Labirin Cinta

Labirin Cinta
Perjodohan


__ADS_3

Yun mendudukkan Chintya di atas sofa dengan perlahan, membuka sepatu yang wanita itu pakai dan meletakkannya asal. Melihat benda yang memiliki salah satu haknya lebih tinggi itu membuat Yun heran bagaimana bisa makhluk yang bernama wanita berjalan dengan nyaman atau bahkan bisa berlari dengan leluasa hanya dengan memberikan tumpuan sepenuhnya di sana, benda kecil dan tumpul itu mampu menopang hampir keseluruhan berat badan mereka. Cepat-cepat Yun mengusir jauh-jauh rasa ingin tahunya tersebut karena untuk saat ini bukan saatnya mencari tahu hal tersebut, kaki memar itu harus segera ia obati agar sang empu bisa beraktifitas seperti sebelumnya dengan nyaman.


Tok Tok Tok


Yun melihat ke arah pintu dan tampak orang yang tadi ia suruh datang dengan kotak P3K serta susu hangat seperti yang ia inginkan, tanpa banyak bicara Yun membuka dan mengambil minyak gosok di sana. "Maaf Nona, saya akan memijat kaki anda dan mungkin akan sedikit sakit karenanya." Katanya sebelum menuangkan minyak tersebut di tangan dan membaluri kaki mulus tersebut.


"Apa?" Tanya Chintya kaget, "Pijat?" Katanya sontak menarik kakinya saat tangan sekertaris itu ingin menyentuh kakinya, pergerakan refleks yang ia lakukan karena menangkap sesuatu yang mungkin akan menyakitinya.


"Iya, sepertinya otot anda mengalami masalah dan saya akan membantu anda membereskannya." Katanya lagi bersiap.


"Tu-tuan, saya kira anda tidak harus melakukannya." Katanya cepat, menolak secara halus. Mam*us gue...., oh no..., bisa-bisa gue pingsan nih... Aduh gimana ini... Batin Chintya panik banget.


Sementara Chintya sibuk dengan pikirannya sendiri Yun langsung melakukan aksinya, menunggu persetujuan dari yang punya kaki kelamaan mending langsung aja di eksekusi. Yun membalurkan minyak gosok yang akan terasa hangat dan mulai memijat dengan pelan, mencari urat yang salah tempat atau melenceng itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Saat menemukannya Yun memijatnya lebih keras sehingga membuat Chintya menjerit karenanya, rasa sakit yang Chintya rasakan itu membuat Chintya berteriak.


"Aw!!!!"


Sontak Chintya menarik kakinya untuk membuat pertahanan diri dari rasa sakit yang ia rasakan, rasa emang gak bisa bohong dan rasa sakit itu gak bisa bohong juga buat gak teriak.


"Tahan, sebentar lagi." Ujar Yun menahan kaki Chintya agar tetap diam, kalo gak gitu tu cewek bakalan lari.


"Tapi sakit...," Meringis menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya. Saat memperhatikan lebih dekat ternyata wajah Yun benar-benar bersih tanpa noda, seketika Chintya merasa minder karena dia yang seorang wanita kalah telak dengan wajah laki-laki yang super mulus tersebut. Lagi-lagi tanpa sadar ia tersenyum saat membayangkan bagaimana menyenangkannya bisa memegang wajah itu, bayangin aja udah bikin klepek-klepek gimana kalo kenyataannya??? Kelamaan deket sama sekertaris tampan itu bikin Chintya halu, malah kebanyakan halu lagi.


"Nona?" Yun mengernyitkan alisnya, ni cewek udah berapa kali tadi ketangkep basah senyam-senyum sendiri gak jelas gitu yang akhirnya bikin Yun agak sedikit berpikiran negatif karenanya. Mungkin aja kan otak tu cewek geser makanya kayak gitu.... Tak ada jawaban membuat Yun memijat lebih keras biar tu cewek sadar dan gak kayak gitu.


"AWWWW!!!!" Teriaknya sekuat tenaga karena rasanya tu emang sakit banget sampek-sampek mijit kepalanya buat mengalihkan rasa sakit tersebut. Chintya menatap kesal dengan tatapan mata tajam serta mulutnya yang mengerucut menahan amarah. "Sakit tau?! Lo itu ya gak bisa pelan apa mijit nya? Bukannya sembuh malah patah ni entar." Katanya dengan tersungut-sungut kesal.


Yun mencoba menahan tawa yang siap pecah dengan memalingkan wajahnya, ekspresi wajah orang yang marah itu keliatan lucu banget di matanya sampek rasanya itu susah banget buat nahan.


"Kenapa?" Tanya Chintya bingung saat sekertaris tampan itu memalingkan wajahnya dan sebelum itu terjadi ia sempat melihat bahwa wajah itu menahan tawanya.


Yun menggeleng pelan, "Coba nona berdiri perlahan dan rasakan apa masih sesakit tadi atau sudah sembuh?" Katanya lagi meminta untuk merasakan apakah pijatan yang ia lakukan berfungsi dengan baik atau tidak di bandingkan menjawab pertanyaan yang menurutnya gak penting.


Seketika Chintya ragu untuk melakukannya atau tidak, Coba aja lah Chin... Perlahan Chintya mencoba berdiri dengan memegang dan menumpu tangannya pada kepala Sofa, perlahan-lahan ia bergerak dan berdiri. Awalnya memang masih terasa sakit tapi lama kelamaan rasa sakit itu hilang hingga akhirnya ia dapat berdiri dengan sempurna tanpa merasakan sakit karena menopang berat badannya. "Iya, sakitnya hilang." Katanya dengan tersenyum senang dan memperhatikan kakinya yang masih memar.


Yun mengambil salep dan mengoleskannya, sebagai langkah terakhir ia membalutnya dengan kasa agar salep yang ia oleskan dapat bekerja secara maksimal. "Saya yakin saat anda besok bangun pagi hari memar dan bengkak ini akan hilang." Katanya dengan mengoles lembut dan membalutnya rapi. Yun memang mempunyai banyak skill dan salah satunya tentang ilmu pengobatan serta ilmu pijat memijat. Ayah menuntutnya harus menguasai banyak hal karena beliau berpikir semua itu akan berguna suatu saat nanti.


Ya ampun...


Ni orang apa pangeran ya???


Ganteng banget gini mana baik dan perhatian lagi gimana gue gak terpikat dan kepincut kalo kayak gini. Jerit Chintya dalam hati dengan memandang lekat wajah Yun dan wanita itu telah memutuskan mulai saat ini akan mengejar dan mendapatkan laki-laki tersebut bagaimana caranya. Ia akan berusaha mendapatkannya walau Nenek sebenarnya menjodohkan deng Rega, cucu dari teman Nenek. Namun hati dan perasaan Chintya tak bisa bohong bahwa ia menginginkan sekertaris nya bukan bosnya, mengenai jabatan dan kedudukan bulan masalah untuknya.


"Jadi, apa yang membawa Nona datang ke sini?" Kata Yun yang akhirnya punya kesempatan bertanya dengan time yang tepat karena ia rasa sudah melakukan apa yang ia lakukan. "Kalau Anda ingin bertemu dengan Tuan Rega saya kira Anda tak akan dapat menemui hari ini karena beliau ada beberapa janji yang di lakukan di luar kantor dan kemungkinan besar tak ada di kantor untuk hari ini." Kat Yun, tapi yang Yun bilang itu emang benar soalnya dia gak bohong. Rega emang ada beberapa pertemuan di luar sana dengan beberapa klien.


"Bukan, saya kesini tidak ada hubungannya dengan tuan Rega."


"Lalu?" Tanya Yun bingung, soalnya tu cewek kan kemarin janjian sama Rega.


"Saya datang karena anda." Jawabnya dengan tersipu malu saat mengucapkannya.


"Apa?" Yun benar-benar bingung mendengarnya, kok bisa datang malah cari dia di bandingkan cari Rega? Bukannya ni cewek hasil perjodohan nenek yang harusnya itu cari Rega bukan malah cari dia.


"Iya, saya ada sedikit urusan dengan anda tuan, bukan hanya sedikit tapi menurut sangat banyak." Katanya lagi, Chintya menutup matanya dan mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan maksud hatinya. Rasanya itu susah banget buat ngomong langsung apa lagi ini pengalaman pertama Chintya yang berurusan dengan perasaan dan lawan jenis dan tentu saja memerlukan nyali yang besar dan tebal.


*****


Ini kebiasaan paling jelek yang Rega punya, kalo ada perlu itu gak mau nunggu sampek nanti atau apa yang jelas harus di turuti dan parahnya itu gak kenal waktu. Baru aja Yun pulang dan mau istirahat malah di telpon buat nemuin di salah satu restoran yang katanya ini rencana Nenek ngatur acara perjodohan, udah yang ketiga kali selama Rega pulang tu Nenek ngatur pertemuan buat cariin istri cucu kesayangannya. Bukan cuma Rega tapi Yun pun kena imbasnya, soalnya Yun gak lepas buat acara gituan dan mencari cara buat kabur. Kalo Rega bisa kabur gantian Yun yang kena dan gitu sebaliknya, pokoknya yang paling semangat itu Nenek pengen punya cucu menantu dan cicit dengan alasan di rumah sendirian. Yang paling parah dari semuanya itu gak ada yang bisa ngelawan orang tua super tersebut. Yun memakai celana panjang berbahan kain gelap dengan kemeja berwarna coklat susu karena tadi Rega mengatakan restoran yang sedang ia datangi jenis restoran formal, kalo gak gitu bakal pakek baju santai aja. Kali ini Yun mengendarai motor biar cepet sampai, kalau jam segini biasanya jalan lagi macet-macetnya dan mobil gak bisa melaju cepat dan alternatif terbaik itu naik motor biar cepet sampai tempat tanpa terkena macet.


Rega melihat hp-nya buat mastiin dimana Yun sekarang, udah nunggu beberapa menit tu anak gak nongol juga dan sekarang cewek yang bakal di temui juga gak nongol yang bikin Rega nunggu. Di luar, sejak pertama kali menginjakkan kaki ia memperhatikan gadis cantik bergaun pink. Nampak tak asing untuknya dan bukan pertama kali melihatnya. Tingkahnya yang sangat manja, bergelayutan di tangan laki-laki yang lebih tua darinya membuatnya sangat mencolok bahkan tak tanggung-tanggung memperlihatkan kemesraannya di tempat umum. Sudah biasa ia melihat seperti itu, namun ada yang mengganjal hatinya dan membuat tak dapat memalingkan pandangan matanya pada sosok gadis manis itu. Lebih tak ada keserasian pada mereka sebagai sepasang kekasih, di luar sana bahkan ada yang lebih parah dengan pasangan yang lebih tua lagi. Rega menyayangkan anak zaman sekarang yang melemparkan diri mereka untuk menjadi simpanan Om-om kaya demi mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan. Uang yang di dapatkan untuk menunjang penampilan dan menaikkan status sosialnya. Saat pelayan masuk membawakan kue, tak ayal ia pun ikut menyanyikan lagu itu. Walau tak ada hubungan dengan kehadirannya disini yang akan bertemu dengan calon istri dari hasil perjodohan keluarganya. Kue berbentuk mawar dan tak lupa buket bunga mawar merah besar membuatnya kagum, sugar dady itu mampu menempatkan diri dan menyenangkan wanitanya. Perlakuan yang ia lakukan pun sangat manis dan lembut, memandang dengan penuh kasih sayang, menyuapi dan membantu untuk menuangkan minuman. Selama 25 tahun hidup, sekali pun Rega tak pernah melakukan itu pada wanita mana pun. Perjodohan kali ini adalah yang ke-3 kalinya dan setiap kali wanitanya lah yang meminta berpisah karena sikap dinginnya itu, mereka merasa tak pernah ia hargai. Matanya membulat saat gadis yang ia tafsir masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu memeluk dan mencium pasangannya yang terlihat separuh dari usianya tersebut tanpa rasa ragu dan canggung di tempat umum seperti ini. Sugar Dady nya pun begitu royal dengan memberikan kalung yang ia yakini berliontin berlian tersebut. Apakah ia harus bersikap seperti itu untuk memengkan hati wanita? Tapi semua itu bukan gayanya dan akan sangat sulit melakukannya. Perjodohan ketiga ini mungkin tak akan berakhir baik seperti sebelumnya, pada awalnya setiap wanita yang di jodohkan dengannya terpaku untuk pertama kali melihat ketampanan seorang Rega Adiyaksa Mahendra yang berdarah campuran timur tengah dan palembang itu mampu menyihir siapa pun yang melihatnya. Lama kelamaan setelah mengenalnya, mereka memilih untuk mengundurkan diri karena tak tahan akan sikapnya yang super dingin. Bawaannya gondok mulu kalo berhadapan sama tu orang, kalo di ajak ngomong gak pernah mau dengerin. Boro-boro dia nya mau ngomong, di ajak ngomong malah di kacangin kayak ngomong sama tembok dan yang lebih parah saat terakhir malah main drama cinta sesama lawan jenis lagi yang bikin ceweknya langsung kabur.

__ADS_1


Yun langsung menemukan sosok Rega yang sangat mencolok di antara lainnya tengah duduk sendiri memandang lurus ke depan, Yun yang penasaran ikut mengarahkan matanya kd depan di mana mata Rega melihat dan terpaku. Tampak pasangan beda usia yang sepertinya sedang merayakan sesuatu di sana, bagi Yun itu pemandangan yang biasa. Dengan santai ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Rega yang masih asik dengan konsentrasi tingakat tinggi hingga tak menyadari keberadaannya. "Lo liat apaan sih?" Tanya Yun sambil menarik kursi dan duduk di depan Rega yang langsung mengalihkan pandangannya.


"Anak jaman sekarang sukanga cari pasangan yang udah kayak bapaknya." Jawabnya, "Lama banget sih lo baru nongol?"


"Lo nelpon tadi gue baru masuk rumah, mandi dulu biar segar baru ke sini. Lagian biasa bangey lo itu kalo nyuruh gak inget tempat sama waktu." Protes Yun sedikit kesal, "Waktunya gue istirahat nih udah lo ganggu gugat."


"Kalo gak penting mana mungkin gue nyuruh lo ke sini." Rega menyodorkan hp-nya ke arah Yun, "Namanya Rani, cewek yang Nenek undang malam ini."


Yun mengambil dan mengamati foto wanita yang ada di dalam hp tersebut, "Terus?"


"Gantiin gue buat ketemu malam ini, gue maled berurusan sama mereka."


"Wah, enak di elo sakit di gue ini ceritanya." Yun mengembalikan Hp Rega.


"Pilih satu mobil gue buat bayar malam ini." Jawabnya lagi.


"Ogah, gue juga bisa beli mobil kayak punya lo."


"Gue tambah sama _atu minggu libur kerja dan semua kerjaan lo gue yang ambil alih."


Tawaran Rega kali ini lumayan menggiurkan buat Yun, soalnya udah lumayan lama gak libur dan pengen banget ziarah ke makan Ayah bareng Ibu. Saking sibuknya gak ada waktu buat itu dan sekarang kesempatan emas itu datang dan Rega yang nawarin. Maunya langsung jawab iya tapi gak keren kalo langsung setuju gitu aja, jual mahal dikit lah biar keliatan keren gitu.


"Apa lagi? Masih kurang?" Kata Rega yang liat Yun cuma diem itu. "Gue tambahin nih sekalian uang saku kalo lo mau jalan sama Ibu. Dasar ya lo itu bisa banget meres gue, saudara macam apaan ini?" Katanya ngomel jengkel.


"Oke, demi saudara dan liburan yang berharga gue terima tawaran lo. Tapi ingat, selama gue libur lo jangan ngelakuin tindakan aneh atau ganggu gue." Kata Yun tegas buat membatasi, kali aja kumat entar.


"Oke, deal?!" Kata Rega, "Pilih mobil yang mana lo mau gue mau ke toilet sebentar.


Sepeninggalan Rega, Yun memeriksa data diri wanita yang malam ini kencan dengan Rega. Dari data yang ia baca ternyata gadis ini bukan gadis biasa, dia dari kalangan orang terpandang dan mempunyai kedudukan yang tentu saja memiliki wajah cantik serta badan yang bagus. Nenek emang jago banget kalo masalah kayak gini, bahkan pilihan wanita dari Nenek gak ada yang gak cantik dan berkelas. Yun sampau habis pikir dari mana Nenek punya stok cewek sebanyak itu buat mereka berdua?


*********


"Om Rega." Sapa Ella riang dengan senyum sumringah.


"Wah, ni Om-om makin hari makin tua. Makin nambah deh pikunnya."


Om?


Sepertinya ia sedikit ingat sosok yang selalu memanggilnya Om, apa mungkin mereka orang yang sama. Tapi di liat dari sisi mana pun beda banget dari cewek tengil yang ia temui beberapa hari lalu.


"Malah bengong lagi, kesambet lo Om kalo kebanyakan bengong."


"Elo?" Berusaha mengingatnya dan menebak-nebak dan kalau tebakannya gak salah pasti cewek tengil dan ngeselin.


"Syukurlah kalo udah inget jadi gak harus ngingetin lagi."


Rega menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, kenapa juga harus ketemu sama tu bocah pas lagi sikonnya gak dukung kayak gini. Cuma bikin emosi sama naik darah doang ketemu tu cewek.


"Lagi janjian sama ceweknya ya Om?"


Penuh selidik melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kalo kencan gaul dikit lah Om biar ganteng maksimal, jangan pakai kayak gini nanti dikira mau kerja." Memberikan saran tapi yang dikasih saran gak nanggepi sama sekali dan berwajah datar.


"Kapan gue kawin sama Tante lo?" Katanya hampir meledak.


"Gak usah marah, nanti ganteng nya ilang diganti sama keriput."


Rega benar-benar harus menahan emosi tingkat dewa ketemu sama cewek ceriwis yang satu ini. Walau ia sudah menatapnya dengan tatapan mata dingin dan menakutkan tak mempengaruhinya. Tu cewek punya nyali yang gede apa karena gak peka?

__ADS_1


"Gue berharap banget gak bakal ketemu lo lagi dimana pun itu, bahkan di ujung dunia sekalipun."


"Tapi buktinya kita ketemu, gak usah jauh - jauh sampek ujung dunia." Katanya polos.


Rega mencengkram bahu wanita didepannya itu kuat hingga membuatnya sedikit meringis.


"Lo nguntit gue?"


"Apaan sih?" Melepas paksa tangan rega dari bahunya dan meninggalkan bekas merah pada kulit bahunya yang putih mulus itu.


"Gak ada sejarahnya nguntit orang. Kayak gak ada kerjaan aja. Om ini jadi orang kaku banget, pikirannya negatif mulu sama orang lain."


"Pantes lah kalo negatif apa lagi sama orang kayak elo yang perlu waspada saat ketemu."


"Enak aja, emang Ella buronan atau sejenisnya yang harus di waspadain kalo ketemu?" Katanya sedikit jengkel.


Tanpa sadar Rega menarik ujung bibirnya sedikit melihat gadis mungil yang berdiri hanya sampai dadanya itu menampakkan muka nya kesal, membuatnya sangat imut. "Setiap ketemu pasti gue sial."


"Yang harusnya bilang gitu Ella, bukan om. Tuh lihat...." Menunjuk perban di kakinya. "Karya seni yang Om bikin akibat meleng pas nyetir. Kan yang sial Ella bukan Om, orang yang di rugiin Ella kok." Katanya ketus, "Udah cantik kaya gini malah tu perban bikin merusak pemandangan."


Rega melirik ke bawah, benar ia lupa saat itu menyerempetnya dan meninggalkan luka disana. Ada sedikit rasa bersalah saat melihatnya.


"Om benci banget ya sama Ella?"


"Gak sempek tahap benci, cuma kuping gue panas lo ngoceh mulu."


"Selamat Om, artinya telinga Om masih waras dan berfungsi dengan baik." Menyalami Rega tanpa persetujuan darinya.


"Kan Ella pernah bilang kalo jodoh itu gak bakal kemana " Melambaikan tangannya dan meninggalkan Rega yang mematung.


*******


"Hai...,"


Yun meletakkan hp-nya dan mendongakkan kepalanya, tampak seorang wanita cantik di depannya dengan tersenyum ramah. Yun membalas dengan tersenyum juga, "Apa Anda nona Rani?" Katanya langsung.


"Iya, Anda?"


"Saya Yun." Mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Yun?" Rani mengerutkan dahinya, Bukannya nama nya Rega kok bisa ganti Yun???


"Saya sekertaris tuan Rega nona, karena tuan Rega saat sedang sibuk maka saya yang menggantikan beliau." Katanya Sopan dan tau apa yang di pikirkan wanita tersebut karena terlihat kebingungan. Janjian sama siapa yang datang malah siapa makanya bikin bingung.


Rani duduk dan bernafas lega, "Hah...,"


Yun merasa heran melihatnya, tu cewek bukannya kecewa malah senang.


"Susah ngomong formal kayak gini, kita ngomong biasa aja ya? Sebenarnya gue males datang ke acara kayak gini, tapi berhubung gue takut sama Ayah makanya gue datang."


"Jadi maksudnya?"


"Ya ampun... Jaman sekarang siapa sih yang mau di jodohkan. Lagian ya gue itu gak mau cepat-cepat nikah, masih banyak hal yang pengen gue lakuin sebelum gue nikah. Ayah aja yang agak kolot takut banget kalo anak gadisnya jadi perawan tua, baru 22 tahun itu belum tua-tua banget." Kata Rani kesal kalo ingat kata-kata Ayahnya yang maksa banget buat datang malam ini, dan untungnya tu cowok gak datang dan semuanya berjalan mulus seperti yang ia harapkan.


"Nona, kebanyakan wanita akan merasa senang saat mereka tau bahwa akan di jodohkan dengan tuan Rega."


"Itu bagi mereka yang pikirannya sempit dan gue bukan tipe wanita yang bakal nyerah dan menghabiskan masa muda gue buat cepet-cepet nikah, gue akan nikah kalo gue emang siap berumah tangga dan gak mikir dunia luar. Lagian kalo nikah sekarang terus pikiran gue masih kesana kemari kan gak bagus juga."


Yun mengakui apa yag Rani katakan adalah benar.

__ADS_1


"Mau itu Rega atau siapa pun, mau kaya kek, tampan atau apa pun itu gue gak perduli karena gue saat ini emang gak niat buat berumah tangga."


********


__ADS_2