
Bukan hanya seulas senyum yang lolos dari bibir Yun tapi juga tawa kecil saat melihat tingkah konyol wanita di depannya itu dengan gumaman yang mengandung umpatan mampu membuatnya merasa lucu saat melihatnya, bukan hanya umpatan tapi tingkah konyol yang di lakukan itu mengingatkan Yun tentang tingkah anak kecil yang sedang marah da merajuk. Ternyata masih ada orang yang tubuhnya dewasa tapi jiwanya masih anak balita.
"Buat ngejar satu cowok aja salah kaprah gimana mau di kejar cowok kalo kayak gini????"
Kata-kata itu yang membuat senyum di wajah Yun memudar, berubah menjadi raut wajah serius seketika. Pantas aja Chintya bersikap biasa-biasa saja saat di jodohkan dengan Rega yang ternyata tu cewek udah punya orang yang ia sukai bahkan saat ini berniat untuk mengejarnya. Ada rasa kesal saat Yun mengetahuinya dan itu membuat wajahnya yang tadi secerah matahari terbit kini berubah menjadi segelap mendung menjelang badai. Yun membalikkan badannya, moodnya hilang untuk melanjutkan olahraganya dan berencana kembali ke apartemennya. Entah kenapa suasana hatinya menjadi buruk dan untuk itu ia memilih untuk kembali.
******
Sebelum ia pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa steel baju cantik dan lucu yang ia inginkan, wanita berambut panjang itu membelokkan mobilnya menuju sebuah mini market untuk membeli beberapa cemilan untuknya di rumah. Memarkirkan mobilnya di dekat pohon yang rindang dan melepaskan topi yang sejak tadi ia kenakan, melemparnya sembarang ke kursi belakang hingga tergeletak di atasnya secara sempurna seperti di letakkan dengan sengaja. Chintya mengambil tas ransel mungil, ia lebih nyaman memakai tas berjenis seperti ini walau terkesan tomboi. Baginya lebih praktis dan simpel di bandingkan memakai tas berjenis lainnya. Saat keluar dari mobil, ia melihat sebuah mobil yang terparkir tepat di sampingnya. Mobil sport berwarna merah menyala itu membuat keningnya berkerut, sejak dulu ia menginginkan mobil sejenis ini namun Eyang selalu saja menolak dengan berbagai alasan yang membuat Chintya akhirnya mengalah di bandingkan harus berdebat dengan sang Eyang yang gak bakal bisa menang melawannya.
__ADS_1
Chintya melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam minimarket, sebelum menentukan langkahnya ia melihat sekilas mencari tempat di mana berjejer rak-eak berisi cemilan yang ia inginkan. Saat melihat barisan rak yang ia maksud dengan cepat Chintya menuju ke sana danx sebelumnya ia mengambil keranjang belanjaan untuk menaruh beberapa cemilan favoritnya untuk ia bawa pulang. Mata Chintya berbinar bahagia saat melihat deretan kudapan yang akan menemaninya menghabiskan waktu santai di rumah. Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil beberapa bungkus besar jenis keripik kentang dan beberapa kudapan lainnya. Saking asiknya Chintya tak menyadari bahwa isi keranjang belanjaannya telah terisi penuh, dan mengakhiri petualangan kudapan untuk kali ini. Tak lupa ia mengambil beberapa pouch susu segar dan juga jus kalengan, setelah semua yang ia inginkan masuk ke dalam keranjang saatnya Chintya bergegas pergi ke kasir untuk membayar apa yang telah ia ambil. Belum sampai ke kasir langkahnya terhenti melihat sosok laki-laki yang tadi sempat ia buntuti, laki-laki yang sempat membuatnya salah orang yang bikin malu luar biasa. Siapa lagi kalau bukan Yun...
Yun yang rasanya haus banget habis olah raga memilih untuk mampir ke mini market terdekat dari taman, membeli minuman dan beberapa jenis makanan mentah yang akan ia bawa pulang untuk minta masakkan asisten rumah tangga yang sudah ia anggap sebagai ibu keduanya tersebut. Yun mengambil beberapa sayur mentah dan beberapa ikan segar serta beberapa bumbu yang ia inginkan, walau pun Yun jarang sekali memasak dan berada di dapur atau lebih tepatnya emang gak pernah masak tapi setidaknya ia tau beberapa bumbu dan sayuran serta ikan. Suasana hatinya hari ini sedikit gak enak dan maunya makan sesuatu yang pedas buat mengusir rasa itu dari dalam hatinya biar gak mempengaruhi aktifitasnya esok hari.
"Hai...,"
Yun menoleh ke arah datangnya suara yang ia rasa tidak terlalu jauh dengannya berada, tepat di sampingnya seorang wanita tengah berdiri dengan menenteng keranjang belanjaan yang terisi penuh di tangan dan tersenyum ke arahnya. Yun mengalihkan wajahnya seolah tak melihat apa pun dan tidak mendengar apa pun, kembali mengalihkan perhatiaanya ke arah jejeran sayur yang ada di depan dan berpura-pura memikih beberapa.
Yun yang tadiny meu ngambil sayur berwarna hijau yang entah apa itu namanya langsung menguringkan niatnya, berpaling dan menatap tajam cewek cerewet di sampingnya itu. Udah dari tadi di cuekin malah gak peka dan masih aja nyerocos, "Emang apa urusan lo?" Katanya ketus dengan raut wajah sebal yang sangat terlihat dan sengaja ia tunjukkan ke arah Chintya, berharap wanita itu akan segera pergi dari dekatnya.
__ADS_1
"Gak ada sih," Ucap Chintya sambil menundukkan wajahnya, "Tapi sesama orang yang saling mengenal masak pas ketemu gak saling sapa? Gue lewat gitu aja dan pura-pura gak liat lo gitu?"
"Tapi gue gak suka lo sok akrab sama gue." Sekilas Yun melihat ke arah kening Chintya dan merasa bersyukur bahwa luka memar dan benjol yang semalam ada di sana sudah hilang.
"Akh ini...," Chintya memegangi keningnya dan mengusapnya pelan, "Udah ilang kok benjolnya." Jawabnya saat Yun melihat ke arah sana, kalo bisa suara hatinya bersorak sorai dan kedengaran pasti semua orang denger seberapa senangnya ia saat ini.
Yun tersenyum sinis, "Emang siapa yang nanya? Gue gak perduli tentang semua itu."
"Kali aja kan lo mau tau, jadi sebelum lo nanya gue kasih tau dulu." Menurunkan tangannya dan tersenyum malu. Ya ampun Chint, lo malu-maluin aja.... Pede banget lo mikir kayal gitu, mana mungkin lah Yun itu perhatiin lo sampek segitunya???
__ADS_1
Ha ha ha ha ha...
Selain halu ternyata gue sekarang itu tingkat narsisnya berlebihan dan sampek obesitas pedenya. Hiks-hiks....