Labirin Cinta

Labirin Cinta
Toko Roti


__ADS_3

Akhirnya Chintya bisa bernafas sedikit lega pas liat sebuah toko yang ada di pinggir jalan, buru-buru dia belokin mobilnya buat beli oleh-oleh yang udah dari tadi eyang intruksikan. Kalo gak kayak gitu entar bakal panjang lagi ceramah yang ia dapat, yang ini aja udah lumayan panjang dan bikin senam pernapasan serta bikin telinga berasa berasap apa lagi kalo Sampek di tambah lagi yang gak tau deh apa yang bakalan terjadi.


Mau belok aja loh banyak banget petuah yang di dapat, dari yang hadap kanan dan hadap kiri, tengok kanan dan tengok kiri, yang liat bener-bener atau berbagai macam instruksi lainnya yang berada kayak lagi ikutan pelajaran baris berbaris pas kita Pramuka.


Setelah melewati serangkaian petuah beserta kesan dan pesan akhirnya Chintya memarkir dan mematikan mobilnya di depan toko tersebut.


"Beli apa nih Eyang?"


Kalo kata pepatah itu malu bertanya sesat di jalan, kalo ini beda lagi keadaannya. Malu bertanya sesat di kepala. Salah beli entar malah jadi belibet dan mendingan nanya yang gak bakalan salah lagi.


"Terserah ae ndok, seng penting pantes di gowo." (Terserah aja nak, yang penting pantas buat di bawa.) Sambil membuka tas dan mengulurkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, memberikan uang tersebut kepada cucu perempuannya.


"Eyang mau beli minuman apa? Soalnya Chintya haus nih mau sekalian beli minuman."


Tanya Chintya sebelum keluar, padahal udah buka pintu mobil.


"sak karepmu ndok, asal iso di ombe." (Terserah kamu nak asal bisa di minum.)


Chintya merapatkan jaket berbahan rajut yang ia kenakan, cuaca hari ini kurang mendukung karena terlihat awan yang sedikit gelap di bagian langit lainnya dan angin yang berhembus agak lumayan dingin. Gadis manis itu menatap langit yang seakan-akan siap menumpahkan air yang telah ia tampung setiap saat, bukan karena ia tidak menginginkan hujan datang saat ini tapi lebih tepatnya menikmati awan mendung tersebut yang saat ini terlihat lebih menarik di bandingkan biasanya. Kalo biasanya mana sempat Chintya memperhatikan yang kayak ginian, tapi entah lah....


Chintya hanya merasa mungkin Yun sama seperti awan mendung tersebut, terlihat kelam dan gelap namun ada sesuatu yang menarik di sana. sesuatu yang membuat Chintya merasa ingin tau apa yang sebenarnya membuat laki-laki itu seperti awan gelap tersebut, ingin tau apa yang sebenarnya ia simpan dan rasakan hingga menjadi sosok seperti itu. Chintya yakin kalau semua itu hanya tampak dari luar dan jauh di dalam sana Yun memiliki sesuatu yang tidak sama dengan apa yang ia perlihatkan saat ini.


"Ndok, Kowe nyopo?" Tegur eyang melihat cucu perempuannya malah bengong sambil liatin langit yang keburu hujan. (Nak, kamu kenapa?)

__ADS_1


Sadar dari lamunan itu membuat Chintya langsung bergerak, iya melangkahkan kakinya yang tadi diam di tempat itu untuk bergerak cepat. Gadis itu merasa kalau udah gak beres sama otak dan pikirannya, semua yang ia lihat langsung ia hubungkan dengan laki-laki tersebut. Benar-benar bikin pusing dan membingungkan, rupanya ia telah jatuh cinta dan mencintai sosok dingin dan kelam itu sangat dalam di mana semua hati dan pikirannya hanya terisi oleh sosok yang selalu menyita waktu dan perhatiannya tersebut.


Chintya memasuki toko tersebut dengan berharap mendapatkan apa yang ia inginkan, keliatan dari luar toko yang ia masuki ini terlihat kecil tapi pas masuk ke dalam ternyata beda banget. Ternyata terlihat lebih besar di bandingkan luarnya dan tentu saja banyak banget yang menarik buat ia lihat.


Toko yang terletak di pinggiran kota ini sungguh sangat lengkap, bukan hanya bahan makanan pabrik yang mereka jual tetapi bahan makanan mentah.


mereka menyediakan berbagai macam roti yang harumnya sangat menggugah selera dan menyusunnya dengan sangat rapi dan menarik, roti-roti cantik dan enak itu kelihatan baru aja keluar dari oven dan itu langsung bikin Chintya lapar.


Aneka macam cake cantik pun ada, jajanan pasar tradisional dan masih banyak lagi yang langsung insting berburu kuliner Chintya bangkit. Bakal kalap mata dan tangan ini kalo liat kayak ginian....


Berbagai macam buah segar pun ada, sayuran segar, ikan segar dan masih banyak lagi.


Ini konsepnya udah ngalahin minimarket yang ada di kota, walau di pinggiran kota tapi ini udah luar biasa dengan semua tersedia.


"Ok Chint, mari kita lihat apa yang bisa kita dapatkan buat ngisi perut kali ini." Ujarnya bersemangat, semangat liat makanan enak yang tersusun rapi di depan sana siap untuk di pilih dan di eksekusi.


******


soalnya banyak banget orang yang melakukan aktifitas dan itu bikin setiap sudut jalan selalu ramai dan terisi oleh orang-orang yang selalu sibuk dengan berbagai macam urusan dan kegiatan yang mereka lakukan dan menuntut untuk melakukannya.


Ada satu tempat favorit yang ingin Alex kunjungi, sebuah toko pinggir kota yang selalu menjadi langganannya.


Bukan tanpa alasan Alex memilih toko tersebut, karena toko yang terlihat kecil tersebut menyediakan semua keperluan yang ia inginkan. Bisa di bilang serba ada dan lengkap, makanya walau agak jauh dari rumahnya Alex tetap setia dan selalu ke sana.

__ADS_1


Bayangan roti-roti lembut dan harum itu udah ada di depan matanya, rasanya udah gak sabar buat nyicipi mereka satu persatu dan itu bakal Alex lakukan karena udah niat kalo bakal beli semua jenis roti yang toko itu sediakan. Tapi kali ini Alex gak cuma beli roti dan makanan yang udah siap makan, berhubung ia membawa Yun bersama dan itu artinya ia juga harus menyediakan makanan mentah segar karena cowok itu lebih suka makan dan masak makanan sehat bukan makanan siap saji sepertinya. Gak jadi masalah kalo cuma beli doang, kan dia juga gak masak. Yun itu hebat banget dalam hal masak memasak yang gak kalah sama chef bintang lima atau bahkan bisa di bilang lebih jago lagi. Rasanya iri juga sih sama Yun yang bisa ini dan itu, semuanya bisa di lakukan dan itu sangat sempurna tanpa cela.


Alex tersenyum masam kalo ingat hal tersebut, Yun yang sempurna dalam segala hal dan itu artinya dia gak ada apa-apanya kalau mereka di bandingkan. satu hal yang bikin Yun gak bakalan bisa bandingin dia yaitu dalam urusan cewek, itu udah kalah telak. Walau sempurna dalam segala macam hal tapi dalam urusan yang satu ini Alex punya pengalaman yang lebih dan itu gak perlu di ragukan lagi.


Seringai penuh kemenangan akhirnya terukir jelas di wajahnya, kalau masalah cewek gak bakalan lah mereka rebutan soalnya gimana pun Yun gak bakalan ngelirik sama yang namanya cewek dan itu adalah sebuah keberuntungan yang membuat Alex gak banyak aksi buat rebutan perhatian dari cewek.


Alex memarkir mobilnya di tempat biasa ia melakukan, maunya sih gitu tapi nyata-nya gak bisa karena tempat yang biasa ia tempati kini di gantikan oleh mobil lain. Laki-laki itu mengerutkan keningnya, seperti pernah melihat mobil berwarna merah itu di suatu tempat. Tapi lupa di mana ia pernah melihatnya, lumayan lama Alex memandangi mobil itu sambil mikir dan akhirnya tu cowok menarik kesimpulan.


pusing mikirin, kan di dunia ini mobil gak cuma satu. banyak yang sama dan lagian sehari Lo bisa liat yang sama kan?


Alex mengambil dompet dan turun dari mobilnya, persis banget parkir di samping mobil itu. Rasa ingin tahunya itu timbul lagi dan mendorongnya untuk mencari lebih jauh lagi, tanpa ragu ia melihat plat mobil yang ia ketahui bahwa bukan dari tempat ini dan itu berasal dari kota tempatnya tinggal. Lagi-lagi alisnya berkerut sambil mikir, Jarang banget orang kota nyasar ke sini


Rasa ingin tahunya semakin besar dan yakin kalau emang pernah liat ni mobil di suatu tempat dan bukan cuma kebetulan tapi lupa dimana itu. Pengen banget liat ke dalam tapi gak bakalan bisa soalnya tu mobil pakek kaca hitam yang gak keliatan dari luar, masak iya nempelin mukanya di sana sambil liat di dalam?


kalo ketahuan sama yang punya bakal malu banget dan di kira mau apa coba kayak gitu kalo gak penguntit atau maling. Alex berusaha membuat pikirannya tetap pada logika di bandingkan di dengan rasa penasaran yang udah mau meletus itu, pas lewatin pintu mobil berwarna merah itu Alex berusaha keras buat mengalihkan perhatiannya dan itu sepertinya berhasil. Buktinya sekarang udah di depan pintu toko favorit nya dengan selamat tanpa harus nempelin mukanya di sana.


Harum roti yang pertama kali indera penciumannya tangkap saat memasuki dan melangkah kan kakinya di dalam sana, aroma yang sangat ia sukai dan tentu saja itu bikin cacing di dalam perutnya berdendang ria tak terbantahkan. Memberikan kesempatan buat hidungnya menikmati betapa harum aroma mentega bercampur telur yang di panggang dan menggugah selera itu membuat Alex pengen banget suatu hari punya toko roti sendiri yang bakal ia kelola dan kembangkan. Yang jadi masalah adalah dia itu gak bisa dan gak tau menahu tentang dunia roti, taunya cuma makan dan makan bukan bikin dan ngadon. Kalo ngadon perasaan buat cewek baper mah itu udah keahlian dan kerjaannya, atau bikin cewek cantik dengan tangan kreatifnya juga menjadi keahliannya juga. Bukan masalah, bisa aja kan entar ngambil kursus buat bikin kue atau aneka cake yang bakal asik, bayangin aja udah bikin tu cowok cengar-cengir. Apa lagi bayangin nya kalo pas bikin tu tutornya cewek cantik dan seksi, komplit dah kebahagiaan yang ia bayangkan.


Chintya yang asik loncat sana, loncat sini buat milih mana yang di mau (Semuanya keliatan cantik dan enak jadi bingung mau yang mana dan akhirnya semua jenis masuk ke dalam nampannya) memalingkan wajahnya saat terdengar suara pintu terbuka, antar percaya sama enggak dia liat seorang cowok yang kayaknya pernah dia liat. Tapi agak lupa di mana ketemu sama tu cowok tapi yakin deh kalo emang pernah liat, sambil mikir sambil ngitung berapa jumlah roti yang udah masuk dalam list nya dan akhirnya ingat kalo cowok jangkung yang berdiri di depan pintu sambil merem dan sambil cengar-cengir gak jelas itu adalah cowok yang udah bikin dia tampil cantik kali ini. Siapa lagi kalo bukan cowok pemilik rumah cantik alias salon yang ia datangi beberapa hari lalu, tapi kok bisa ketemu di sini?


Di bandingkan bingung sendiri Chintya lebih memilih nyamperin dan menyapanya secara langsung, entar kalo gak di sapa atau gak liat di kira bakal sombong. Apa lagi Chintya harus berterimakasih karena tangan terampil itu sekarang ia lebih percaya diri lagi dan itu membuatnya jauh lebih baik.


Chintya tersenyum geli melihat tingkah konyol dan aneh tu cowok, gimana gak aneh kalo di depan pintu masuk tu cowok yang Chintya lupa siapa namanya itu merentangkan tangannya udah berasa kayak di pantai aja sambil memejamkan mata dan cengar-cengir gak jelas banget. Gak tau apa yang di lakuin dan di bayangin saat ini tapi yang jelas berasa banget aura-aura menghayal yang yg terpancar sangat kuat dari sana.

__ADS_1


"Hai?!"


*********


__ADS_2