
2 bulan berlalu. Menjalani peran sebagai ibu hamil dan suami siaga rupanya membuat Davina dan Dave semakin lengket. Meski sering di bumbui percikan api cemburu dan sikap Davina yang terkadang berubah kekanakan, namun tak membuat kebersamaan keduanya bermasalah. Mereka justru menikmati masa-masa itu.
"Pokoknya aku mau ikut,," Davina mulai merengek pada Dave. Suaminya itu baru saja pulang dari kantor, dan Dave sedang menjelaskan padanya kalau besok dia akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Tak mau di tinggal jauh oleh suaminya selama 4 hari, Davina kemudian merengek dan memaksa untuk ikut ke luar kota.
Dia harus merengek lantaran Dave sudah memperingatkannya agar tidak ikut. Kondisi Davina yang tengah hamil muda, membuat Dave khawatir jika Davina harus melakukan perjalanan udara. Meski Davina terbilang sehat selama kehamilan, tapi Dave harus menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.
"Sayang,, bukannya aku tidak mengijinkan kamu ikut. Ingat dengan kondisi kamu yang sedang hamil. Belum lagi siapa yang akan menemani kamu di hotel, karna aku sudah pasti akan sibuk dengan pekerjaan." Terang Dave. Dia harus bicara pelan dan selembut mungkin agar bisa di Terima oleh Davina.
"Justru aku tidak bisa fokus bekerja karna memikirkan kamu yang harus aku tinggal sendiri di hotel."
"Tapi kalau kamu tidak ikut dan tinggal di rumah Kak Sandra, aku bisa tenang kerjanya."
Dave mengusap lembut perut Davina yang sudah membuncit.
"Sama seperti kamu, aku juga tidak bisa jauh-jauh dari kalian. Apalagi harus berpisah selama itu." Dave juga mengeluhkan apa yang dia rasakan saat harus meninggalkan istri dan calon anaknya ke luar kota.
Selama ini Dave berusaha menghandle perusahaan di luar kota agar tidak perlu meninggalkan Davina, tapi kali ini benar-benar tidak bisa di handle dari rumah.
"Aku janji akan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat agar cepat pulang ke Jakarta." Dave terus membujuk istrinya yang sedang membuang wajah ke arah lain.
"Bilang saja tidak mau mengajakku karna ingin bebas bertemu dengan wanita-wanita cantik di Batam.!" Ketus Davina kesal.
Bukan hanya kali ini saja Davina menuduh Dave ingin bertemu degan wanita di luar sana, tapi belakangan ini Davina memang sering menaruh curiga pada Dave. Dia selalu menginterogasi Dave jika suaminya itu terlambat pulang dari kantor walaupun hanya 20 sampai 30 menit.
Ibu hamil itu takut jika suaminya pulang terlambat, dia takut Dave pulang terlambat karna mengantarkan wanita ataupun bertemu dengan wanita lain di luar sana.
__ADS_1
Dave menarik nafas dalam, menghadapi ibu hamil yang moodnya berubah-ubah memang sedikit menguji kesabaran.
"Aku sudah punya wanita paling cantik, mana mungkin aku tertarik dengan wanita lain di luar sana." Ujar Dave. Jangankan tertarik, untuk melirik wanita lain saja dia belum pernah memikirkannya.
"Banyak wanita diluar sana yang tertarik padamu karna selain pandai berbohong, kamu juga pandai merayu.!" Davina melirik kesal.
"Termasuk kamu.?" Goda Dave. Niat hati ingin mencairkan suasana, Davina justru semakin melotot kesal padanya.
"Pokoknya aku akan tetap ikut.!" Tegas Davina.
"Aku mau packing baju sekarang.!" Dengan wajah yang masih menahan kekesalan, dia beranjak dari sofa dan bergegas pergi ke kamar untuk packing baju dan keperluan yang akan dia bawa ke luar kota besok.
Tidak peduli meski Dave melarang, dia akan tetap ikut bersamanya. Lagipula Dave akan pergi menggunakan pesawat pribadi, dan perjalanan dari Jakarta ke Batam tidak membutuhkan waktu lama. Lalu apa yang harus di khawatirkan.?
Selama kehamilannya tak pernah memiliki riwayat sakit apapun, itu artinya Davina tetap aman jika melakukan penerbangan.
Begitu masuk ke dalam walk in closet, Dave melihat Davina yang sudah mengeluarkan koper kecil dan membukanya dengan meletakkannya di sofa. Koper kecil itu sudah siap di isi dengan baju-baju dan keperluan miliknya.
Wanita hamil itu berdiri di depan lemari bajunya, dia tampak sedang memilah baju apa y
saja yang akan dia bawa.
Dave berjalan mendekat tanpa di ketahui oleh Davina. Setelah sampai di belakang tubuh Davina, laki-laki itu langsung memeluknya begitu saja. Mendekap erat dengan kepala yang di letakkan di pundak Davina.
"Jangan lupa bawa baju favoritku,," Bisik Dave dengan suara lembut yang sengaja dia ucapkan untuk membujuk Davina supaya tidak menekuk wajah lagi.
Davina sedikit tersentak kaget dan reflek menoleh.
__ADS_1
Bibirnya semakin mencebik saja. Setelah tadi di larang ikut oleh Dave, sekarang malah di perintahkan untuk membawa baju dinas yang biasa di pakai setiap 3 hari sekali.
Enak sekali jadi laki-laki. Setelah membuat hati kesal, dengan entengnya membicarakan soal baju dinas.
"Kalau aku tidak ikut, wanita mana yang akan kamu suruh untuk membawa baju favoritmu.?!" Tanya Davina ketus. Dia melepaskan kedua tangan Dave yang sampai melingkar di perutnya sembari mengusap lembut.
Dave menelan salivanya. Kecurigaan Davina membuatnya ketakutan bahkan meremang dari ujung kaki sampai kepala. Pikiran Davina terlalu negatif. Dia menuduh hal yang tak akan pernah di lakukan oleh Dave.
Sudah cukup dia membuat kesalahan besar beberapa bulan yang lalu. Dia tak mau mengambil resiko yang dapat mengancam masa depannya bersama Davina dan anaknya kelak.
"Aku masih ingin hidup bahagia sayang, mana mungkin aku seperti itu." Dave berpindah ke samping Davina sembari mencubit gemas pipinya.
"Jangan marah lagi, sini biar aku bantu packing baju-bajunya." Ujar Dave.
"Di batam panas, sebaiknya bawa baju yang tipis saja." Tuturnya. Dia mulai memilah dan memilih dress yang di gantung dalam lemari itu.
"Tapi jangan membawa dress seperti ini juga." Dave menyingkirkan tangan Devina yang sejak tadi memegang dress tanpa lengan dengan panjang di atas lutut.
"Terlalu seksi dan menggoda untuk di pakai ibu hamil." Komentarnya.
Davina yang sejak tadi mendengarkan perkataan Dave, hanya diam saja dengan tatapan acuh.
"Bawa yang ini dan ini saja." Dave mengambil satu dress panjang di atas mata kaki, dan satu dress sebatas lutut. Tentunya kedua dress itu memiliki lengan walaupun pendek.
"Baiklah, kalau begitu kamu saja yang pilihkan semuanya. Aku capek, mau duduk dulu." Davina langsung bergeser dan duduk di sofa, tepat di samping koper miliknya yang belum di isi oleh apapun.
"Dengan senang hati sayangku,," Jawab Dave penuh semangat. Dia tidak akan akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengambil beberapa baju dinas Davina dan memasukkannya ke dalam koper.
__ADS_1
Anggap saja kepergian dia dan Davina ke Batam sekalian untuk babymoon.