Labirin Cinta

Labirin Cinta
Playboy jatuh cinta


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Alex setelah berhasil menyulap dan menata rambut Chintya hingga membuat layers-layers yang sangat cantik di sana.


"Betul ini rambut gue?" Tanya-nya yang gak percaya dengan apa yang di lihat dan kalau di bentuk kayak gini rasanya muka Chintya berbeda dari sebelumnya. Takjub melihat pantulan dirinya di depan cermin membuat wajah Chintya memerah.


Alex memegang kedua bahu Chintya, menghadapkannya ke arah cermin dan tersenyum. "Bagus Kan???"


Chintya mengangguk cepat, membenarkan apa yang Alex katakan karena dirinya memang benar-benar berubah dan menjadi lebih cantik di bandingkan tadi. Menjadikan Chintya jadi lebih percaya diri lagi menghadapi Yun nanti.


"Lihat kan, hanya dengan mengubah sedikit saja dari bagian diri dan lo terlihat lebih cantik."


"Iya, gue gak nyangka kalau bisa secantik ini hanya karena memotong rambut." Rasanya nyesel kenapa gak dari dulu aja Chintya melakukannya, ia terlalu cuek dengan penampilan sehingga membuatnya menjadi wanita yang tidak menarik bagi kaum laki-laki.


"Baik nona, apa kah kita masih akan melanjutkan memberikan warna pada rambutmu ini?" Tanya Alex.


"Tentu saja, lakukan apa pun yang menurut kamu itu bagus." Kata Chintya yang seratus persen percaya dengan apa yang akan Alex lakukan, hanya seperti ini saja ia terlihat sangat berbeda dan merasa percaya diri. Apa lagi kalau semuanya telah selesai yang bakal bikin Chintya menjadi semakin percaya diri lagi.


"Oke Baby, kita akan melakukan sesuatu yang akan mengubah hidupmu." ujarnya dengan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


******


Alex masih memandangi pantulan dirinya di depan cermin, kini ia hanya seorang diri dalam ruang kerjanya yang ia dekor dan tata sedemikian rupa hingga memberikan kesan lucu dan nyaman bagi kaum hawa. Karena kliennya mayoritas adalah wanita sehingga ia menata dari sudut pandang wanita. Wanita yang baru saja keluar dari tempatnya itu meninggalkan kesan mendalam buat Alex, entah mengapa ia merasa bahwa mereka pernah bertemu dan merasa sangat familiar dengannya. Perasaan yang menurut Alex sangat sulit untuk ia gambarkan mengenai wanita tersebut. Laki-laki bermata biru itu mengusap kasar wajahnya, mencoba membuang bayang-bayang yang selama ini menghantui setiap malamnya. Memejamkan matanya rapat-rapat mencoba menata hatinya yang bergejolak, senyum kecil tersungging di bibirnya saat mengingat kembali apa yang telah ia lakukan. "Chintya...," Gumamnya dengan menyandarkan kepalanya pada dinding yang ia lapisi dengan wallpaper bernuansa salem. Wajah Chintya untuk pertama kali datang dan masuk ke dalam ruangan kerjanya itu terlihat jelas dalam bayang nya, bahkan yang lebih mengerikan sikap malu-malu dan senyum gadis manis itu terekam dengan sangat jelas di memori kepalanya. Membuat Alex harus berusaha dengan keras menstabilkan ledakan emosi yang ia rasakan, bagaimana mungkin seorang gadis mencuri perhatiannya dengan sangat cepat seperti ini. Membolak-balikkan hatinya dengan sangat cepat dan membuatnya seperti cacing kepanasan karenanya.


"Lo ngapain duduk di bawah situ?"


Alex membuka matanya dan menoleh ke arah suara yang cukup ia kenal tersebut, dan ternyata benar bahwa orang yang ia tebak dengan sangat akurat berdiri di depan pintu membawa bungkusan plastik di tangannya. "Gue cuma duduk buat cari suasana yang agak berbeda." Sambil berdiri dan menghampiri tamu sekaligus temannya. "Lo bawa apaan?" Melihat ke arah kantong plastik yang di bawa.


"Ini? Kopi seperti biasa." Meletakkan di atas meja dan duduk dengan menyilangkan kaki, "Ruangan kerja lo udah kayak rumah barbie." Kata Yun dengan mengedarkan pandangan matanya, menyelisik ke setiap sudut ruangan yang terkesan sangat feminim.


Yun dan Alex adalah sahabat, mereka berkenalam secara gak sengaja di sebuah aplikasi pencarian jodoh. Bukannya jodoh yang mereka dapatkan melainkan teman sesama jenis yang akhirnya mereka menjadi sahabat seperti ini.


"Ya-ya-ya...,"


"Lo ngapain tadi senyum-senyum sendiri?" Tanya Yun yang saat membuka pintu melihat Alex tersenyum seorang diri di tempat yang gak berpenghuni selain dirinya sendiri. Senyum dengan pose yang sangat aneh menurutnya.


"Akh itu..," Langsung duduk dan bersemangat saat Yun menanyakan. "Kayaknya gue jatuh cinta dengan seseorang."

__ADS_1


Yun mengambil kopi bagiannya, menyeruputnya dengan pelan dan menikmati rasa yang ada di sana. Ungkapan jatuh cinta yang Alex katakan adalah sesuatu yang sangay biasa di telinganya, seorang playboy seperti Alex sangat mudah untuk yang namanya jatuh cinta terhadap setiap wanita cantik yang ia temui. "Gak ada cerita lainnya?"


"Ayolah...," Tertawa kecil ke arah Yun yang tau kalau saat ini mengangganya angin lalu, "Yang ini berbeda di bandingkan sebelumnya." Duduk di depan Yun, "Spesial dan tenty saja limited edition." Katanya lagi dengan mengedipkan matanya sebelah.


"Semuanya juga lo bilang spesial dan akhirnya?" Udah biasa denger kayak ginian, dengan wajah dan pembawaan yang menyenangkan bukan hal yang sulit buat Alex mendapatkan wanita untuk ia jadikan teman kencan. Hanya untuk satu atau dua kali kencan ia menjadi bosan dan berganti dengan wanita lainnya, begitu terus yang ia lakukan.


"Awalnya mereka memang spesial, tapi akhirnya membosankan." Ujarnya dengan tatapan mata serius, "Lo tau kan kalau selama ini gue cari seseorang bisa membuat hati gue gundah, membuat jantung gue serasa meledak dan membuat kepala gue selalu memikirkannya." Lagi-lagi Alex tersenyum saat mengingat wajah manis yang telah mencuri selurih hati dan perhatiannya itu, "Dan gue dapet semua itu hari ini, paket lengkap."


Yun hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan kata-kata seorang playboy yang dari jaman dahulu sampek sekarang gak berubah. "Terserah lo mau ngomong apaan, yang jelas sekarang rapikan rambut gus yang udah lumayan panjang ini." Kalo kelamaan dengar ungkapan-ungkapan cinta dari Alex itu bisa-bisa gendang telinganya jebol.


"Hei bro..., Lo itu keren kalo rambutnya di panjangin sedikit." Bahkan Alex merasa iri dengan wajah tampan yang Yun miliki, kalau bisa milih dia bakalan milih punya wajah kayak gitu. "Dengan wajah tampan dan tatanan rambut yang keren, gue yakin banget kalo lo bisa dapetin cewek mana pun di dunia ini."


"Udah lah, gak usah ngomong yang gak jelas. Gue gak tertarik dengan genre percintaan kayak lo." Katany berdiri dan mengambil tempat untuk memotong rambutnya. "Gak ada wakti buat ngurus hal kayak gitu."


"Lo bisa ngomong gitu karena lo belum ketemu sama belahan hati lo yang masih di luar sana." Alex mengambil jubah princess yang berwarna pink.


"Lo gak ada warna lain apa?" Liat warna pink yang Alex pegang.

__ADS_1


"Gak ada, udah gak usah bawel dan pakek aja." Mengalungkan dan menjepit bagian-bagian tertentu biar gak melorot, "Terima aja." Bisiknya dengan melihat wajah kesal Yun saat ia memakaikannya


__ADS_2