Labirin Cinta

Labirin Cinta
Pancaroba


__ADS_3

Kayaknya hari ini Yun jadi pusat perhatian semua orang yang di mana aja dia berada mata setiap orang selalu tertuju padanya, udah di taman dan sekarang di lobi apartemennya sama aja. Bukan cuma satu atau dua orang yang liatin dia tapi semua orang yang berselisih arah dan jalan pasti langsung mengarahkan mata mereka ke arahnya. Kalo ini bukannya bikin ge-er tapi bikin gerah, berasa jadi orang yang udah ngelakuin suatu kesalahan dan semua orang lagi menghakimi lewat tatapan mata mereka.


Yun gak mau tau dengan apa penilaian dan pandangan orang-orang tersebut, yang ada dalam pikirannya saat ini bagaimana bisa membuat cewek yang ada dalam gendongannya itu sadar dan baik-baik saja. Bakal ribet urusannya kalo sampek anak orang kenapa-kenapa karena ulahnya.


"Selamat sore tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjaga keamanan apartemen saat melihat salah satu pemilik apartemen elit tempatnya bekerja itu berdiri di depan lift dengan menggendong seorang wanita yang ia perkirakan dalam keadaan tidak sadarkan diri, soalnya gak bergerak sama sekali tapi kalo dalam tahap mati sih gak mungkin.


Pak Dandi yang telah bekerja selama lebih sepuluh tahun di tempat ini hampir mengenal seluruh penghuni apartemen ini dan ia tahu bahwa laki-laki yang ia sapa itu bukan tipe laki-laki playboy dengan bergonta- ganti pasangan dan bahkan gak pernah membawa seorang wanita sebelumnya selain Ibunya, tapi kini ia datang dengan menggendong seorang wanita muda yang tidak sadarkan diri dan ia yakin bahwa telah terjadi sesuatu untuk itu ia menawarkan bantuan.


Yun menghentikan langkahnya saat pak Dandi menyapa dan menawarkan bantuan yang kebetulan banget sangat ia perlukan.


"Tolong bapak panggilkan dokter terdekat buat ke tempat saya secepatnya, bisa kan pak?" akhirnya Yun menerima tawaran bantuan, gak mungkin juga ninggalin ni cewek sendirian dalam keadaan gak sadar. walau gimana pun Yun merasa memiliki tanggung jawab penuh atas keadaan ni cewek.


"Tentu, saya akan melakukannya."


Pak Dandi segera melakukan apa yang di perintahkan dan menuju dokter yang paling dekat, dan seingat pak Dandi di dalam apartemen ada seorang dokter.


Yun memandangi pintu Lift yang masih tertutup, rasanya udah gak sabar pengen cepat ber denting dan terbuka. Mau pakek tangga darurat juga gak bakalan mungkin, malah tambah lama soalnya tempat Yun berada di lantai atas. Bakalan pegel encok tu kaki kalo naik tangga yang jumlahnya ribuan.


Cowok jangkung itu memilih membawa Chintya ke apartemen nya karena gak mungkin ngantar pulang dalam keadaan kayak gini, bisa-bisa di amuk sama orang rumahnya dan itu juga bukan tindakan cowok bener yang lari dari masalah. Setidaknya sampai pulih dan saat itu baru Yun mengantarnya pulang dalam keadaan sehat dan sadarkan diri.


Ting!


Saat Lift ber denting dan terbuka dengan cepat Yun masuk dan tidak menghiraukan tatapan mata heran dari beberapa orang di dalam sana saat ia melangkahkan kaki.


Tatapan mata dari para cewek yang berbinar-binar, tatapan mata iri dan mungkin mereka pengen juga di gendong sama cowok seganteng ini. bayangin aja udah seneng kan apa lagi kalo Sampek beneran kejadian.


Tim halu mari merapat....😂


"Ya Tuhan...."


Bisik cewek yang pakek baju putih dengan menutup mulutnya takjub, gimana gak takjub kalo ada pangeran ganteng di sampingnya dan tepat bersebelahan gitu. Rasa iri langsung menjalar ke hatinya pas liat kalo lagi gendong cewek, tapi mau apa pun itu tetep aja iri dan pengen banget bertukar tempat sama tu cewek tapi gak bisa berkutik.


"Untung banget ya tu cewek bisa di gendong sama pangeran seganteng itu?" Kata temannya yang gak kalah silau sama pemandangan yang ia lihat, rasanya nyesek karena iri. atmosfer iri langsung menyeruak dari dalam lift yang bikin sesak para cewek di dalamnya.


"Gue juga mau kalau kayak gitu, walau gak bangun Sampek berhari-hari juga gue rela asal kayak gitu terus di gendong." Sambil nge_halu sendiri, soalnya kalo halu_nya berjamaah gak bakalan asik. gimana asik kalo satu orang di rebutin banyak dan itu dalam pikiran lagi.


Yun menarik nafas berat dan panjang, berusaha buat mengatur emosinya sedemikian rupa biar gak kepancing emosi sama dua cewek berisik yang ada di sampingnya. Ini namanya bukan bisik-bisik tapi ngomongnya udah kayak pakek speaker mesjid yang bisa di dengar semua orang di sana.


Walau udah biasa kayak gini, di berisikin sama cewek-cewek setiap kali di dalam lift atau di tempat umum lainnya tapi tetep aja telinganya panas. Itu lah kenapa Yun memilih buat menghindari tempat umum karena ia merasa risih dengan tatapan mata dan juga suara-suara yang mengganggunya.


"Lo tanya dan kenalan gih sana?"


"Gak ah, mana mungkin gue punya nyali kenalan sama cowok ganteng kayak gitu. apa lagi ada ceweknya gitu." nyadar diri aja kalo bakal kalah telak, di bandingkan malu kan di tolak mentah-mentah dan di kacangin gitu jadi mendingan mundur duluan.


Yun menatap angka demi angka yang berganti dengan sangat jengkel, gak tau kenapa ni lift kayaknya dari tadi lambat banget jalannya dan pengen banget di jebol dinding biar keluar. padahal ni lift jalan kayak biasa tapi baginya kali ini lambat banget di bandingkan biasanya.


Yun segera melangkahkan kakinya saat pintu lift terbuka dan meninggalkan cewek-cewek berisik yang masih menatap kepergiannya tersebut, yang terpenting saat ini adalah gimana caranya bikin cewek yang namanya Chintya sadar secepat mungkin dan mengantarkannya pulang dalam keadaan selamat.


******


Anita yang mendapat kabar bahwa seorang penghuni apartemen yang sama dengannya itu memerlukan bantuannya secepat mungkin berjalan dengan setengah berlari, jiwa dan raganya udah menyatu banget sama profesi yang telah ia geluti selama enam tahun tersebut hingga saat mendapatkan panggilan darurat kayak gini refleks seluruh otot dan sarafnya bergerak dengan sendirinya tanpa dua Kali di perintah sama otaknya.


Apa lagi yang meminta bantuannya adalah Yun yang tak lain adalah tetangga satu lantai dengannya yang terkenal dingin sama kaum hawa, tapi buat Anita itu gak berlaku karena mereka dulu adalah teman satu sekolah walau pun gak begitu dekat tapi Yun akan menyapa ala kadarnya saat mereka berpapasan. Setidaknya masih ada perlakuan istimewa di bandingkan dengan lainnya dan itu cukup untuk membuat Anita bahwa Yun memperlakukannya sebagai kenalan.


"Mari Bu dokter?" Kata pak Dandi yang mengantar sampai depan pintu.


Anita menatap ragu, tapi jiwanya berkata lain dan menguatkan niatnya mengulurkan tangan dan membuka pintu yang ternyata gak di kunci itu. ini pertama kalinya ia masuk ke dalam apartemen Yun walau mereka udah jadi tetangga cukup lama.


Mata Anita sedikit melebar saat melangkahkan kakinya, apartemen cowok yang selama ini ia lihat dan bayangkan itu berbanding terbalik dengan apa yang matanya lihat. Bukan awut-awutan dan acak adul melainkan lebih rapi dan bersih di bandingkan apartemen miliknya sendiri. seketika jiwa wanitanya menangis histeris, ternyata dia yang cewek kalah telak sama apartemen milik ni cowok yang tertata rapi, bersih bahkan gak keliatan ada noda sedikitpun di mana-mana.


"Anda?"


"Saya Anita."


Anita langsung mendekat dan melihat seorang cewek yang tengah berbaring di atas sofa dengan keadaan mata terpejam. Pengen banget tadi neriakin namanya keras-keras biar Yun tu nyadar mereka dulu satu sekolah, berarti ni cowok cuma tau muka doang tapi gak tau namanya.


"Ini?"


"Periksa dan lakukan apa pun untuk membuatnya sadar." Kata Yun tanpa basa-basi kayak biasa, udah kayak ngasih perintah sama bawahan aja.


Anita mengambil peralatan medis yang ia letakkan di dalam tas khusus hingga sewaktu-waktu memerlukan dengan mudah ia menjangkau dan membawanya.


Dengan serius ia memeriksa setiap bagian vital dan tersenyum simpul karena kini ia mengetahui penyebab dari ni cewek gak sadarkan diri.


"Apa ada yang salah?" Tanya Yun heran saat melihat seulas senyum di bibir dokter cewek itu.


"Gak ada yang serius, semua baik-baik aja kecuali..."


"Kecuali apa?" Potong Yun yang gak sabaran udah kayak bapak-bapak yang nungguin istrinya lahiran. saking takutnya kalo anak orang kenapa-kenapa dan itu semua dia pelaku utama dari kekacauan ini.


Anita gak bisa nahan tawa geli nya ngeliat gelagat Yun yang di matanya menarik banget itu, gimana gak menarik kalo ni cowok yang biasa masa bod*h sama sekitarnya yang bernafas atau enggak tapi sekarang pasang ekspresi yang bertolak belakang banget dari biasanya. Orang awam langsung tau kalo yang sakit dan perlu pertolongan bukannya tu cewek tapi Yun sendiri, pertolongan buat orang yang jatuh cinta tapi gak nyadar dan gak mengakuinya.


"Apa perlu pemeriksaan menggunakan CT-scan? Apa ada tulang yang retak atau patah? atau ada kelaianan yang menyebabkan geger otak dan amnesia?"


Udahlah kemana-mana tuh bayangan di kepala Yun yang langsung bikin Anita yang tadinya cuma senyum tapi sekarang pengennya ngakak sejadi-jadinya. asli geli banget perut Anita denger kayak udah di gelitiki sama bulu ayam di dalam sana. Ini yang di namakan hiperbola kebangetan, bolanya sampek nembus ke langit ke tujuh yang gak balik-balik lagi.


Yun yang udah khawatir sampek mikir yang enggak-enggak alias over thinking itu ngerasa aneh, bukannya ngejelasin apa yang terjadi malah ketawa sendiri tu cewek. cowok jangkung itu memiringkan kepalanya ke arah kanan sedikit buat menetralisir dan menstabilkan emosinya.


"Ok, gini...." Anita menghentikan tawanya yang gak bisa di tahan lagi itu dengan menarik nafas panjang, "Embak nya ini gak perlu CT-scan, tulangnya semua dalam keadaan baik. gak ada yang retak atau pun patah, gak ada masalah di kepala yang menyebabkan geger otak dan amnesia." Jelas Anita yang bener-bener geli, orang jatuh cinta itu emang lucu. dari yang biasa aja jadi luar biasa, hal kecil malah jadi hal besar dan itu bukan cuma teori doang tapi fakta lapangan membuktikan. Ini buktinya langsung ngeliat sendiri bukan cuma katanya doang.


"Lalu?"


Muka Yun yang nanya kayak gitu bikin gemes banget, gimana gak gemes kalo semua orang yang tinggal di apartemen ini tau siapa dan jabatan apa yang ni cowok pegang tapi sekarang malah keliatan orang yang gak tau apa-apa.

__ADS_1


Ih gemes deh....


"Ehem,"


Yun yang menyadari ke b*dohannya itu langsung mengerti dan menyadari apa yang ia lakukan dan pikirkan adalah sesuatu yang terlalu berlebihan, merasa malu sendiri akhirnya dan untung cuma satu orang dalam ruangan yang ngeliat kelakuan abnormalnya itu.


"Bukan hal yang serius, cuma anemia. Istirahat yang cukup dan minum vitamin juga sembuh. Jadi anda gak usah khawatir dengan keadaannya, ini resep yang bisa anda tebus di apotik terdekat. Saya juga sudah menuliskan obat untuk lebamnya." Anita menuliskan beberapa nama obat dan vitamin dan meletakkannya di atas meja dengan senyum yang terus mengembang, sekilas ia menoleh ke arah wanita yang masih belum sadarkan diri itu. Wanita berpenampilan sederhana yang mampu meluluhkan hati seorang Yun yang terkenal dingin itu.


Ternyata wanita seperti ini yang Yun inginkan, Gumamnya dalam hati dan mengakui bahwa wanita itu memiliki sesuatu yang sangat luar biasa di bandingkan wanita lain di luar sana.


"Tunggu," Yun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


Anita menggeleng pelan, menolak secara halus. "Sesama penghuni kita harus saling membantu, kalau perlu pertolongan silahkan datang. asalkan gak ada kerjaan saya siap." Ucapnya dengan membuka pintu, mau bilang sesama teman sekolah kalo Yun gak ingat. "Dia wanita yang baik dan kalian sangat serasi." katanya lagi sebelum pergi dan beranjak meninggalkan.


Yun menggantungkan tangannya di atas udara, memandangi uang yang ingin ia berikan itu dan berganti ke arah pintu.


Bukan penolakan yang di lakukan tu cewek yang bikin Yun melongo tapi kata-kata terakhir itu yang cukup membuatnya bertanya-tanya, apa maksudnya mengatakan semua itu.


********


Chintya yang ngerasa pusing itu perlahan membuka matanya, hal pertama yang di lihat adalah plafon rumah yang berwarna gold dengan lampu hias yang elegan. rasa pusing di kepalanya yang begitu mendominasi keadaan saat ini memaksa Chintya untuk menutup matanya kembali, mencoba untuk menetralisir nya seminim mungkin. Di paksain juga gak bakal ada manfaatnya jadi lebih baik berdamai dengan keadaan di bandingkan dengan melawannya. Alih-alih menyadari dimana saat ini berada, Chintya lebih memilih menikmati rasa nyaman yang ia rasakan saat ini. Suasana kamar yang tenang, bantal yang empuk, selimut yang lembut dan juga aroma lembut yang tidak pernah indera penciumannya temui sebelumnya. kombinasi yang sangat cocok untuk melanjutkan tidur cantiknya yang ini cewek rasa belum maksimal, lagian tu kepala masih pusing jadi mending lanjutin aja kan tidurnya di banding melek dan liat sekitarnya.


Yun yang sejak tadi sibuk di dapur membuat bubur memperhatikan jam digital yang ia letakkan di dapur, sudah hampir satu jam lamanya tapi cewek yang ia tempatkan di tempat tidurnya itu gak ada tanda-tanda kalo udah siuman. soalnya gak ada kedengaran suara apa pun dari dalam kamarnya, setidaknya teriakan kecil atau keras dari dalam sana. Yun sengaja gak nutup pintu biar kalo ada suara langsung bisa dengar.


Tadi tu saking kalutnya sampek mikir yang enggak-enggak dan malu sendiri, apa yang ia pikirkan ternyata berbanding terbalik dan bahkan jauh banget antara langit dan bumi gitu. mikirnya udah sejauh itu malah nyatanya cuma anemia doang, kalo inget lagi bikin Yun malu sendiri. Yun menyicipi bubur yang ia masak dengan menggunakan sendok, kayaknya masih ada yang kurang menurut indera perasa ya. Yun memasukkan beberapa bumbu tambahan untuk menyesuaikan, setelah ia rasa cukup Yun mematikan kompor dan menutupnya agar tetap hangat. Bubur adalah makanan paling tepat untuk orang yang sedang terganggu kesehatannya karena mudah di cerna oleh lambung karena memiliki tekstur yang lembut. Saat Chintya siuman Yun ingin memberikannya, resep dan rasa yang sama menurutnya dengan apa yang ibu masakkan.


Dulu, saat ia sedang sakit ibunya selalu membuatkannya bubur dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang, bagi Yun tidak ada ibu yang luar biasa seperti ibunya. Membesarkan dengan penuh kasih sayang dan mendidiknya dengan kelembutan hingga ia tumbuh seperti saat ini, tapi tidak dapat di pungkiri kalau ayah dan Rega juga berperan cukup besar dalam hidupnya. mereka berdua adalah orang yang cukup berarti bagi Yun selain ibunya di dunia ini bahkan Yun tidak merasa khawatir harus berbagi ibu dan kasih sayangnya bersama Rega. Rega adalah saudara yang sangat baik walau mereka tidak di lahir kan oleh ibu dan rahim yang sama, persaudaraan mereka jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini.


Yun merogoh dan mengambil hp yang ia kantongi, baru aja di omongin udah muncul tu orang. siapa lagi kalo bukan Rega yang nelpon, namanya muncul di layar dengan sangat jelas.


"Lo dimana?"


"Gue di apartemen."


"Gue perlu berkas kemarin, ada sesuatu yang menurut gue janggal dan gue perlu periksa lagi sebelum menyetujui kontrak bisnis." Rega memainkan pulpen yang ada di tangannya, emang sih ini bukan waktunya Yun kerja tapi kalo bukan Yun siapa lagi yang bisa tau sama tu berkas. soalnya semua berkas penting cuma Yun dan Rega yang tau di kantor, mereka berdua gak bisa percaya sama orang luar mengenai rahasia perusahaan mereka. buat jaga-jaga kalo entar bocor ke pihak luar yang bikin semua malah berantakan dan mengalami kerugian.


"Sekarang?" Tanya Yun ragu, gak masalah sih buat ke kantor jam segini walau udah kelar jam kerja tapi yang jadi masalah utama di dalam sana ada makhluk hidup yang masih belum siuman. masak di tinggalin gitu aja dalam keadaan kayak gitu?


Dimana tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki.


"Iya sekarang, besok udah mau tanda tangan kontrak." Rega mengerutkan keningnya, tumben-tumbenan ni anak nanya kayak gitu. Biasanya Yun itu orang yang cekatan dan tanggap, kalo di minta selalu ada dan gak pernah nanya kayak gini.


"Lo kenapa?" Tanya Rega yang yakin kalo ada sesuatu sama saudara nya itu, soalnya ini bukan gaya Yun yang udah lama ia kenal.


"Lo gak dalam masalah atau kesulitan kan?"


Kali ini Rega benar-benar merasa khawatir, keliatan banget dari nada bicaranya yang emang gak bisa di sembunyikan.


"Itu..." Bingung sendiri Yun mencari kata-kata yang tepat buat menggambarkan situasinya saat ini, mau jujur sama Rega malah panjang cerita tapi kalo gak di ceritain Rega bakalan mengintrogasi nya mengingat gimana sifat Rega yang gak bakal diam kalo gak yang dia mau itu ia dapatkan.


"Siapa yang berani nyentuh Lo bakal gue bikin hidupnya nyesel."


"Ha ha ha ha ha ...."


Yun tertawa kecil mendengarnya, cukup dengar apa yang Rega katakan udah bikin Yun seneng. itu artinya Rega emang care banget sama dia.


"Entar aja gue ceritain, masalahnya sekarang berkas yang Lo minta ada di apartemen gue. Lo datang aja ke sini buat ngambil karena gue gak bisa datang ke kantor."


"Ok, gue ke sana sekarang. Pas gue lagi lapar, masakin sesuatu buat gue kalo enggak gue bakalan bilang sama ibu Lo gak jaga gue dengan baik." ancam Rega dengan tersenyum kecil, ancaman yang selalu ia katakan agar Yun menuruti apa yang ia inginkan. walau gak pakek ancaman kayak gini sebenarnya Yun bakal ngabulin yang Rega minta, kurang lengkap aja kalo gak ada bumbu-bumbu semacam ini buat mereka berdua.


"Brengs*k Lo, dasar anak kecil bisanya cuma ngadu." Yun tersenyum simpul, emang udah biasa Rega memintanya untuk memasakkan sesuatu saat datang. Alasannya cukup sederhana karena apa pun yang Yun masak menurut Rega makanan terenak kedua setelah masakan Ibu, udah biasa juga Rega menyelipkan ancaman kekanak-kanakan kek gini. cuma ancaman doang dan sekali pun Rega gak pernah melakukannya, lagian Ibu bukan orang bakal nelan mentah-mentah omongan orang gitu aja.


"Beruntung Lo punya saudara seganteng gue, karena dengan begitu Lo ketularan gantengnya gue dan tenar dari gue. Hua ha ha ha ha ha ha...." kumat lagi kan narsisnya yang gak ketulungan, untung Yun udah biasa denger kayak ginian kalo gak bakalan mual-mual karena maag akut. kadar narsis dan pedenya Rega emang gak ada yang ngalahin di dunia, dan untungnya lagi tu narsis sama pede si dukung dengan fisik dan materi yang lebih di bandingkan dengan orang lain.


"Terserah Lo mau ngomong apaan, cepetan Lo kesini gak usah banyak omong."


Yun memutuskan pembicaraan dan tersenyum dengan melihat ke arah layar HP-nya, cukup punya satu saudara kayak Rega udah berasa punya satu lusin saudara. ya itu tadi, paket lengkap tu anak. semua sifat dan sikap beberapa orang jadi satu dalam dirinya yang pakek lengkap dan komplit gak pakek kurang.


"Ini dimana?"


Yun memalingkan matanya dari Hp yang ia pegang saat mendengar suara dari belakang, siapa lagi kalo bukan Chintya yang berjalan sempoyongan dan memegang kepala dengan sebelah tangan. keliatan banget kalo muka tu cewek seputih kertas, jalannya aja kayak orang mabuk yang kakinya kayak gak nginjak lantai dan kalo di perhatikan dengan teliti kayak anak kecil yang belajar jalan gitu.


Berasa kalo tu lantai pas di injak lari sendiri kesana kemari dan tu plafon berasa mau runtuh, ibarat kata tu kalo di gambarkan keadaannya itu lebih tepatnya kayak gempa bumi berkekuatan besar.


Buat menopang badannya aja tu kaki kayak gak sanggup, udah kayak puding aja jadinya.


"Lo ngapain disini?" Tunjuk Chintya yang udah persis banget kayak jurus mabuk di film-film kungfu sambil sesekali memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya biar pandangannya bisa dengan jelas.


Yun mengerjakan matanya pelan dan menyunggingkan bibirnya menahan senyum, lucu aja kan liat cewek yang penampilannya acak-acakan nunjuk dirinya sambil berlagak sok jagoan gitu. Sok jago gayanya sih, tapi sekali dorong aja udah jatuh.


"Ini rumah gue," jawab Yun santai.


"Oh rumah Lo.... Pantes aja penyok semua..." Sambil nunjuk sembarangan, emang di mata Chintya seluruh ruangan bentuknya penyok alias gak beraturan gitu. Dia sih ngomong nya jujur dengan apa yang di liat, yang salah itu cuma sudut pandang doang sih saat ini.


Semua yang di tunjuk sama tu cewek Yun liat, gak ada yang penyok satu pun. jangankan penyok, debu aja gak ada yang nempel. Tapi maklum aja lah sama kondisinya yang gak normal saat ini.


"Eits... Lo mau ngapain?" Kata Chintya saat melihat pergerakan dari arah depan, dan sekarang apa lagi coba? di mata Chintya tiba-tiba aja tu cowok lehernya memanjang jadi persis jerapah.


Cepat-cepat ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, "Lo siluman jerapah yang nyamar jadi pangeran gue kan?" Tanpa pikir panjang Chintya mengambil apa pun yang di dekatnya dan melemparkan ke arah siluman jerapah itu, saat ini yang ia pikirkan apa pun itu adalah benar termasuk menganggap Yun sebagai siluman jerapah.


"Pergi Lo, jangan ganggu Yun dan gue."


Yun yang dari tadi nahan buat ketawa itu akhirnya jebol juga benteng pertahannya, gak kuat lagi buat nahan lebih lama karena kelakuan ni cewek kelewat lucu.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."


Apa lagi pas tu cewek menyerangnya dengan melemparkan tissue ke arahnya, boro-boro ya tu tissue nyampe tempat tujuan malah balik nemplok ke muka dia sendiri.


"Berani ya Lo ngetawain gue, belum tau apa kalo gue punya jurus rahasia hah?!" sambil melepaskan diri dari tissue yang udah terlanjur pe-we di mukanya, ini yang namanya senjata makan tuan. mau nya ngarahin ke orang gak taunya malah balik ke diri sendiri.


Makin lama makin kacau aja kan imajinasi tu anak, berasa syuting film kungfu bertema kebun binatang. Alih-alih menghentikannya Yun malah memilih menarik kursi buat duduk santai, memperhatikan setiap gerakan yang Chintya lakukan yang menurut Yun itu lucu banget. Kapan lagi coba bisa menikmati hiburan gratis se menyenang kan saat ini di depan mata secara langsung, siaran tv mana pun gak bakalan ada yang nayangin.


"Udah, break dulu. kepala gue pusing nih." Sambil duduk selonjoran di lantai dan akhirnya Chintya menyerah dengan keadaan, bukan selonjoran lagi tapi rebahan di lantai dengan kaki dan tangan membentang. pas banget kayak ayam yang mau di panggang, tinggal naruh tusuk aja di kepalanya.


Yun berjalan perlahan dan mendekati cewek aneh yang lagi habis tenaga itu, emang bener wajahnya masih sangat pucat dan keliatan kalo keringat mengalir dari wajah nya.


"Usah selesai syuting drama kolosalnya?" berjongkok dan memperhatikan secara dekat.


Chintya membuka matanya perlahan, masih pusing banget sih cuma bisa ngeliat dengan sangat jelas siapa yang ada di dekatnya. wajah Yun sangat dekat dengannya, untung lehernya udah gak panjang lagi kayak tadi.


"Kok Lo bisa disini?" pertanyaan yang sama yang tadi ia lontarkan, aslinya pas melek gini malah tambah pusing kepalnya yang kalo enak tuh enakan di bawa merem.


"Ini rumah gue, tadi Lo pingsan dan gue bawa ke sini."


"Hah?!"


Jedduk !!!


Tanpa komando tu cewek langsung aja bangun yang bikin benturan keras di kepala mereka berdua karena posisi Yun yang sedang melihat dan tepat di wajah Chintya dengan berjongkok.


"Awwww.....!!!"


Yun terduduk atau lebih tepatnya terjerembap mendapat serangan dadakan itu, mengusap bawah matanya yang terasa sakit. Gimana gak sakit kalo ke jedot sama kepala Chintya yang keras itu, untung aja tu kepala gak berlabuh di hidung atau matanya. bakal berabe kan kalo sampek kejadian dan bakal merusak pemandangan yang berakhir dengan operasi plastik demi menyelamatkan ketampanannya, nah kan malah ikutan narsis kayak Rega gini akhirnya.


"Lo ngapain sih?!" Kalo tadi ngerasa bersalah tapi ini udah ngerasa kesel, di seruduk sama badak siapa yang gak kesel. pakek tenaga full pula nyeruduk nya, gak nanggung-nanggung kan?


"Gue berdiri, emang mau ngapain?" Gak mau kalah sama Yun, Chintya juga mengusap kepalanya yang sakit, gak tau bentur apaan tu kepala tapi emang beneran sakit dan bikin kepalanya tambah puyeng.


"Lo berdiri tiba-tiba."


"Gue kaget pas Lo bilang ini rumah Lo dan tadi gue pingsan, jangan-jangan Lo ngelakuin sesuatu sama gue pas pingsan tadi?!" Langsung aja kan mikir yang negatif gitu, gimana gak negatif ni cowok bawa dia pulang dalam keadaan gak sadarkan diri. mana tau kan apa yang di lakuin tadi pas gak sadar, tambah paranoid gara-gara sering nonton film.


"Lo moto gue dalam keadaan bu*il kan? Lo mau nyebarin ke situs po*no buat dapat banyak uang dan Lo juga bakal gunain buat Meres gue, bener kan?" cerocos nya udah kayak mobil blong gak punya rem.


Ok, yang tadinya Yun yakin kalo ni cewek baik-baik aja kayak yang dokter bilangin gak ada gangguan dengan otaknya tapi pas denger ngomong kacau gini Yun yakin kalo ada masalah di dalam otaknya atau mungkin emang dari Sononya udah bermasalah.


"Atau jangan-jangan Lo udah ngelakuin sesuatu sama gue....." Mata Chintya membulat sempurna membayangkan hal-hal menakutkan yang ada dalam pikirannya, persis kayak film-film penculikan yang sering ia lihat. Dimana seorang laki-laki melakukan hal-hal yang tidak pantas kepada wanita yang ia ajak pulang ke rumahnya, sebelumnya laki-laki itu memasukkan sesuatu ke dalam minumannya untuk membuat wanita itu tidak sadarkan diri.


"Tidak!!!!!"


Kalo tadi kaget dapat serangan dadakan, kali ini Yun kaget sama teriakan yang bikin gendang telinga nya pecah dan secara dadakan pula.


nambah lagi ni daftar serangan dadakan, setelah benturan, teriakan dan kali ini tarikan cepat dan keras ia dapatkan di kerah bajunya yang mau gak mau bikin Yun mengikuti arah tangan yang mencengkram kerah bajunya dengan kencang hingga wajahnya sangat dekat dengan cewek bernama Chintya yang moodnya udah kayak pancaroba alias gak bisa di tebak sama sekali. Ya kayak sekarang aja belum Sampek sepuluh menit udah berapa emosi yang di perlihatkan sama tu cewek. Dari jarak sedekat ini Yun melihat dengan jelas betapa pucat wajah dan juga bibir Chintya, jadi pingsannya ni cewek adalah anemia bukan karena dirinya.


"Dasar cowok mesum! Lo ngeliatin gue Sampek segitunya?! Otak Lo isinya apa hah?!"


Udahlah, ngeladenin cewek setengah sadar kek gini emang susah. mau sampek berbusa tu mulut jelasin sejujurnya gak bakalan di dengar, yang bener itu apa yang ada di dalam pikirannya saat itu yang lainnya mah udah pasti salah. yang narik siapa malah yang salah siapa, mungkin bener kata pepatah yang mengatakan kalo cewek itu makhluk maha rumit dan maha benar di muka dunia ini.


"Lo itu ya cari kesempatan sama gue, Lo gak tau apa siapa gue?!"


Yun menatap tajam tepat ke arah manik mata Chintya, "Gue gak nafsu sama cewek rata kayak Lo. badan Lo itu gak ada bagus-bagusnya, kayak papan yang rata dari atas Sampek bawah jadi bagian mana yang bisa bikin gue nafsu dan mata gue termanjakan hah?" Jawab Yun datar dan santai, sengaja agak pelan pas ngomong biar Chintya bisa dengar dengan jelas dan gak bikin asumsi sendiri tentang apa yang Yun lakuin. asumsi yang salah alias nol besar itu bisa merusak nama baik dan reputasinya kalo Sampek ada orang lain yang dengar, bukan cuma nama baiknya doang malah berimbas ke saham perusahaan dan nama baik perusahaan. rumit banget urusannya kalo udah merembet kemana-mana. apa lagi di luar sana banyak orang yang ingin menjatuhkan nya dengan mencari celah kesalahan untuk menjatuhkan perusahaan, untung nya ni cewek pas kumat di dalam ruang tertutup yang gak ada orang lain dan gak ada yang denger.


"Di luar sana jauh lebih banyak cewek yang lebih montok di bandingkan Lo, lebih seksi, lebih cantik dan lebih menantang bagi gue sebagai cowok normal. jadi Lo yang kayak gini gak usah ke ge_er_an kalo gue bakal ngelakuin hal-hal yang dari tadi Lo ributin itu. simpan rapat-rapat dalam kepala Lo dan jangan ngarep yang berlebihan dari gue, ok???" Kali ini Yun mengatakannya dengan tersenyum lembut, buat ni cewek selain melek juga kupingnya bisa denger dengan baik dan benar.


"Gue bisa dapetin cewek yang kayak gue bilang tadi dengan mudah, gak perlu gue jatuhin harga diri gue ngelakuin hal memalukan kayak gitu sama Lo karena mereka dengan suka rela bakal datang sendiri ke gue kalo gue buka lowongan. Satu lagi, gue gak perlu ngambil foto Lo buat gue sebarkan dan meras Lo karena duit gue udah banyak. lagian gak ada untungnya gue ngelakuin hal kayak gitu sama Lo, yang ada malah rugi karena nama baik gue bakal tercemar. Understand Baby?"


Selain tersenyum manis kali ini Yun mengedipkan sebelah matanya, awalnya cuma mau godain doang habis selain kesel sama mulut ni cewek yang ngomongnya udah kayak mobil gak punya rem Yun juga gemes banget. Mana ada cewek yang mulutnya ember kek Chintya, langsung aja nyablak. Apa yang di pikirannya di keluarin semua tanpa takut orang bakalan tersinggung, marah atau lainnya.


"Lo itu beruntung banget pingsan sama gue, coba kalo sama cowok lain gue gak bisa bayangin apa yang bakal terjadi sama Lo tadi. Lo bisa aja kan di pe*kosa sama orang yang nemuin lo, habis itu di jual sama om-om genit di luar sana yang suka banget sama cewek seumuran Lo yang masih polos dan gak tau caranya bersenang-senang, bukan cuma berakhir di tangan om-om genit itu kemungkinan Lo bakal di jual sama sindikat perdagangan manusia dan Lo bakal di jual lagi ke luar negeri sebagai wanita penghibur." Nada ngomongnya sih lembut, tapi omongannya itu yang bikin bulu kuduk merinding lahir batin. apa lagi ekspresi Yun berubah menjadi dingin dan tatapan matanya yang tajam mendukung banget bikin suasana mencekam dan horor.


"puas mereka jual Lo sebagai wanita penghibur, Lo bakal di over ke sindikat lainnya yang bakal ju satu persatu organ tubuh Lo dan akhirnya....."


Yun sengaja menggantungkan kata-kata terakhirnya itu biar Chintya meresapi setiap kata dan membuatnya membayangkan apa yang ia katakan dengan sangat tepat, habisnya ngeselin banget cewek yang namanya Chintya ini. ngelakuin hal seenaknya sendiri gak mikir sama sekali.


"Kruyuk......"


Apaan coba itu yang bunyi barusan???


Chintya menundukkan wajahnya, itu tadi suara perutnya yang kelaparan karena belum makan apa pun dan tandanya usah siap di isi. sempat aja tu perut kelaparan padahal lagi tegang-tegangnya Yun menciptakan suasana tapi gak ada pengaruhnya sama sekali sama ni cewek.


"Gue lapar, ada yang bisa di makan gak sebelum usus gue habis di makan sama cacing?"


Gubrak!!!!


Yun yang udah susah payah ciptain suasana horor dari tadi sekarang gagal total, gak ada raut takut sama sekali dari Chintya malah tanpa dosa nanyain makanan.


"Mana jiwa Lo yang tadi? tadi Lo galaknya ngalahin macan sama buaya betina".


"Gue bukan buaya kali Om, lagian kalo macan boleh juga sih. he he he he...." Chintya melonggarkan tarikan tangannya di kerah baju Yun.


Julukan macam apa lagi ini?


Om?


"Selain jadi sekertaris kayak nya Lo cocok banget buat pembaca atau penulis novel horor, tapi lebih cocok jadi pembaca. dari intonasi, mimik wajah pas banget sama apa yang Lo ceritain pasti banyak banget yang jadi follower Lo kalo bikin konten yutube."


Entah apa yang ada di dalam kepala ni cewek, Sampek Yun gak habis pikir dan gak bisa mikir. tadi aja udah kayak petasan tahun baru yang meledak gak beraturan lah sekarang malah berubah seratus delapan puluh derajat jadi manis pakek banget yang bikin Yun takut sendiri.

__ADS_1


"Jadi apa yang bisa gue makan?" mengelus perutnya yang udah keroncongan dari tadi itu.


__ADS_2