
"Katanya Lo punya adik cewek kan?" tanya Chintya di sela memamahbiak yang ia lakukan, slah satu kegiatan paling menyenangkan yang Chintya lakukan selama masih bisa bernafas.
"Iya, gue punya satu adik cewek. sekarang lagi ikut bokap gue di Dubai." ujar Okta.
"Dubai?" mengulang apa yang Okta katakan, siapa yang gak tau dengan Dubai yang banyak orang bilang itu adalah surga dunia. Padang pasir yang di sulap menjadi negara paling menarik dan mengasikkan di dunia ini. bahkan ada mall yang mempunyai aquarium raksasa dan seluncur salju di dalamnya, atau fasilitas mewah lainnya yang membuat siapa pun ingin berlibur ke sana.
"Iya, bokap gue kerja di sana sebagai salah satu kontraktor. dua tahun yang lalu mommy dan bokap memilih buat pisah jadi gue yang anak cowok ikut mommy karena bertanggung jawab buat jaga Mommy dan Alexia ikut bokap." jelas Okt kali ini menceritakan keadaan keluarganya yang udah gak utuh lagi. tapi bagaimana pun itu ia dan adik perempuan nya menghargai keputusan kedua orang tuanya untuk berpisah, walau mereka tidak lagi terikat sebagai suami istri namun hubungan mereka sangat baik. perpisahan yang di lakukan atas kesadaran dan baik-baik sehingga tidak ada permusuhan sama sekali.
"Sorry, bukan maksud gue..." langsung gak enak Chintya.
"Gak pa-pa, lagi pula itu kenyataan. gue gak ngerasa sedih kok, lagian orang tua gue udah dewasa buat mengambil keputusan bagi mereka sendiri. hubungan saudara gak bakal bisa di pisahkan walau orang tua gue cerai, lagian bokap masih sering menghubungi Mommy dan masih memberikan kami nafkah setiap bulan."
Chintya mengangguk pelan, gak pengen nyambung cerita itu dan memilih mencari topik lainnya.
"Jadi ceritain tentang adik Lo sama gue."
"Alexia lebih muda tiga tahun di bandingkan gue, waktu kecil orang-orang mengira kami kembar karena Alexia tumbuh dengan cepat."
Chintya tersenyum kecil, membayangkan bagaimana Okta dengan adiknya yang di katain kembar itu karena badan mereka yang sama. kalo biasanya cowok itu tumbuh lebih cepat tapi ini adik ceweknya yang pertumbuhannya lebih cepat.
"Jadi sekarang Alexia masih kayak kembaran Lo?" tanya Chintya penasaran.
"Enggak lah, gue jauh lebih tinggi di bandingkan Alexia. Lo liat sendiri kan tinggi badan gue yang udah kayak tiang listrik?" menyentuh ujung kepalanya buat nunjukin tinggi badannya yang lebih subur di bandingkan dengan teman-teman Okta lainnya. ia mengambil Hp yang ada di dalam saku hodie dan mencari galeri di mana ia menyimpan foto Alexia yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu saat Alexia mengirimkan foto liburan bersama sang ayah.
"Lihat." Okta menyodorkan foto Alexia yang tengah berdiri di belakang pantai indah.
"Apa ini ayahmu?" tanya Chintya yang melihat seorang laki-laki setengah baya berdiri di samping seorang wanita cantik dengan rambut berwarna pirang.
"Iya, Alexia dan Daddy." kata Okta, "Alexia menghabiskan liburan dengan mengunjungi Maladewa dan gue menghabiskan liburan mengunjungi nenek." katanya lagi.
Chintya menatap takjub foto tersebut, bagaimana pun dan dari arah mana aja keliatan cewek yang namanya Alexia itu sangat cantik. walau memiliki warna rambut pirang, tapi Alexia memiliki kulit putih layaknya orang Asia bukan kulit putih pucat seperti kebanyakan bule dari luar negeri. mungkin faktor genetik yang ia dapatkan dari sang ibu yang merupakan warga pribumi dan rambut pirang itu Alexia dapatkan dari sang ayah yang juga memiliki rambut berwarna senada.
"Wow, adik Lo cantik banget..." kata Chintya dengan sangat jujur, ia mengagumi kecantikan Alexia yang merupakan perpaduan yang sangat sempurna antara barat dan Melayu. walau ga keliatan jelas mirip ayahnya tapi warna kulit Okta yang putih di bandingkan warga pribumi serta bola mata yang coklat jika di bandingkan dengan hitam cukup menjadi bukti kalau Okta juga memiliki darah campuran, di tambah dengan tinggi badan yang di atas rata-rata tersebut.
"Menurut gue biasa aja."
Plak!
Chintya menepuk tangan Okta yang ada di depannya itu gemas, kalo jenis kayak gitu aja di bilang biasa-biasa aja jadi gimana kriteria cantik menurut Okta?
"Cantik banget kayak gini Lo bilang biasa aja, berarti sekelas Angelina Jolie baru Lo bilang cantik gitu?" sambil nahan senyum.
"Enggak juga sih, kan tiap orang punya penilaian dan standar cantik atau tampan menurut mereka. menurut Lo cantik tapi gue biasa aja, tapi kalo menurut gue cantik belum tentu Lo bilang cantik juga kan?"
Chintya mengangguk pelan membernarkan apa yang Okta katakan, walau Okta bilang nya biasa aja tetap aja di mata Chintya Alexia tuh cuantik banget.
"Malah menurut gue lebih cantik Lo di bandingkan Alexia." kata Okta yang sebelum ngomong gitu mengumpulkan keberanian dulu, takutnya kalo salah ngomong bikin ni cewek ilfeel dan malah menjauh. Okta melihat ke arah Chintya dengan perasaan was-was dan harap-harap cemas, habisnya ni cewek gak ada tanggapan apa pun selain menatap layar hp nya yang ada foto Alexia dan juga bokap nya itu.
"Hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."
Tawa Chintya itu memecahkan keheningan yang terjadi beberapa detik setelah Okta mengutarakan pendapatnya, bukan cuma memecahkan keheningan doang tapi langsung menyita perhatian seluruh orang yang lagi santai menyantap hidangan manis di bakery tersebut. Chintya yang sadar udah menyita seluruh perhatian itu langsung menutup mulut yang refleks ngakak sendiri tanpa perintah waktu dengar apa yang Okta katakan.
Reaksi macam apa itu???
kalo cewek normal pas denger pujian langsung bersemu, malu-malu dan balik memuji tapi Chintya malah ngakak ketawa kayak gitu.
"Humor Lo oke juga." bisik nya dengan masih menutup mulut, takut kalo kelepasan ngomong kayak tadi.
Humor???
jadi ni cewek nganggap gue cuma ngomong doang?
Okta menarik nafas panjang sambil ketawa kecil, bukan ketawa karena selera humornya itu tapi menertawakan diri sendiri yang terlihat konyol saat melakukan semua ini.
__ADS_1
"Gue belajar ngelawak dari internet." katanya lagi, udah kecebur sekalian aja kan basah....
"Kapan-kapan ajari gue ya?" Balas Chintya yang gak merasa bersalah udah bikin pengakuan tulus dari orang menjadi bahan lelucon tersebut.
"Gampang, asal Lo siap mental."
Okta memilih untuk mengacuhkan apa yang Chintya katakan dan menganggapnya sebagai angin lalu, lagian dari sikap dan ekspresi wajahnya ni cewek gak bermaksud jahat dan semata-mata hanya tindakan polos yang ia lakukan. bukan merendahkan atau menghina, hanya saja mungkin Chintya belum mengerti tentang pujian yang tulus dan pujian yang hanya omong kosong yang sering banget cowok lakuin alias cuma gombal doang.
"kalo gue gak salah tebak tinggi badan Lo antara 155-160. bener gak?" ujar Okta dengan menyesap kopi original yang ia pesan, Okta adalah salah satu penggemar dan penikmat kopi. di mana pun dan kapan pun saat ia menikmati waktu luang, baik di rumah atau di luar ia selalu memesan dan meminum kopi sebagai minuman menemaninya bersantai.
"156 cm." ujar Chintya sambil tersenyum gambar, sadar diri aja kok kalo badannya tuh kecil mungil kayak anak SD. jaman sekarang anak-anak tumbuh lebih cepat di bandingkan dulu, entah karena makanan mereka atau karena banyaknya jenis vitamin yang di jual di pasaran.
Okta mengangguk pelan, tebakannya gak salah. habisnya ni cewek keliatan imut, pengen banget Okta liat Chintya makek dress imut kayak anime-anime gitu. pasti imut dan menggemaskan banget jadinya.
"Kalo umur lo?"
Masalah umur sendiri Okta gak bisa nebak, banyak banget kan orang yang terkecoh penampilan dengan umur.
yang punya muka boros dan badan bongsor keliatan lebih dewasa dan Mateng dari segi fisik tapi nyatanya mereka masih muda. ada juga yang badannya kecil dan imut ternyata umurnya udah lumayan, jadi penampilan fisik itu gak pernah bisa menjamin berapa umur yang mereka miliki.
"Kalo Lo bisa nebak tinggi badan gue, berarti Lo bisa nebak umur gue kan?"
"Menurut gue... kisaran 20-30 tahun...." tebakan yang cukup aman buat Okta.
"Ye.... itu bukan nebak uncle.... tapi lebih tepatnya itu asal ngomong aja. udah berapa? 20-30 itu selisihnya 10 tahun, jauh banget."
Okta menatap lekat wajah Chintya untuk memastikannya, dari apa yang ia lihat kayak masih anak ABG di bawah 17 tahun. tapi gak mungkin lah anak ABG udah nyetir yang artinya punya kartu ijin mengemudi, lagian Chintya pernah ngomong kalo dia liburan ke rumah eyang. sekarang adalah liburan untuk university yang artinya ni cewek udah kuliah dan gak mungkin umurnya baru 17.
"Lama banget mas mikirnya?" goda Chintya yang melihat muka Okta serius banget saat ini, cuma masalah umur aja seriusnya pakek banget.
"Gue nunggu Ilham buat nebak, gak usah ganggu gue." jawabnya dengan wajah serius yang di buat-buat.
Chintya menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya untuk menahan tawa, hari ini tu rasanya Chintya banyak ketawa. cowok yang namanya Okta ini bener-bener lucu tapi gak garing.
"Ok, gue tunggu Sampek tu Ilham datang dan ngasih tau berapa umur gue." ujar Chintya dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangannya.
Chintya menatap sebal Okta yang tiba-tiba aja langsung setengah teriak itu, gak pakek kode-kode dulu gitu biar orang lain gak kaget.
"Apaan sih?" tanya Chintya yang setengah kaget.
"sini tangan Lo," mengulurkan tangannya buat meminta tangan Chintya. "Bukan yang kiri tapi yang kanan," katanya lagi setelah Chintya mengulurkan tangan kirinya tersebut.
"Good girls...." ujar Okta setelah Chintya melakukan apa yang ia inginkan.
Okta memperhatikan setiap garis tangan yang ada, usah kayak peramal profesional atau lebih mirip dukun???
Chintya memiringkan kepalanya, heran.
ni cowok ngapain???
ikut-ikutan memperhatikan garis tangan nya, persis dengan apa yang Okta lakuin.
"Emang umur gue ada di sana? atau emang Lo bisa baca nasib orang?"
"Enggak." jawaban padat dan pintas yang Okta berikan, emang kenyataannya Okta gak bisa ngelakuin itu semua.
"Trus Lo ngapain?" tanya Chintya heran.
"Cuma mau liat doang, ternyata garis tangan lo kurang lebih sama garis tangan gue.". katanya setelah memperhatikan dengan sangat detail. Okta membuka tangannya dan memperlihatkan garis tangan yang ia maksudkan.
Chintya menatapnya tanpa berkedip, emang bener apa yang Okta katakan kalau mereka mempunyai garis tangan yang hampir mirip antara satu dengan yang lainnya. cuma ada sedikit perbedaan yang terlihat di sana, yaitu garis-garis halus.
"Emang apa artinya?"
__ADS_1
"Tanya sama google...."
"Ye...." Chintya menarik tangan nya dengan cepat dan menyembunyikan di bawah kursi "Gue kira apaan...."
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...." nie cewek percaya banget yang kayak gituan, kalo mau di gombalin bakal gampang banget tipe-tipe cewek macam Chintya yang polos atau mungkin sama sekali gak mempan saking polosnya.
"Ok, umur Lo kalo gak 22 tahun bisa jadi 23 tahun. bener gak?" tanya Okta.
"tau dari mana Lo?" tanya balik Chintya, bukannya jawab pertanyaan yang Okta berikan tapi malah nanya balik sama tu cowok.
"Iya bener."
"Tu kan apa yang gue bilang..." ujarnya dengan bangga, bangga bisa nebak dengan benar.
"Iya emang bener, tapi maksud gue bener-bener salah."
"Jadi?"
"21 tahun dan bulan februari entar umur gue 22 tahun."
Februari...
Okta menghitung bulan februari dari sekarang dan itu artinya dua bulan lagi, seulas senyum langsung terkembang di bibirnya. artinya ada waktu buat ngerayain ulang tahun Chintya bareng.
"Sekarang giliran gue, berapa tinggi badan gue?"
"Emang tinggi badan Lo berapa sih?" masih tetap sama yang tadi, gak di jawab malah balik nanya. kalo mereka jalan bareng dan berdampingan, keliatan banget kalo Chintya sangat-sangat kecil di samping Okta. malah berasa kayak anak SD, buat liat ke arah Okta aja Chintya harus mendongak kan kepala. kalo gak gitu gak bakal bisa liat Okta, tiap hari kayak gini tu leher bisa keseleo beneran.
"Coba tebak berapa?" tantang Okta.
"170?"
Okta menggeleng.
"175?"
Lagi-lagi Okta menggeleng mendengar jawaban Chintya yang dari tadi salah melulu itu.
Dua kali kasih jawaban tapi salah terus bikin Chintya bertanya-tanya tu cowok tinggi sebenarnya berapa?
"Gue males ah main tebak-tebakan." katanya menyerah, kalo di ukur sama tinggi badan Yun keliatannya Okta lebih tinggi lagi. tapi gak tau juga berapa tinggi badan Yun, soalnya gak pernah nanya sama orangnya apa lagi langsung ngukur.
"196." katanya dengan bangga, bangga lah punya tinggi badan yang di atas rata-rata dan menjadi pusat perhatian semua orang. apa lagi yang paling sering tu jadi pusat perhatian cewek, walau Okta gak pernah merespon itu semua.
"Hah????"
Chintya ternganga dengarnya, untuk warga lokal dengan tinggi 192 itu luar biasa. bisa metik mangga di rumah tanpa bantuan tangga dan kursi, emang bener-bener praktis.
"Emang kenapa?"
"Gue rasa kita bisa join bisnis bareng buat manfaatkan tinggi badan Lo."
"Bisnis apaan???"
Udah beberapa kali Okta di tawarin orang yang gak di kenal di jalan buat jadi model fashion label pakaian, tapi Okta selalu menolak dengan alasan itu bukan dunia yang ia inginkan. Okta sama sekali gak tertarik dengan dunia selebriti atau sejenisnya yang mengundang perhatian publik.
"Bisnis pasang lampu dari rumah ke rumah." jawabnya sambil cengengesan, bayangin Okta jadi tukang lampu itu Chintya geli sendiri. gimana gak geli kalo bakal banyak banget ibu-ibu yang antri buat di pasangin lampu di rumah mereka dan yang terparah dari semua itu adalah tu ibu-ibu sengaja buat rusakin lampu mereka biar bisa di pasangin sama Okta.
Jauh banget dari perkiraan Okta dan Okta hanya tersenyum menanggapinya, gak pernah terbayangkan kalau Chintya bakal punya ide kayak gitu.
"Boleh, gue terima tawaran Lo dengan syarat."
"Apa?"
__ADS_1
"Gue cuma pasangin lampu di rumah Lo." ujarnya.
******