
Perjalanan yang lumayan menguras pikiran gue dan setidaknya gue sedikit bicara ketika sama si Brian,dia bahkan terlihat menjadi cowok dingin kembali,aneh?? tadi dia melontarkan senyum manisnya ke gue kenapa sekarng dingin banget lebih dingin dari pada kulkas gue di rumah.
Gue hanya diam dan mengikutinya dari
belakang sedangkan dia melangkah dengan pasti walau entah kemana
"Tempat pengungsianya masih jauh??" tanya gue sedikit capek dan lelah..gue hanya memanyunkan bibir gue menahan emosi gue yang dari tadi jalan ngak sampai-sampai
"kamu capek??(menatap gue dengan lembut) sebentar lagi sampai (dia sedikit celingukan untuk mencari tempat pengungsian) mana tas nya biar aku yang bawa" dia mengambil alih tas gue,tapi gue masih mematung di sini ngak salah dengar atau ngak salah pengucapan kenapa sekarang dia mengunkan aku kamu gue ngak salah dengar engak kan gue emang gak salah denger
"kok diem aja ,mikirin apa??" tanya brin yang langsung membuat gue sekeyika sadar
"engak kok,masih jauh ngak??" tanyaku asal dia hanya tersenyum dan mengengam tanganku,mau ngapain kenapa dia gandeng gue
Gue hanya diam dan tidak mencoba untuk meleoaskan gengaman tangganya.
gue teramat terkejut karena dia ngak bikang kalo mau nyebrang..gue samapai gelagapan dan mengengam tagganya dengan erat.hingga akhirnya gue cuma diem dan menutup mata gue rapat-rapat.
"lo kenapa???" rupanya dia mengetahui keanehan dari diri gue,dengan sedikit ragu gue membuka mata gue perlahan
"ngak papa,udah sampai kan" gue menatap orang-orang yg terlihat menyeduhkan seperti kehilanggan harapan,rasa takut,dan yang pastinya swdih yang mendalam,dan entah kenapa gue merasa sedikit sakit hati melihat penderitaan mereka,air mata gue..ah air mata gue janggan sampai jatuh entar bahaya ,gue harus jag wibawa gue sebagi cewek keren di sekolah gue.
Tapi apa daya ...gue tetap meneteskan air mata gue dan karena merasa malu gue menutup mata gue dengan telapak tanggan gue.
"BRUkk" brian menarik gue ke pelukanya
seketika gue langsung menatapnya aneh
"apaan ?? lepasin gue" Brian malah tersenyum dan mencubit pipi gue gemas
"kalo nangis imutnya luntur lo" apaan ni orang,"biarin"jawab gue asal dan kembali lahi ke posisi semula
kita diem beberapa menit lalu gue dan Brian memutuskan untuk ke tempat pengungsian,gue cuma diem melihat orang-orang di hadapan gue"jangan nagis lagi,gue ngak bawa tisu"gue kembali menatap Brian heran dan akhirnya gue mencubit lenganya,walaupun dia merasakan sakit tapi pada akhirnya dia tersenyum kembali kepada gue
perkenalan di mulai para pengungsi menyambut kami dengan senag dan ceria
ada banyak perwakilan sekolah di sini,dan kami termasuk salah satunya.setelah perkenalna kita para perwakilan sekolah di minta untuk istirahat dulu karwna waktu sudah lumayan sore....
mesti hanya dari Bandung ke Jakarta tapi
ini cukup membuat gue lelah dan sangat capek .gue duduk di tenda di mana itu akan menjadi tempat tinggal kita sementara waktu
Brian sudah berpisah dengan gue dia bergabung ke grup cowok yang cukup banyak sedangkan...gue cuma dengan beberapa orang saja di sini
"hai,nama gue intan lo" gue menoleh ke sebelah kanan gue seorang cewe dengan dandanan menornya
"gue Annisa Arlin" setelah itu gue diem karena cewek yang bernama intan itu pergi begitu aja.akhirnya gue memutuskan untuk menguyur tubuh gue yang sudah lengket ini alias mandi.
__ADS_1
tidak ada yg gue temukan di sini gue binggung mau mandi di mana.gue melihat Brian sedang asik ngobrol dengan seseorang gue main samber aja,
"gue mau mandi tapi gue ngak tahu,di mana kamar mandinya??" tanya gue memekas pada Brian berharap dia tahu
"lo tahu di mana kamar mandinya???" tanya Brian dengan cowok di sebelahnya
"gue tahu,tapi harus pake motor untuk ke sana,lo cukup lurus dan setelah itu belok kiri dari perempatan itu" cowok itu cukup lihai dalam menunjukan jalan"nih pake motor gue aja"cowok itu menyerahkan kunci motornya
"gue pinjem dulu" cowok itu hanya tersenyum dan sekarang Brian membawa gue pergi dengan mengandeng tanggan gue,tunggu emang gue anak kecil setiap mau pergi harus di gandeng
"gue mau sendiri" gue berhenti dan otomatis membuat Brian juga berhenti karena tanggan kita bergandengan
"lo bisa naik motor??" tanya Brian yang langsung di sambut dengan gelengan kepala gue
"makanya gak usah aneh-aneh ini kota besar nanti lo nyasar lagi,udah lo tunggu sini dulu,janggan kemana-mana gue bakal kesini lagi" dia seketika berubah menjadi cowok dewasa yg sedang memarahi adiknya.dan dia pergi begitu saja
"lo mau kemana??" tanya gue.
"ambil sesuatu,jangan kemana-mana" dia berlari dan menungalkan gue
dan gue masih mematung di sini menungu Brian,Brian yang aneh itu.
Dan seketika setelah penantian yang cukup lama Brian mengagetkan gue , dengan ember yang berisikan peralatan untuk mandi
"mau ngapain??" tanya gue masih binggung walaupun seharusnya gue tahu dan sadar kali dia bawa sabun itu berarti dia mau mandi
Walaupin sebenarnya ini juga ,juga tidak terlalu jauh,dan kita hanya menemukan satu kamar mandi di sini,Brian menyuruh gue mandi duluan dan dia menugu di luar
Setelah gue selesai mandi rupanya Brian juga tidak marah karena gue terlalu lama di kamar mandi.
"lo ngak marah??" tanya gue otomatis
"marah??,untuk apa??" dia malah balik tanya
" karena gue mandinya lama"dia kembali tertawa kecil dan mengacak-acak rambut gue
"ih apaan,tanggan lo kotor,cepet sama mandi"kini gikiran gue yang ngomol ke dia
Sedikit lama gue menunggu Brian mandi
ngomong-ngomong kenapa gue ngak sopan banget sama dia jelas saja dia lebih tua dari gue dan dia adalah kakak kelas gue yang menjabat menjadi ketua osis lagi di sekolahan gue ,seketika gue teryawa sendiri karena membayangkan betapa lucunya gue ketika gue mangil Brian dengan sebutan kak.
" udah ayo pulang"gue sedikit binggun dan terkejut melihatnya sudah keliar kamar mandi
__ADS_1
"udah??,mandinya???" tanya gue ngak nyangka
"udah,emang lo mandi berjam-jam,udah ayo balik gue udah paper banget" dia tersenyum dan kembali mengacak -acak rambut gue
hobi banget sih ni orang untuk membuat rambut gue berantakan...walauoun kesel karena Brian mengacak-acak rambut gue
gue juga tetap menurut sama dia .karena cuma dia orang yang gue kenal di sini.
setelah di perjalanan,Brian berhenti untuk membeli sesuatu untuk kita makan.hanya secepat kilat dan Brian keluar dengan menenteng kresek hitam berukuran kecil
"lo beli apa??" tanya gue heran beli apaan dia sedikit amat
" beli makanan untuk kita makan"lancar sekali dia mengatakan hal itu
"buat kita makan,lo beli apaan sedikit banget??" gue makun heran dengan isi bungkusan itu
"mi instan sama telor untuk kita makan,di sini kita harus belajar hemat,janggan jadi pemboros yang bisanya cuma menghabiskan uang orang tua.." (gue tersenyun kecil dan kembali naik ke motor untuk melanjutkan perjalan kita)
Setelah sampai di pengugsian dia tidak langsung menghentikan motornya melainkan membawa gue ke dapur untuk memasak
(dapurnya cukup sepj)
gue turun dan mengikuti Brian ,dia sibuk mencari alat untuk masak sedangkan gue hanya duduk manis melihatnya memasak di depan gue.
" lo bisa masak???"tanya Brian seketika kepada gue
"???" gue sok mikir dan diam
"(tersenyum melihat gue) gue suka cewek yang bisa masak,jadi lo harus belajar masak"
gue ternganga mendengarkan ucapan Brian maksudnya apa??
"kalo lo suka cewek yang bisa masak,terus apa hubunganya sama gue,kenapa lo nyuruh gue untuk belajar masak??" gue masih belum bisa mencernya perkataan gue sendiri dan apa yang barusan Brian katakan.
Kali ini Brian tersenyum kembali ke gue
sembari mendekati gue membawa dua piring berisi mi goreng buatanya
"makan" gue menerima piring yang Brian berikan ke gue
(hening seketika)
"lo bisa masak sejak kapan??" tanya gue membuka pembicaraan
"dari kecil,dulu gue suka masak waktu mama gue mangajak gue ke perlombaan masak anak-anak dan gue ikut,dan di sana gue bertwmu dengan teman gue yang dia emang udah gue angap seperti kakak sendiri ...kita lumayan deket mesti kami masih anak-anak dia punya adik perempuan yang manis banget menurut gue,dia sering menvoba masakan gue dia selalu tersenyum dan bilang ini enak dan sejak itu gue mulai suka masak,gue kepengen ketemu sama gadis itu tapi gue ngak tahu di mana ,walaupun samapi sekarang gue masih berteman baik sama kakaknya tapi gue ngak oernah ketemu sama gadis itu,kalo gie ketemu sama dia gue bakal masak makanan yg menurut gue enak banget,dan gue bakak masak dengan ketulusan hati gue dan gue bakal masak dengan bubu rahasia gue" gue sekarang setidaknya menjadi pendengar setiaanya Brian.
"semoga lo cepet ketemu sama gadis itu" kali ini buakn expresi menyebalkan yg keluar dari aura wajah gue tapi senyum manis yang keluar,Brian juga tersenyum dan mengacak-acak rambut gue ,gue biarin biar dia seneng dulu
__ADS_1