Labirin Cinta

Labirin Cinta
Kakak Ipar???


__ADS_3

Dua insan beda gender yang duduk saling berhadapan itu diam seribu bahasa selama beberapa waktu dengan pikiran mereka masing-masing. Bukannya mereka gak punya topik pembicaraan antara satu dengan yang lain tapi memberikan ruang dan waktu untuk pikiran mereka sendiri saat ini, atau mungkin lebih tepatnya menyusun kata-kata dan memilih mana yang bakalan di ambil karena banyak banget pertanyaan yang ada dalam benak mereka. Menurut mereka itu pertanyaan yang penting dan perlu jawaban akurat buat mengisi rasa penasaran mereka.


"Mana Yun?"


Dari sekian ribu kata yang ada di kepala Rega akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, sisanya nyusul aja entar karena sesuatu yang terburu-buru itu gak bakalan baik endingnya.


"Yun lagi mandi, Kakak mau makan bareng?"


Aduh kakak....


Chintya berasa agak geli juga sih ngomongnya kayak gitu, tapi lebih sopan aja. kalo di liat sekilas emang cowok di depannya itu lebih tua di bandingkan Yun, tapi Chintya gak bisa nebak berapa umurnya. Penampilannya masih seger kayak anak kuliahan, aslinya udah lebih dari itu.


Mereka berdua emang bibit unggul, kakak dan adik sama-sama ganteng dan keren. penasaran gue gimana orang tua mereka, ya pasti lah ganteng plus cantik juga bisa dapetin anak kayak mereka berdua kayak gini.


"Entar aja, gue makan di luar aja sama cewek gue."


Itu lah Rega, bagaimana pun ia gak pernah lupa kalo udah punya hubungan sama seseorang walau tu orang gak tau karena bagi Rega komitmen harus di jaga bagaimana pun keadaan dan kondisinya.


"Beruntung banget cewek yang jadian sama kakak, kakak gak pernah lupain dia." Kata Chintya tulus, berharap Yun juga kayak gitu.


"Kalian jadian berapa lama?"


"Itu...."


Bingung sendiri kan Chintya jelasinnya, boro-boro jadian di akui keberadaanya aja belum sama Yun dan ibaratnya tu masih mengambang saat ini.


"Bertepuk sebelah tangan?"


Kata-kata yang mak jleb itu yang Chintya dengar langsung masuk ke telinganya, ternyata cowok ganteng itu gak kalah pedas ma Yun yang menguatkan kalo mereka emang bener-bener saudara.


"Mungkin untuk saat ini bisa sih di bilang bertepuk sebelah tangan, tapi gue yakin kok kalo suatu tangan gak bakalan sebelah tangan tapi bersambut dengan kedua tangan."


Kalo yang namanya percaya diri Chintya borong semuanya, ngomong-nya yakin banget gak pakek ragu dan dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan. cocok banget kalo buat persentasi karena sangat meyakinkan.


"Bagus, gue suka percaya diri dan keyakinan Lo."


"Jadi, kakak dukung?"


Pasang wajah imut berkaca-kaca, ini mah bukan kesempatan emas lagi tapi udah kesempatan berlian yang gak bakal datang dua kali seumur hidupnya.


"Ya gue dukung asal Lo gak permainan adik gue."


"Tenang aja kak, di tangan Chintya adik kakak yang ganteng itu gak bakalan sakit hati. Chintya bisa jamin itu, kecuali Yun nya aja yang gak mau di bikin bahagia."


"Ok, gue mau liat seberapa tangguh Lo hadepin Yun."


"Itu jangan di ragukan lagi kak, setangguh Hulk. Jadi, bisa bantu Chintya gak?"


Rega menatap cewek manis di depannya itu, semangatnya emang berkobar-kobar gak cuma berkoar-koar dia. kalo menurut kaca mata penilaian Rega sih ni anak emang baik dan polos, gak salah juga kalo dia bantu sedikit biar proses pedekate mereka berdua berjalan mulus. Lagian jaman sekarang sudah cari cewek baik, tapi gak ada salahnya kan kalo Rega pengen ng_tes.

__ADS_1


"Apa yang Lo suka dari adik gue?"


Dari awal Rega sudah menyebut Yun dengan adik, biar lebih dekat dan lebih nyaman aja. Kalo buat orang lain gak mungkin Rega bilang kayak gitu karena posisi Yun di mata publik adalah asistennya. Hanya segelintir orang yang mengetahui status Yun dalam keluarganya sebagai putra kedua Mahendra. Bukan tanpa alasan menyembunyikan semua itu karena ini demi kebaikan Yun dan melindungi Yun.


Semua sudah di bicarakan dan Yun sama sekali gak keberatan dengan semua ini.


"Em...."


Gak nyangka dapat pertanyaan kayak gini bikin Chintya bingung mau jawab apaan, soal x gak tau juga kenapa dia bisa suka sama tu cowok.


kan awalnya mereka kenalan gak sengaja yang seharusnya itu Rega menghadiri acara perjodohan yang sesama nenek mereka atur, karena Rega nolak malah sekretarisnya yang gantikan posisi Rega.


"Apa karena ganteng? kedudukan? status sosial?" Kata Rega langsung pada intinya, selama ini cewek yang mendekati mereka karena tertarik dengan tiga hal yang tadi Rega sebutin.


"Bukan, kalo ganteng, kedudukan dan status juga mana mungkin lah gue milih Yun yang hanya sekertaris lebih milih kakak yang sebagai saudara tertua dan bos di perusahaan." jawab Chintya jujur, itu jawaban yang bisa ia katakan saat ini.


"di lihat dari mana pun kesempatan kakak buat mewarisi perusahaan Om Mahendra lebih besar di bandingkan dengan Yun sendiri."


Rega tersenyum kecil mendengar jawaban Chintya, jawaban yang sangat polos tapi juga pintar karena cewek itu tau posisi dan keadaan yang sebenarnya.


"lalu?"


"Sejak kakak ganti posisi waktu itu sama Yun gue lebih tertarik dengan Yun, awalnya penasaran sama sikap dan kepribadian dia. Gak tau yang namanya jodoh atau cuma kebetulan kita beberapa kali ketemu di luar tanpa sengaja."


"Ketemu di luar?"


"iya, gue sama Yun beberapa kali ketemu gak sengaja gitu. Gak tau kenapa dari rasa penasaran itu tiba-tiba aja suka. Tapi gue gak tau alasannya, jadi gue suka sama Yun tanpa tau alasannya."


Dari sekian jawaban yang ada di benak Tega, ni cowok sama sekali gak nyangka bakal dapat jawaban kayak gini.


Cinta tanpa alasan dan gak tau kenapa.


Udah lah gak usah di ambil pusing masalah ini.


"Gue pribadi minta maaf karena ulah nenek yang mengatur acara menyebalkan."


"Apa nya yang menyebalkan, harusnya gue yang terimakasih karena dengan gitu gue bisa ketemu dan kenal Yun. kalo gak karena Nenek mana mungkin kita bisa ketemu kayak sekarang, gue juga terimakasih sama kakak yang udah batalin dan ganti posisi kakak waktu itu sama Yun." Kata Chintya tulus.


Antara gak enak dengernya sama lega, Rega malah sedikit bingung di jaman sekarang masih ada aja yang mau dan mendukung kerjaan nenek. Nenek yang super kepo dan usil itu ngerasa kalo kedua cucunya udah kayak gak laku aja pakek acara di cariin jodoh segala.


"Gue serius nanya sama lo kali ini."


Chintya menunggu dengan sangat antusias pertanyaan yang katanya serius itu.


"Seandainya waktu itu gue gak menukar posisi sama Yun apa Lo bakal suka sama gue di bandingkan sama Yun?"


Yun yang udah gerah banget itu akhirnya bisa bernafas lega karena pori-pori kulitnya yang tersumbat bisa mendapatkan kucuran air segar , bukan cuma kucuran air doang tapi juga dapat sentuhan kelembutan busa sabun yang wangi. Mandi adalah ritual wajib yang gak bisa di ganggu gugat, pokoknya apa pun keadaan dan cuacanya wajib banget buat Yun mandi. kalo gak berasa ada lem di badannya.


Cowok jangkung itu mengambil setelan santai buat di rumah, lagian hari ini gak ada acara buat keluar dan hanya Rega yang bakalan datang. Ternyata Yun melupakan satu sosok yang lagi nunggu di ruang makan menikmati semangkok bubur olahannya, siapa lagi kalo bukan Chintya. Karena lupa sama tu cewek akhirnya Yun dengan santainya keluar ruangan cuma pakek celana berbahan kaos sambil mengacak rambutnya yang masih setengah basah dan menenteng bajunya di tangan kanannya. Cowok gantengnya gak ketulungan itu lebih suka ngeringin rambut dengan cara alami dan manual di bandingkan dengan menggunakan headrayer sebagai alat bantu pengering rambut, alasannya sih simple banget karena gak suka sama suaranya yang berisik. Rega yang udah biasa keluar masuk apartemennya itu gak bakalan ngerepotin karena udah tau kunci sandi pintu, gak perlu bukain pas Rega datang dan biasa tu anak udah duduk manis di sofa atau duduk cantik di meja minimalis yang ada di dapur dengan menyantap apa pun yang ada di sana.

__ADS_1


Chintya yang mendapat pertanyaan itu mengerjapkan matanya perlahan, kalo di pikir emang bener sih waktu itu yang jadi kandidat utama dalam perjodohan adalah Rega. Tapi Rega menolak mentah-mentah dengan menyuruh sekretarisnya buat datang dan hal yang paling mengejutkan dari semua ini ternyata Yun bukan hanya sekertaris biasa melainkan adik dari Rega sendiri. Padahal Eyang gak pernah ngomong apa pun, Eyang cuma cerita kalau Om Mahendra cuma punya satu putra yaitu Rega. Tapi Rega sendiri yang ngomong kalo Yun adalah adiknya, bahkan Yun mempercayakan sandi kunci apartemennya sama ni cowok yang artinya hubungan mereka lebih dekat di bandingkan sekedar sekertaris dan bos doang.


"Gue rasa gak kok, karena perasaan itu gak bisa di tukar. Mungkin bakal memakan sedikit waktu buat gue bisa ketemu sama Yun tapi gue yakin cepat atau lambat gue bakal ketemu sama Yun karena kita emang udah di takdir kan ketemu." Jawab Chintya tegas.


Yun yang mendengar suara berisik dari dapurnya itu berjalan untuk memastikan apa yang ada di sana, mendapati dua orang yang lagi ngobrol santai kayak di pantai. Rega yang duduk dengan posisi menghadap ke arahnya dan seorang cewek yang duduk membelakangi nya. Cewek yang Yun lupakan keberadaannya itu dan kini akhirnya ingat.


Rega memberikan isyarat dengan tatapan mata dan tangan hampir gak keliatan pas Yun nongol, isyarat yang biasa mereka gunakan pas ketemu klien atau meeting penting biar gak ada yang tau. Bisa di bilang sejenis kode rahasia antara mereka berdua saat memutuskan atau mengambil tindakan tanpa harus di ketahui oleh orang lain.


Yun menerima isyarat yang Rega berikan, berjalan secara perlahan di atas lantai tanpa terdengar apa pun yang biasa ia lakukan tanpa harus mengganggu atau membuat orang lain menyadari keberadaannya.


Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Rega mampu membuat Yun menahan nafasnya beberapa saat hingga Chintya memberikan jawaban. Entah apa yang mereka bicarakan dan lakukan selama Yun di dalam sana sampai Rega mengajukan pertanyaan kayak gitu.


Cowok dengan tinggi badan di atas rata-rata itu tersenyum kecil dan menghembuskan nafas secara perlahan saat mendengar jawaban yang Chintya berikan, entah apa namanya ada perasaan lega saat mendengar semua itu.


"Gue gak percaya sama omongan Lo," kata Rega yang mulai aksi ngomporin dan ngeracuni pikiran Chintya, kalo masalah kompor mengompor Rega emang jagonya. jago buat bikin orang kebakaran jenggot.


"Itu terserah lo mau percaya apa enggak." Balas Chintya santai.


"Gimana gue bisa percaya Lo kan liat kalo gue lebih ganteng di bandingkan Yun dari sisi mana pun bahkan semua orang tau siapa gue dan apa yang gue punya." Balas Rega dengan memamerkan dan membanggakan dirinya sendiri.


Yun yang denger ucapan Rega itu ngerasa kesel, kumat lagi narsis dan pedenya yang over dosis. Walau udah biasa denger Rega yang super narsis itu tapi kali ini bikin Yun sedikit jengkel di bandingkan biasanya.


Chintya menatap cowok yang dengan bangga dan pedenya itu ngomong ganteng, ok point lainnya emang bener kalo tu cowok lebih kaya dan punya kedudukan lebih di bandingkan Yun tapi lebih gantengnya itu bikin Chintya gak terima dunia akhirat.


"Lah emang kenapa kalo situ ganteng? kaya dan bos?" Sambil meneliti dari ujung kepala Sampek ujung kaki tanpa terlewatkan sedikit pun.


"Mau seribu cowok yang datang modelnya kayak Lo gak bakal gue memalingkan hati dari Yun, lagian masalah duit sama kedudukan gak masuk dalam kriteria gue. Kalo bisa milih gue lebih seneng Yun orang biasa, jadi lebih aman gak banyak ketemu banyak cewek yang artinya gue gak banyak saingan." Udah lupa Chintya sama tata Krama sebagai adik ipar yang baik dan benar, ngomongnya gak ada manis-manisnya malah yang ada nyolot. Udah lupa makek dan nyelipin panggilan kakak dan malah di ganti sama Lo dan gue.


"Kalo Yun orang biasa Lo mau hidup di desa bareng dia jadi petani atau Lo mau hidup di pantai sebagai nelayan?"


"Gak masalah, asal ada kerjaan aja. kalo gak kerja dari mana dapat duit buat hidup, cinta doang mah gak cukup buat bertahan hidup. mau petani atau nelayan sama aja asalkan itu halal dan menghasilkan."


"Lo gak keberatan Yun kerja jadi petani atau nelayan? kalo dia orang biasa dan kerja kasar gitu kulit dia gak bakalan kayak sekarang, pokoknya tampilan fisik Yun gak bakalan kayak sekarang yang rapi setiap saat dan wangi. Dia bakalan kucel dan bau.


Yun mendelik ke arah Rega, emang keterlaluan ni anak ngomongnya makin lama. Tapi penasaran juga sih Yun sama jawaban yang bakal Chintya kasih, jadi rasa kesel Yun ketutup sama rasa penasaran nya.


"Kalo dia kerjanya kayak gitu Lo juga sama karena kalian saudara, udah lah gak usah ngomporin gue. apa pun bentuk dan keadaannya gue bakal tetap milih Yun. Tapi masalahnya dia gak milih gue."


"Hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."


Chintya mengernyitkan alisnya, ngerasa aneh sama tu cowok yang tiba-tiba aja ketawa ngakak tanpa sebab.


"Yun, Lo denger kan apa yang ni cewek omongin. Lo gak milih dia, kasian anak orang Lo gantung dan bertepuk sebelah tangan." Rega udah gak bisa nahan ketawanya, gimana gak ngakak ketawa kalo jawabannya itu bikin perut geli.


Chintya membulatkan matanya dengan sempurna, gak bakalan nyangka kalo Yun dengar semua apa yang ia katakan. Perlahan tapi pasti ia membalikkan badannya buat memastikan bahwa Yun emang ada di belakangnya atau cuma kerjaan Rega doang buat ngerjain dia. habisnya dari tadi kan Rega ngelakuin itu buat ngerjain, semoga cuma keisengan Rega doang.... semoga gak ada Yun di sana...


Walau ngomong kek gitu tapi hati Chintya yakin kalo Yun emang ada di belakangnya dan ternyata feeling nya bener banget. Yun berdiri di belakangnya dengan memasukkan sebelah tangan kanannya ke dalam saku celana dan tersenyum ke arahnya, senyum yang menurut orang manis banget dan biasanya Chintya juga liatnya kayak gitu tapi kali ini beda yang terasa senyum itu kayak senyum malaikat maut siap menjemput nya dari dunia ini.


Mampus gue.....

__ADS_1


__ADS_2