
"Hai?!"
Alex yang tadinya udah pe_we level atas menikmati betapa nyamannya perasaan yang ia rasakan dengan aroma manis dan harum roti itu langsung tersadarkan dari hayalan nya, apa lagi kalo gak lagi menghayal bikin roti sama cewek cantik yang jadi tutor nya. isi otak Alex itu emang gak bisa jauh sama yang namanya cewek, hidupnya bakal berasa hampa dan mungkin gak bermakna kalo gak berkaitan dengan hal tersebut. Tapi faktanya emang hidup Alex gak jauh dari cewek karena ni cowok punya profesi yang berkaitan erat dengan cewek banget dan itu menjadi tolak ukur Alex buat dapetin cewek yang sesuai kriterianya dengan sangat mudah, bukannya dia yang mencari tapi cewek-cewek yang nyamperin dulu. kriteria yang di patok Alex cukup tinggi tentang seorang cewek yang akan ia ajak jalan. Mau gimana pun orang bakalan mengakui kalau cowok yang bisa di bilang playboy ini punya modal yang lebih dari cukup buat menggaet cewek mana pun, dengan wajah bule serta badan yang ideal itu gak bakalan cewek nolak dia. Setidaknya kayak gitu sih sementara ini, sementara dan bakal ada cewek yang gak menghiraukannya dalam waktu dekat ini.
"Hah..."
Alex membuka matanya gak ikhlas di tarik dan di paksa sadar dari zona nyaman yang ia ciptakan sendiri oleh seseorang yang entah lah siapa itu, yang jelas Alex merasa sedikit jengkel karena belum terisi penuh tenaganya dan udah di paksa buat kembali ke dunia untuk menghadapi kenyataan yang tidak seindah khayalan.
Yang pertama kali indera penglihatan nya lihat saat membuka mata adalah sepasang mata indah yang kini berada tepat di depannya, mata jernih yang mengalahkan kejernihan air laut itu membuatnya tersihir dan seolah waktu di sekitarnya berhenti seketika. Tentu saja Alex tidak akan lupa tentang tatapan itu, tatapan yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat di bandingkan biasanya dan membuat aliran darahnya seolah tersekat dan tidak dapat mengalir dengan sempurna karena nya.
Saat mata itu berkedip, dengan sangat jelas Alex dapat melihat bahwa bulu mata lentik itu mengikuti dengan sangat indah membuat dadanya terasa sesak dan mematung. Alex menurunkan tatapan matanya, wajah polos tanpa make up itu memang sangat luar biasa dengan kulit bersih tanpa noda dan seulas senyum yang ia tangkap dengan sangat sempurna itu seakan melengkapi semua ritual sihir yang ia dapatkan saat ini. Sihir yang tak dapat ia tolak dan ia hindari yang membuatnya seolah berada dalam dunia yang ia tak tau dimana itu berada, dunia yang seolah membuatnya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan dan rasakan sebelumnya tapi juga menghadirkan rasa sesak dan sakit secara bersamaan di dalam dirinya.
Chintya yang bingung dengan sikap cowok di depannya itu cuma bisa menebak-nebak tanpa tau apa yang ia pikirkan sebenarnya, kalo tadi tu berasa santai banget kayak di pantai tingkah lakunya tapi kini beda lagi seolah-olah kayak orang yang baru aja mau kesambet. Tadi tu rileks dengan senyum terkembang sempurna tapi ini malah kaku dengan ekspresi muka kayak orang liat makhluk gak kasat mata atau kayak orang syok habis liat yang nakutin gitu. Cewek manis ini memilih membuat jarak, mundur beberapa langkah buat bisa memastikan kalau entar ada kejadian bakal bisa menghindar. Kali aja kan emang ini tanda-tanda orang yang mau kesurupan, jadi lebih baik jaga aman gitu di bandingkan udah kejadian baru nyadar. Kata orang sih lebih baik mencegah di bandingkan mengobati atau kalo enggak sedia payung sebelum hujan, gitu sih kata pribahasa.
Chintya memasang ekspresi waspada tingkat tinggi, gak tau ni cowok bakal mau ngapain setelah ini.
"Sorry baby," Setelah kesadarannya kembali lagi, menguasai kesadarannya itu bikin Alex sedikit memerlukan waktu.
"Eh!"
cuma itu yang keluar dari mulut Chintya yang masih kaget dan sedikit takut.
Alex mengusap wajahnya kasar, ini pertama kalinya ia gak bisa menguasai diri dan emosinya kayak biasa dan benar-benar kehilangan kontrol sebagai cowok keren di depan cewek cantik. malah keliatan banget kalo malu-maluin Sampek bikin cewek di depannya keliatan takut dan menatapnya dengan tatapan mata penuh waspada.
"Lo ngapain di sini?" Ujarnya mencoba setenang mungkin, padahal jauh di dalam sana detak jantung nya udah kayak tabuhan gendang peperangan.
"Itu..." Gantian Chintya yang gugup.
Alex melihat keranjang belanjaan yang cewek manis itu bawa penuh dengan roti, ia tersenyum ramah dan hangat seperti biasanya untuk mencairkan suasana yang sempat menegang.
"Lo belanja?"
Chintya mengangguk pelan, menarik nafas panjang.
"Maaf kalo tadi..."
"Akh...Seharusnya gue yang minta maaf udah bikin Lo kaget." potong Alex seolah tau apa yang ingin cewek itu katakan, sebenarnya bukan kesalahannya dan itu hanya reaksi yang tiba-tiba datang karena terkejut saat orang yang selama ini ia pikirkan tepat ada di depannya di tempat yang tidak ia perhitungkan sama sekali dan itu malah bikin orang yang ia maksud ketakutan.
"Itu..." Chintya menunjuk arah kaki Alex saat menyadari kalo ni cowok ternyata pakek sandal yang salah alias beda sebelah dan itu membuatnya menahan senyum geli, ternyata ni cowok selain aneh juga konyol banget. Bertolak belakang sama tampilannya yang terkesan keren, aslinya bikin geli.
Alex mengarahkan pandangan matanya ke ujung jari cewek tersebut yang tak lain adalah kakinya sendiri.
"Ya Tuhan..." Gumamnya dengan menelan ludah menyadari apa yang terjadi, ternyata selama ini gak nyadar kalo makek satu sepatu dan satu sandal. Ini pasti dari tadi di rumah dan kebawa Sampek kesini, bayangin aja gimana rasanya ngelakuin hal-hal konyol di depan orang yang di sukai. yang seharusnya ngelakuin hal keren yang bisa menarik perhatian dan meninggalkan kesan positif, bukannya malah meninggalkan kesan negatif kayak gini dan itu terjadi berulang-ulang kali dan itu sangat memalukan.
"Ini trend terbaru, biasa kan kalau yang berbeda itu lebih unik dan berbeda. Fashion baby...."
Ngelesnya gak berpondasi banget, alasan macam apa coba kayak gini? Bukan cuma gak masuk akal tapi juga malah terdengar aneh banget.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ...."
Akhirnya Chintya gak bisa lagi buat nahan tawanya dan tertawa lepas melihat tingkah konyol cowok di depannya itu yang langsung menghilangkan pikiran-pikiran negatifnya yang sempat membuatnya merasa takut. Ternyata tu cowok masih cowok normal yang gak bakal kesurupan.
"Ha_ha_ha..."
Alex tertawa garing, apa lagi kalo bukan ngetawain dirinya sendiri. pupus lah sudah membangun image sebagai cowok keren di depan ni cewek, padahal itu adalah keahlian yang telah Alex miliki selama ini dan saat si perlukan keahlian itu malah menguap seperti embun.
"Lo lucu banget, gue gak kira kalo Lo bisa kayak gitu. gue kira Lo orang yang ..." Chintya menghentikan kata-katanya, takut salah ngomong aja entar yang bikin orang tersinggung atau salah tanggap.
Denger kata lucu langsung bikin telinga Alex melebar, kesan pertama yang positif dan itu artinya masih ada kesempatan lain buat dia menunjukkan dan melanjutkan Sisi lain dirinya. Alex menegakkan kepalanya seperti mendapatkan semangat baru yang membuatnya menjadi yakin buat bisa ngelakuin PE_DE_KA_TE...
"Lo tau gak kalau di sini tu roti mana yang paling enak dan jadi favorit?" Ujarnya mencairkan suasana.
"Enggak, gue kebetulan aja tadi lewat dan baru pertama ke sini." Jawab Chintya jujur, emang baru pertama ke sini jadi dia gak tau mana yang enak dan di matanya terlihat enak semua.
Tanpa meminta persetujuan dari sang empunya, Alex langsung menarik tangan mungil itu menuju rak-rak yang terisi penuh dengan berbagai macam jenis roti. tangan itu terasa sangat kecil dalam genggaman tangan Alex dan terasa sangat pas di sana, entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar dari sana membuat cowok itu salah tingkah dan langsung melepaskan genggaman tangannya. Hal ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya dan itu membuatnya merasa aneh dan gugup.
Chintya yang kaget karena tiba-tiba cowok salon itu menarik dan menggenggam tangannya cuma bisa pasrah-pasrah aja, gimana gak pasrah kalo gak sempat melakukan perlawanan karena semua berjalan dengan sangat cepat dan di luar kendalinya alias gak kepikiran kalo bakal kayak gini. Tapi ni cowok tiba-tiba melepas tangannya dan menjauhinya yang bikin Chintya ngerasa sedikit aneh, kayak megang ulat bulu atau apa lah itu yang langsung bikin kaget dan menyakiti atau apa pun itu.
"sorry, gue gak bermaksud buat kayak gini." Kata Alex dengan salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke arah lain buat nutupin rasa malu dan gugupnya, cuma megang tangannya doang udah kayak gini rasanya apa lagi kalo Sampek meluk. bisa-bisa jadi patung batu kayak Malin Kundang yang di kutuk emaknya. tanpa sadar ia memegangi tangannya yang terasa panas itu, kayak ada sengatan listrik di sana dan itu sesuatu hal yang membuatnya merasa aneh. Gak pernah sebelumnya kayak gini, pengalaman pertama Alex dalam hal seperti walau udah banyak banget pengalaman yang ia lakukan dan bisa di bilang udah banyak cerita yang ia dapatkan yang berhubungan sama cewek tapi dalam hal ini baru pertama kali dan itu membuatnya berasa kayak cowok yang polos alias gak tau apa-apa.
"Iya."
Chintya berusaha melihat wajah orang yang memalingkan dan menyembunyikan darinya tersebut karena ia yakin kalo ada sesuatu yang menarik yang akan ia lihat di sana dan tentu saja Chintya tidak akan melewatkan kesempatan menyenangkan ini. dengan gerakan cepat yang gak bakal bisa di perkirakan ia memutar badan dan kakinya langsung melihat ke arah cowok yang berani-beraninya memalingkan wajah tersebut. Benar saja apa yang ia pikirkan saat ini kalau ada situasi yang menyenangkan di sana, cowok itu sengaja memalingkan dan menyembunyikan wajahnya karena saat ini terlihat memerah. apa lagi ni cowok punya jenis kulit yang putih di bandingkan kulit warga lokal yang langsung keliatan banget memerah di sana. Chintya berusaha menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya saat melihat semua ini, keliatannya aja sok keren dan bilang fashion tapi nyatanya.
Sadar kalo ada yang melakukan gerakan tiba-tiba bikin Alex kelabakan, nasi udah jadi bubur yang artinya udah terlanjur dan gak bisa menghindar dan akhirnya harus nerima kenyataan tertangkap basah keadaannya saat ini. pengen banget rasanya menenggelamkan dirinya sejauh mungkin di dalam bumi Sampek lapisan ketujuh saking malunya.
Ha ha ha ha ha...
mau di taruh di mana nih muka gue?
Udah terlanjur kayak gini mau gimana lagi, dengan sisa kekuatan yang ia miliki akhirnya Alex menegakkan kepalanya, mengatur dan mengumpulkan lagi rasa percaya dirinya yang tadi udah beterbangan gak karuan dengan tersenyum semanis mungkin menurut versinya sendiri.
"Ya ampun...." Chintya tersenyum atau lebih tepatnya menahan tawa sambil terus liatin dan gak pengen berpaling karena bakal kehilangan momen menyenangkan ini.
"Muka Lo merah kayak udang atau kepiting rebus..."
Sudah lah Alex, hadapi aja kenyataan ini karena Lo gak bakal bisa menghindar lagi atau bikin alasan yang entar malah jadi gak masuk akal.
"Iya, muka gue bakal merah kalo lagi senang."
"Serius???" Kata Chintya dengan mata berbinar.
Ya Tuhan...
kenapa juga ni cewek liatin mukanya yang kayak gini, imut banget pengen gue gigit....
"Gue baru tau kalau ada orang yang seneng Sampek mukanya merah kayak elo." Terus memandangi tanpa merasa bersalah dan berdosa kalo udah bikin orang di depannya itu berasa mau mati saking gugupnya, sampek-sampek jantungnya itu berasa mau meloncat dan meledak.
Sabar Alex...
sabar...
Lo harus kuat dan gak boleh pingsan atau sampai mimisan....
malu-maluin dan kayak gak punya harga diri....
Batinnya menguatkan hati, kuat-kuatin lah kalo gak kayak gitu bakal tumbang seketika.
Chintya masih dalam posisinya mengamati wajah merah itu dengan mata bulat sempurna dan berbinar-binar, rasanya Lucu aja liat cowok yang mukanya bisa Semerah ini karena malu. Ia yakin kalo ni cowok pasti punya hati yang lembut dan juga baik. Kalo cowok yang gak berperasaan mana mungkin bisa memperlihatkan ekspresi selucu ini, kayak Yun yang yang dingin dan muka tembok itu mana mungkin bisa kayak gini. Senyum dan binar mata itu langsung hilang saat otaknya mengingat nama cowok dingin tersebut. Mana mungkin lah tu cowok bisa kayak gini, yang ada bakalan tetep aja tu muka kayak gitu sepanjang masa dan jaman. walau apa pun yang terjadi gak bakalan ada ekspresi lain di sana, udah kayak permanen dan gak bisa di rubah gitu lah.
Alex bisa bernafas lega saat cewek itu memalingkan wajahnya dan menghentikan tatapan maut yang bikin darahnya langsung keluar jalur itu, kalo gak bakalan pingsan beneran. Ada kesempatan memenuhi paru-parunya buat menarik sebanyak mungkin oksigen dan mengembalikan kesadarannya walau otaknya yang biasa cemerlang jadi kusut, masih gak bisa mikir mau ngelakuin apa buat narik perhatian ni cewek. Udah lah, lupain strategi yang jelas lakuin aja sesuai alur yang mengalir.
"Sini gue tunjukkin Roti mana aja yang enak." Ujarnya dengan mendahului, Alex melirik sebentar untuk memastikan kalau cewek itu mengikutinya. Ia tersenyum saat yang ia harapkan benar-benar terjadi.
__ADS_1
Kali ini keranjang Chintya benar-benar penuh terisi dan bahkan bisa di bilang over, katanya bakal ngasih tau mana roti yang enak yang di jual di toko ini dan alhasil semuanya masuk ke dalam keranjang. liat sebanyak ini bikin Chintya sedikit tersenyum masam, mikir gimana mau ngabisinnya.
"Lo yakin?" Tanya Alex sambil nunjuk keranjang yang penuh sesak berdempet-dempetan itu. soalnya ni cewek gak nanggung-nanggung ngambilnya, semua yang ia rekomendasi kan langsung di ambil tanpa ba bi bu dan itu lah hasil akhirnya jadi satu keranjang penuh malah Sampek gak muat.
"entahlah," Jawabnya pasrah, sambil mikir gimana mau ngabisin nya.
"mungkin...." Tiba-tiba aja terbesit sebuah ide di dalam kepalanya dan tersenyum ke arah keranjang yang masih kosong di ujung sana.
"Tolong ambil dua keranjang dan isi penuh semuanya ya sama roti dan minuman." sambil jalan ke arah meja kasir buat naruh, kalo gak kayak gitu gak bakalan bisa berburu lagi.
"Hah???"
Alex melongo mendengarnya, satu keranjang masih gak cukup dan masih perlu dua keranjang lagi?
Refleks ia melirik ke arah cewek yang tubuhnya bisa di bilang mungil itu, kalo di liat dari ukurannya makan dua aja udah cukup. lah ini malah mau nambah lagi, Ni ceweknya lambung sama ususnya tingkat berapa emang jadi Sampek mau nambah lagi?
Kelamaan nunggu akhirnya Chintya mengambil sendiri keranjang itu dan menyodorkan. "Bantu gue buat habisin semuanya yang ada di sini."
"Semua???"
"Iya." Langsung melakukan aksinya memasukkan semua roti yang ada di sana ke dalam keranjang.
Alex menuruti apa yang di lakukan cewek mungil itu, masih belum ngerti apa yang ada di pikirannya saat ini buat borong seluruh roti yang ada. di bandingkan tebak sana dan tebak sini akhirnya Alex milih buat langsung aja nanya.
"Mau Lo apain sebanyak ini?"
"Gue makan." jawab Chintya asal.
"Wah?"
Chintya melirik dan tersenyum kecil, tau banget apa yang ada di dalam pikiran ni cowok. pasti lah ni cowok mikir badannya kecil tapi makannya banyak yang artinya pada kemana tu makanan yang masuk ke dalam perutnya karena gak ada mengalami perubahan dalam tumbuh dan kembang badannya.
"Gue makan sebagian dan lainnya bakal gue bagi sama anak-anak yang ada di jalan. tadi gue liat banyak anak-anak di jalan, gue ngerasa kalau gue bisa makan dengan baik dan kenyang sedangkan mereka....." tiba-tiba Chintya merasa sedih saat mengingat apa yang ia lihat, anak-anak yang seharusnya berada di rumah dalam lindungan orang tua mereka tapi malah berkeliaran di jalan untuk menyambung hidup mereka. kehidupan jalanan yang kejam selalu membayangi mereka dan itu membuat hatinya semakin miris, tubuh mungil mereka bertahan dalam panas terik dan juga hujan demi mengganjal perut mereka. bukan hanya cuaca yang kejam tapi juga kehidupan yang keras harus mereka lalui tanpa mengenal kasih sayang dan perhatian. mungkin hanya sekerat roti dan minuman dapat membantu mereka karena hanya itu yang bisa Chintya lakukan untuk saat ini, seandainya ia memiliki kemampuan lebih untuk membantu ia akan melakukannya dengan senang hati.
Alex terdiam mendengarnya, tangannya yang tadi bekerja atas perintah otaknya seketika membeku dan mengambang di udara. apa yang ia dengar membuat hatinya merasa sakit, selama ini Alex tidak pernah memikirkan hal semacam ini. bahkan tidak pernah memperhatikan hal yang ia anggap kecil atau bahkan ia anggap tidak pernah ada itu, anggap aja kasat mata dan selama ini gak pernah keliatan sama sekali walau tiap hari ia melihatnya. tampak raut kesedihan di wajah itu yang membuat Alex merasakan hal yang sama, merasa bahwa selama ini ia menjadi orang yang tidak bersyukur dan orang yang tidak berperasaan. tekad kuat akhirnya ia dapatkan, ia bertekad akan melakukan hal yang sama dengan apa yang cewek ini lakukan.
"Ayo kita lakukan." jawabnya dengan yakin.
"Apa?" Chintya tersadar dari lamunannya.
"kita lakukan apa yang Lo bilang tadi." tersenyum lembut, kali ini merasa sangat yakin dengan apa yang akan ia lakukan dan mungkin ini adalah awal dan akan ada hari-hari berikutnya.
Chintya membelalakkan matanya melihat bungkusan yang memenuhi mobilnya, penuh sesak dan itu lebih dari apa yang ia harapkan.
niat awalnya cuma membeli roti yang ada tapi malah memborong hampir separo isi toko roti tersebut dan alhasil mobilnya penuh sesak.
Alex keluar dari dalam toko dengan menenteng kantong belanjaannya dan menghampiri cewek yang berdiri mengawasi pelayan toko membawa kantong-kantong yang telah di isi dengan sama rata setiap kantong plastiknya. Ternyata melakukan kebaikan seperti ini membuat hatinya merasa damai dan bahagia, jauh lebih bahagia bila di bandingkan dengan berkencan bersama wanita-wanita cantik yang ia lakukan selama ini.
"Ini???"
Chintya menunjuk tumpukan plastik yang berisi makanan di dalam mobilnya, niat awalnya cuma membagikan sedikit rejeki tapi akhirnya seperti ini. bahkan Chintya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk sebanyak ini, cowok aneh yang ia temui di depan pintu masuk itu membayar semuanya tanpa memberi kan kesempatan untuknya mengeluarkan uang.
"Lo bagi aja sampai habis buat setiap orang yang Lo temui yang memerlukannya." jawab Alex santai.
"Tapi ini tuh banyak banget, paling enggak gue bisa bayar setengahnya." Kata Chintya gak enak, awalnya dia yang punya rencana tapi kok endingnya malah kayak gini.
"Udah lah gak pa-pa, gak bakal bikin gue bangkrut."
"Udah terima niat baik gue, uang itu bisa Lo pakek buat bantu orang lain." Kata Alex yang kali ini udah mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, setidaknya ini adalah langkah awal yang bagus untuk membuat kesan baik di depan cewek yang ia targetkan dan itu hal yang gak akan ia sia-siakan. "Jadi, nama Lo siapa?" Akhirnya Alex menanyakan hal yang sebenarnya menjadi keinginan terbesarnya, tapi gak ada kesempatan buat ngelakuinnya karena pertemuan mereka terjadi begitu tiba-tiba dan berpisah di waktu yang tiba-tiba pula yang membuat Alex gak sempat menanyakan hanya sekedar nama. itu karena udah terlanjur grogi aja dia nya berhadapan makanya mati kutu dan mati gaya, mumpung dalam keadaan dan suasana hati normal jadi di tanyain aja sekalian.
"Chintya." mengulurkan tangan dan tersenyum manis, baru nyadar kalo mereka itu sebenarnya belum pernah berkenalan secara langsung dan resmi karena selama ini mereka hanya bertemu dan bicara tanpa tau nama dari mereka masing-masing.
Bukannya gak mau menerima dan menyambut uluran tangan itu, tapi lebih tepatnya Alex merasa bahwa itu akan menjadi sesuatu yang membuat jantung dan aliran darahnya abnormal seperti tadi. Jadi, yang di lakuin cuma liatin tu tangan yang menggantung di udara.
Greget liatnya bikin Chintya mengambil inisiatif sendiri menarik tangan cowok yang cuma bengong ngeliatin tangannya itu untuk menerima uluran tangannya buat salaman. Bukannya kayak gitu kan etikat berkenalan dengan baik dan benar, berjabat tangan dan menyebutkan nama mereka masing-masing.
Alex yang mendapat serangan dadakan itu bukan cuma kaget tapi refleks menarik tangannya tapi gerakan itu kalah cepat dan dengan terpaksa tapi suka ia melakukannya, jabatan tangan yang benar udah kayak aliran listrik di sana dan membuatnya menjadi kaku.
"Lo kenapa?" Tanya Chintya sedikit takut melihat perubahan wajah cowok di depannya yang seketika menjadi pucat.
"Itu..." Alex menutup matanya sesaat dan tersenyum masam, mencoba menetralisir hati, pikiran dan aliran darahnya.
"Mungkin karena dingin, gue gak tahan sama dingin." kilahnya yang untung aja emang suasana agak dingin saat ini, suasana dimana angin dingin dengan membawa aroma air yang terlihat menggantung di awan yang menghitam.
Chintya melihat apa yang di katakan itu adalah kebenaran, cuaca emang berubah dan menjadi dingin tanpa ia sadari. "Jadi, siapa nama Lo?" Balik lagi ke pertanyaan awal.
"Gue Alex."
"Oke Alex, senang berkenalan denganmu dan kayaknya kita bakal ketemu lagi karena gue bakal jadi langganan tempat kerjamu."
Udah kayak dapat angin segar dari pegunungan dengernya, emang luar biasa seger nya. seger secara lahir dan batin alias meluluhkan semua rasa kaku yang ia rasakan, darahnya yang membeku mulai mencair dan mengalir dengan sempurna. otot-ototnya yang kaku pun mulai lemas kembali dan gak tegang lagi, pokoknya semua balik lagi jadi normal. itu artinya bakal ada kesempatan yang datang buat ketemu dan menjalin hubungan setelah ini, kesempatan yang sangat luar biasa yang gak bakal Alex lewatkan. kayaknya takdir dan alam semesta berpihak kepadanya dalam hal ini.
"Opo Ki ndok?" (Apa ini nak?)
Eyang yang baru aja balik dari kamar kecil itu merasa heran melihat mobil yang tadi mereka naiki udah penuh dengan bungkusan-bungkusan plastik, bukan cuma itu tapi eyang melihat seorang laki-laki berdiri dan bicara dengan cucu perempuannya yang keliatan mereka berdua akrab. Setahu eyang Chintya gak pernah punya teman laki-laki selama ini, tapi ini malah ngobrol santai dan di tempat yang jauh dari rumah mereka.
"Akh, eyang?!" Chintya kaget pas eyang udah berdiri di sampingnya sambil nunjuk mobil mereka, "Eyang dari mana?" Dari tadi gak perhatiin eyang ada di dalam mobil apa enggak karena sibuk sendiri sama acara mereka buat bungkus-bungkus.
"Eyang dari mana?"
"teko we_ce." (Dari kamar kecil).
Alex yang dari tadi hanya diam menyaksikan interaksi dua wanita beda generasi itu sedang mencari kesempatan buat memasuki celah biar bisa kenalan sama wanita yang ia yakini adalah nenek wanita yang ia sukai dan ini adalah kesempatan emas atau mungkin kesempatan berlian yang sayang banget kalo di sia-siakan.
"Selamat sore eyang?" sapa Alex ramah dengan senyum manis menghiasi wajahnya, Alex menyapa dengan sopan. walau gimana pun ia tau bagaimana memperlakukan orang sesuai dengan umur dan tingkatannya.
Eyang yang tadi fokus nya ngomong sama cucu perempuannya itu kini mengalihkan pandangannya, seorang laki-laki tampan yang menurut mata tua eyang kayak gitu sih (padahal udah berumur eyang tapi masih bisa aja bedain mana cowok bening sama cowok butek, umur emang gak bisa menutup penilaian orang).
"Saya Alex, teman Chintya." Ujarnya sopan mengenalkan diri dengan mengulurkan tangan.
Eyang menyambut uluran tangan laki-laki muda itu dengan membalas senyumannya, kesan pertama yang eyang dapat adalah laki-laki ini orang yang sopan dan baik. itu terbukti dengan menyapa dan memperkenalkan diri terlebih dahulu dan mencium tangan orang yang lebih tua, satu tindakan sopan santun yang mungkin jarang di lakukan anak muda jaman sekarang.
"Saya eyangnya Chintya."
Alex mundur beberapa langkah untuk memberikan jarak dan mengambil jarak yang menurutnya tepat untuk melakukan interaksi.
"Dia temen Chintya yang kemarin udah bantu buat bikin rambut Chintya cantik eyang." Kata Chintya menjelaskan.
"Benar nak Alex?"
"Gak juga eyang, itu pekerjaan saya."
"Makasih nak, eyang senang banget lihat sekarang cucu eyang tambah cantik dan bahagia." memegang tangan cucu perempuannya tersebut, apa yang eyang katakan adalah benar karena sekarang Chintya menjadi lebih ceria dan bahagia di bandingkan dulu.
__ADS_1
"Eyang bikin saya malu." menggaruk kepalanya karena malu di puji kayak gitu yang aslinya itu emang kerjaan Alex setiap hari.
"Alex itu hebat Lo eyang, semua itu dia yang bayar. padahal tadi Chintya cuma pengen beli beberapa aja buat di bagi sama anak-anak jalanan tapi liat apa yang Alex kasih?" Katanya semangat menceritakan apa yang terjadi, tentang kebaikan yang di lakukan oleh Alex. Sejujurnya Chintya merasa sangat senang sekali, ternyata masih ada orang yang perduli kepada sesama dan memiliki hati yang baik di saat seperti ini. Membuat kekaguman tersendiri untuknya juga beruntung bisa bertemu dan mengenal sosok Alex yang terlihat berbeda kalau di lihat dari penampilan luarnya tersebut.
Blush.....
Muka Alex memerah seketika di puji terang-terangan kayak gini, apa lagi sama cewek yang di suka. rasanya antara malu, bangga dan gede rasa yang alhasil jadi salah tingkah dan blingsatan sendiri. kayak orang nahan ke kamar kecil.
"Itu terlalu berlebihan." ngomongnya sih kayak gitu, aslinya pengen jingkrak-jingkrak saking senengnya dapat pujian dari sang pujaan hati.
jaim lah, gak mungkin juga ngelakuinnya malah respect yang di dapat entar ilang lagi dan malah ilfeel.
"Enggak kok, ini gak berlebihan." Ujarnya dengan mantap dan yakin, karena emang itu kenyataan yang Chintya rasakan.
"Cuma orang yang punya hati penuh empati dan baik yang perduli sama orang lain, sekarang itu udah langka banget orang kayak gitu dan itu ada sama elo." lanjut Chintya dengan sangat tulus, dan ketulusan itu secara gak sadar bikin orang klepek-klepek gak berkutik.
Makin lama di puji dan makin banyak kata-kata manis yang keluar dari mulut Chintya itu bikin kepala Alex berputar-putar, pengen pingsan saking senengnya. biasanya malah di puji lebih dari ini gak ada efeknya sama sekali, malah dengan kata-kata yang kelewat romantis tapi gak ada pengaruh apa-apa. kata-kata sederhana tapi berasa udah sangat luar biasa yang mampu membuat seorang Alex terbang ke langit ke tujuh dan merasakan kalo dia orang yang paling bahagia di dunia ini.
"Iya nak, eyang yakin kalau orang kayak kamu adalah orang yang baik. apa yang cucu eyang katakan itu benar dan semoga apa yang kamu lakukan mendapatkan balasan dari Tuhan. kebaikan yang kamu lakukan itu bakal di balas berkali-kali lipat."
Alex menundukkan kepalanya saat mendengar kata-kata yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, karena selama ini di dalam hidupnya hanya mencari kesenangan semata. dimana ia memikirkan dan mendapatkan kesenangan yang ia rasa adalah suatu pencapaian yang ia dapatkan dan ia inginkan. tapi baru kali ini Alex sadar bahwa ada hal lain yang ternyata lehih dahsyat di bandingkan rasa yang ia dapatkan, rasa yang mampu membuatnya menjadi damai dan nyaman tanpa ada beban sama sekali, rasa yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata dan rasa yang ia dapatkan hanya dengan membagi sebagian kecil dari apa yang ia dapatkan.
keluarga....
itu kata pertama yang ada di benaknya, di mana ada orang yang lebih tua dan bijaksana memberikan petuah hingga membuatnya menjadi sangat yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.
selama ini Alex hidup dengan mandiri, berdiri dengan kaki dan kemampuannya sendiri tanpa ada orang yang lebih tua dan bijaksana mendampingi serta memberikan nasehat kepadanya.
kalau saja Alex tidak merasa malu, mungkin ia akan datang dan memeluk wanita yang sudah berumur di depannya itu dengan suka cita. entah mengapa ia merasa bahwa sangat nyaman melakukannya.
"Terimakasih eyang atas apa yang eyang katakan. semoga eyang selalu sehat dan berumur panjang hingga kita bisa bertemu lagi." kata Alex dengan suara parau, menahan diri dan membendung biar air matanya gak tumpah ruah. malu lah cuy cowok masak nangis bin mewek.
Eyang mengulurkan tangannya dan mengelus lembut telapak tangan laki-laki yang bernama Alex tersebut, perasaannya sebagai seorang sepuh itu membuat eyang merasa bahwa seandainya saja laki-laki ini adalah cucu laki-lakinya.
"Main-main ke rumah eyang, nanti eyang masakkan makanan dan kita makan sama-sama. iya kan ndok?"
Chintya tersenyum mendengarnya, eyang adalah seorang nenek yang sangat luar biasa yang memiliki kasih sayang tak terbatas kepada siapa pun dan itu membuat Chintya merasa sangat beruntung memiliki seorang wanita hebat seperti eyang.
Alex mengedipkan matanya berkali-kali saat mendengar tawaran yang baru aja di ucapkan sama eyang, tawaran buat main plus makan bareng pula yang lebih berharga di bandingkan dapat lotre atau keinjek berlian. serasa mimpi dan rasanya tu gak pengen bangun dari mimpi yang terlalu indah ini dan mendapati kenyataan. emang kan mimpi itu lebih indah di bandingkan dengan kenyataan yang terasa sepahit empedu (kata orang ya, soalnya author sendiri belum pernah makan empedu sebelumnya 😅), buat buktiin ini mimpi apa enggak, tu cowok mencubit tangannya sendiri buat memastikan apa ini mimpi atau nyata. Langsung meringis tu muka pas tangannya di cubit yang ternyata sakit, mana nyubitnya tu gak nanggung-nanggung lagi pakek tenaga penuh tapi gak bisa nyalahin orang lain karena itu kelakuannya sendiri. yang di lakuin Alex cuma cengar-cengir sambil memusut tangannya yang memerah karena ulahnya sendiri itu, berasa lah sakitnya di sana tapi rasa sakit itu gak sebanding dengan rasa senang yang ia rasakan.
Bayangin aja, makan bareng di rumah cewek yang di jadikan target sebagai calon istrinya itu berasa wow banget. Mimpi aja gak berani tapi ini malah di tawarin dan tentu aja gak bakal Alex lewatkan begitu aja, langsung tancap gas tanpa harus sok jaim menolak atau sok keren menolak. nolak kayak gini bakalan nyesel dan nangis darah buat dia, emang nasib baik dan takdir berpihak kepadanya. pokoknya yakin banget lah Alex kalo cewek mungil imut di depannya itu adalah soulmate yang Tuhan kirimkan untuknya untuk melengkapi hidup dan hari-harinya karena semua berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun untuk bisa dekat dan berkenalan.
"Bener nih gak pa-pa?"
meyakinkan sekali lagi, bukan nolak nih maksudnya. kali aja kan tadi tuh salah dengar atau cuma halu doang, kan malu-maluin gitu.
"Iya, kalo eyang udah ngomong kayak gitu masak Lo keberatan sih?"
langsung lemes seluruh urat Alex mendengarnya, ternyata telinganya masih berfungsi sangat normal dan otaknya masih bekerja dengan sangat baik alias gak halu.
"Ok, gue bakal gak malu-malu buat datang dan nyicipi masakan eyang yang pasti itu enak banget." bukan cuma makanannya aja sih yang pengen Alex cicipi tapi yang terpenting itu acara pe-de-ka-te buat dapetin hati mereka berdua, makan bareng itu bonusnya.
"Tapi masalahnya, gue gak tau rumah Lo di mana?"
Bahagianya....
udah di undang, tau alamat rumahnya yang berasa kayak dapat harta Karun bajak laut.
Chintya mengulurkan tangannya, "Sini HP Lo, kita tukeran no biar enak entar gue share lokasi rumah gue. kalo gak gitu bakalan nyasar lagi Lo."
langsung aja lah gerak cepat Alex merogoh kantong jaket di mana ia meletakkan HP-nya, semuanya berjalan sangat-sangat sempurna hari ini. Dari ketemu cewek yang di incer tanpa sengaja, belanja bareng sambil ngobrol, di ajak makan bareng di rumah, di kasih tau alamat rumah dan kini tukeran no HP segala.
semuanya peket komplit buat melancarkan aksinya sebagai seorang pria yang ingin mendapatkan cinta, tinggal gimana actionnya aja lagi entar buat mendapatkan apa yang ia inginkan dan itu akan Alex lakukan sebaik mungkin demi meninggalkan kesan yang baik. Mata Alex gak pernah lepas dari jari-jari mungil nan lentik itu saat mengetik dengan sangat lincah pada layar HP-nya, kali ini detak jantungnya udah gak bisa terkontrol lagi. tapi sebisa mungkin buat menahan biar gak ketahuan, aslinya luar biasa....
"Nah,"
Chintya mengembalikan HP yang ia pegang pada empunya.
Alex memandangi layar HP-nya itu dengan tatapan mata gak percaya, semudah ini proses yang ia lalui. Berasa kayak keajaiban, itu lah yang dinamakan keajaiban cinta karena semua berjalan dengan sangat lancar tanpa pernah terduga.
"Nanti kabari cucu eyang ya nak Alex kalau punya waktu luang, biar eyang masakkan yang enak."
"Siap eyang, luang gak luang pokoknya harus ada di luangkan." sambil mengangkat tangannya hormat layaknya anggota militer, refleks saking senengnya sampai gak inget kalo lagi ngomong sama orang yang lebih tua. lupa lah tu sopan santun yang dari tadi di pakek dan keliatan aslinya yang pecicilan gini.
eyang cuma senyum liatnya, liat orang sesenang ini.
"Gue duluan ya, udah mau hujan lagian gue masih ada tempat yang mau di kunjungi." Kata Chintya yang melihat langit semakin gelap dan mendung yang tadi berwarna abu-abu kini berubah menjadi lebih gelap. kalo gak salah perkiraan gak bakal lama lagi udah turun hujan, apa lagi angin yang berhembus udah berasa dingin.
"Ok, hati-hati eyang. semoga eyang selamat sampai tujuan dan gak berkurang apa pun." mengambil tangan eyang dan menciumnya.
Chintya tersenyum masam mendengarnya, seolah-olah itu kata sindiran yang ditujukan untuknya. ngerasa dia yang nyetir mobil, kalo bawa eyang ini tingkat hati-hatinya level dewa. itu aja masih salah dan dapat petuah sepanjang jalan, nasib aja lagi gimana.
Alex membukakan pintu mobil buat eyang dan memastikan eyang berada di dalam sana dengan selamat sebelum menutupnya, ini bukan manipulasi tapi emang tulus.
"Hati-hati ya," kata Alex dengan menatap Chintya.
"iya, makasih ya buat semua ini. semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang telah Lo lakuin."
Rasanya malu banget Alex mendengarnya, ini adalah kebaikan pertama yang ia lakukan dalam beberapa tahun terakhir ini dan sudah mendapatkan pujian yang mampu membuatnya merasa besar kepala. Alex hanya melihat mobil berwarna merah itu melaju menjauhinya dan terlihat semakin kecil pada pandangannya karena jarak mereka yang semakin jauh. senyum simpul yang kini berubah menjadi senyum lebar itu menandakan bahwa hatinya benar-benar bahagia dan hangat, Alex telah memutuskan untuk mengejar satu wanita dan itu adalah Chintya. ia akan menghapus nama-nama cewek yang telah masuk dalam daftar pilihannya dan menggantikannya hanya dengan satu nama saja yaitu Chintya.
Drrrttt....
HP yang ada dalam saku jaketnya bergetar, nama Yun muncul pada layar.
Ya Tuhan gue Sampek lupa....
Sambil mengangkat panggilan yang Yun lakukan, beneran lupa kalo Alex ninggalin Yun di rumah dari tadi dan itu agak lumayan lama yang artinya tu orang udah nungguin karena lapar.
"Lo melarikan diri kemana jadi Sampek berjam-jam gak balik?"
"Mana ada gue melarikan diri, gue beli bahan-bahan buat di masak nih. ni juga udah mau pulang." Merogoh kantong celana santainya buat ngambil kunci mobil.
"Lo belinya ke kutub?"
"Gak usah bawel, tungguin aja gue. bentar lagi balik, kalo Lo udah laper minum aja tuh air yang ada di kulkas buat ngisi perut elo sementara gue belum balik." Kata Alex dengan mengakhiri pembicaraan, kalo di terusin bakal kena omel. gimana gak kena omel kalo udah ninggalin Yun sendiri di rumah hampir dua jam. beneran lupa Alex kalo ada orang lain yang nungguin dia beli bahan makanan, apa lagi mereka emang belum makan dari tadi pagi dan ini udah sore yang artinya para cacing di dalam sana berdendang ria. yang jelas bukan cacing Yun doang tapi cacing di perutnya juga udah pada protes.
Yun menatap layar HP-nya yang udah mati, secara sepihak pembicaraan itu di putus dan itu membuatnya kesal.
"Si*lan!"
umpatnya kesal, udah di tinggalin di rumah yang gak ada makanan dan gak ada yang bisa di makan-makan sendirian, gak ada transportasi buat keluar karena mobil satu-satunya di bawa sama Alex dan yang terpenting Yun gak mengenal daerah sekitar, pamitnya cuma bentar tapi nyatanya gak balik-balik. mana ni cacing udah pada orkesan dari tadi, Sungguh lengkap penderitaan yang Yun alami kali ini.
*********
__ADS_1