
Hi semuanya....
Kasih dukungan buat author dengan cara yang sangat-sangat simpel.
Like, komen dan Vote ya...
Jangan lupa kasih rating bintang lima buat novel author biar masuk ranking dan lulus review yach...
Makasih.....
*******
Yun yang awalnya cuek dan merasa masa bo*oh dengan keberadaan Chintya di sampingnya itu dan menganggap tu cewek gak ada langsung terheran-heran saat cewek cerewet itu tiba-tiba duduk dan menangis kayak anak kecil, gak ada hujan dan gak ada angin tu cewek langsung mewek dan bisa-bisanya ngelakuin itu di tempat umum kayak gini yang lumayan banyak orang liatin nya. Belum selesai rasa kagetnya, malah datang seorang ibu-ibu yang menyangkut pautkan peristiwa nangisnya tu cewek dengannya. Emang apa salah dan dosa Yun sampek harus kena imbasnya yang gak tau apa-apa? Cuma gara-gara posisinya deket aja udah langsung jadi tersangka utama yang langsung bikin semua mata memandang ke arahnya dengan tatapan mata menghakimi secara sepihak dan menyalahkannya.
"Kalau bukan apa-apa kenapa kamu menangis seperti ini?" Katanya bingung, melihat ke arah samping tempat seorang laki-laki berdiri. "Apa karena ulahnya?" Tanya-nya lagi dengan melihat tajam, mencoba menelisik dan mencari tau dari tatapan matanya yang jelas-jelas menyalahkan laki-laki yang berdiri dengan santai tersebut.
__ADS_1
"Hah???" Cuma itu tanggapan yang bisa Yun berikan, dari mana coba bisa langsung menjatuhkan vonis tanpa bertanya dan mencari tau terlebih dahulu. Emang yang namanya Ibu-ibu luar biasa insting pemangsanya yang tanpa ba bi bu langsung ca ci cu.
"Hei anak muda, jangan mentang-mentang punya wajah cakep kamu bisa nangisin anak perempuan orang." Katanya dengan menatap sebal, laki-laki yang ia lihat hanya terdiam memaku memandanginya dengan tatapan mata bingung tak berdosa. Dasar laki-laki, udah salah tapi gak mau ngalah dan apa itu? Tatapan mata tal berdosa nya buat mengelabuhi orang lain. Sorry aja ya nak, emak udah banyak makan asam garam jadi hapal betul kebiasaan kalian kaum laki-laki.
"Ibu ngomong apa? Saya tidak pernah membuat anak orang lain menangis dan menyakitinya." Jawab Yun yang males banget berdebat dengan Ibu-ibu yang dalam kamusnya itu bener atau salah gak penting yang penting apa pun itu harus bener.
"Buktinya? Kita semua liat. Betulkan?" Ujarnya dengan mencari dukungan dari orang sekitarnya untuk menguatkan alibinya.
dan langsung mengiyakan.
"Maaf ya bu, saya bahkan tidak terlalu mengenal wanita tersebut jadi tolong anda jangan membuat pandangan dari sudut pandang anda sendiri yang dapat merugikan orang lain."
"Tidak sayang, Ibu sangat tau bagaimana perasaan kamu yang gak di anggap. Laki-laki seperti dia ini memang harus di beri pelajaran supaya bisa menghargai istrinya sendiri."
Kalo aja tu keselek mungkin saat ini Yun keselek timun yang ada dalam keranjang belanjaannya, dari mana coba sejarahnya kok bisa ngomong istri? Bahkan di liat dari bulan dan dari hongkong sekali pun gak bakal ada keliatan mereka berdua sebagai pasangan suami istri. G*la ni ibu, kok bisa mikir kayak gitu??? Bahaya kalo gue lama-lama di sini. "Maaf, saya bukan suami dia dan dia bukan istri saya." Jawab Yun yang mulai kesal, bukannya ngasih penjelasan yang jelas tu cewek malah diem dan pasrah-pasrah aja.
__ADS_1
"Anak muda, pasangan pengantin baru seperti kalian itu memang wajar bertengkar dan berselisih paham tapi membiarkan istri seperti ini juga gak baik apa lagi dengan tidak mengakuinya."
Yun bukan cuma mau tepok jidad tapi malah mau tepok tangannya ke tembok, antara mau ketawa sama mau memaki-maki denger omongan ibu-ibu yang dari tadi nyerocos gak karuan. Ni Ibu emang pinter banget sama yang namanya mengarang bebas dengan majas hiperbola, mungkin lulusan jurusan bahasa dulunya pas sekolah makanya udah jadi emak-emak pinter banget ngarangnya. "Ibu, bukannya saya sudah bilang kalau kami bukan suami istri." Masih berusaha ngomong secara lembut dan manusiawi, tapi gak tau entar kalo udah kesabarannya habis bakal mengaum kayak singa tapi maunya udah teriak sekencang-kencangnya biar semua telinga pada denger bukan cuma mata doang yang liat.
"Bener kok Bu...," kata Chintya yang sesekali sesenggukan, Ya ampun Chin... Akting lo itu yahut banget! Kayaknya lo habis ini bakal jadi aktris terkenal. Ho ho ho ho...
"Kamu diem aja gak usah belain suami kamu ini," Wanita itu berdiri dengan mendongakkan wajahnya karena tinggi badannya yang kalah dengan Laki-laki di depannya. "Kalau kalian bukan suami istri lalu ini apa?" Menunjuk keranjang belanjaan yang ada di tangan laki-laki itu, udah jadi kebiasaan kalo belanja bareng itu pasti cowoknya yang bawa belanjaan apa lagi tu keranjang isinya sayur dan bumbu dapur yang udah jelad itu belanjaan cewek.
"Ini?" Kata Yun sambil liat keranjang yang ia pegang, jadi ini segala sumber yang menjerumus kepada wacana yang dari tadi tu Ibu bilang kalau mereka suami istri. Cuma gara-gara keranjang yang isinya sayur doang??? Ya ampun... Dunia emang kejam banget.
"Iya mas, kasian mbaknya tu. Jangan sampek nyesel lo, entar kalo udah di tinggalin baru ngerasa." Celetuk seorang embak-embak yang dari tadi memperhatikan kejadian tersebut.
Udah lah, Yun kehabisan kata-kata. Mau ngomong apa aja gak bakal menang melawan segerombolan wanita yang pendapatnya selalu bener itu dan bakal buang-buang tenaga doang.
"Iya mas, seharusnya istrinya di manja dan sayang bukan malah di cuekin dan nangis kayal gitu." Satu lagi yang nambah ngomong gak jelas.
__ADS_1
Dan akhirnya...
Satu pun dari sepersekian orang yang ada di sana gak ada yang berpihak ke padanya yang bikin Yun ngerasa kalau dunia ini emang yang paling berkuasa adalah kaum wanita dan ibu-ibu. Gak ada yang bisa ngalahin pendapat mereka walau pun salah tapi di anggap bener. Yun meletakkan keranjang belanjaannya sembarang, menatap lekat cewek yang kata para emak-emak itu adalah istrinya. Istri instan gara-gara keranjang berisi sayuran itu saat ini sedang menundukkan wajah, keliatan menyedihkan dan memprihatinkan dari sudut pandang orang yang tersakiti tapi buat Yun menjadi sangat-sangat menyebalkan. Lo mau main-main sama gue rupanya? liat aja siapa yang bakal nangis beneran di sini, gue bakal bikin lo mengakui kesalahan lo sendiri di depan mereka. Kecebong kayak lo mau ngelawan ikan paus? Gak bakal bisa.....