ia merasa iri karena Andi tidak dapat merasakan kehangatan arti sebuah keluarga setiap hari tapi itu lebih dari cukup baginya untuk mendapatkan kasih sayang yang selalu ia inginkan.
mamanya telah menikah dengan seorang laki-laki berkebangsaan asing dan memilih untuk tinggal bersama suami barunya tersebut beserta adik perempuan nya yang hak asuhnya jatuh ke tangan mama dan hak asuh Andi jatuh ke tangan sang ayah.
Lain lagi dengan cerita Ahmad dan juga Andi, Ray yang memiliki darah Tionghoa itu memiliki keluarga utuh yang sangat bahagia. Dengan dua orang adik perempuan dan juga orang tua lengkap, tapi yang menjadi permasalahan adalah orang tua Ray adalah seorang pembisnis yang hampir gak pernah di rumah. mereka keluar masuk kota atau negara lain buat ngurus bisnis mereka yang akhirnya membuat Ray merangkap sebagai kakak dan juga orang tua bagi kedua adiknya. di rumah semua di kerjakan oleh asisten rumah tangga tapi untuk pengawasan kedua adiknya itu Ray harus melakukan nya sendiri. Ray penganut protestan yang taat tapi ia tidak menghakimi kedua sahabatnya yang memiliki keyakinan berbeda dengannya.
"Ummi besok ada acara pengajian, kalian datang ke rumah gue sore buat makan-makan soalnya Ummi masak banyak buat besok." ujar Ahmad yang baru ingat pesan ummi buat ngundang temannya ke rumah.
__ADS_1
"Pasti kita-kita di kasih sisa kalo sore." celetuk Ray.
"Gue sih gak masalah sisa asalkan bagian paling banyak plus bisa di bawa pulang pakek rantang."
"Dasar bos cafe kere Lo.... punya banyak cafe masih mau yang gratisan" ujar Ahmad, "Lo ikutkan ta? sekalian kenalan sama keluarga gue."
Semua mata melihat kearah Okta yang dari tadi cuma diam doang liat kelakuan mereka bertiga kayak anak SD.
"Iya gue bakal datang, tapi gue gak tau di mana rumah Lo."
"Gampang lah, entar gue kirim lokasinya sama Lo. sorean aja datangnya, kalo pagi masih acara Sampek siang gue takut kalian semua bakal di bungkus para ibu-ibu buat di jadiin mantu." ujar Ahmad.
"Gue gak keberatan dan dengan suka cita siap di jadikan menantu buat para ummi yang siap meminang gue, gak bakalan rugi dapat mantu yang rajin menabung dan ganteng kayak gue." ujar Andi yang super pede itu.
"Rugi yang ngambil Lo mantu, Lo pelit dan perhitungan. walau banyak punya cafe siapa yang bakalan Sudi."
kayak gini kalo mereka semua ngumpul, gak ada habisnya buat ngeledekin satu dengan yang lain. berasa kayak taman kanak-kanak kalo mereka ngumpul.
Okta cuma cengar-cengir liat ketiga teman barunya itu, kelakuan mereka emang ajib banget.
"Maaf...."
Hiruk pikuk trio detektif itu langsung tergantikan sunyi senyap, langsung diem mereka bertiga saat seseorang menghampiri.
Wanita cantik dengan pakaian cukup seksi dan dua temannya yang gak kalah seksi itu menghampiri mereka. cowok mana sih yang gak tertarik sama cewek cantik nan aduhai, ya gitu juga sama mereka berempat yang langsung on matanya liat yang bening-bening apa lagi sampai di samperin kayak gini. udah kayak kejatuhan durian runtuh (Sakit itu kalo Sampek kejatuhan durian runtuh, bakal babak belur beneran).
"Iya ada apa? ada yang bisa gue bantu?" Andi yang terkenal pedenya melebihi semua orang yang ada di situ langsung berdiri, cowok yang selalu ngaku kembaran Andika Pratama itu kalo masalah cewek udah deh gak ada matinya. tapi itu cuma gaya nya doang, faktanya gak punya cewek dan gak pernah punya cewek. jangankan punya cewek, deket sama cewek aja enggak pernah. gayanya doang selangit, tapi aslinya Andi males buat pacaran karena trauma masa kecil yang ia alami hingga saat ini.
Ray mencibir dan menggelengkan kepala ke arah Okta, Okta orang baru di antara mereka bertiga dan tentu aja belum paham dan familiar dengan sikap Andi yang udah kayak paling ganteng sedunia aja dan yang lain itu levelnya di bawah dia.
Okta tertawa kecil mendengar nya, "Itu gak masalah buat gue, untung kita di anggap cantik di bandingkan di anggap lucu." balas Okta sambil berbisik juga, "Kalo lucu pipi kita udah di cubit."
"Boleh gak kita gabung sama kalian?" sambil ngelirik ke arah cowok pakek hodie yang lagi ngomong sama temennya, sejak liat pertama kali Leka udah ngerasa tertarik dan pengen kenal lebih dekat dengan cowok yang berbeda dari ketiga temannya. kalo gak salah tebak Leka menilai tu cowok bukan asli penduduk pribumi yang artinya ada darah campuran. wajahnya yang keliatan bule dengan warna mata yang beda dan tinggi badan di atas rata-rata cowok pribumi serta warna kulit yang lebih terang itu membuat Leka yakin kalau blasteran.
Ahmad melemparkan pandangan matanya kearah Ray, Andi dan juga Okta untuk meminta jawaban dari temannya itu.
"Sorry mbak, kita mau jalan. ini cuma ngumpul karena nunggu teman biar lengkap." kata Andi dengan santai dan senyum terkembang, walau keliatan play boy tapi sebenarnya itu cuma kulit luar nya doang.
Leka terlihat kecewa dengan jawaban yang ia dapatkan, udah bela-belain nyemperin dan nawarin diri buat gabung malah di tolak mentah-mentah kayak gini.
Si*lan ni cowok, sok jual mahal banget pakek nolak gue.
umpatnya dalam hati gak terima di tolak mentah-mentah di tempat umum pula. udah dandan maksimal Sampek kece badai, pakek baju seksi nan aduhai yang keliatan lekuk tubuh, keliatan kulitnya yang bening dan mulus plus make up minimalis ala artis Korea tapi masih ada yang berani nolak.
"Sorry ya mbak, kita mau jalan ini. kalo mbak nya mau di sini silahkan." kata Ray ngelanjutin penolakan dari Andi.
Baik Okta dan Ahmad cuma senyum doang tanpa kata-kata. Okta mengambil papan skateboard yang ia letakkan di sampingnya saat melihat teman-teman nya itu berdiri dengan menenteng tas mereka, bersiap buat pergi meniggalkan tempat.
"Sorry banget, kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi dan kalau ada umur yang panjang boleh kita berjumpa lagi." Masih sempat berpantun ria pula si Ahmad ini pas udah mau pergi.
Leka menatap kesal keempat laki-laki yang berjalan di depan nya itu, mengabaikannya dan menolaknya. ada rasa dongkol di hatinya dan bukan Leka namanya kalo enggak balas dendam sama apa yang mereka lakuin, apa lagi sama cowok yang entah siapa namanya itu. cowok yang pertama kali menolaknya yang awalnya sok bersikap manis.
Awas Lo, gue bakal balas Lo entar
"Lo tau gak kenapa kita pergi jauhin tu cewek?" tanya Andi pada Okta.
__ADS_1
Okta menggeleng, sebenarnya agak heran juga kenapa mereka memilih pergi di bandingkan nongkrong bareng para cewek cantik dan seksi itu, kalo yang lain bakalan dengan senang hati menerima tawaran menggiurkan itu.
"Karena kita usah punya prinsip gak bakal mau sama cewek yang nyamperin duluan." jawab Ray.
"Dan satu lagi, kita juga gak suka sama cewek yang kalo pakek baju kurang bahan kayak tadi. emang sih badannya bagus tapi gue mah ogah banget, mending gue liat emak-emak pakek daster." sambung Ahmad sambil ngelus dada kayak liat apaan gitu....
"Karena kita udah sepakat kalo pas nongkrong bareng gak ada yang namanya cewek yang bikin kacau dunia persilatan." Ray menyilang kan tangannya di depan badan.
"Jadi kalian pengen cewek yang kayak gimana?" tanya Okta yang penasaran dengan kriteria cewek mereka bertiga.
"Gue yang kayak ummi, yang pinter masak, lembut, ramah, pakek hijab dan pakaian tertutup dan yang penting seiman sama gue." kata Ahmad yang menjadikan ummi nya sebagai patokan buat cari calon istri.
"Kenapa Lo gak kawin sama ummi Lo aja kalo kayak gitu? mana ada cewek yang kayak ummi, aneh Lo itu." kata Ray sambil geleng-geleng kepala, mana ada juga di dunia ini orang yang persis banget kalo bukan orang itu sendiri. bahkan kembar identik pun belum tentu sama persis soal kepribadian dan sifatnya.
"Kalo gue kawin sama ummi bukan Ahmad nama gue, tapi gue bakal berubah jadi Abdullah (Nama Abi nya sendiri)".
"Udah gak usah rempong, kalo Lo?" kata Okta yang mengakhiri adu mulut di antara Ahmad dan Ray yang gak bakalan ada habisnya kalo gak di pisah dengan mengajukan pertanyaan buat Andi yang anteng gak terpengaruh dan terkontaminasi oleh kelakuan dan keributan Ahmad dan Ray.
"Gue simple aja sih, sama kayak Ahmad gue bakal cari yang seiman dan yang paling penting dia adalah cewek." katanya yakin seyakin-yakinnya dan gak ada keraguan sedikitpun saat mengatakannya.
"Ye....." Ahmad menyikut perut Andi sampai tu anak meringis kesakitan.
"Si*kan Lo?! mau ngajak gue berantem hah?!" sambil ngulurin tangan buat narik Ahmad yang udah keburu pindah tempat ke samping Ray.
"toh unta juga cewek bakal Lo kawinin?" ejeknya sambil senyum-senyum ngeledek.
"Lo aja sono yang kawin sama unta. gue ogah!"
"Kan yang Lo bilang tadi asal cewek, unta kan cewek, ayam tetangga gue juga cewek."
"Kenapa gak sekalian burung tetangga Lo cewek?" sambung Ray yang emang dari tadi pengennya adu mulut aja sama Ahmad, paling bisa yang namanya Ahmad itu bikin perkara dan gak bertanggung jawab.
"Jangan bro, kasian kalo burung makan burung. gak ada seninya entar." ujar Ahmad sambil cengar-cengir gak jelas.
"Dasar otak Lo ngeres." timpal Okta yang udah gak tahan buat diem dari tadi.
"Kayak otak kalian bersih aja, jangan-jangan otak kalian udah di rendam pakek bayclin apa jadi putih bersih bagaikan kapas."
"Otak Lo yang harusnya di rendem biar gak ngeres o*n........!" teriak Andi tepat di telinga Ahmad.
Ahmad melayangkan tinju ke tangan Andi tapi tu anak langsung menghindar pakek juris layaknya seorang ninja.
"Kalo gue tau tipe cewek idaman Ray." Kata Ahmad sok tau.
"Apaan coba?" tantang Ray.
"Yang bisa ngendaliin dua adik Lo.
ha ha ha ha ha ha ha ha....."
Bukan tanpa alasan Ahmad ngomong kayak gitu, soalnya dua adik Ray itu lumayan bikin sakit kepala. walau mereka cewek tapi kelakuannya ampun dah, ngalah-ngalahin anak cowok. kadang Ray Sampek pusing sendiri, umur Vini yang baru sepuluh tahun dan Vina yang sembilan tahun itu selalu aja bikin ulah. udah gak bisa di hitung lagi berapa lusin pengasuh yang mengundurkan diri karena gak sanggup buat jagain mereka berdua, kewalahan sama kelakuan mereka yang kalo di liat sekilas kayak anak kembar. apa lagi wajah Vini dan Vina mirip banget, tinggi badan mereka juga hampir sama. jadi banyak yang ngira mereka kembar, di tambah dengan dengan selisih umur mereka yang gak jauh itu.
"Kalo hal ini gue setuju banget sama Lo." mengacungkan kedua jempol nya buat Ahmad yang tebakannya akurat kali ini.
Okta mengangguk, tenyata itu alasan mereka buat jauhin para cewek tadi yang nyamperin. masuk akal sih, lagian itu hal yang lumrah karena setiap cowok pengen dapat cewek yang baik buat pasangan hidup mereka. gak tau kenapa Okta langsung terbayang wajah Chintya, cewek yang ia temui di taman tanpa sengaja beberapa hari yang lalu dan cewek yang ia temui tanpa sengaja untuk kedua kalinya. menurutnya cewek bernama Chintya itu adalah cewek yang menarik di balik kepolosan dan kesederhanaan nya. ada sebersit keinginan menghubungi dan bertemu dengannya.
__ADS_1
*******