Lahirnya Sang Pewaris

Lahirnya Sang Pewaris
Bab 26


__ADS_3

Dave menyusul langkah istrinya yang berjalan cepat ke arah sofa di ruang keluarga.


Tak mau melihat sang istri meluapkan kekesalan di depan semua orang, Dave memilih untuk mencegah langkahnya.


Mencekal pelan pergelaran tangan Davina seraya memanggilnya lembut.


"Sayang, jangan terlalu ikut campur urusan mereka. Sudah ada Kak Sandra dan Papa kamu yang akan menyelesaikan masalah Farrel."


Pinta Dave lembut. Dia tak mau melihat Davina terlalu ikut campur dengan masalah pribadi Farrel sekalipun itu ada hubungannya dengan Nabila yang notabennya sebagai sahabat Davina.


"Tapi Mas, bagaimana kalau Kak Farrel sudah merusak Nabila." Ada kekecewaan dan kecemasan dalam sorot mata Davina.


Kecemasan yang sudah pasti di tujukan untuk Nabila karna sahabatnya itu adalah wanita baik-baik. Nabila juga menjadi harapan bagi orang tuanya. Entah bagaimana perasaan kedua orang tua Nabila jika tau apa yang terjadi pada putrinya itu.


"Mereka pasti akan memilih jalan keluar yang terbaik untuk Nabila dan Farrel. Kamu tidak perlu khawatir,," Dave memberikan usapan di punggung Davina, serta menatapnya teduh untuk memberikannya ketenangan. Mood ibu hamil memang mudah naik turun.


Davina menganggukkan kepala tanda mengerti dan menuruti perkataan Dave.


"Secepatnya kalian harus menikah. Mama yang akan menentukan tanggalnya.!" Suara tegas Mama Sandra terdengar penuh beban dan kecewa.


Sementara itu Davina mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana setelah mendengar ucapan Mama Sandra tentang rencana pernikahan Farrel dengan Nabila.


Ternyata memang benar kalau Farrel sudah berbuat macam-macam pada Nabila.


Kalau tidak, Mama Sandra tak akan menentukan pernikahan mereka berdua dengan buru-buru. Disaat Farrel dan Nabila masih sama-sama kuliah.


Usia mereka bahkan masih sangat muda.


Farrel yang baru akan menginjak usia 23 tahun dan Nabila yang baru berusia 19 tahun.


"Menikah.? Kak Farrel dan Nabila akan menikah.?" Seru Davina tanpa sadar. Suaranya jadi membuat mereka beralih menatap ke arahnya.


Mereka baru menyadari keberadaan Davina dan Dave lantaran situasinya terlalu menegangkan. Serta mereka juga sedang serius membahas masalah tersebut.


Nabilah tampak terkejut melihat Davina, namun dia hanya menatap sekilas dan langsung menundukkan pandangan seolah menahan malu di hadapan Davina.


"Mama atur saja." Ucap Farrel santai. Dia jauh lebih tenang di banding dengan Nabila yang sejak tadi terlihat ketakutan dan cemas.


"Kalian sudah pulang." Papa Edwin beranjak dari duduknya. Sementara itu Mama Sandra hanya tersenyum tipis pada Davina.


Senyum itu terlihat penuh beban, Davina bisa mengerti perasaan Mama Sandra ini.

__ADS_1


"Kamu selesai dulu dengan Farrel, aku mendukung apapun keputusan kamu asal itu yang terbaik untuk banyak orang." Papa Edwin mengusap pundak Mama Sandra. Dia sedikit mwnepuknya sembari tersenyum.


Sebagai seorang suami dan Papa sambung bagi Farrel, Edwin tak bisa berbuat terlalu banyak untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Dia akan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada sang istri.


Papa Edwin kemudian berlalu dan menghampiri Davina dan Dave.


"Kalian ikut Papa sekarang. Ada yang ingin Papa bicarakan dengan kalia" Ucapnya.


Davina dan Dave tampak langsung menyetujui permintaan Papa Edwin. Mereka berdua mengikuti langkah Papa Edwin menuju ruang kerjanya.


Davina harus menahan diri dari rasa penasarannya pada keputusan Mama Sandra selanjutnya.


Padahal dia ingin tau lebih jauh apa saja yang akan di lakukan oleh Farrel untuk menebus kesalan yang sudah dia perbuat pada Nabila.


...*****...


Ruang kerja Papa Edwin,,,


"Mengenai tempat tinggal kalian nanti setelah Davina melahirkan, Papa sudah membeli rumah di sebelah rumah ini untuk kalian tempati." Ucap Edwin. Dia sengaja menyiapkan rumah untuk putrinya yang dekat dengan tempat tinggalnya agar bisa mengawasi putri dan cucunya itu.


Meski tidak akan ikut campur urusan rumah tangga putrinya, namun Edwin merasa masih punya tanggungjawab untuk menjaga putri dan cucunya. Dia ingin memastikan putri dan cucunya hidup bahagia dan baik-baik saja bersama Dave.


Karna terkadang sikap buruk seseorang bisa kembali sewaktu-waktu. Meski Edwin berharap itu tak akan pernah terjadi lagi pada putrinya.


Selain itu Edwin juga ingin di hari tuanya bisa menikmati kebersamaan dengan keluarganya.


Setidaknya jika rumah Davina dekat dengannya, Edwin bisa sering bertemu cucu dan putrinya.


"Terimakasih Pah, tapi seharusnya Papa tidak perlu repot-repot menyiapkan rumah untuk kami."


"Saya juga sudah berencana untuk membangun rumah dalam waktu dekat."


Dave tak bermasuk menolak pemberian Papa mertuanya, tapi sebagai suami dia merasa yang paling berhak untuk memberikan tempat tinggal pada istri dan anaknya.


"Sayang,, tidak apa kita menempati rumah pemberian Papa." Dengan nada bicara yang lembut, Davina menyentuh tangan Dave dan menatap memohon padanya. Dia memberikan isyarat pada Dave untuk tidak menolak pemberian Papa Edwin.


Davina melakukan semua itu lantaran tidak mau menyinggung perasaan Papanya.


Karna dia sempat melihat sorot mata sendu Papa Edwin ketika Dave mengatakan kalau dirinya sudah berencana akan membangun rumah sendiri.


"Kalian bisa bicaran berdua nanti. Tidak masalah kalau kalian ingin membuat tempat tinggal sendiri." Edwin tersenyum tipis. Meski sedikit sedih kalau nantinya tempat tinggal Davina akan berjauhan.

__ADS_1


"Baik Pah, terimakasih sudah menyiapkan rumah untuk kami."


"Nanti kita pikirkan lagi."


Dave tak langsung menerimanya begitu saja. Walaupun pada akhirnya dia akan menuruti keinginan sang istri tercinta.


...******...


"Mau kemana hmmm,,?" Dengan suara serak dan mata yang belum terbuka sepenuhnya, Dave menahan tangan Davina yang hendak turun dari ranjang.


"Aku mau ke bawah sebentar. Mas tidur lagi saja, baru jam 6 lewat." Davina melepaskan perlahan genggam tangan Dave.


"Kamu menyuruhku tidur lagi tapi kenapa kamu malah mau turun ke bawah.?" Dave kembali meraih tangan Davina.


"Kemari, temani aku tidur." Dave setengah duduk untuk menarik Davina ke dalam pelukannya.


Hari ini weekend jadi tidak masalah kalau menghabiskan waktu sampai siang di dalam kamar.


"Tapi Mas, aku mau tanya sama Mama Sandra gimana kelanjutan masalah Farrel yang kemarin." Ujar Davina.


Dia sudah menahan diri sejak tadi malam saat sedang makan malam bersama.


Niat hati ingin bertanya, tapi Dave sudah memperingatkannya lebih dulu untuk tidak menanyakan apapun pada Mama Sandra mengingat Mama Sandra masih tampak kecewa pada Farrel.


Mama Sandra juga lebih banyak diam saat makan malam.


"Dasar perempuan memang tidak bisa menahan diri untuk tidak kepo." Celuk Dave. Namun bukannya membiarkan Davina pergi, Dave malah semakin erat memeluk Davina.


"Daripada sibuk mencari tau urusan orang lain, lebih baik kita menyiapkan jalan lahir untuk baby kita,," Ujar Dave seraya mengusap perut besar Davina.


Di usia kehamilannya yang sudah masuk trimester ke 3, dokter memang menyarankan mereka untuk sering-sering melakukan hubungan suami istri agar bisa memperlancar jalanan persalinan. Mengingat Davina yang menginginkan untuk melahirkan secara normal.


"Ya ampun,, apa semalam belum puas.?" Tanya Davina heran.


"Tentu saja puas. Tapi rasanya ingin mengulanginya lagi dan lagi,," Tangan Dave sudah menjalar ke mana-mana, hal itu membuat Davina pasrah karna tidak ada pilihan untuk menolak.


"Sekarang puas-puasin saja. Nanti setelah aku melahirkan jangan harap bisa seperti ini setiap hari." Batin Davina.


Dia terkekeh geli membayangkan bagaimana Dave bisa menahan diri selama 1 bulan lebih untuk tidak melakukan pergulatan panas.


Dia sangat yakin kalau Dave tidak akan kuat menahan diri selama itu.

__ADS_1


__ADS_2